SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 37


__ADS_3

[Dek, Mas malam ini gak pulang. Hana harus dirawat inap di rumah sakit.] Masuk pesan dari Mas Randi di aplikasi hijauku saat aku selesai shalat isya.


Aku tak membalasnya. Setelah itu aku langsung ke kamar anak-anak. Anak-anak sudah tidur semua. Aku pun langsung masuk ke kamarku, bersiap tidur. Tidur sendiri lagi. Hatiku sudah mantap. Besok pagi aku akan mendaftarkan gugatan cerai ke Mas Randi.


Saat subuh terbangun, kepalaku sedikit pusing dan badan seperti masuk angin. Tapi tak mengapa. Aku tetap pada niatku tadi malam. Aku tak ingin luka yang mengaga di hatiku saat ini semakin hari semakin lebar dan semakin sakit karena selalu disiram air garam. Aku ingin menutup luka itu perlahan-lahan.


Pukul delapan pagi aku keluar rumah membawa map coklat berisi berkas-berkas untuk mengajukan cerai, yang sudah aku siapkan sekitar seminggu yang lalu. Aku meletakkannya di kursi penumpang di mobilku.


Aku mengemudikan mobilku keluar dari garasi. Pertama aku akan menuju rumah Ibu dulu. Aku akan pamit kepala Ibu dan Bapak, kalau aku akan menggugat cerai Mas Randi.


"Kalau kamu sudah memutuskan untuk bercerai, tidak apa-apa, Nak. Kamu tentu tahu yang terbaik untuk masa depanmu. Dimadu itu ya pasti tidak enak. Kalau Ibu pasti sudah mundur dari awal." ucap Ibu saat aku mengutarakan niatku untuk bercerai dari Mas Randi.


Setelah dari rumah Ibu aku langsung menuju Kantor Pengadilan Agama. Aku membuka smartphoneku. Aku buka aplikasi penunjuk arah. Kemudian aku ketik dipencarian kantor pengadilan agama di kotaku. Setelah itu aku klik mulai. Aku mulai menjalankan mobilku mengikuti arah di aplikasi. Perjalanan sekitar lima kilometer.


Sekitar tiga puluh menit, aku sudah sampai di depan bangunan yang bertulisan Kantor Pengadilan Agama Negeri. Aku mengehentikan kendaraanku di parkiran.


Aku segera turun dari mobilku, membawa map berisi berkas-berkas. Aku berdiri sejenak. Menghadap gedung.


Sebelumnya aku tak pernah menyangka, aku akan berdiri di depan gedung ini.


Bismillah.


Aku tersenyum kecut seraya melangkahkan kakiku menuju pintu gedung. Jarak antara parkiran dan pintu lumayan jauh. Aku melangkah pasti. Tak ada keragu-raguan lagi.


Ketika aku hendak melangkah ke teras gedung. Tampak suara seperti orang berlari di belakangku. Detik kemudian aku hampir terpekik karena terkejut ada yang memelukku dari belakang, tapi aku langsung mengenal siapa yang memelukku dari belakang karena bau parfum yang tidak asing di hidungku. Mas Randi. Aku menoleh ke belakang dengan jantung terasa mau copot.


"Astaghfirullah! Mas Randi, ngagetin saja." ucapku.


Mas Randi nafasnya sedikit terengeh-engeh seperti habis lomba lari, seraya melepaskan pelukannya. Kemudian berjalan ke depanku dan memandangku dengan tatapan sendu.


"Dek, kenapa ada di sini? Adek, jangan nekat, Sayang. Adek gak ingat anak-anak kita? Mas gak akan mau bercerai dari Adek. Ayo kita pulang, Dek!" ucap Mas Randi menarik tanganku. Aku menepisnya. Kemudian aku terus berjalan menuju pintu. Mas Randi memelukku lagi dari belakang.


"Dek, tolong! Mas mohon! Jangan masuk! Ayo pulang, Dek. Mas mohon, Dek. Jangan main-main soal perceraian, Dek." ucap Mas Randi dengan suara memelas.

__ADS_1


Aku tak menjawab. Aku berusaha melepaskan tangannya yang melilit badanku. Namun gagal. Tangannya seperti terkunci.


"Mas, lepas! Malu dilihat orang." ucapku masih berusaha melepaskan pelukannya, setelah sebelumnya aku melihat beberapa pasang mata melihat ke arahku.


"Mas, gak akan melepaskannya kalau Adek gak pulang bareng Mas." ujarnya.


Huuhh. Mas Randi merepotkan saja.


"Lepas, Mas! Aku gak akan pulang sebelum mendaftarkan gugatan cerai ke Mas." ujarku.


Menit kemudian Mas Randi membalikkan badanku, Mas Randi bersujud di kakiku.


"Dek, Mas mohon! Jangan ceraian Mas! Mas gak mau cerai dari Adek! Kasihan tiga anak kita. Mas gak mau pisah dari Adek." ucap Mas Randi mengiba.


"Mas gak nyangka Adek ke sini. Kemarin Mas kira Adek hanya gertak saja. Ternyata Adek serius. Mas mohon, Sayang. Aku kita pulang!" lanjutnya.


"Bangun, Mas. Malu tuh di lihat orang-orang." kemudian aku berjalan menuju kursi di teras gedung. Aku duduk. Mas Randi dengan cepat menyusulku dan duduk di sampingku.


"Maafin Mas, Dek! Mas belum bisa menceraikan Ririn." ucapnya lirih.


"Sudah aku maafin sejak setahun yang lalu." jawabku.


"Jadi mau Adek apa sekarang?" ucap Mas Randi menggenggam tanganku.


"Mas ini pura-pura lupa atau gimana sih? Apa kurang jelas omonganku kemarin? Aku di gedung ini Mas kira mau belanja gitu?" ucapku datar.


"Maafin Mas, Dek. Jadi Adek mau menceraikan Mas?" ujarnya pelan.


"Gak ada pilihan lain, Dek?" tanyanya lagi.


"Astaghfirullah.. sabar.. sabar. Kemarin kan sudah aku kasih pilihan. Apa belum jelas? Mas pilih menceraikan Ririn atau aku yang akan menceraikan Mas? Mas pilih yang nomer dua kan?" ucapku dengan penuh penekanan.


"Adek, Mas gak milih yang itu. Mas kan gak pernah bilang." ucapnya.

__ADS_1


"Terus ini apa, Mas?" Aku membuka galeri di smartphoneku, kemudian aku menunjukkan dua foto kiriman dari Bang Rendra.


Mas Randi tampak terkejut melihat foto itu.


"Mas pacaran dengan Ririn atau sudah rujuk dengan Ririn? Kok tidak ada batasan gitu? katanya sudah bercerai secara agama." ucapku datar.


"Jawab, Mas!"


Mas Randi diam seribu bahasa.


"Kalau kebohongan satu pasti akan diikuti kebohongan-kebohongan lainnya. Maaf, Mas. Aku tidak mau punya suami munafik. Maaf, Aku harus masuk sekarang." ucapku seraya berdiri.


Mas Randi menarik tanganku. Kini air matanya sudah lolos mengalir di kedua pipinya.


"Ya Allah, Dek. Mas minta maaf. Mas, cuma bingung harus berbuat apa. Mas memang sudah rujuk dengan Ririn. Demi Hana, Dek!" ucapnya dengan suara serak.


"Dengan menipuku?" jawabku cepat.


"Mas gak berniat menipu, Adek. Mas hanya bingung mau gimana? Mas tidak bisa memilih." ucapnya lirih.


"Sudahlah, Mas. Aku gak mau bertele-tele. Izinkan aku masuk ke dalam. Mungkin jodoh kita hanya sampai di sini." aku hendak berdiri lagi. Namun Mas Randi menarik tanganku dan badanku hingga ke pelukannya.


"Adek, Mas gak bisa pisah dari, Adek. Jangan lakukan itu, Dek!" ucapnya memelas.


Aku diam saja menikmati pelukannya, nyaman sekali dipeluk laki-laki yang sudah menikahiku hampir sembilan tahun ini. Namun aku tak goyah untuk melepaskannya. Demi masa depanku.


Kami terdiam beberapa saat. Hanyut dengan lamunan masing-masing.


"Dek, temani Mas ya, Mas mau mendaftarkan gugatan cerai ke Ririn. Adek selalu temani Mas ya. Ayo kita ambil berkas-berkasnya. Adek ikut Mas ya, Sayang. Ayo naik mobil ke rumah Ririn." ucap Mas Randi tiba-tiba dengan menarik tanganku menuntun ke arah parkir mobil Mas Randi. Wajah Mas Randi tampak tegar.


"Mas, Serius?" tanyaku heran, karena Mas Randi secepatku itu berubah pikiran.


Mas Randi menggangguk seraya senyum ke arahku kemudian merangkul pundakku, berjalan menuju mobil Mas Randi.

__ADS_1


__ADS_2