SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 34


__ADS_3

Hari ini aku mengajak Mas Randi untuk membeli perabotan rumah tangga, untuk mengisi rumah baru Kami.


Aku sudah pulang ke rumah mewah pemberian Ririn, tadi malam setelah melunasi dan membereskan rumah baru, Kami segera pulang.


Beruntung, Mas Randi selalu tidur bersamaku semenjak Ririn sudah pulang dari rumah sakit. Saat siang Mas Randi menengok bayinya di rumah sakit.


Sebelum berbelanja perabotan, Mas Randi mengajakku ke rumah sakit dulu untuk menengok bayi Ririn. Kata Mas Randi, kondisinya sudah mulai membaik. Walaupun masih di rawat di ruangan khusus.


Aku melihat dari kaca luar. Bayinya sedang tertidur, wajahnya cantik sekali mirip Ririn. Kata Mas Randi namanya 'Raihana Azzahra', panggilannya 'Hana'.


Saat hendak pulang, tampak Bu Indra dan Bang Rendra datang. Mas Randi menyapanya dan aku pun melakukan hal yang sama. Mas Randi tampak berbincang dengan Bu Indra membicarakan perihal bayinya. Tak sengaja aku melihat Bang Rendra memandangku cukup lama dengan tatapan iba. Ah! Apakah aku semenyedihkan itu? sampai orang menatapku dengan tatapan iba. Ya, memang sudah hampir satu tahun aku memang sedih. Tapi apakah wajahku menunjukan isi hatiku. Entahlah!


Mas Randi segera pamit seraya menggandeng tanganku keluar dari rumah sakit. Mas Randi melajukan mobilnya menuju toko furniture. Mas Randi menyuruhku memilih. Aku pilih semua dengan warna hijau. Karena di rumah baru hampir semua dominan hijau. Setelah selesai aku membayar belanjaannya total lima puluh jutaan.


Setelah itu aku mengajak Mas Randi ke toko Bang Rendra. Selain toko bahan kue, toko Bang Rendra juga menjual perabotan dapur yang bagus-bagus dan lengkap.


Setelah sampai toko, aku memilih-milih perabotan yang akan aku letakkan di dapur mungilku di rumah baru. Semua bernuansa hijau. Tak sabar rasanya meletakkan di rumah baruku. Setelah selesai aku membayarnya total dua puluh jutaan.


Semua belanjaanku akan diantar keesokan harinya oleh pihak toko ke alamat rumah baruku.


Setelah beres, Mas Randi manggandengku menuju parkiran. Saat kami berjalan ke arah mobil kami, muncul Bang Rendra keluar dari mobilnya. Kemudian menyapa kami.


"Mas, Mbak! Belanja di sini?" tanyanya ramah.


"Iya, Bang." jawab Bang Rendra.


"Kok tadi pas ketemu di rumah sakit gak bilang dulu. Kalau bilang kan Saya kasih diskon." ucapnya seraya tersenyum.

__ADS_1


"Oh.. Ini toko punya Abang ya?" tanya Mas Randi.


Bang Rendra menggangguk seraya tersenyum.


"Wah keren Bang. Masih muda sudah sukses." ujar Mas Randi.


"Ah! Biasa saja, Mas. Mau langsung pulang?" tanyanya lagi.


"Iya, Bang. Kasihan anak-anak kalau kelamaan ditinggal Bundanya. Kami pulang dulu ya, Bang."


Aku dan Mas Randi segera masuk ke dalam mobil. Kemudian segera melesat pulang.


Di mobil aku mengecek sisa saldo tabunganku. Masih ada empat ratus dua puluh juta. Rencana aku besok akan membeli mobil kecil yang harga dua ratus jutaan. Mobil pemberian Ririn akan aku kembalikan. Sisanya untuk memindahkan toko kueku dan memperbesarnya dan sebagian uangnya untuk pegangan.


Tabungan ini hasil dari uang nafkah dari Mas Randi dan hasil dari toko kueku. Uang nafkah pemberian dari Mas Randi sangat besar awal-awalnya dua puluh juta, kemudian seratus juta perbulan, aku tidak tahu hitung-hitungan pembagian uang nafkahnya bagaimana. Setelah hampir satu tahun, tabunganku sudah hampir satu miliar.


Hasil toko grosir baju pemberian Ririn yang dikelola Mas Randi uangnya aku tabung direkeningku yang lain, rencana akan aku kembalikan juga ke Ririn, uangnya masih utuh, total 1 miliar lebih.


Mas Randi setiap siang selalu ke toko dan menengok bayi Ririn di rumah sakit. Setiap sore selalu pulang dan tidur di rumahku. Ririn kan sudah cerai dengan Mas Randi secara agama jadi Mas Randi tak mungkin menginap di rumah Ririn atau rumah Pak Indra. Jadi saat siang saja Mas Randi menengoknya.


Keesokan harinya aku membeli mobil kecil seharga dua ratus juta di dealer, aku diantar Mas Randi. Aku memilih warna hijau. Sekarang aku jadi suka warna itu.


Menjelang sore harinya, Aku ke rumah baruku membawa semua bajuku, baju Mas Randi dan baju anak-anakku, semua aku masukkan di beberapa koper. Tak lupa aku membawa mainan anak-anak yang aku belikan dan dapat dari kado. Mas Randi sedang menengok bayi Ririn di rumah sakit.


Akun langsung pindah hari ini juga, tadi Ibu sudah meneleponku kalau perabotan yang aku beli sudah datang semua. Sebagian sudah di letakkan pada tempatnya.


Sebelum berangkat, aku mengeluarkan surat-surat toko, rumah, mobil. Serta kunci mobil dan rumah. Juga ATM dan buku tabungan. Semua aku letakkan di atas nakas kamar kami.

__ADS_1


Lalu aku kirim pesan ke Mas Randi.


[Mas, semua barang pemberian Ririn, surat toko, rumah, mobil dan kunci serta buku tabungan sudah aku tinggal, ATM passwordnya seperti biasa. Semua aku letakkan di atas nakas kamar kita. Tolong kembalikan ke Ririn ya, Mas! Sampaikan salam terimakasihku ke Ririn ya. Aku pindah sore ini.] tulisku.


"Iya, Sayang. Hati-hati ya. Jangan kecapekan. Mas pulang nanti sore, langsung ke rumah baru ya. Buku tabungannya di bawa saja, Dek!] balas Mas Randi.


[Tidak, Mas! Uang Adek masih ada kok. Biar dikembalikan ke Ririn saja, Mas.] balasku.


[Oh.. yasudah kalau itu mau Adek, nanti Mas bilang ke Ririn. Hati-hati ya, Sayang, bawa mobilnya.]


[Baik, Mas.] aku memasukkan smartphoneku ke dalam tas.


Aku segera keluar rumah. Sampai depan rumah aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling rumah.


'Tinggal di rumah mewah tapi hidup tak bahagia. Terasa sepi. Ternyata kekayaan dan kemewahan tak menjamin bisa hidup bahagia. Kini, semua sudah aku lepaskan. Dengan harapan aku memulai hidup baru yang bahagia. Bismillah.'


Aku langkahkan kakiku dengan yakin menjauh dari rumah ini. Masuk ke dalam mobil, berangkat menuju rumah baruku. Anak-anakku dan duo bude sudah di rumah Ibuku sejak pagi.


Sesampainya di rumah baru, anak-anak berceloteh.


"Bunda.. Bunda.. rumahnya kok gak ada kolam renangnya?" tanya Reyhan.


"Ada kok, besok Ayah beli kolam renang dari balon ya, Sayang. Besok Kita letakkan di samping taman bunga itu." ujarku seraya menunjuk arah taman.


"Bunda.. rumahnya kecil ya, Bunda?" ucap Rafael.


"Besar kok, Sayang. Rumahnya tingkat kan?" jawabku.

__ADS_1


Bersyukur, anak-anak bisa mengerti.


Selepas maghrib Mas Randi pulang. Kami bersama-sama merapikan rumah baru kami. Rumah sederhana dengan harapan bisa memulai hidup bahagia bersama keluarga kecilku.


__ADS_2