
"Om, Tante, kak Surya dan juga Osi, makasih banyak untuk jamuan makan malamnya" Tissa mengucapkan terima kasih pada semuanya.
"Oh iya, Tissa, seperti janji aku tadi, ini makanan buat adik kamu, mohon diterima yah" Surya memberikan bungkusan yang sudah disiapkannya pada Tissa.
"Makasih yah, kak Surya, adik aku pasti akan senang banget" Tissa menerimanya dari tangan Surya.
"Oh iya, kamu pulangnya naik?" Tanya Surya.
"Aku paling pulang naik ojek aja sih, kak" kata Tissa.
"Aku anterin aja, gimana? Udah malam loh ini, udah sepi juga kalau jam segini" Surya menawarkan diri.
"Iya, Sa, bahaya kalau kamu jalan sendirian, apalagi kamu itu perempuan" mama Surya menimpali.
"Makasih sebelumnya, kak, aku jadi ngerepotin kak Surya" kata Tissa. Mobil Surya pun langsung meluncur menuju kerumah Tissa.
"Oh iya, Tis, aku penasaran, tadi Osi bilang kalau kamu hanya tinggal berdua aja dengan adik kamu, sejak kedua orang tua kamu meninggal, terus biaya hidup kalian berdua sehari-harinya, gimana? Apa ada saudara kamu atau siapa gitu, yang menanggung biaya hidup kalian berdua?" Surya bertanya-tanya.
"Aku yang biayain sendiri untuk biaya hidup kita berdua, buat biaya sekolah adik aku juga, untung aja rumah yang kita tinggali itu adalah rumah sendiri. Orang tua aku belikan rumah itu, supaya nanti gak susah lagi, apalagi saudara-saudara ibu dan ayah aku gak ada yang peduli dan seolah lepas tangan semuanya" Tissa meneteskan air matanya, saat bercerita. Surya bisa merasakan bagaimana perasaan Tissa saat ini. Disaat dia dan juga adiknya ditinggal kedua orang tuanya untuk selamanya, mereka harus berjuang demi untuk bertahan hidup tanpa ada satupun keluarganya yang peduli.
"Aku miris mendengar cerita Tissa barusan, aku gak menyangka kalau cobaan hidupnya begitu berat, kamu yang sabar yah, Tissa, ketika aku sudah punya banyak uang dari hasil keringatku, aku akan mempersunting kamu, dengan begitu, kamu dan juga adikmu akan terjamin hidupnya" Surya berjanji dalam hatinya.
"Ini tissue untuk menghapus air mata kamu" Surya menyodorkan tissue pada Tissa.
"Makasih, kak" Tissa mengambil tissue dari tangan Surya.
Mobil Usrya pun sampai didepan rumah Tissa. Mereka berdua terkejut melihat ada beberapa orang berdiri di teras rumah Tissa, juga melihat semua barang-barang didalam rumahnya sudah ada diluar semuanya.
__ADS_1
"Loh... Tis, itu ada apa yah? Kok banyak orang di teras rumah kamu?" Tanya Surya yang tampak bingung.
"Gak tahu juga, kak, aku kaget malah tiba-tiba banyak orang kayak gini dan juga barang-barang dirumah, satu persatu sudah dikeluarkan" Tissa pun juga terkejut melihat banyak orang di depan rumahnya. Surya dan Tissa turun dari mobil, menghampiri kerumunan orang tersebut.
"Ini ada apa yah, rame-rame disini? Terus kenapa barang-barang aku dikeluarin kayak begini?" Tissa menatap orang-orang di depannya dengan kebingungan.
"Nah... Kebetulan kamu udah datang, Tissa, kamu bawa semua barang-barang kamu ini dari sini, karena mulai malam ini, kamu dan juga adik kamu sudah tidak bisa menempati rumah ini lagi" salah satu dari kerumunan itu angkat bicara, yang tidak lain adalah paman Tissa.
"Apa hak bapak usir Tissa dan adiknya dari rumah ini? Ini rumah peninggalan ayah dan ibunya Tissa, gak bisa bapak main usir aja kayak gini" Surya marah dibuatnya.
"Hei, anak muda! jangan ikut campur, ini urusanku sama Tissa, kamu diam aja, kamu tidak tahu apa-apa" paman Tissa mengarahkan telunjuknya ke arah Surya.
"Om, kenapa barang-barang dikeluarin, ada apa sebenarnya?" Tanya Tissa.
"Rumah ini sudah dijual dan besok pagi, orang yang beli rumah ini, akan tinggal disini, jadi, kamu dan adik kamu pergi dari rumah ini, bawa semua barang-barang kamu" paman Tissa mengusir Tissa dari rumahnya.
"Dengar yah, Tissa, yang berhak atas rumah ini adalah om, karena om adalah adik dari ayah kamu, rumah ini dibeli ayahmu sebelum menikah dengan ibumu, otomatis ini hak milik om, bukan kamu, ngerti!" Kata paman Tissa dengan tatapan tajam.
"Gak bisa gitu dong, om, aku kan anaknya, aku juga punya hak, giliran harta aja, om yang terdepan, dulu aja waktu ayah dan ibu meninggal, gak ada satupun yang datang untuk mengantarnya ke pemakaman, sekarang giliran hartanya malah diambil, dasar jahat! Rakus harta!" Bentak Tissa dengan mata melotot. Mendengar hal tersebut, paman Tissa melayangkan tamparan ke pipi Tissa.
"Anak kurang ajar! Pergi kamu dari sini sekarang juga, sebelum kesabaranku habis!" Kemarahan paman Tissa meluap.
"Udah, Tissa, mending kita pergi aja dari sini, percuma ngomong sama orang yang gak punya hati seperti dia ini" kata Surya dan mengajak Tissa untuk segera pergi dari rumahnya, yang sudah dikuasai oleh paman Tissa.
"Dan untuk anda, ingat baik-baik, suatu saat anda akan mendapatkan karma dari perbuatan anda ini, mengambil hak anak yatim piatu, pasti anda akan mendapatkan balasan yang lebih pedih dari ini" Surya seolah-olah menakuti paman Tissa. Namun, paman Tissa tertawa mendengar perkataan Surya tersebut dan menganggapnya sebagai angin lalu saja. Setelah membereskan semua barang dan memasukkannya kedalam mobil, Surya bersama Tissa dan juga adiknya segera beranjak pergi dari rumah tersebut.
"Kak, malam ini kita mau tidur dimana, mana rumah kita sudah dijual juga secara diam-diam" kata adik Tissa, Jason.
__ADS_1
"Kakak juga gak tahu, Jas, mana kakak juga belum gajian, jadinya kita belum bisa kontrak rumah" Tissa pun terlihat bingung.
"Udah, Tis, untuk sementara waktu, kamu sama Jason tinggal dirumahku aja, lagian udah malam kayak gini, mau kemana juga, gak tahu kan" kata Surya.
"Gak usah deh, kak, takutnya aku sama Jason amlah merepotkan lagi" Tissa menolak tawaran Surya.
"Gak merepotkan kok, kamu tenang aja, nanti biar aku yang jelasin sama papa dan mama aku, pasti mereka mengerti kok" kata Surya santai.
Selang 39 menit kemudian, mereka pun sampai dirumah Surya.
"Loh... Surya, kok Tissa bareng kamu lagi kesini? Terus yang disamping Tissa itu siapa?" Tanya mama Surya terkejut melihat Surya kembali bersama Tissa lagi dan seseorang yang belum dikenalnya.
"Iya, Sur, terus ini juga Tissa bawa barang banyak gini" papa Surya menimpali.
"Jadi gini ceritanya, waktu aku antar Tissa balik kerumahnya, aku sama Tissa lihat banyak orang yang ngumpul depan rumah Tissa, jadi, segera kita hampiri dan ternyata itu omnya Tissa, dibantu oleh beberapa orang suruhannya" jelas Surya.
"Omnya Tissa itu sudah menjual rumah peninggalan orang tuanya tanpa sepengetahuan Tissa, tahu-tahu semua barang-barang yang ada didalam rumahnya itu sudah dikeluarkan, makanya itu aku bawa Tissa dan juga adiknya untuk tinggal disini sementara waktu, karena mereka gak tahu mau kemana" lanjut Surya. Mendengar cerita Surya, papa dan mamanya merasa sedih dengan apa yang dialami oleh Tissa dan juga adiknya.
"Gimana, ma, pa, mereka boleh kan, tinggal disini" Surya menatap mama dan papanya.
"Boleh, Sur, Tissa dan adiknya bisa tidur di kamar tamu, kamu bawain barangnya ke kamar" jawab mama Surya.
"Makasih yah, tante, om, sudah mau menerima aku dan adik aku untuk tinggal disini sementara waktu" Tissa mengucap terima kasih pada papa dan mama Surya.
"Aku janji, besok aku udah gajian, aku akan langsung cari kontrakan" Tissa menambahkan.
"Udah, kamu jangan sungkan gitu, tante dan km senang ada kamu dan adikmu disini, rumah jadi makin rame" kata mama Surya.
__ADS_1
"Ya udah, kalian berdua istirahat yah, kalau perlu apa-apa, kamu bisa minta tolong Surya atau Osi yah" lanjut mama Surya. Surya mengantar Tissa dan Jason ke kamar tamu, yang berhadapan dengan kamar Surya dan Sosila.