Super Surya

Super Surya
Malaikat Penolong Sosila


__ADS_3

Selang beberapa menit kemudian, Sosila mengalihkan pandangan sejenak dari handphone-nya dan melihat ke jalan. Sosila tampak bingung, dimana mereka sekarang.


"Pak, ini dimana yah? Aku gak pernah lewat sini kalau mau balik ke rumahku" Sosila bertanya pada supir taksi. Supir itu tidak menjawab dan hanya melirik sambil tersenyum. Sosila sedikit takut melihat tatapan supir tersebut dari spion. Tissa yang juga melihatnya, terlihat panik dan apa yang ditakutkannya itu terjadi.


"Gak usah takut, neng, malam ini kita senang-senang, neng berdua pasti akan suka, hahaha.......!!" Kata supir taksi tersebut sambil tertawa penuh kemenangan.


"Bapak jangan macam-macam, atau aku akan teriak!" Ancam Sosila.


"Kamu teriak aja yang kencang, gak ada yang bakal nolongin, disini tidak ada siapa-siapa yang bisa nolongin kalian" tantangnya. Sosila dan Tissa terlihat makin panik. Mau minta tolong, tidak ada satupun orang yang lewat, karena jalan yang dilalui benar-benar sepi. Mereka berdua sudah terlihat pasrah, meskipun dalam hatinya, tetap berharap ada suatu keajaiban yang terjadi dan datang seseorang menyelematkan mereka berdua. Melihat kepanikan yang terpancar dari wajah Sosila dan Tissa, membuat supir itu senyum-senyum dan makin yakin kalau rencananya ini akan berhasil.


"Halo, bro, bentar lagi aku nyampe, bersama target kita" kata sang supir saat menerima telpon dari temannya yang sudah menunggu di suatu tempat. Namun, sepertinya situasi tidak berpihak pada supir taksi tersebut, karena secara tiba-tiba ada sebuah mobil yang mencegatnya dan mau tidak mau dia pun menginjak rem secara mendadak.


"Siapa sih! Berani-beraninya menghalangi jalan aku!" Supir taksi itu terlihat sangat kesal. Supir taksi itu turun dan menghampiri pengemudi mobil yang mencegatnya itu. Pengemudi mobil tersebut pun keluar, yang ternyata adalah David, yang sedari tadi membuntuti taksi yang ditumpangi Sosila dan Tissa. Keduanya pun juga tidak menyangka, kalau David membuntuti mereka. Tapi, ada rasa senangnya juga, karena ada yang bisa menolong keduanya, agar terlepas dari supir taksi tersebut.


"Lepaskan kedua gadis di taksi itu! Jangan kamu berani macam-macam sama mereka berdua!" Kata David dengan suara agak lantang.

__ADS_1


"Lepasin? Enak aja, aku udah susah payah dapetin mereka, gak mungkin aku lepasin gitu aja, emang kamu siapa, sampai berani cegat aku kayak gini, udah bosan hidup kamu" supir taksi itu memelototinya. Tanpa berkata apa-apa lagi, David langsung maju dan menyerang supir taksi tersebut. Supir taksi itu juga sudah siap dengan serangan David. Mereka terlibat perkelahian yang cukup sengit, membuat Sosila dan Tissa cukup deg-degan. Namun, selang beberapa menit, supir taksi itu akhirnya menyerah kalah dari dari David. Setelah melihat supir taksi itu tidak berdaya lagi, Sosila dan Tissa segera turun dari taksi tersebut, lalu segera pergi dari tempat itu dengan menggunakan mobil David.


"Akhirnya bisa selamat juga dari supir taksi mesum itu" Tissa menghela nafas lega.


"Iya, Tis, untung aja kak David datang disaat yang tepat, makasih yah kak" Sosila menimpali dan menatap kearah David.


"Iya, sama-sama, aku juga senang kalian belum sempat di apa-apain sama supir taksi itu" kata David.


"Tapi, kak David tahu darimana, kalau kita berdua lewat jalan itu?" Tanya Sosila penasaran.


"Sejak kalian keluar dari rumah, aku udah buntuti kalian diam-diam, makanya aku tahu kalau kalian di jalan itu" jawab David.


"Makasih yah, kak David, kakak selalu care dan selalu siap sedia membantuku, meskipun aku selalu menolak setiap kakak ngajak jalan, tapi, kakak tidak pernah merasa kecewa atau apa. Apa mungkin ini waktunya aku untuk membuka hatiku buat kak David? Aku harus benar-benar yakin dulu, kalau kak David adalah lelaki yang tepat untukku" batin Sosila.


Selang 30 menit kemudian, mereka pun sampai dirumah. Di teras rumah, terlihat papa dan mama Sosila, yang juga baru sampai dan turun dari mobil.

__ADS_1


"Eh... Osi, Tissa" kalian darimana?" Tanya mama saat melihatnya turun dari mobil.


"Dari mall, terus tadi ada sedikit insiden gitu, tapi, untung aja ada kak David yang tolongin dan anterin kita berdua kesini" jelas Sosila.


"Tapi, kalian berdua gak apa-apa kan?" Tanya mama dengan sedikit khawatir.


"Gak kok, ma, juga berdua gak apa-apa kok" jawab Sosila, yang membuat mamanya jadi tenang.


"Makasih yah, nak David, udah mau bantuan Osi dan juga Tissa" mama Surya menatap David.


"Sama-sama, tante, aku juga udah anggap Osi ini seperti adik aku sendiri, jadi, aku akan siap bantu kapanpun" kata David sambil tersenyum. Sosila sangat senang mendengar apa yang dikatakan David pada mamanya, setidaknya dihati David, Sosila adalah orang yang disayanginya, meskipun dia ngakunya di depan mamanya kalau Sosila sudah dianggap seperti adiknya sendiri, padahal yang sebenarnya David benar-benar menyimpan perasaan cinta padanya, cuma mungkin belum berani untuk mengatakan yang sejujurnya.


"ya udah kalau gitu, om, tante, Osi dan juga Tissa, aku pamit yah" David berpamitan dan beranjak pergi dari rumah Surya.


"Osi, kamu belum ceritakan semua pada mama dan papa, insiden apa yang terjadi tadi? Terus gimana caranya kalian bisa bertemu David" papa terlihat penasaran.

__ADS_1


"Jadi, tadi sewaktu kita mau balik kerumah dengan taksi, ternyata taksi yang kita berdua tumpangi, malah berbelok kearah lain. Aku dan Tissa yang asik dengan handphone kita masing-masing, gak tahu kalau supir taksi itu melewati rute yang berlainan dengan arah kerumah, aku baru nyadar saat aku melihat ke jalan dan jalanan itu sepi banget dan aku tahu kalau itu bukan arah kerumah, aku sama Tissa sempat panik, namun, pada saat yang tepat kak David datang dan menyelamatkan kita" Sosila bercerita panjang lebar.


"Kak David juga sebenarnya sudah mengikuti kita sejak keluar dari rumah. Kak Surya yang nyuruh kak David untuk mengawal kita berdua secara diam-diam. Kak David tahu kita Erdian keluar itu dari Jason, adiknya Tissa, gitulah ceritanya menurut yang dikatakan kak David tadi" Sosila menambahkan. Mama dan papanya mengangguk, memahami penjelasan dari Sosila. Dalam benak mama dan papanya, ada rasa bangga pada Surya, yang bisa dipercaya untuk menjaga adiknya itu dengan sebaik-baiknya. Tidak salah kedua orang tuanya mengandalkan Surya, karena Surya mampu menjalankan amanah yang diberikan.


__ADS_2