Super Surya

Super Surya
Tissa Memilih.......


__ADS_3

"Tis, kamu memang udah aku anggap seperti adik aku sendiri, aku sayang sama kamu, seperti halnya aku menyayangi Osi. Tapi, bukan berarti kamu bisa melakukan hal yang semaunya, semua harus sesuai dengan peraturan yang ada" Surya menasehati Tissa.


"Sekarang kamu ceritakan, apa yang terjadi, sampai kamu akhir-akhir ini sering meninggalkan resto tanpa izin dan melimpahkan pekerjaan yang seharusnya jadi tugas kamu pada karyawan lain, kamu tahu gak, mereka itu lelah kalau kamu seperti ini terus" kata Surya.


"Aku juga sebenarnya gak mau lakukan ini, kak, cuma aku terpaksa, agar hubungan aku dan Gani tidak berakhir" Tissa mengutarakan alasannya.


"Maksudnya gimana? Aku gak ngerti" Surya terlihat bingung. Tissa pun menceritakan semuanya pada Surya, tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi. Tissa tidak bisa menolak setiap ajakan Gani, sekalipun Tissa sedang sibuk-sibuknya dengan kerjaannya. Gani tidak mau menerima alasan apapun. Kalau sekali saja Tissa menolak ajakannya, maka Gani akan memutuskan Tissa dan Tissa tidak mau itu terjadi, karena Tissa begitu menyayangi Gani. Surya menganggukkan kepala dan mengerti, kenapa Tissa meninggalkan resto akhir-akhir ini tanpa ada izin.


"Jadi, begitu ceritanya, kak" Tissa mengakhiri cerita panjangnya.


"Tis, aku bukannya mau ikut campur dengan malahan pribadi kamu, cuma saran aku sih, mending kamu akhiri hubungan kamu itu, itu termasuk hubungan yang tidak sehat dan lagipula ego pacar kamu itu sangat tinggi, selalu ingin dimengerti, sedangkan dia tidak bisa mengerti kamu sedikitpun, tapi, kembali lagi ke kamu, mau terima atau tidak saran aku tadi" Surya memberikan saran pada Tissa.


"Jadi, kesimpulannya sekarang, kamu harus tentukan pilihan sekarang juga, kamu pilih untuk tetap bekerja disini dan lupakan pacar kamu itu atau lebih memilih untuk mementingkan hubungan kamu dengan pacar kamu" Surya memberikan dua pilihan pada Tissa.


"Pikirkan baik-baik sebelum kamu menjawab, jangan sampai kamu menyesal dengan keputusan kamu" Surya mengingatkan. Tissa berpikir sejenak. Disatu sisi, Tissa sudah sangat nyaman dengan pekerjaannya saat ini. Dia bisa mendapatkan penghasilan tiap bulannya dan tidak melulu bergantung pada Surya dan keluarnya. Tapi, disisi lain, Tissa begitu menyayangi pacarnya itu dan tidak menginginkan hubungannya berakhir. Karena sejak berpacaran dengan Gani, hari-hari Tissa terasa sangat indah dan Gani mampu mengobati rasa sakit yang pernah dia rasakan dulu. Namun, Tissa mengingat pesan dari mendiang kedua orang tuanya, kalau dia harus lebih prioritaskan karir, baru setelah itu memikirkan tentang pasangan hidup.


"Jadi, gimana, Tis, apa jawaban kamu, kamu sudah tentukan pilihan?" Tanya Surya pada Tissa yang cukup lama terdiam. Tissa menghela nafas panjang dan memberikan jawaban.


"Baik, kak, aku sudah memutuskan dan aku memilih untuk fokus dengan pekerjaanku dan aku udah gak peduli gimana akhir dari hubungan aku dengan Gani, pacar aku, yang terpenting aku gak mau menyia-nyiakan pekerjaan yang sudah aku dapatkan ini" Tissa menjawab dengan mantap.

__ADS_1


"Sebuah pilihan yang tepat, Tis, aku senang dengarnya" kata Surya.


"Aku juga janji, gak akan mengulangi kesalahan yang sama dan akan lebih profesional lagi, aku akan bekerja sebaik mungkin" Tissa berjanji pada Surya.


"Baik, aku pegang janji kamu, yah, kalau sekali lagi terulang, dengan sangat terpaksa aku harus memberhentikan kamu dari resto ini" Surya memberikan ultimatum pada Tissa. Tissa mengangguk, tanda dia setuju.


"Oke, cuma itu aja, yang mau aku sampaikan, silahkan kamu lanjut kerja lagi" kata Surya.


"Iya, kak, kalau begitu, aku permisi" Tissa beranjak keluar dari ruangan Surya. Tissa seperti diujung tanduk. Dia terancam akan dipecat kalau sekali lagi dia melakukan suatu kesalahan. Sosila melihat Tissa yang berjalan menuju ke meja kasir, dengan langkah lesu. Sosila menghampiri Tissa dan ingin menanyakan apa yang terjadi.


"Tis, kamu kenapa? Terus apa kata kak Surya sama kamu?" Sosila bertanya-tanya penasaran.


"Untung aja, kak Surya masih kamu satu kesempatan lagi, Tis, kalau gak, pasti kamu udah dipecat, aku juga lega dengarnya, kamu gak dipecat sama kak Surya" Sosila menghela nafas lega.


"Kamu juga harus lebih profesional lagi, Tis, jangan mementingkan urusan pribadi kamu, kak Surya itu tipikal orang yang tidak suka sama orang yang tidak profesional dalam pekerjaan, jadi, kamu harus benar-benar manfaatkan kesempatan terakhir kamu ini, Tis" Sosila mengingatkan.


"Iya, Si, aku bakal gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, aku gak mau kehilangan pekerjaan ini" jawab Tissa.


"Makanya fokus sama kerjaan, jangan cuma asik pacaran aja" sindir Gista, yang sudah berdiri disamping Sosila. Sosila menyenggol lengan Gista, seolah memberi isyarat untuk tidak terus menerus menyudutkan Tissa.

__ADS_1


"Iya, aku tahu aku salah, sudah melakukan ini" Tissa menyesali apa yang telah dilakukannya.


"Udah dong, Gis, jangan pojokkan Tissa terus, dia juga udah menyadari kesalahannya dan kak Surya juga memberi satu kesempatan terakhir untuk Tissa, kita lupakan masalah yang telah berlalu" Sosila mencoba menengahi.


Sepulangnya dari resto, Tissa tidak langsung pulang kerumah Surya, melainkan menemui Gani, pacarnya dan membicarakan soal hubungannya. Tissa memutuskan untuk mengakhiri hubungannya, agar dia bisa fokus dengan kerjaannya, karena kalau terus melanjutkan hubungannya ini, tidak menutup kemungkinan, Gani akan selalu mengajak Tissa jalan disaat jam kerja dan itu akan mengganggunya. Tissa tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama. 30 menit kemudian, Gani pun datang, dengan wajah yang berseri-seri.


"Hei, Tissa sayang, baru juga ketemu tadi siang, udah mau ketemu lagi, masih kangen yah" kata Gani sambil tersenyum.


"Gani, aku mau ngomong serius sama kamu" Tissa menatapnya dengan tatapan serius. Gani mengambil sikap akan mendengarkan.


"Sepertinya ini akan jadi pertemuan kita yang terakhir, karena aku udah gak bisa mengikuti setiap permintaan kamu yang setiap saat memintaku ketemu kamu, pekerjaan aku di SS Resto terancam kalau sekali lagi aku keluar resto tanpa izin, jadi, detik ini juga hubungan kita berakhir" kata Tissa dengan sikap tegas. Raut wajah Gani seketika berubah dan seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tissa.


"Tis, kamu gak serius kan dengan ucapan kamu itu? Kamu hanya bercanda kan?" Gani bertanya-tanya.


"Aku serius, Gani, lebih baik hubungan kita berakhir daripada harus kehilangan pekerjaan, kecuali kalau kamu mau mengerti dengan posisiku di SS Resto itu apa" jawab Tissa dengan begitu meyakinkan.


"Oke, kalau itu mau kamu, aku gak bisa paksa, ya udah, mulai hari ini kita putus, masih banyak kok cewek diluar sana yang mau sama aku, apalagi aku kaya, punya harta berlimpah" Gani beranjak pergi dari hadapan Tissa. Tissa akhirnya bisa bernafas lega sekarang, karena dia sudah menyelesaikan masalahnya itu dan bisa kembali fokus pada pekerjaannya.


"Pokoknya aku gak mau pacaran dulu, aku harus fokus kerja, biar bisa tetap biayain sekolahnya Jason, terus kalau bisa sih beli rumah, biar gak terus menerus numpang dirumah Sosila dan merepotkan mereka" Tissa bertekad dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2