
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Revan masih belum bisa melupakan Tissa. Meskipun sekarang dia sudah menikah dengan Yuri dan dikaruniai seorang anak, tetap saja bayangan Tissa masih terus ada dalam pikirannya. Bahkan setiap malam, Revan masih sering melihat foto Tissa, yang dia simpan di folder pribadi, agar tidak ketahuan oleh Yuri.
.........
4 tahun yang lalu, sebelum Revan memutuskan untuk menikah dengan Yuri, dia pernah berpacaran dengan Tissa. Hubungan mereka sebenarnya berjalan dengan baik, meskipun terkadang ada satu pertengkaran kecil yang terjadi. Namun, selalu bisa diselesaikan.
"Sayang, aku senang banget, akhirnya aku jadi pacar kamu, setelah berjuang keras untuk meyakinkan kamu, bahwa aku akan jadi pacar yang baik untuk kamu" kata Revan sambil memegang tangan Tissa.
"Dan kamu sudah membuktikan perkataan kamu itu, sampai akhirnya aku benar-benar yakin kalau apa yang kamu katakan itu, sesuai dengan kenyataannya" Tissa menyandarkan kepalanya di pundak Revan.
"Kamu janji yah, kamu gak akan tinggalin aku" Tissa menoleh kesamping, menatap Revan.
"Iya, sayang, aku janji gak akan tinggalin kamu, apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama, melewati setiap halangan dan rintangan yang ingin memisahkan kita" Revan menatap Tissa dalam-dalam.
Selang beberapa bulan kemudian, saat Revan baru datang setelah pulang berkencan dengan Tissa. Revan terkejut melihat dirumahnya, ramai orang datang dan tengah ngobrol dengan kedua orang tuanya. Terlihat semua yang duduk di ruang tamu, sedang membahas sesuatu yang begitu serius. Karena penasaran, Revan cepat-cepat masuk dan ingin tahu apa yang dibicarakan oleh orang-orang tersebut pada kedua orang tuanya.
"Nah.... Ini dia, anaknya udah datang, sini, Revan, duduk sini dekat mama" mama Revan memintanya untuk ikut gabung. Revan menuruti dan ikut bergabung dengan semua orang yang ada di ruang tamu.
"Revan, kenalkan, ini pak Haris, ibu Manda, terus disebelahnya lagi, namanya Yuri" mama Revan memperkenalkan tamunya itu pada Revan.
"Maksud kedatangan mereka kesini, mau menjodohkan kamu dengan Yuri, ibu dan juga kedua orang tua Yuri sudah sepakat untuk menikahkan kalian berdua, karena dari segi usia, kalian udah seharusnya menikah, terus kamu juga sudah mapan, begitu juga dengan Yuri, yang sudah memiliki karir yang bagus sebagai seorang chef" terang mama Revan.
"Yuri juga sudah setuju dan bersedia menerima perjodohan ini, sekarang tinggal kamunya aja, apa kamu bersedia atau tidak, kita semua tinggal menunggu jawaban kamu" lanjut mama Revan. Revan berpikir sejenak dan menimbang, langkah apa yang harus diambilnya, karena Revan bingung untuk memilih antara menerima perjodohan itu dan segera memutuskan hubungannya dengan Tissa atau tetap mempertahankan hubungannya dan menolak perjodohan itu.
__ADS_1
"Disatu sisi, aku gak bisa memutuskan hubunganku dengan Tissa, karena aku sayang banget sama Tissa. Tapi, disisi lain aku juga gak bisa menolak permintaan mama, aku takut mama kecewa kalau aku tolak perjodohan ini" Revan berada diantara pilihan yang sulit. Beberapa menit kemudian, Revan akhirnya memberikan jawaban dan dia memilih untuk menerima perjodohan tersebut. Revan berpikir kalau mamanya gak mungkin memilihkan jodoh yang salah, apalagi dia anak laki-laki satu-satunya.
"Aku senang dengarnya mbak Fifi, Revan bersedia menerimanya" kata Haris dengan wajah berseri-seri.
"Sekarang tinggal kita tentukan, tanggal pernikahan mereka" Manda menyela.
"Gimana kalau pernikahan mereka itu diselenggarakan dua Minggu dari sekarang" mama Revan mengusulkan.
"Itu ide yang bagus, makin cepat makin baik kan" Manda menimpali.
"Gimana, Revan, Yuri, apa kalian setuju?" Haris menatap Revan dan Yuri bergantian.
"Kalau aku sih, gimana baiknya aja, aku ikut aja" kata Revan pasrah.
"Aku juga sama, aku ikut aja, apa kata mama, papa dan tante Fifi" Yuri memberi jawaban.
"Aku harus temui Tissa dan memberitahu dia, kalau hubungan ini terpaksa harus berakhir" pikir Revan.
"Semoga saja Tissa tidak sakit hati dan bisa terima ini dengan lapang dada" harap Revan.
"Kalau begitu kita bertiga pamit, soalnya kita mau persiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan Revan dan Yuri" Haris berpamitan pada Fifi dan Revan, lalu beranjak pergi. Manda dan Yuri salaman dengan Reva dan mamanya, lalu beranjak pergi.
Keesokan harinya, Revan menjemput Tissa di kampusnya seperti biasa.
__ADS_1
"Hai, sayang" sapa Tissa dan langsung masuk ke mobil Revan. Revan membalas dengan senyuman.
"Kita mau kemana nih? Atau langsung antar aku balik aja?" Tanya Tissa.
"Kita ke taman bentar yah, sekalian ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama kamu" kata Revan dengan raut wajah serius.
"Iya, boleh, lumayan juga buat refresh pikiran sejenak" Tissa tampak senang. Melihat raut wajah Tissa yang begitu bahagia, Revan merasa semakin tidak tega untuk mengatakan tentang perjodohannya dengan Yuri pada Tissa. Revan takut akan merusak kebahagiannya.
"Sayang, lihat deh bunga-bunga di taman ini, cantik banget yah" Tissa menunjuk bunga yang tumbuh disekitar taman tersebut.
"Tissa, aku mau ngomong serius dan aku harap kamu jangan sedih setelah mendengarkan itu, karena aku yakin, kamu akan menemukan sosok yang bisa bahagiakan kamu kelak" Revan menggenggam kedua tangan Tissa.
"Maksud kamu apa sih, sayang, aku gak ngerti" Tissa masih terlihat bingung dengan arah pembicaraan Revan.
"Jadi, gini, mama aku jodohkan aku dengan seseorang, namanya Yuri, anak dari teman mama aku dan meminta aku dan Yuri untuk segera menikah, dua minggu kedepan" terang Revan. Raut wajah Tissa seketika berubah dan senyumannya langsung menghilang dalam sekejap.
"Terus? Apa jawaban kamu? Kamu gak menerima perjodohan itu kan?" Tissa bertanya-tanya, seolah tidak sabaran menunggu jawaban Revan.
"Aku mau saja menolaknya, tapi, aku gak bisa, aku takut mama kecewa kalau aku menolak perjodohan itu, maafin aku, Tissa, bukannya aku gak sayang sama kamu, tapi, ini semua demi mama" rasa bersalah seolah menumpuk dalam dada Revan. Detik itu juga, air mata Tissa menetes mendengar jawaban Revan. Tissa berlari pergi meninggalkan Revan. Tissa benar-benar kecewa dengan keputusan Revan, mengakhiri hubungan mereka. Revan berusaha mengejar, namun, Tissa sudah terlanjur naik ojek yang kebetulan lewat dan sesegera mungkin pergi menjauh.
.......
Sejak saat itulah, Tissa masih sangat sulit untuk membuka hatinya. Dia takut akan tersakiti lagi.
__ADS_1
"Tissa, andai kamu bisa memahami, kalau aku terpaksa melakukan ini demi menyenangkan mama aja" batin Revan.
"Tapi, yaudahlah, namanya juga udah masa lalu dan mulai sekarang aku akan belajar untuk melupakan masa laluku dan menjadi suami serta ayah yang baik untuk Yuri dan Cleo" Revan bertekad dalam hatinya. Revan selalu mengingat pesan ibunya, jadilah suami yang baik, sayangi istri dengan sepenuh hati dan jangan pernah sakit hatinya, apalagi sampai mengkhianatinya. Detik itu juga, Revan menghapus semua foto-foto Tissa yang selama ini disimpannya