
Hari ini aku akan pergi ke supermarket, stok keperluan cuci mencuci dan keperluan mandi habis, Mas Randi sedang di rumah Ririn. Kalau aku tidak membelinya sekarang, besok sudah kehabisan.
Kandunganku sudah hampir sembilan bulan. Tapi tidak apa-apa lah aku ke supermarket sendirian, kalau nunggu Mas Randi sudah keburu habis.
Saat sudah sampai supermarket, aku memasukkan barang-barang yang aku butuhkan ke keranjang belanjaan.
Saat aku berada di rak bagian tisu ada yang memanggilku
"Mbak, istri Randi ya?"
Aku menoleh. Tampak Pak Indra dan Bu Indra menyapaku.
"Iya benar, Pak" jawabku tersenyum ramah.
"Lagi belanja di sini?"
"Iya Pak"
"Lagi hamil berapa bulan, Mbak?" Tanya Bu Indra.
"Sudah mau sembilan bulan, Bu" jawabku.
"Sendirian? Randinya mana?" Tanya Pak Indra. Raut wajahku seketika berubah mendengar pertanyaannya.
"Sedang di rumah Ririn, Pak" jawabku datar berusaha menutupi rasa yang aku tak tahu rasa apa. Aku tidak suka ada orang yang tahu kalau suamiku menikah lagi.
"Saya minta maaf ya, Mbak, soal Ririn yang menjadi orang ketiga di rumah tangga Mbak dan Randi. Saya sudah menasihatinya, memarahinya, bahkan mendiamkannya sampai satu bulan. Tapi Ririn, tetap teguh pada pendiriannya."
__ADS_1
"Maaf karena ulah Ririn, jadi Mbak harus berbagi suami. Apalagi sekarang Ririn sudah hamil lima bulan. Semoga Mbak bisa menerimanya" lanjutnya.
"Iya, Saya sudah memaafkannya, Pak. Saya, sudah ikhlas" jawabku sambil tersenyum.
"Kalau Mbak sudah lahiran nanti kabarin kami ya, Mbak" ucap Bu Indra
"Iya, Bu" jawabku.
"Kami permisi dulu ya, Mbak. Semoga bayinya sehat sampai lahiran" ucap Pak Indra.
"Aamiin. Makasih, Pak, Bu" ucapku seraya memandangi punggung kedua orangtua Ririn yang sudah berjalan menjauh dariku.
Lega.
*****
[Mas, aku ingin belanja pakaian bayi dan segala kebutuhannya, nanti siang kita belanja ya, Mas?] Aku tulis pesan di aplikasi hijau, kemudian mengirimkan ke kontak Mas Randi.
Satu jam, dua jam, berjam-jam. Tetap centang satu. Dari subuh sampai sore, aplikasi hijau dan nomor telepon Mas Randi tidak aktif.
Harusnya pagi ini Mas Randi pulang ke rumahku. Tapi sampai sore hampir maghrib belum datang juga. Ah apa jangan-jangan ulah Ririn lagi.
Hingga malam hari, Mas Randi tak kunjung terlihat batang hidungnya. Kemana Mas Randi?
Hingga paginya Mas Randi pun belum juga datang. Smartphonenya masih tidak aktif.
Menjelang sore Mas Randi baru datang tergesa-gesa berlari-lari kecil menghampiriku yang baru selesai solat asar di mushala rumah kami.
__ADS_1
"Mas, sudah datang?" Tanyaku seraya menyalami punggung tangan kanannya dan kemudian aku berjalan menuju kamar.
"Ya, Dek" balas Mas Randi membuntutiku berjalan ke kamar.
"Kenapa baru pulang, Mas? Harusnya tiga puluh empat jam yang lalu Mas itu pulangnya" tanyaku serius menahan emosi.
"Maaf, Dek, Ririn mengajak Mas liburan ke luar kota, awalnya bilang tiga hari. Ternyata malah empat hari. Mas lupa membawa kabel charger, charger Mas dan charger Ririn tidak sama. Mas mengajak pulang, tapi Ririn menolak terus. Akhirnya Mas telat pulang ke sini" jawabnya menjelaskan.
"Ririn terus! Ririn terus! Yang tegas dikit kenapa sama Ririn! Kalau tidak urgent ya harus adil! Sudah berkali-kali Mas pulang telat hanya karena ulah Ririn!" Ucapku sedikit emosi tapi lirih. Aku takut anak-anak mendengar. Beruntung, rumahku luas.
"Adek, jangan marah, Sayang. Kasihan bayi kita. Maafin Mas ya. Mas gak akan mengulanginya lagi" ucapnya memelas.
"Masa aku terus yang harus mengalah sama Ririn. Mas harus bijaksana. Jangan kalah sama Ririn. Mas itu kepala keluarga. Mas itu laki-laki" ucapku lagi menatap tajam wajahnya.
Mas Randi seperti terkejut mendengar ucapanku. Wajahnya berubah serius. Detik kemudian, Mas Randi menjawab.
"Ya sudah besok Mas akan ceraikan Ririn. Kepala Mas Rasanya mau pecah. Mas menyerah punya istri dua" ucap Mas Randi berapi-api. Kemudian memelukku erat sekali, hingga aku sulit bernafas. Tiba-tiba terasa ada yang mengalir di kakiku. Seperti air ketuban.
"Mas, Adek kok kayak keluar air ketuban" ucapku panik. Aku menyingkap ke atas sedikit gamisku, tampak cairan mengalir di kedua kakiku.
"Adek mau lahiran, Sayang. Ayo kita ke rumah sakit sekarang" ucap Mas Randi tak kalah panik.
"Tapi belum cukup sembilan bulan, Mas. Baru delepan bulan penuh. Kurang satu bulan lagi"
"Iya, Dek. Pokoknya kita harus ke rumah sakit sekarang ya" ucap Mas Randi.
Mas Randi kemudian mengajak anak-anak ke rumah asisten rumah tangga untuk menitipkan Reyhan dan Rafael. Kemudian menyiapkan pakain salinku.
__ADS_1
Aku belum sempat membeli keperluan bayi. Punya suami mondar mandir ke sana-sini jadi aku sampai tidak kepikiran untuk membelinya, padahal perkiraan lahir tinggal satu bulan lagi.
Dengan cepat Mas Randi menuntunku menuju mobil. Aku lihat wajah Mas Randi sangat panik. Kemudian Mas Randi menjalankan mobil, mobil berjalan cepat menuju rumah sakit.