SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 33


__ADS_3

Pagi ini aku menggendong Rania, berjemur di depan rumah Ibu. Rania sudah mandi dan wangi, dimandikan baby sitternya. Reyhan dan Rafael pun sudah mandi, saat ini sedang bermain mobil-mobilan di halaman rumah Ibu yang luas.


Tampak Ibu baru pulang dari belanja sayuran di warung sayur tetangga. Ibu menghampiriku.


"Nak, tadi kata warung sayur, ada rumah mau dijual, rumahnya Pak Ramli itu lo. Itu yang lantai dua." ucap Ibu seraya menunjuk rumah ke arah kiri rumah Ibu yang berjarak lima rumah dari rumah Ibu. Tampak berdiri kokoh rumah lantai dua dengan desain minimalis, warna cat didominasi hijau. Ukuran rumahnya tidak seberapa besar.


"Oh itu, Bu. Lumayan bagus ya, Bu. Minta harga berapa, Bu?" tanyaku sambil mengamati rumah itu.


"Katanya dijual murah, dijual cepat, cuma minta lima ratus juta. Kepepet. Mau untuk bayar hutang, kemarin usahanya bangkrut." jawab Ibu.


"Wah, termasuk murah ya, Bu. Nanti aku bilang ke Mas Randi dulu. Semoga Mas Randi cocok dengan rumahnya." jawabku.


Ibu segera berlalu ke dalam rumah, membawa plastik sayuran. Setelah itu kembali datang di tempat aku berdiri. Aku sudah menyuruh Bude asisten rumah tanggaku untuk memasak di Rumah Ibu bersama Bude Ris.


Aku bermain dan berbincang di halaman rumah Ibu bareng Ibu dan anak-anak. Anak-anak terlihat ceria. Tampak Bapak sedang mencabuti rumput di samping rumah. Untung rumah kedua Kakakku berjauhan jadi tidak tahu permasalahan yang menimpa keluargaku. Semoga Ibuku tidak bercerita kepada kakak-kakakku.


[Mas, di dekat rumah Ibu, ada rumah yang mau dijual. Adek ingin punya rumah dekat rumah Ibu. Adek, sudah lihat rumahnya, Adek cocok, Mas. Nanti sore Mas ke sini kita lihat rumahnya ya, Mas?] Aku ketik pesan di aplikasi hijau untuk Mas Randi, kemudian aku mengirimkan ke nomor Mas Randi.


[Dek, kita gak usah beli rumah. Ririn bilang rumahnya gak usah dikembalikan, kemarin sebelum Ririn melahirkan Mas sudah bilang ke Ririn, kata Ririn semuanya gak usah dikembalikan, semua buat Adek saja. Ririn titip salam maaf juga buat Adek juga.] balas Mas Randi.


[Gak mas! Adek tetap mau beli rumah. Adek sudah tidak mau lama-lama tinggal di rumah itu lagi. Terlalu banyak kenangan buruk. Adek ingin secepatnya kita lepas apapun yang berkaitan dengan Ririn.] balasku.


[Mas bingung, Dek. Besok Mas pikir-pikir dulu ya. Mas punya anak dari Ririn, tentunya Mas tidak bisa lepas seratus persen dari Ririn. Maafin Mas ya, Dek. Tapi Mas janji akan menceraikan Ririn secepatnya.] balas Mas Randi.

__ADS_1


Aku menarik nafas, kemudian menghembuskannya dengan kesal membaca pesan terakhir dari Mas Randi.


[Mas, Aku kasih waktu satu bulan dari sekarang. Kalau Mas tidak menceraikan Ririn secara resmi. Maka aku yang akan mengurus surat perceraian kita. Titik!] Aku ketik pesan itu dengan penuh emosi. Kemudian aku klik tombol send dengan satu ketukan kasar.


Menit kemudian, ada telepon masuk dari Mas Randi. Aku tak mengangkatnya. Aku abaikan saja beberapa kali telepon masuk darinya. Beruntung, smartphoneku, aku silent jadi tidak berisik.


Aku segera menuju meja makan, Bapak, Ibu dan anak-anakku sedang menungguku di meja makan, kami akan sarapan bersama.


Tiga puluh menit kemudian saat kami sudah selasai sarapan, Mas Randi tiba-tiba datang. Menyalami Bapak, ibu, kemudian aku dan anak-anak. Kami mengobrol cukup lama. Kemudian aku izin menidurkan Rania. Mas Randi menyusulku ke kamar.


"Adek, Mas kangen." ucap Mas Randi dengan cepat mencium pipiku, aku sedang memberi ASI pada Rania dengan mengeloninya.


"Iya, Mas. Mas, sudah sarapan?" tanyaku.


"Sudah, Dek." jawabnya.


Aku diam saja. Tak ingin berdebat di rumah Ibu. Lagian kata-kataku tadi sudah sangat jelas kan!


"Mas, gimana rumah yang di dekat rumah Ibu ini yang mau dijual? Ayo kita lihat! Adek minat, Mas!" ajakku ke Mas Randi.


"Nanti sore atau besok ya, Dek, kita lihat rumahnya. Kalau Adek cocok ya gak apa-apa Kita beli." balas Mas Randi.


"Secepatnya ya, Mas. Soalnya rumahnya dijual cepat. Takut keburu laku."

__ADS_1


"Oke, Dek. Dek, Mas pamit pergi lagi ya. Mas mau mengantarkan Ririn pulang dari rumah sakit. Abis dzuhur ini Ririn sudah harus pulang." ucap Mas Randi seraya bangkit berdiri.


Aku mengangguk dalam posisi tiduran miring.


"Adek, yang sabar ya, Sayang! Jangan khawatir. Mas pasti akan menepati janji Mas untuk menceraikan Ririn secepatnya. Adek, jangan mikir yang aneh-aneh ya." ucap Mas Randi sambil merapikan baju dan rambutnya. Kemudian berlalu keluar kamar.


Aku mendesah sebal.


Tapi, Iya emang benar, aku harus sabar. Satu bulan lagi. Ya, sekitar satu bulan lagi Ririn sudah habis masa nifas. Tentunya sudah pulih dan bayinya semoga cepat pulih.


Setelah itu Mas Randi tak ada alasan lagi untuk mengulur-ulur waktu. Waktu yang seperti tak ada ujung pangkalnya ini.


*****


Sore harinya Mas Randi datang. Kami langsung berjalan kaki bersama-sama menuju rumah yang akan dijual, bersama Bapak dan Ibu.


Setelah mengobrol sebentar dengan pemilik rumah, kami langsung mengutarakan niat kami ingin membeli rumahnya dan melihat surat-suratnya.


Akhirnya deal rumah itu kami beli dengan harga lima ratus juga. Kami DP dulu sepuluh juta sebagai tanda jadi. Karena kami hanya membawa uang dengan jumlah itu. Kami berjanji keesokan harinya sisanya akan kami lunasi.


Rumahnya lumayan luas, terdiri dari lima kamar. Tiga kamar di lantai atas dan dua kamar di lantai bawah. Luas tanah dua ratus meter persegi dan luas bangunan seratus empat puluh meter persegi. Di depannya tampak hijau karena ada banyak tanaman bunga dan sayuran di tanah dan di pot. Sepertinya pemilik sebelumnya suka menanam. Cantik sekali. Walaupun rumah ini sangat kecil dibanding dengan rumah pemberian dari Ririn, namun aku menyukai rumah ini, sepertinya terasa adem dan nyaman untuk ditempati.


Keesokan harinya, aku dan Mas Randi menuju bank untuk mengambil uang pembayaran rumah. Setelahnya langsung menuju rumah Pak Ramli. Dalam waktu singkat hak rumah sudah berpindah tangan ke tangan kami. Bersyukur, aku nanti bisa tinggal di dekat rumah Ibu. aku tidak akan kesepian lagi.

__ADS_1


Aku menyuruh duo Bude untuk manyapu dan mengepel rumah baruku. Bangunan rumah ini masih termasuk baru. Tapi tak ada satupun perabotan di dalam rumah ini, isinya kosong melompong. Aku harus segera membeli perabotan untuk mengisi rumah ini, supaya bisa segera pindah.


Semoga ini menjadi langkah awal yang indah untuk kehidupanku ke depan.


__ADS_2