SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 27


__ADS_3

Aku terus di kamar hingga malam hari. Tak ku hiraukan ketukan dan panggilan yang sudah tak terhitung jumlahnya dari Mas Randi dari luar pintu kamar.


Aku takut sekali dengan suara ketukan pintu. Jantungku langsung berdetak tak karuan. Aku takut. Aku takut dibunuh.


Trok!! Trok!! Trok!! Kraaaak!! Kraaaakk!! Bruuugh!!


Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara pintu kamar seperti didobrak, kemudian terdengar langkah kaki berlari ke arahku. Aku menggigil, aku menutup rapat seluruh tubuhku dengan selimut tebal. Aku takut sekali.


"Adek, Dek! Adek, kenapa sayang? Kok pintunya gak dibuka-buka?" tanya Mas Randi cemas membuka selimutku. Aku tarik erat selimutku hingga Mas Randi sedikit kesulitan membukanya.


"Dek, Sayang, buka selimutnya. Adek gak kenapa-kenapa?" Mas Randi membuka selimutku. Aku memejamkan mataku.


"Adek, ini Mas. Adek kenapa, Sayang?" tanyanya lagi.


"Ya, Allah, badan Adek panas banget! Adek demam, Sayang. Ayo kita berobat!" ucap Mas Randi panik.


"Nafas Adek sesak ya, kok kelihatan berat gitu. Adek salin ya sekarang, terus Kita ke dokter!" ujar Mas Randi.


Aku menggeleng cepat. Menggeleng berkali-kali.


"Takut!" jawabku singkat.


"Adek, Takut apa Sayang? Ini Mas." Mas Randi memelukku.


"Takut dibunuh! Takut Ririn!" ucapku gugup.


"Ririn, sudah pulang dari tadi, Sayang. Ayo! Adek mandi terus makan. Setelah itu Kita ke dokter ya."


Aku diam tak merespon ucapan Mas Randi. Aku membaringkan badanku lagi.


"Dek, ayo, Sayang!" Ucap Mas Randi hendak membantuku bangun lagi dari tidur. Tapi aku menggeleng.


Aku tak berminat. Aku hanya ingin di kamar. Aku takut.


Mas Randi terus merayuku, Namun tak berhasil. Aku enggan bangun. Mas Randi membawakan makan malam untukku ke kamar, namun Aku tak menyentuhnya.


Hingga malam hari, aku masih bergelayut dengan selimut. Aku tertidur dengan perasaan takut. Sangat takut.


Pukul lima pagi aku terbangun, saat nafasku terasa sesak. Ternyata tangan kekar Mas Randi memelukku erat. Aku singkirkan tangannya perlahan. Aku bangkit dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar.


Saat keluar dari kamar mandi, tampak Mas Randi berdiri di depan pintu.


"Adek, sudah bangun, Sayang?" tanya Mas Randi mendaratkan hidungnya ke keningku.


"Adek belum makan dari sore. Mas buatkan nasi goreng ya. Tapi Mas shalat subuh dulu," ucap Mas Randi berlalu masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Aku berjalan menuju pembaringan lagi. Aku memberi ASI ke Rania yang sudah membuka matanya. Aku ciumi pipinya, wangi khas bayi baru bangun tidur terasa menenangkanku.


Menit kemudian Mas Randi keluar dari kamar mandi. Menggelar sajadah dan melaksanakan shalat subuh.


"Adek, kenapa diam saja, Sayang?" tanya Mas Randi menghampiriku saat sudah selesai shalat.


"Adek takut, Mas!" Jawabku.


"Takut apa, Sayang? Kan ada Mas!" ucap Mas Randi halus.


"Takut pisau. Takut dibunuh." jawabku menunduk. Memandangi Rania yang sudah memejamkan matanya lagi.


"Adek jangan takut lagi, kan sudah ada Mas. Adek makan ya, Mas buatin nasi goreng dulu." ucap Mas Randi seraya beranjak dari ranjang.


Aku tak menjawab. Pikiranku hanya takut. Aku harus waspada.


Mas Randi masuk ke kamar membawa sepiring nasi goreng, menyuapiku makan. Aku memakannya. Mas Randi memandangi wajahku dengan wajah khawatir dan bingung.


Setelah makan, Mas Randi memberiku minum air putih.


Mas Randi menyuruhku mandi, tapi aku enggan beranjak. Aku menarik selimutku lagi, setelah Rania tidur kembali. Aku menutupi seluruh tubuhku dengan selimut tebal.


"Adek, kenapa kok berubah?" tanya Mas Randi cemas.


Aku mengulangi menjawab dengan ucapan 'takut', takut dibunuh', 'takut pisau'. Mas Randi menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, wajahnya seperti kebingungan.


"Dek, Rania menangis, mungkin haus ingin minum ASI." ucap Mas Randi mengagetkanku yang sedang melamun. Mas Randi mengangkat Rania.


Aku segera duduk. Rania aku pangku, aku memberinya ASI. Rania terlihat haus sekali. Ah! Kenapa aku bisa kelupaan memberi ASI kepada Rania, padahal aku selalu di sampingnya.


Sesudah memberi ASI, Mas Randi menuntunku menuju kamar mandi, aku disuruh mandi. Mas Randi membantuku membuka bajuku. Akhirnya aku mandi.


Malam harinya, Rania menangis. Tapi aku enggan mengangkatnya. Aku sedang ketakutan. Tampak ada pisau di depanku, hampir menyenggol tubuhku. Aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut.


"Dek, Rania nangis, Sayang. Mungkin haus." ucap Mas Randi membuka selimutku. Aku gemetar ketakutan dengan badan penuh keringat dingin.


"Adek keringatnya banyak sekali. Kalau lagi gerah jangan selimutan. ACnya Mas turunin suhunya ya, Dek!" Ujar Mas Randi.


"Takut, Mas." Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Sudah tidak ada pisau lagi.


Aku bangkit duduk, kemudian mengangkat Rania. Tampak popok sekali pakai yang digunakan Rania sudah bocor. Sudah penuh oleh air kencing Rania. Mas Randi membantuku mangganti popoknya.


"Dek, Adek kok gak kayak biasanya. Adek, kenapa, Sayang?" tanya Mas Randi.


*****

__ADS_1


Lima hari berlalu, Ibuku datang. Kata Mas Randi, Ibu mau membantuku merawat Rania. Kemudian keesokan harinya, datang seorang perempuan sekitar umur empat puluh tahun, kata Mas Randi baby sitter Rania.


Aku mendengar Mas Randi berbicara kepada Ibu.


"Rika sudah lima hari berubah Bu. Tidak mau keluar kamar, tidak mau mandi kalau tidak disuruh. Tiap aku tanya selalu jawab 'takut' Bu. Rania sering dibiarkan menangis hingga lama. Pandangan Rika sering kosong dan sering melamun. Padahal sebelumnya tidak pernah seperti itu Bu." terdengar suara Mas Randi putus asa.


Keesokan harinya lagi, Mas Randi mengajakku keluar. Kata Mas Randi, aku diajak jalan-jalan biar tidak jenuh di rumah. Aku tidak mau. Aku takut. Tapi Mas Randi terus merayuku. Mas Randi bilang akan menjagaku.


Akhirnya aku menurut. Mas Randi menggandeng tanganku menuju mobil.


Mas Randi mengemudikan mobilnya, entah kemana. Mas Randi sering memandangiku dengan tatapan khawatir dan cemas.


Ternyata aku dibawa ke seorang psikolog. Aku membacanya di luar tadi.


Saat sudah masuk ke ruangan, tampak seorang laki-laki duduk di seberang meja. Mas Randi berbicara kepada laki-laki itu, pembicaraannya sama dengan yang dibicarakan Mas Randi ke Ibu.


Kemudian laki-laki itu bertanya kepadaku.


"Ibu, sehat ya?" tanyanya ramah.


Aku mengangguk. Mas Randi memandangiku tanpa berkedip dengan tatapan sedih.


"Kata Bapak, Ibu takut ya? Kalau boleh tahu Ibu takut apa?" tanyanya lagi dengan senyum ramah.


"Takut pisau. Takut dibunuh." jawabku.


"Ibu tidak boleh takut ya, kan ada Bapak. Gak ada yang mau bunuh Ibu. Semua sayang kok sama Ibu." ucapnya dengan lembut.


Aku mengganguk. Kemudian Mas Randi berbincang dengannya lama sekali. Entah apa yang dibicarakannya. Raut wajah Mas Randi berubah menjadi sedih.


Mas Randi mengajakku pulang. Mas Randi menawariku, aku ingin kemana. Tapi aku menggeleng. Aku ingin pulang. Kangen Rania.


Sesampainya di rumah aku menuju kamar, Rania sedang tertidur. Aku mendengar Mas Randi berbicara kepada Ibu.


"Rika mengalami sakit Syndrome Baby Blues dan trauma, Bu. Kata psikolog tadi. Gara-gara ribut dengan Ririn seminggu yang lalu. Rika butuh pendampingan, Bu. Besok aku mau mencari satpam untuk jaga di depan. Supaya Ririn tidak ke sini lagi. Biar Rika cepat pulih."


Apa? Aku sakit?


Ah! Masa sih? Aku sehat kok. Tidak sakit. Aku berjalan ke arah Mas Randi dan Ibu. Tampak Ibu sedang menangis.


"Aku sehat Mas. Aku gak sakit. Kata siapa aku sakit. Laki-laki tadi pasti bohong. Jangan-jangan laki-laki tadi mau membunuhku." ucapku tak terima.


"Adek, istirahat ya, Sayang. Ayo, Mas antar ke kamar!" Mas Randi menuntunku ke kamar.


"Mas, Adek sehat kan?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Adek sehat. Adek kalau ada apa-apa dan Kalau ingin apa-apa, ngomong sama Mas ya, Sayang." ucap Mas Randi seraya membantuku berbaring dan menyelimutiku. Tadi aku lihat Rania sedang bersama baby sitternya.


__ADS_2