SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 8


__ADS_3

"Sayang, bersedia kan menjadi istri Abang? Hidup bareng Abang merajut cinta berdua" ucap Bang Rendra sungguh-sungguh dan penuh harap, matanya menatapku dengan bibir tersenyum, manis sekali.


Beberapa detik hening. Akhirnya Aku mengangguk pelan. Aku balas senyum Bang Rendra. Tampan sekali.


"Terimakasih Sayang, Abang janji akan menjadi suami yang baik. Abang janji akan selalu bersama Adek. Kemanapun Abang pergi, Adek akan selalu Abang bawa. Abang janji akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak Adek seperti ayah kandungnya sendiri" lanjut Bang Rendra penuh keyakinan dan penuh semangat.


Aku tersenyum penuh haru. Aku pandangi anakku Reyhan dan Rafael yang sedang menikmati makanan dengan lahap dan anteng. Kami sedang berada di restoran sebuah mall. Bang Rendra mengajak kami jalan-jalan.


Anakku, akan memiliki ayah baru. Bang Rendra. Lelaki matang yang sangat baik, tampan dan mapan.


"Minggu depan keluarga Abang datang ke rumah Adek ya sayang. Melaksanakan lamaran dan bulan depan kita menikah ya sayang" lanjut Bang Rendra lembut.


"Terimakasih Abang, sudah mau menerima Adek apa adanya. Semoga Adek bisa menjadi istri yang baik untuk Abang" jawabku halus.


"Iya pasti sayang" balasnya.


Lalu aku mendengar suara anakku memanggilku


"Bunda.. Bunda.. Adek mau minum.. haus Bunda"


Seketika Aku terbangun dari tidurku. Dengan mata berat aku bangkit dan melihat Rafael memandangiku meminta minum. Lantas aku ke dapur mengambilkan minum.


Malam ini kami tidur di rumah baru, pemberian Ririn. Anak-anak aku temani tidur karena baru pertama takutnya mereka masih merasa asing tidur di kamar baru.


Selesai memberi minum, Rafael langsung tidur kembali.


Aku tak bisa memejamkan mataku, ku lirik jam dinding, pukul 01.00. Barusan aku mimpi aneh lagi. Ah semoga hanya bunga tidur.


Aku jadi teringat mimpiku beberapa bulan yang lalu. Tentang perselingkuhan Mas Randi dan Ririn yang memberiku rumah, mobil dan uang 100 juta, ditambah uang 200 juta.


Aneh sekali. Kini mimpiku hampir menjadi nyata. Apakah mimpiku waktu itu sebagai sebuah firasat atau sebuah kebetulan? Entahlah.


Kenapa yang aku alami dirumah tanggaku sekarang, mirip sekali dengan mimpiku waktu itu.


dan Bang Rendra? Kenapa malam ini aku bisa memimpikannya?


Aku bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Mengambil wudhu. Aku akan shalat tahajud. Kemudian lanjut shalat istikharah.


Aku ingin meminta petunjuk kepada Allah tentang rumah tanggaku. Apakah dilanjut atau bercerai. Aku masih bingung menentukan pilihan. Aku sangat takut salah mengambil langkah. Apalagi menyangkut masa depan.


Satu sisi aku masih sangat mencintai Mas Randi, Suamiku yang sudah 8 tahun bersamaku. Mas Randi dijebak Ririn.


"Demi Allah Dek. Mas tidak selingkuh. Mas tidak mencintai Ririn. Mas dijebak Dek. Ririn mengejar-ngejar Mas terus. Mas hanya mencintai Adek. Adek percaya kan dengan Mas" ucap Mas Randi beberapa waktu lalu.


Aku melihat ada kesungguhan dimatanya.

__ADS_1


Satu sisi lagi aku sangat sakit hati membayangkan suamiku bersama wanita lain. Apakah aku masih bisa menerimanya? Apakah semua akan bisa seperti dulu lagi?


Semua pertanyaan-pertanyaan berkecamuk dipikiranku.


Selesai shalat istikharah aku melanjutkan tidurku. Badan cukup lelah setelah tadi sore pindah rumah, kami memang tidak memiliki banyak barang untuk dibawa pindah. Hanya 1 mobil kecil bak terbuka cukup membawa barang-barang kami. Ternyata di rumah baru ini Ririn sudah mengisi perabotan rumah dengan lengkap, dari yang kecil sampai yang besar. Semua sudah tertata rapih ditempatnya masing-masing.


******


Pagi ini aku menyiapkan diriku dan hatiku untuk mengambil keputusan. Sebelumnya aku sudah membereskan rumah. Rumah pemberian Ririn sangat besar menurutku. Dengan luas 400 meter, yang aku baca di sertifikat. Terdiri dari 4 kamar. Semua ruangan luas, halaman luas. Entah harus bersyukur atau tidak akhirnya aku punya rumah begini.


Setelah shalat istikharah tadi malam pikiranku sudah mulai terbuka. Aku akan melanjutkan rumah tanggaku dengan Mas Randi dan Ririn aku restui menikah secara resmi oleh Mas Randi sebagai bentuk tanggung jawab dan menghindari dari tindak pidana hukum yang diancam oleh Ririn. Tapi dengan beberapa syarat yang sudah aku pikirkan secara matang.


Aku akan mencoba dulu melanjutkan rumah tangga ini. Jika aku tidak kuat maka aku akan meminta bercerai.


Saat sarapan. Aku di meja makan bersama Mas Randi. Anak-anak sarapan di ruang televisi. Mas Randi mengajakku bicara.


"Adek, nanti keputusan tentang ririn bagaimana Dek? Adek gak minta cerai dari Mas kan?" Ucap Mas Randi sambil menatapku dalam.


"Kalau misal Adek minta cerai gimana Mas?" Tanyaku balik sembari menyuapkan nasi ke mulutku.


"Ya Allah.. jangan Dek. Mas lebih milih dipenjara daripada harus bercerai dengan Adek dan menikahi Ririn" ucap Mas Randi tegas.


"Ooh gitu" jawabku singkat.


"Adek jangan minta cerai ya sayang. Kasihan anak-anak. Apapun keputusan Adek Mas berdoa semoga keluarga kita tetap utuh" ucap Mas Randi lagi.


*****


Kami semua sudah duduk di ruang tamu yang cukup luas. Mas Randi tidak berangkat kerja.


Sebelumnya aku sudah membuatkan minum untuk tamu. Tamu harus dilayani dengan baik. Walaupun aku harus menahan iman dan sabar saat membuat teh milik Ririn takut aku memasukkan racun tikus ke minumannya. Aku terus mengingat Allah supaya aku tidak melakukan itu.


"Mbak Rika, apa syarat yang Mbak ajukan agar Mas Randi bisa menikah secara resmi denganku" tanyanya tak sabar.


Aku menghela nafas pelan. Aku siapkan kata-kata. Mas Randi menatapku penuh kecemasan. Bang Rendra menatapku iba. Ririn menatapku tak sabar. Akhirnya aku mulai bicara.


"Aku mengizinkan kalian menikah secara resmi. Aku tidak akan meminta cerai."


"Alhamdulillah" potong Mas Randi.


"Tapi ada beberapa syarat. Yang pertama Kalau sudah menikah nanti Mas Randi 3 hari di rumahku dan 3 hari di rumah Ririn. Begitu hari seterusnya." Ucapku.


"Iya Mbak. Aku bersedia" jawab Ririn cepat dengan senyum mengembang. Duh semangat sekali Dia.


"Yang kedua Aku minta Ririn memberiku toko yang besar yang sama dengan toko yang Ririn punya sekarang. Aku tidak ingin Mas Randi kalau siang setiap hari selalu bersama Ririn. Aku minta toko juga supaya 3 hari Mas Randi di tokoku dan 3 hari di toko Ririn, biar adil kan. Namanya poligami harus adil dalam segala hal" lanjutku.

__ADS_1


"Iya bisa mba. Ririn punya 2 toko besar-besar kok yang punya aku sendiri" ucap Ririn tak kalah cepat.


"Yang ketiga jangan tunjukkan kemesraan di depan umum. Apalagi di depanku dan di depan anak-anak. Untuk menghindari rasa cemburu, aku dan Ririn seperti tidak saling kenal saja. Daripada ribet dan bermasalah" ucapku tegas.


"Iya siap Mbakku yang cantik" jawab Ririn semangat. Dasar tukang rayu.


"Yang keempat aku minta Ririn belikan aku mobil kecil untukku warna merah merk sama sama punya Ririn kemarin, atas namaku. Supaya aku bisa mengajak anak-anak jalan-jalan agar tidak jenuh di rumah saat Mas Randi sedang di rumah Ririn. Catat ya! Bukan aku matre tapi harus adil kan. Ririn memiliki mobil, sedangkan aku tidak. Namanya tidak adil kan kalau begitu. Oh ya dan rumah ini aku minta balik nama atas namaku. Ririn punya rumah, aku juga harus punya rumah kan. Baru adil namanya" ucapku panjang lebar. Kata Mas Randi, Ririn sudah punya rumah sendiri. Aku jadi teringat mimpiku beberapa bulan yang lalu. Aku sedikit terinspirasi sih.


"Oke Mbak. Nanti Ririn belikan mobil keluaran terbaru dan Ririn balik nama rumah ini." Ucapnya penuh kemantapan.


"Yang kelima. Soal nafkah keuangan. Aku mau dapat adil. Silahkan kalian atur. Jangan sampai gak adil. Kalau sampai aku tahu. Langsung aku ajukan cerai" ucapku lagi.


"Penghasilan toko Ririn dua-duanya imbang kok Mbak. Jadi pasti adil" balas Ririn.


"Yang keenam. Yang terakhir. Ririn tidak boleh hamil. Kalian tidak boleh punya anak. Kalau melanggar aku langsung meminta cerai" ucapku mantap.


"Loh kok gitu Mba! Aku pengen punya anak. Masa gak boleh" ucap Ririn memelas.


"Terserah. Itu tadi syaratku. Kalau mau ya sudah aku izinkan menikah lagi. Kalau tidak mau ya sudah aku tak mengizinkan." Jawabku enteng.


Aku lihat raut wajah Ririn seperti tidak suka dengan syaratku yang terakhir. Tapi terserah. Semua sudah aku pikirkan dengan matang.


Ada beberapa materi yang aku ajukan. Bukannya aku materialistis. Aku hanya ingin bermain-main dengan Ririn yang sudah memporak-porandakan hatiku. Kalau bisa bermain cantik, kenapa tidak.


Akhirnya Ririn menyetujuinya.


"Iya Mbak. Aku siap menyanggupi semua syarat." Ucapnya.


"Oke. Kalau syarat-syarat sudah siap. Silahkan bawa ke sini. Sekalian surat menikah laginya. Biar aku tanda tanganin" jelasku.


"Siap Mbak" jawab Ririn.


Aku tatap Mas Randi wajahnya penuh kekhawatiran.


"Maaf ya Mbak atas kelakuan Adek saya. Kalau sudah punya keinginan susah dihalangi. Keras kepala sekali. Papa dan Mama sudah menyerah menasihati Ririn. Ririn sudah dewasa dan sudah mandiri jadi Papa dan Mama tidak bisa berbuat apa-apa." Tiba-tiba Bang Rendra membuka suara.


"iih Abang. Jangan ngomong gitu" jawab Ririn dengan wajah cemberut sembari mencubit kecil paha Bang Rendra. Melihat raut wajah Ririn ingin rasanya aku tendang hingga tersungkur. Tapi tenang. Stok sabarku setiap hari diisi ulang.


"Kami pamit pulang dulu ya Mbak." Ucap Ririn seraya berdiri.


Aku hanya tersenyum kecut sembari memandangi mereka yang sedang berjalan keluar rumah. Mas Randi menggenggam tanganku dengan mata memerah. Akhirnya luruh air mata Mas Randi.


"Sudah Mas. Tidak usah menangis. Aku masih di sini bersama anak-anak" ucapku.


"Terimakasih ya Dek. Adek begitu kuat dan bijaksana menghadapi rumah tangga kita yang sedang rumit ini" ucapnya lirih.

__ADS_1


Aku berdiri. Mendatangi anak-anakku. Mencium dan memeluk mereka. Meraka lah yang menguatkanku menghadapi badai ini.


__ADS_2