Super Surya

Super Surya
Aksi Heroik Surya


__ADS_3

"Pak Rendy terima kasih karena sudah membantu menyelesaikan masalah ini" kata Surya.


"Iya, Sur, sama-sama, ini juga berkat bantuannya Willy, Willy menceritakan semuanya pada aku" jawab Rendy.


"Makasih juga yah, mas Willy, udah ikut bantuin juga" Surya memandang kearah Willy. Willy hanya mengangguk sambil tersenyum. Setelah berbasa-basi basi sebentar, Willy berpamitan pada Rendy dan juga Surya, karena masih ada urusan lain yang harus diselesaikan.


"Ya udah aku balik keruangannya yah, kamu lanjut lagi kerjanya yah" Rendy beranjak menuju ke ruangannya.


"Hai, tuan, misi berikutnya telah diaktifkan. Misi Anda kali ini adalah membantu customer yang anda antarkan pesanannya dan tentu saja imbalannya berupa poin yang besar, selamat berjuang!"


"Oke, misi ketiga, aku usaha tidak sabar untuk segera menjalaninya" semangat Surya tengah menggebu-gebu. Surya menunjukkan pesanan tersebut pada juru masak yang bertugas hari itu.


"Oke, Sur, tunggu yah, sekitar setengah jam lagi baru siap, soalnya aku lagi buat untuk pesanan customer di meja 14 disana itu" katanya. Surya mengacungkan jempolnya dan menunggu pesanannya selesai dibuat. Sembari menunggu, Surya membantu teman-temannya yang lain, melayani para customer, karena Surya melihat teman-temannya sedikit kerepotan.


"Eh... Makasih, Sur, udah dibantuin" temannya, Yani, mengucap terima kasih. Surya membalas dengan tersenyum.


Selang 30 menit kemudian, pesanan sudah selesai dibuat.


Ting!.


"Super delivery order is ready!" Teriak sang juru masak dari dapur. Surya menghampiri dan membawa pesanan yang sudah disiapkan. Surya pun berangkat dan mengantarkan pesanan tersebut ke alamat yang tertera pada aplikasi super delivery. Diperjalanannya menuju ke alamat tujuannya, Surya mendengar suara teriakan seseorang minta tolong. Surya segera menghampiri dan mencari asal suara tersebut. Kira-kira berjarak 50 meter dari keberadaannya sekarang. Surya melihat ada seorang wanita yang dicegat oleh dua orang pria berbadan kekar dan penampilannya seperti preman. Surya pun langsung mendekat dan berusaha menolong wanita tersebut. Surya terlibat perkelahian dengan dua pria asing tersebut dan saling melayangkan pukulan. Dalam beberapa menit kemudian, kedua pria tersebut lari, setelah dikalahkan oleh Surya.


"Mbak gak apa-apa, gak di apa-apa'in kan sama kedua orang tadi?" Tanya Surya untuk memastikan keadaan wanita tersebut.


"Aku gak apa-apa kok" jawabnya meyakinkan.


"Duh... Mas itu wajahnya ada luka gitu, aku ingin yah" wanita tersebut terlihat sedikit khawatir melihat luka lebam di pipi Surya, akibat pukulan pria tadi.


"Gak apa-apa kok, mbak, cuma luka kecil aja" kata Surya santai.


"Aku ucapkan makasih yah, mas, udah nolongin aku dari dua orang preman tadi, kalau gak ada masnya, bisa jadi tas aku ini diambil sama mereka" wanita itu mengucapkan terima kasih pada Surya.


"Iya, mbak, sama-sama, aku juga tadi kebetulan lewat dan mendengar teriakan mbak, ya udah aku langsung samperin kesini aja" jawab Surya.


"Lain kali mbak harus lebih berhati-hati lagi, apalagi daerah sini juga sepi, kurang orang lalu lalang, kalau bisa sih harus ada yang temani, jangan jalan sendirian" Surya mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, mas, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi" katanya.


"Oh iya, mbak mau kemana? Mau aku anterin gak? Siapa tahu kita searah kan?" Surya berbalik bertanya


"Aku mau pulang kerumah aku, di perumahan the mutiara" jawabnya.


"Loh... Kok bisa kebetulan gini, aku juga mau anterin pesanan kesitu, kalau gitu bareng aja, tapi, cuma naik motor aja" Surya menawarkan tumpangan.


"Boleh deh, kalau gak ngerepotin sih, hehehe...!" Wanita itu tertawa kecil.


"Oh iya, kita ngobrol dari tadi, belum kenalan yah, nama aku Feni" katanya dan mengulurkan tangannya pada Surya.


"Aku Surya" Surya menjabat tangan wanita tersebut. Surya dan juga Feni melanjutkan perjalanannya menuju ke tempat tujuannya.


Selang 20 menit kemudian, mereka sudah memasuki area perumahan.


"Fen, rumah kamu yang mana?" Surya melirik dari kaca spion.


"Kamu lurus aja, nanti berhenti di tangga yang paling terakhir" jawab Feni.


"Oh... Blok B4 disini yah, pas banget ini, tujuanku juga disini" kata Surya.


"Oh ya? Nomor berapa?" Tanya Feni yang terlihat sedikit terkejut.


"Nomor 8".


"Itu kan rumah aku! Siapa yang pesan, Sur?" Feni terlihat penasaran.


"Disini sih, nama pemesannya, Sinta" Surya membaca kertas yang menempel di distro kemasan.


"Oh... Itu adik aku, emang dia biasa order makanan gitu, maklum lah, kita cuma tinggal berdua aja" kata Feni.


"Emang orang tua kamu kemana?" Tanya Surya.


"Mereka udah meninggal 5 tahun yang lalu, jadi, sekarang aku kerja keras buat hidup aku dan adikku, biayain kuliahnya juga, sebelum ninggalin mereka titip pesan, agar aku jaga Sinta sebaik-baiknya dan aku akan lakukan yang terbaik buat dia" mata Feni berkaca-kaca saat bercerita.

__ADS_1


"Fen, maaf yah, aku gak tahu dan gak bermaksud bikin kamu sedih" Surya merasa tidak enak hati, melihat Feni meneteskan air matanya saat bercerita.


"It's okey, Sur, kamu santai aja, gak perlu minta maaf" Feni tersenyum.


"Ya udah, yuk, ke rumah, Sinta pasti udah nungguin pesanannya tuh" ajak Feni. Surya mengikuti langkah Feni kerumahnya.


"Dek! Buka pintunya, kakak pulang!" Feni mengetuk pintu rumah. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dari dalam.


"Eh... Kak Feni, loh! Ini siapa, kak" Sinta yang membuka pintu sedikit terkejut melihat pria yang datang bersama Feni.


"Oh... Ini, mau Antrinya pesanan kamu" jawab Feni.


"Kok bisa barengan gitu, kak?" Tanya Sinta.


"Jadi, tadi, di jalan, kakak digangguin gitu sama dua preman, terus mas ini yang kebetulan lewat, nolongin aku dan barengan kesini deh" terang Feni.


"Tapi, kakak gak apa-apa kan? Gak ada yang luka atau apa" Singa terlihat begitu khawatir.


"Gak ada yang luka kok, cuma masnya aja yang tadi kena pukul preman itu, tolong kamu obatin yah" pinta Feni.


"Gak usah, mbak Feni, nanti bisa diobatin pas nyampe rumah, gak apa-apa kok" Surya menolak secara halus.


"Gak apa-apa, kamu gak usah sungkan gitu" Feni mencoba membujuk.


"Iya, mas, gak apa-apa, anggap aja sebagai ucapan terima kasih karena udah tolongin kak Feni" Sinta menimpali. Surya melangkah masuk ke rumah keduanya, duduk di ruang tamu. Singa mengambil obat untuk mengobati luka di pipi Surya. Beberapa saat kemudian, Sinta membawa obat serta semangkok air dan handuk untuk meredakan bengkak akibat pukulan tadi.


"Mas ini air dan handuk kecil untuk kompres, biar bengkaknya turun, terus ada plester dan minyak tawon untuk obati lukanya" Singa memberikannya pada Surya.


"Makasih mbak" Surya menerimanya dan mengobati sendiri luka di pipinya


"Mas Surya, kok mas mau sih bersusah payah sampai luka gitu, hanya untuk nolongin kak Feni, padahal mas Surya gak kenal sama kak Feni" kata Sinta.


"Yah.... Namanya sesama manusia, udah seharusnya kita tolong semampu kita, tanpa memandang dia itu siapa" jawab Surya.


"Aku benar-benar kagum sama pria ini yang care dengan orang lain, apalagi di jaman sekarang, udah langkah pria seperti dia" puji Sinta dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2