Super Surya

Super Surya
Menuntaskan Masalah Di Masa Lalu


__ADS_3

Hari itu Sosila Bernat untuk pergi jalan-jalan, sekedar ingin merefresh pikirannya, mumpung tidak ada jadwal kuliah juga. Sosila mengajak Tissa untuk menemaninya. Tissa awalnya menolak ajakan Sosila, namun, terus menerus dibujuk, akhirnya Tissa pun bersedia untuk menemani Sosila.


"Si, emang kita mau kemana sih?" Tanya Tissa saat mereka di dalam taksi.


"Biasa lah, ke mall dong pastinya, kita jalan-jalan, terus nonton film juga, karena aku sempat lihat postingan di Instagram, ada film baru yang dirilis dan kayaknya bagus deh filmnya, aku juga udah lihat trailernya" jelas Sosila. Tissa mengangguk-angguk dan hanya mengikuti kemauan Sosila. Tissa secara tidak sengaja melirik ke depan. Dia menangkap pandangan supir taksi yang tidak berhenti melirik ke kaca spion. Tissa tidak tahu pasti, maksud dari lirikan supir taksi tersebut. Apakah hanya lirikan biasa aja atau ada tujuan lain dibalik lirikannya itu, entahlah, Tissa tidak mampu menerjemahkannya.


Selang 30 menit kemudian, mereka pun sampai ditujuannya. Setelah taksi itu pergi, Tissa hendak menceritakannya pada Sosila, apa yang dia lihat tadi saat didalam taksi. Namun, dia mengurungkannya dan menganggap itu biasa terjadi, kalau supir taksi curi-curi pandang pada penumpangnya, apalagi perempuan muda sepertinya dan Sosila. Mungkin ada yang menarik darinya, sehingga supir taksi tadi berkali-kali curi-curi pandang kearah keduanya. Tissa mencoba berpikir positif dan melupakan kejadian di taksi tadi. Tissa mengikuti Sosila kemanapun dia pergi.


"Tis, kita nonton dulu, yuk, terus nanti abis itu, kita makan" ajak Sosila.


"Terserah kamu aja, Si, aku ikut aja" kata Tissa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Sosila menarik tangan Tissa menuju ke bioskop. Mereka antri untuk membeli tiket, lalu beli cemilan dan minuman secukupnya untuk dibawa masuk kedalam bioskop. Sosila dan Tissa menikmati film dan tampaknya keduanya cukup antusias dengan film yang sedang terputar itu dan seolah terbawa suasana. Namun, entah kenapa, Tissa merasa kalau ada orang yang mengikuti mereka berdua dan sedang mengawasi keduanya.


"Si, aku merasa ada yang ikuti kita deh" Tissa berbisik pada Sosila.


"Kamu tahu darimana?" Tanya Sosila lirih.


"Perasaanku mengatakan seperti itu" kata Tissa.


"Udah, perasaan kamu aja kali, kamu gak usah khawatir" Sosila menenangkan Tissa dan meyakinkannya kalau itu tidak terjadi, seperti yang dirasakannya.


Selang 45 menit kemudian, Sosila dan Tissa keluar dari bioskop, karena film yang mereka tonton sudah selesai terputar.

__ADS_1


"Filmnya seru banget yah, Tis, ada lucu-lucunya, ada sedihnya juga dan ada tegangnya dikit, Pokoknya aku senang banget deh" Sosila meluapkan kebahagiannya.


"Tis, enaknya kita makan apa yah?" Sosila meminta pendapat Tissa.


"Apa aja deh, Si, aku ikut aja" kata Tissa pasrah.


"Ya udah, kita ke resto Jepang disana, yuk" ajak Sosila dan menarik tangan Tissa menuju ke resto yang dimaksud. Namun, saat berjalan masuk ke resto, mereka secara tidak sengaja menabrak seseorang yang juga ingin masuk.


"Eh... Maaf, mas, kita berdua gak sengaja" Sosila meminta maaf pada pria yang tidak sengaja ditabraknya.


"Iya, gak apa-apa, aku juga gak lihat-lihat tadi" katanya santai. Pria tersebut tidak berhenti menatap Tissa dan seolah familiar dengan wajahnya. Sosial memperhatikan pria tersebut dan mengikuti arah tatapannya yang mengarah pada Tissa.


"Mas, aku perhatikan, kok ngeliatin Tissa terus, ada apa yah?" Tanya Sosila pada pria tersebut.


"Ini beneran, Tis, mantan kamu?" Sosila melirik kearah Tissa. Tissa hanya mengangguk.


"Eh... Gimana, kalau kita lanjut ngobrol didalam, sambil makan,aku masih penasaran banget nih, Soalnya Tissa gak pernah cerita soal hubungannya itu" Sosila mengajaknya untuk ikut gabung, satu meja dengan mereka berdua. Meskipun sebenarnya Tissa tidak mau, tapi, mau gimana lagi, Sosila yang mengajaknya.


"Oh iya, sebelum lanjut, kita kenalan dulu, aku Sosila atau biasa dipanggil Osi, sahabatnya Tissa" Sosila memperkenalkan diri, mengulurkan tangannya pada pria tersebut.


"Aku Revan" pria itu menjabat tangan Sosila.

__ADS_1


"Sekarang ceritakan deh, tengang hubungan kalian dulu" Sosila sudah terlihat penasaran. Pria tersebut menceritakannya pada Sosila soal hubungannya dengan Tissa yang berjalan selama dua tahun. Hubungan mereka baik-baik saja awalnya, meskipun terkadang ada pertengkaran kecil yang terjadi, yang merupakan bumbu dalam suatu hubungan. Namun, mereka mampu melewatinya dan menyelesaikannya. Sampai pada akhirnya ibu Revan mengenalkannya pada seorang wanita dan berniat menjodohkannya dengan wanita tersebut. Revan juga sebenarnya tidak mau menerima perjodohan tersebut, karena pada saat itu dia sedang menjalin hubungan dengan Tissa. Tapi, Revan juga tidak tega untuk menolak permintaan ibunya dan membuat ibunya kecewa. Saat itu juga, Revan dihadapkan pada dua pilihan yang berat untuknya. Dengan hati yang mantap, Revan menjatuhkan pilihan untuk mengikuti perkataan ibunya, meskipun pada akhirnya hak tersebut membuat Tissa merasakan sakit yang mendalam.


"Aku paham sih, gimana rasanya berada dalam situasi sulit seperti itu" Sosila seolah memahami, apa yang dirasakan Revan saat itu.


"Tapi, aku salut loh sama kamu, Van, kamu tetap prioritaskan untuk bahagiakan ibu kamu, yah... Meskipun ada satu pihak yang tersakiti, tapi, itu bukan salah kamu, cuma memang takdirnya digariskan seperti itu, tinggal kitanya, apakah kita bisa menerima dengan ikhlas atau tidak" Sosila melontarkan kalimat nasehat.


"Jadi, Van, kamu gak usah, kayak merasa bersalah gitu atas yang pernah terjadi dulu, karena itu kan takdir Tuhan dan buat kamu, Tis, jangan terus menerus menyalahkan Revan, berpikir positif aja, berarti dia bukan jodoh kita dan kelak akan dipertemukan dengan sosok yang tepat, yang nantinya bisa membahagiakan kita" Sosila berbicara sambil menatap Tissa dan Revan secara bergantian. Setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sosila, membuat Tissa sadar dan apa yang didengarnya dari Sosila itu benar.


"Van, aku minta maaf yah, aku selalu menyalahkan kamu, padahal itu situasi yang sulit buat kamu dan aku sekarang bisa menerima semuanya ini" kata Tissa.


"Iya, Tis, aku juga minta maaf yah" Revan menyalami Tissa. Sosila terlihat senang melihat keduanya saling maaf-memaafkan.


"Oh iya, girls, maaf nih, aku gak bisa ngobrol lebih lama lagi, soalnya aku harus ketemu klien, next time kalau ada waktu, kita sambung lagi, see you" Revan bangkit dari duduknya dan beranjak pergi dari hadapan Sosila dan Tissa.


Jam 5 sore, Sosila dan Tissa berjalan keluar dari mall, setelah puas berkeliling didalam dan hendak pulang kerumah. Mereka menaiki taksi yang parkir di depan mall tersebut. Taksi itu pun segera melaju ke tujuan setelah keduanya naik.


Sosila dan Tissa tidak menyadari, kalau rute yang dilalui taksi tersebut, berbeda dengan rute yang biasa dilewatinya. Keduanya sibuk dengan handphone masing-masing. Supir taksi melirik ke spion dan sepertinya penumpangnya itu tidak memperhatikan jalan.


"Bagus, kedua gadis itu tidak memperhatikan jalan, kayaknya rencana bakal berjalan mulus nih" batin supir taksi tersebut kegirangan sambil tersenyum. Dia benar-benar yakin kali ini rencana yang sudah dirancangnya itu bakal berhasil.


*Apakah yang akan terjadi pada Sosila dan Tissa? Adakah seseorang yang akan menolong mereka?

__ADS_1


........


__ADS_2