
Hari pembukaan restoran milik kedua orang tua Surya dan Sosila dibuka. Restoran tersebut diberi nama SS Resto, berdasarkan inisial nama Surya dan Sosila, yang nantinya restoran itu juga akan dikelola oleh mereka berdua, juga dibantu oleh Tissa yang dipercayakan bertugas sebagai kasir. Sosila sendiri bertugas sebagai juru masak di resto, karena memiliki basic dan skill memasak yang cukup memadai. Sedangkan Surya dipercayakan sebagai manajer restoran. Tapi, Surya tidak bekerja sendirian. Rencananya, Surya akan dibantu oleh Gista, salah satu sahabat Sosila di kampus. Gista memiliki basic di bidang manajemen bisnis, yang dinilai dapat membantunya.
"Gis, makasih yah sebelumya, kamu udah bersedia membantu aku" kata Surya.
"Iya, kak, sama-sama, aku juga senang bisa membantu, lagipula aku juga belum ada kegiatan apa-apa setelah wisuda, sekalian nyari pengalaman juga kan" Gista tersenyum. Surya hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Baiklah, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim! SS Resto resmi dibuka!" Papa Surya memotong pita, sebagai peresmian dibukanya restoran tersebut.
"Untuk hari ini, bapak-bapak dan ibu-ibu semuanya, bisa menikmati semua makanan disini secara gratis" kata papa Surya. Semua yang hadir di acara peresmian resto itu masuk beramai-ramai ke dalam resto.
"Pa, ma, sekali lagi aku mau ucapkan terima kasih, aku janji akan mengelola restoran ini dengan sebaik-baiknya" kata Surya.
"Iya, Sur, sama-sama, papa sama mama percaya kamu bisa mengelola restoran ini dan kami harap, kamu dan juga adik kamu bisa sukses kedepannya" papa Surya menepuk pelan pundak Surya.
"Tugas papa dan mama disini sudah selesai, selanjutnya ini akan jadi tanggung jawab kamu dan adikmu" papa Surya menambahkan. Papa dan mama Surya beranjak pergi, karena masih banyak pekerjaan yang harus mereka selesaikan. Wajah Surya terlihat berseri-seri dan serasa masih mimpi, bisa memiliki restoran sendiri. Padahal setahun yang lalu, dia bekerja sebagai kurir delivery di Fabulous Resto. Hari ini, Surya, Sosila, Tissa dan Gista hanya terfokus melayani para tamu yang datang dan baru besok restoran mulai beroperasi.
"Hai, Surya, selamat yah untuk pembukaan resto kamu ini, maaf yah, aku sama Clara telat" Felicia yang datang bersama Clara, langsung menghampiri Surya dan memberi ucapan selamat.
"Makasih yah, Fel, Clar, udah mau datang" Surya tersenyum.
"Oh iya, kenalin ini adik aku, Sosila, dia yang nanti bertugas sebagai juru masak, terus ada Tissa dan juga Gista, yang juga akan bantu kita berdua" Surya memperkenalkannya pada Felcia dan Clara. Mereka berjabat tangan sambil tersenyum.
__ADS_1
Di tengah-tengah acara, Tissa terpaksa harus pergi, karena dijemput oleh pacarnya dan meminta Tissa untuk menemaninya. Surya mengizinkan Tissa untuk pergi, karena hari ini memang tidak kegiatan apa-apa setelah acara opening itu. Surya, Sosila dan Gista berbaur dengan semua yang hadir dan berbincang-bincang sekadarnya.
Jam 4 sore, acara itu pun selesai dan satu persatu tamu beranjak pergi. Surya, Sosila dan juga Gista membereskan semua piring diatas meja dan membersihkannya.
"Kak, kenapa tadi kakak biarkan Tissa pergi sih, kita kerepotan nih membersihkan ini semua, mana banyak banget lagi" gerutu Sosila.
"Udah, dek, gak apa-apa, lagian juga ada Gista dan David yang bantuin kita" kata Surya.
"Lagipula kita harus kasi Tissa kesempatan untuk jalan berdua dengan pacarnya itu, biar dia senang dan siapa tahu bisa booster buat dia, biar bekerja dengan semangat, namanya juga pacaran, masih hangat-hangatnya kan, udahlah, biarkan aja, kita harus maklum" lanjut Surya. Bukan hanya Sosila saja yang terlihat sedikit kesal pada Tissa yang tiba-tiba pergi begitu saja. Tapi, Gista pun merasakan hal yang sama.
"Tissa ini gimana sih, disini semua sibuk membersihkan resto, dia malah enak-enakan pacaran, kelihatan gak profesional, lebih mementingkan urusan pribadi dibanding pekerjaan" gerutu Gista dalam hati.
"Kalian kayaknya kerepotan, kita berdua bantuin yah, biar cepat selesai" Felicia menawarkan bantuan.
"Kalau gak merepotkan kalian sih, aku senang-senang aja, malahan aku berterima kasih banget, kalian bersedia membantu" kata Surya.
Jauh di lubuk hatinya, Tissa sebenarnya merasa tidak enak hati, karena tiba-tiba pergi dan tidak membantu membersihkan restoran, karena Tissa tahu kalau Surya dan juga yang lainnya kerepotan. Tapi, Tissa juga tidak bisa untuk menolak ajakan pacarnya itu. Sekali saja Tissa menolak, maka mereka putus dan Tissa tidak ingin hal itu terjadi, karena Tissa sudah terlanjur sayang pada pacarnya tersebut.
"Aku harus ngomong sama Gani, kalau aku gak bisa untuk ikuti permintaan dia terus menerus, apalagi sekarang aku kan bekerja di resto milik kak Surya dan Osi, keluarga mereka yang udah bantuin aku selama ini, kalau aku mengecewakan mereka, rasanya aku seperti orang yang tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih" runtuk Tissa. Tissa memikirkan bagaimana caranya dia menyampaikan pada pacarnya itu, agar pacarnya mau mengerti dan tidak marah padanya. Sedari tadi, Tissa lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Gani sedari tadi memperhatikan Tissa yang lebih banyak diam hari ini.
"Tissa sayang, kamu kenapa, kok kamu diam aja sih dari tadi? Apa makanan disini kurang enak? Atau suasananya kurang nyaman?" Gani bertanya-tanya sambil menatap Tissa. Tissa hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ngomong aja, sayang, yang mengganjal di hatimu, daripada dipendam gitu kan" kata Gani.
"Beneran deh, sayang, gak ada apa-apa kok" Tissa memaksakan tersenyum. Gani pun menerima jawaban Tissa dan tidak membahasnya lagi. Sejak bekerja di SS Resto yang baru dibuka seminggu yang lalu, sudah beberapa kali Tissa meninggalkan resto dan melimpahkan tugasnya itu pada pegawai lain. Gista yang menerima laporan dari karyawan resto, mulai geram dan tidak tahan dengan tingkah Tissa tersebut. Gista memutuskan untuk memberitahu Surya tentang masalah ini.
"Kak Surya, aku bukannya mau menjelek-jelekkan orang lain, kak Surya juga tahu aku orangnya kayak gimana, aku paling gak suka sama orang yang mangkir dari kerjaannya" kata Gista.
"Ada apa sih, Gis?" Tanya Surya, yang tetap fokus ke layar laptopnya.
"Soal Tissa, akhir-akhir ini, dia sering banget ninggalin resto, tanpa bilang siapa-siapa dan melimpahkan tugasnya itu sama karyawan lain, dia juga capek kalau harus handle kerjaannya Tissa terus, dia juga punya tugas melayani customer" jelas Gista.
"Aku mau kak Surya bertindak tegas pada Tissa, agar dia berhenti berbuat seperti ini dan bersikap lebih profesional lagi dalam bekerja" lanjut Gista. Surya menghela nafas. Dia bosan mendengar laporan tentang Tissa yang sering meninggalkan resto tanpa pemberitahuan.
"Kamu tenang aja, Gis, aku pasti akan beri teguran ke dia, agar dia lebih fokus dalam bekerja dan tidak lari-larian seperti ini" kata Surya dengan tegas. Surya pun segera menghubungi Tissa dan memintanya untuk segera kembali ke resto. Tissa sedikit terkejut, saat mendengar nada bicara Surya yang terkesan tegas padanya. Padahal selama ini, Surya tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu padanya. Namun, Tissa tidak ingin memikirkan itu dan bergegas kembali ke resto, karena dia menghargai Surya sebagai manajer dan punya tanggung jawab penuh atas resto. Sesampainya, Tissa langsung menghampiri Surya di ruangannya. Tissa mengetuk pintu dan Surya menyahut dari dalam dan memintanya masuk.
"Maaf, kak, ada apa yah, kak Surya meminta aku buru-buru balik kesini?" Tanya Tissa.
"Tissa, apa kamu sadar, apa yang kamu lakukan akhir-akhir ini? Apa kamu gak kasihan dengan teman-teman kamu yang lain, yang sibuk kerja, bahkan handle pekerjaan yang seharusnya itu jadi tugas kamu" Surya menatap Tissa dengan tatapan serius. Tissa menunduk dan seolah paham, kenapa Surya memintanya secepat mungkin untuk kembali ke resto dan segera menemuinya.
"Aku minta maaf, kak, aku akui, aku memang salah sudah berbuat seperti ini" Tissa pun mengakui perbuatannya belakangan ini.
"Tissa, angkat wajah kamu, gak etis kelihatannya kalau kamu ngobrol sambil nunduk gitu" celetuk Gista.
__ADS_1
"Gis, kamu keluar bentar yah, aku mau ngobrol berdua aja sama Tissa, biar aku yang selesaikan ini, kamu kerjakan yang lain saja, okey" pinta Surya. Gista pun menurutinya dan beranjak keluar dari ruangan itu.