
Rafael masih demam hingga sore ini. Aku sangat khawatir. Aku paling tidak bisa melihat anak sakit begini. Pasti kepikiran dan pasti aku tidak bisa tidur semalaman menunggui anakku.
Anak-anakku jarang sakit, aku bersyukur sekali diberi anak-anak sehat. Satu tahun hanya sakit satu atau dua kali saja, itu pun hanya sakit panas biasa.
Sore ini saat Mas Randi sedang pulang ke rumah menengok Reyhan yang sedang di titip di asisten rumah tangga dan sekalian mengambil pakaian salin untukku, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan Ririn yang langsung masuk ke kamar tempat Rafael dirawat. Aduh kenapa dia ke sini? Bikin sebal aja melihatnya.
"Mbak, Mas Randi kemana?" Ucapnya seraya menyalamiku, mencium takdzim punggung tangan kananku. Risih sekali rasanya. Tapi aku tidak boleh dzalim. Walaupun bagaimanapun dia adalah adikku, adik maduku.
Ririn menggunakan hijab segiempat warna biru tua, dengan outher warna senada dan baju dalaman warna putih bunga-bunga serta celana kulot warna gelap. Terlihat cantik dan rapi. Aku tadi sedikit pangling saat pertama melihatnya.
Walaupun aku terkejut dengan kedatangannya yang tak diundang, aku tetap berusaha bersikap biasa.
"Lagi pulang Dek, ngambil baju Mbak" jawabku. Aku sedang memainkan smartphoneku menscroll beranda aplikasi facebookku.
"Gimana keadaan Rafael Mbak" ucapnya berjalan mendekat ke ranjang tempat Rafael Tidur. Aku lihat dia memegang kening Rafael.
"Alhamdulillah panasnya sudah agak turun sedikit" Jawabku tanpa menoleh ke arahnya.
"Semoga cepet sembuh ya sayang, Rafael anak Mama" ucapnya sedikit berbisik. Aku mendengarnya seperti ingin muntah.
"Mbak, Mas Randi sudah bilang belum kalau aku positif hamil delapan minggu?" Tanyanya kepadaku yang masih asyik memainkan smartphoneku.
"Sudah" jawabku singkat.
"Mbak, aku ingin bicara boleh? bisa kita bicara sebentar Mbak?" Ucap Ririn serius.
"Iya boleh. Di luar saja ya, jangan di sini. Kasihan Rafael sedang tidur" jawabku seraya berdiri kemudian berjalan perlahan ke arah pintu. Ririn sudah keluar terlebih dahulu.
"Mau bicara apa?" Aku memulai pembicaraan saat kami sudah duduk di kursi depan kamar tempat Rafael dirawat.
"Mbak, maafin Ririn ya. Ririn sudah melanggar perjanjian kita waktu itu" Ucapnya serius.
__ADS_1
Aku diam saja. Tak menjawab ucapannya.
"Mas Randi gak mencintaiku, Mbak. Aku memiliki raganya tapi tidak memiliki hatinya. Hatinya cuma ke Mbak Rika terus" terdengar suara Ririn bergetar mengucapkan kalimat itu. Matanya mulai berkaca-kaca.
Aku mencerna ucapannya. Benarkah Mas Randi tidak mencintai Ririn? Mereka sudah menikah sekitar empat bulan.
"Tiap kali kami memadu kasih Mas Randi selalu menyebut nama Mbak Rika. Terus tiap hari Mas Randi sering mengira Ririn adalah Mbak Rika" lanjutnya lagi mulai terisak.
"Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik selama empat bulan menikah ini. Tapi Mas Randi masih belum mencintaiku" ucapnya yang kini bersamaan dengan air matanya terjatuh di kedua pipi putih mulusnya.
Aku masih terdiam.
"Maafin Ririn ya Mbak, Ririn sudah hamil hampir dua bulan. Ririn sudah melanggar perjanjian. Ririn sengaja gak minum pil KBnya. Aku mohon Mbak Rika mau memaafkanku." Ucapnya memelas penuh harapan.
"Aku berharap dengan kehamilanku ini Mas Randi bisa mencintaiku. Tapi Mas Randi kemarin justru marah besar padaku. Mas Randi bilang kalau sampai Mbak Rika minta cerai, maka Ririn yang akan dicerai oleh Mas Randi" lanjutnya lagi. Air matanya kini sudah menganak sungai, sudah tak terbendung lagi.
"Oh gitu" akhirnya aku buka suara.
"Namanya cinta ya mungkin gak bisa di paksa" ucapku santai.
"Aku gak tahu harus cerita ke siapa, selain ke Mbak Rika. Mbak Rika kan orang baik mungkin bisa ngasih solusi ke Ririn" ucapnya lirih.
"Kamu jaga kandunganmu ya Dek. Makan dan minum bergizi. Istirahat yang cukup" ucapku datar.
"Dek Rin, kok di sini?" Suara bariton Mas Randi mengagetkan kami. Tampak wajah Mas Randi seperti takut.
Ririn tampak mengelap air matanya dengan telapak tangannya.
"Ngomongin apa sih kok serius banget? Adek gak papa sayang? Ririn gak ngapa-ngapain Adek kan" Mas Randi berjalan cepat ke arahku dengan wajah cemas.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Dek Rin, pulang ya. Jangan ganggu Mbak Rika. Maaf Mas Hari ini gak ke sana. Mas nungguin Rafael, tadi Mas sudah telepon Dek Rin kan" ucap Mas Randi menatap Ririn.
"Ririn pengen sama Mas" ucap Ririn merajuk. Aku tiba-tiba jijik sekali melihatnya.
"Mas lagi nungguin Rafael. Mohon Dek Rin mengerti ya. Besok kalau Rafael sudah sembuh, Mas pasti ke sana" ucap Mas Randi.
"Gak mau Mas, maunya sekarang. Ririn kangen" ucap Ririn yang kini bergelayut manja di tangan Mas Randi sambil mencemberutkan bibirnya. Hih mual sekali aku melihatnya.
"Dek Rin, Mas mohon yang ngerti ya. Dek Rin pulang istrirahat, kasihan bayi kita" ucap Mas Randi halus memegang perut Ririn yang masih terlihat rata.
"Pokoknya Mas harus pulang sekarang" ucapnya makin merajuk. Membuat emosiku bangkit. Ingin sekali aku melempar pakai sandal yang aku gunakan ini. Kalau tidak ingat lagi hamil mungkin sudah aku ajak baku hantam pakai kursi rumah sakit.
"Ririn, sudah resiko jadi istri kedua, kalau anak dari istri pertama sakit ya harus suami yang nungguin" ucapku dengan suara tinggi, aku hilang kesabaran.
Mas Randi dan Ririn tampak terkejut mendengar ucapanku.
"Kamu pulang atau aku suruh Mas Randi cerain kamu? Sudah tahu Rafael lagi sakit, gak ngerti juga sih! Gak mungkin aku lagi hamil enam bulan nungguin anak sakit di rumah sakit sendirian. Dasar mirip anak kecil saja!" Ucapku lagi dengan emosi. Kalau masalah anak aku tidak akan pernah mengalah.
"Dek Rin pulang ya. Jangan bikin gaduh di sini. Kasian Rafael. Pulang ya sekarang" ucap Mas Randi lembut.
Aku menarik nafas panjang, dadaku naik turun menahan emosi.
Ririn terlihat menangis dan bergegas berjalan pergi dengan cepat.
"Bikin emosi aja sih orang satu itu. Astaghfirullah" ucapku lirih seraya mengelus dadaku.
"Sabar ya sayang" ucap Mas Randi menenangkanku.
"Adek sabar ya. Maafin Mas ya. Adek jangan emosi. Kasihan bayi kita. Ririn memang agak manja. Kalau punya keinginan pengennya harus selalu diturutin" ucap Mas Randi.
"Ayo kita masuk" tangan kanan Mas Randi menuntunku masuk ke kamar Rafael. Sedang tangan kirinya membawa plastik bungkusan dan tas kecil.
__ADS_1
"Adek makan ya. Ini Mas bawakan makanan" ucap Mas Randi membuka bungkusan yang dibawanya dan memberikan kepadaku, saat kami sudah di dalam kamar.
Aku pun makan dengan lahap. Emosiku barusan membuatku semakin tambah lapar saja. Beruntung, Ririn tadi tidak aku makan. Huft