SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 4


__ADS_3

Pukul 18.00 waktunya berbuka puasa Mas Randi belum pulang. Biasanya beberapa menit sebelum waktu berbuka sudah sampai rumah. Kami biasa buka bersama keluarga. Akhirnya Kami makan hidangan buka puasa tanpanya.


Kami tunggu Mas Randi tak kunjung pulang. Pukul 20.30 anak-anak aku suruh segera tidur di kamarnya seperti biasa.


Sebelum tidur anak-anak bertanya


"Bunda, Ayah kok belum pulang? Kakak pengen disayang Ayah"


"Adek juga kangen, pengen digendong Ayah loh Bunda"


Ya, biasanya sebelum tidur Mas Randi selalu memeluk, menggendong dan becanda dengan anak-anak.


"Ayah kerjanya belum selesai, mungkin sebentar lagi pulang sayang. Ayo bobok sekarang. Besok sahurnya biar gak ngantuk. Baca doa sebelum tidur dulu ya sayang" Jelasku ke anak-anak.


"Iya Bunda" anak-langsung mengangkat kedua tangannya sambil melantunkan doa. Lucu sekali.


*****


Jam 9 malam terdengar suara motor Mas Randi. Aku belum tidur karena sedang menyelesaikan tulisan naskah cerpenku. Mas Randi pulang dengan rambut acak-acakan. Baju kusut. Mas Randi orang yang sangat rajin. Kemana-mana bawa sisir kecil di dompetnya. Sekarang aku melihat bukan seperti Mas Randi. Kenapa Mas Randi jadi seperti ini. Ah mungkin karena banyak pekerjaan jadi tak sempat mengurus badannya saat kerja, pikirku positif.


"Mas kok baru pulang?" Tanyaku setelah aku menyambutnya.


"Iya Mas Lembur Dek, maaf ya Mas pulang kemalaman. anak-anak sudah tidur?" Jawabnya.


"Sudah Mas, Mas sudah buka puasa?" Tanyaku.


"Sudah Dek, tadi di toko, Mas langsung mandi ya Dek".


"Iya Mas" ucapku.


*****


Sebelum tidur Mas Randi berbicara


"Dek, Mas gak nyaman kerja di toko Ririn. Pengen kembali di toko Pak Indra. Ririn sering mengajak kemana-mana. Mas gak enak berduaan terus sama perempuan lain. Pulangnya juga sering kesorean bahkan kemalaman, Mas jadi kurang waktu bersama keluarga" ucapnya.


"Ya, Mas sudah coba bilang ke Pak Indra?" Tanyaku.


"Sudah Dek. Kata Pak Indra toko Ririn butuh Mas, Mas rasanya pengen keluar kerja, tapi jaman sekarang nyari kerja susah" ucap Mas Randi sambil memijat keningnya.


"Ya, Adek cuma bisa berdoa semoga Mas Randi diberi kenyamanan kerja, dicoba bertahan dulu, semoga Allah beri yang terbaik" ucapku.

__ADS_1


"Ya Dek. Ayo tidur besok sahur biar tidak kesiangan"


Mas Randi memejamkan matanya. Tidak lama kemudian terdengar nafasnya teratur. Mas Randi sudah tertidur lelap.


Mataku tak juga bisa terpejam. Ingat perkataan Mas Randi tadi. Ingat semua kejadian-kejadian mencurigakan akhir-akhir ini.


Aku coba membuka aplikasi hijau di smartphone milik Mas Randi. Tak ada yang aneh. Chat Ririn hanya soal pekerjaan. Aku buka aplikasi-aplikasi lain pun tak ada yang janggal. Aku berdoa, Semoga suamiku selalu dilindungi oleh Allah dalam mencari nafkah untuk keluarga.


*****


Aku terbangun saat bunyi alarm pukul 03.30 pagi. Waktunya sahur. Aku mulai membuat menu sahur. Jam 04.00 aku bangunkan Mas Randi dan anak-anak.


Anak-anak sudah bangun. Mas Randi masih berselimut. Aku coba membuka selimutnya. Mas Randi menggigil demam.


"Mas, Mas sakit ya, badannya panas sekali" tanyaku khawatir saat memegang keningnya.


"Iya Dek, kepala Mas Pusing" ucapnya seraya beranjak bangun.


"Yasudah Mas tidak usah puasa dulu, lanjut tidur saja Mas. Nanti habis anak-anak selesai sahur, Mas Adek kompres dan kerikin badannya." Ucapku.


"Ya Dek"


Hari ini Mas Randi izin tidak masuk kerja. Tadi aku tanya katanya sudah izin, sudah kirim chat ke Ririn.


*****


Menjelang sore terdengar suara deru mesin mobil berhenti di depan rumah, Tak lama suara pintu di ketuk dan terdengar suara salam. Aku membukanya sembari menjawab salam. Aku terkejut melihat siapa ya datang. Tumben.


Tampak Ririn dan Bang Rendra yang datang membawa parcel buah berukuran besar dan plastik besar berisi snack. Ririn emang pernah ke sini 1 kali tapi bareng Pak Indra dulu.


Aku mempersilahkan mereka masuk dan menawarkan duduk di ruang tamu sempitku.


"Mba, Mas Randi sakit ya, ini Kami ke sini mau menjenguk, maaf mengganggu" ucap Ririn sopan seraya meletakkan buah tangannya di meja ruang tamu, saat mereka sudah duduk berdampingan.


"Iya benar Mbak, sebentar saya panggilkan Mas Randi dulu" jawabku ramah.


Aku bergegas ke kamar. Mengabari Mas Randi kalau ada Ririn menjenguk. Mas Randi sepertinya sudah agak membaik. Mas Randi berjalan keluar menemui sang tamu. Aku duduk di samping Mas Randi.


Ah tumben ada yang menjenguk, padahal sakit baru 1 hari. Biasanya Mas Randi sakit 3 hari tidak ada yang menjenguk.


Kami ngobrol berempat, mengobrol biasa, kebanyakan tentang pekerjaan. Mas Randi bilang sudah agak membaik. Besok bisa masuk kerja lagi. Tak ada gelagat-gelagat aneh. Hampir 1 jam akhirnya mereka pamit pulang. Aku bersiap untuk masak menu buka puasa.

__ADS_1


*****


POV RENDRA.


Hal yang paling terpuruk dalam hidupku yaitu saat aku ditinggal pergi untuk selamanya oleh istriku dan anakku. Istriku berjuang sahid saat melahirkan Risyana Aisyah nama bayi mungil Kami, meninggal 2 hari setelah melahirkan. Risyana pun menyusul 1 hari setelahnya.


Aku menangis. Sedih. Kalut. Benar-benar terpuruk. Ah rasanya kehilangan hampir separuh hidupku.


Aku berjuang untuk bangkit. Mengisi waktu-waktu luang dengan bermedia sosial agar tak selalu mengingat kejadian paling menyedihkan tersebut.


Saat sedang menscroll beranda aplikasi facebookku. Aku membaca sebuah cerpen yang dibagikan oleh salah satu temanku. Berjudul 'Berjuang Hidup dan Mati".


Aku membacanya huruf demi huruf, kata demi kata. Begitu mengena di relung hatiku. Sedikit terhibur untuk bangkit setelah membaca cerpen tersebut.


Aku mencoba klik menambahkan teman ke akun penulis tersebut. Aku mengikuti setiap tulisan-tulisan yang dipostingnya, lumayan untuk mengisi waktu luang membaca hal-hal positif.


Kadang aku melihat penulis mengupload foto dirinya dan keluarganya. Sedikit ada rasa kagum.


*****


Sore itu aku ke rumah Papa. Memang aku sering ke rumah Papa. Kadang untuk berbuka puasa bareng Papa, Mama dan Ririn adikku. Di rumah aku seorang diri. Hanya ditemani Bude asisten rumah tangga dan satpam. Aku kesepian jadi sering pulang ke rumah Papa.


Saat aku sampai di rumah Papa. Ternyata Papa sedang ada acara buka bersama bareng beberapa karyawan Papa. Aku ikut bergabung. Saat menikmati hidangan, aku melihat istri karyawan Papa seperti tidak asing lagi di pertemanan facebookku. Aku coba membuka smartphoneku dan membuka akun atas nama Rika Ayu Anjani, mencocokkan fotonya. Ya, benar ini orang yang sama.


Aku tersenyum padanya saat aku terpergok sedang memandangnya. Dia membalas sedikit senyuman dengan menarik sedikit ujung bibirnya. Wajahnya menarik. Bakatnya menulis dan membuat kue yang sering aku baca di media sosial.


*****


Esoknya aku mencoba mengirim pesan messenger. Rika membalasnya.


Ya, aku kagum. Hanya kagum. Hanya ingin kenal sedikit lebih dekat, sebagai teman.


Aku memberi anak-anaknya sedikit uang saku dan sedikit hadiah saat anak-anaknya berulang tahun. Kata Papa karyawannya banyak yang masih mengontrak. Aku tahu alamat Rika dari Papa, aku pura-pura bertanya rumah karyawan Papa atas nama Randi dengan alasan ada yang ingin aku tanyakan ke karyawan Papa.


*****


Pagi itu aku tak menyangka akan bertemu Rika saat Rika mengantri di kasir di tokoku. Aku menyapanya. Dia membalas ramah. Aku mengratiskan belanjaanya.


Aku ingin mengantarnya pulang tapi Rika membawa motor sendiri. Aku bertanya puasa atau tidak? Rika menjawab tidak. Aku ingin mentraktirnya walaupun aku sedang puasa. Aku hanya ingin bisa lebih lama ngobrol, berlama-lama, aku ingin mengenal lebih dekat. Tapi Rika menolak, karena anak-anaknya tidak bisa ditinggal lama-lama.


*****

__ADS_1


Saat aku sedang bersantai di rumah Papa. Ririn mengajakku ke rumah karyawannya atas nama Randi. Ririn ingin menengok karyawannya tersebut karena sedang sakit. Aku mengiyakan. Aku tahu Randi suami Rika. Ya, sekalian aku ingin melihat rumah Rika.


Saat sudah sampai rumah Rika. Hatiku berdetak cepat. Ah kenapa aku jadi deg-degan. Seperti ada rasa aneh. Ah apa yang terjadi atas perasaanku. Aku mencoba bersikap biasa saja saat bertamu ke rumah Rika, walau mata ini rasanya ingin selalu memandang Rika. Rendra, sadar. Rika sudah bersuami.


__ADS_2