Super Surya

Super Surya
Tidak Seimbang


__ADS_3

Surya terbangun saat handphone-nya berdering. Surya meraba meja disamping tempat tidurnya, mengambil handphone dan menjawab panggilan, yang entah dari siapa.


"Ya, halo!" Surya menjawab dengan suara berat.


"Ya ampun, Surya, jam segini kamu masih tidur, udah jam berapa ini, ayo buruan bangun!" Omelnya. Surya sudah mulai tersadar, melihat layar handphone-nya, melihat siapa yang menelponnya.


"Iya, chef Yuri, ada apa? Ini kan masih jam 7 pagi, lagian juga belum ada orderan yang masuk di aplikasi super delivery" kata Surya.


"Surya, jangan mentang-mentang belum ada orderan, kamu bisa malas-malasan gini, buruan bangun dan bantuin aku, cepetan! Gak pake lama yah, aku tunggu!" Yuri pun langsung mengakhiri panggilan. Baru saja dia bangun tidur, sudah mendengar omelan Yuri. Padahal tugas di aplikasi super delivery, yang menjadi tugas utamanya disini, belum ada tugas baru lagi.


"Pagi-pagi chef Yuri udah bikin kesal, maunya apa sih itu orang, mana nyuruh aku lagi bantuin dia, kayak bos aja gayanya" Surya terlihat kesal dengan sikap Yuri tersebut. Mau tidak mau, Surya pun mengikuti apa yang dikatakan oleh Yuri, demi kelancaran pekerjaannya. Surya bangkit dari tempat tidurnya dan bergegas mandi. Sekitar 25 menit kemudian, Surya sudah selesai dan menemui Yuri yang sudah menunggunya di lobby.


"Lama banget sih, dasar lambat!" Yuri menatap Surya dengan tatapan kesal, karena telah membuatnya menunggu cukup lama.


"Ini orang kenapa sih, marah-marah aja, kalau bukan karena tugas di aplikasi, aku juga malas kerja bareng dia, ngeselin banget dia ini" gerutu Surya dalam hati.


Ya udah, yuk, kita langsung jalan aja" Yuri beranjak dari duduknya. Saya melangkah keluar, mengikuti langkah Yuri, ada sebuah notifikasi dari aplikasi super delivery yang masuk. Surya membaca isi notifikasi tersebut. Disitu disebutkan, Surya diminta mengantar pesanan pada Herman yang merupakan seorang peternak bebek dan menyelesaikan tugas darinya, dengan imbalan poin besar yang akan diberikan.

__ADS_1


"Chef, ada pesanan nih yang harus disiapkan segera" kata Surya.


"Iya, gampang lah itu, sekarang temani aku dulu belanja di pasar, sekalian beli bahan untuk bikin pesanan itu" Yuri menarik tangan Surya agar jalan lebih cepat. Sekitar jam 11 siang, pesanan super delivery sudah selesai dibuat dan Surya pun langsung mengantar pesanan tersebut ke alamat yang tertera pada aplikasi. Jarak dari tempatnya sekarang ke alamat customernya tersebut cukup jauh dan harus menggunakan motor untuk sampai kesana. Untung saja ada warga sekitar yang bersedia meminjamkan motornya pada Surya. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk bisa sampai di tujuannya tersebut. Surya mengetuk pintu rumahnya dan menunggu beberapa saat. Tak berapa lama kemudian, ada seseorang yang membuka.


"Ya, cari siapa yah?" Tanya seseorang yang membuka pintu tersebut.


"Apa benar disini rumahnya pak Herman?" Surya berbaik bertanya. Seseorang itu hanya mengangguk. Surya menjelaskan tujuannya, mengantar pesanan untuk Herman. Seseorang itu, yang ternyata anak dari Herman, mengatakan kalau ayahnya sudah berada di temoat ternak bebek dan meminta Surya untuk membawa pesanan tersebut kesana. Sesuai dengan instruksi, Surya pun sampai di tempat yang dimaksud.


"Dengan pak Herman?" Tanya Surya pada seseorang yang dihampirinya.


"Iya, saya orangnya" katanya membenarkan.


"Kamu yakin sudah siap dengan tantangan yang akan aku berikan?" Tanya Herman untuk memastikan kalau Surya sudah benar-benar siap.


"Apapun itu aku siap banget" kata Surya dengan meyakinkan. Herman pun menunjukkannya pada Surya. Herman menjelaskan tata cara. Mulai dari tahap persiapan, seperti menyiapkan kandangnya, membersihkan kandangnya, lalu memberi makan bebek, agar nantinya telur yang dihasilkan bebek itu, memiliki kualitas yang baik. Jangan lupa juga untuk sesekali menggembala bebek keluar kandang, membawanya jalan-jalan agar bebek juga tidak stres karena terkurung dalam kandang. Terakhir mengumpulkan telur-telur yang dihasilkan. Surya melakukan setiap tahap yang diberitahukan oleh Herman dari awal sampai akhir. Sekitar 1 jam lamanya dia melakukan pekerjaan tersebut, akhirnya selesai juga semuanya. Surya merasa cukup lelah dengan pekerjaan yang menurutnya cukup berat dan tidak semudah yang dilihatnya.


"Gimana? Apa kamu lelah?" Tanya Herman, menghampiri Surya yang tengah istirahat.

__ADS_1


"Lelah sih, iya, pak, tapi, menyenangkan, ini pengalaman baru buat aku" Surya tersenyum semringah.


"Oh iya, pak, apa boleh poin itu bapak berikan sekarang ke aku" kata Surya.


"Iya, ini baru aku mau kirim" Herman mengutak-atik handphone-nya. Tak berapa lama, sebuah notifikasi masuk di handphone Surya. Surya membukanya dan ingin melihat berapa banyak poin yang diberikan Herman padanya. Namun, saat melihatnya, Surya terkejut dengan poin yang diberikan Herman itu.


"Haah! Poinnya cuma segini? Dengan tugas yang cukup banyak menguras tenaga, poinnya cuma 75 aja? Gak salah ini?" Surya bertanya-tanya dalam hati.


"Pak, maaf, apa ini gak salah? Ini kok poinnya cuma 75 aja, apa bapak gak salah ketik atau apa gitu" Surya mempertanyakan perihal poin yang diberikan Herman padanya.


"Gak, emang aku ngasi 75 poin, cukuplah itu, sesuai dengan tugas kamu yang sangat mudah itu, semua orang juga bisa lakukan itu" jawab Herman.


"Tahu gitu, aku gak bantuin dia tadi, aku anterin aja dan langsung balik, buang-buang waktu dan tenaga dengan percuma, dasar customer pelit, udah capek-capek dibantuin, malah ngasi poin yang paling kecil" runtuk Surya dalam hati. Surya segera pamit dan beranjak dari hadapannya, sebelum rasa kesalnya pada Herman makin meluap dan gak bisa mengontrol emosi dalam dirinya.


"Sur, sekalian tolongin yah, anterin sepuluh rak telur ini, kan kamu naik motor tuh, oke" Herman hendak meminta satu bantuan lagi pada Surya.


"Ini orang gak punya rasa malu kali yah, udah ngasi imbalan kecil, pintanya banyak, argghhh!" Rasa kesal Surya makin menumpuk dalam hatinya dan seolah siap meledak. Namun, Surya masih tetap berusaha menahannya. Biar gimanapun juga, Herman adalah customernya, dia harus berusaha ramah didepannya, meskipun sikapnya itu begitu mengesalkan.

__ADS_1


"Maaf, pak, aku gak bisa, karena aku mau belanja dulu di pasar, terus abis itu langsung balik ke penginapan, permisi, pak" Surya pun berlalu pergi dari hadapan customernya tersebut. Dalam hatinya, ada rasa menyesal karena sudah mengerjakan semua yang disuruhnya, yang ternyata diberi imbalan yang tidak sesuai. Tapi, Surya tidak bisa menolak, karena itu bagian dari tugasnya dan berusaha untuk melupakan apa yang dialaminya tadi.


__ADS_2