
"Ya udah, yuk, aku anterin kamu balik kerumah" Surya menggandeng tangan Clara menuju parkiran. Namun, saat mereka berjalan ke parkiran, ada seseorang di belakang berlari-lari mengejar mereka berdua sambil berteriak memanggilnya. Surya dan Clara pun menoleh ke belakang, terkejut melihat seseorang tersebut yang ternyata wanita yang tadi jalan berdua dengan Fadi.
"Mau apa kamu kejar kita berdua?" Tanya Clara dengan tatapan tajam.
"Clar, kamu sabar dulu, dengerin dulu apa yang mau dia omongin" Surya menenangkan Clara.
"Eh... Tunggu dulu deh, bukannya kamu Fiola yah, yang model itu?" Tanya Surya yang sepertinya mengenali wanita tersebut.
"Kamu yang kurir super delivery itu kan? Yang waktu itu pinjamkan gaun buat aku tampil" wanita itu pun sepertinya mengenali Surya. Surya membalas dengan mengangguk.
"Oke, aku langsung aja, sebenarnya aku sama Fadi itu gak ada hubungan apa-apa, aku juga terpaksa jalan berdua dengan dia, itu semata-mata hanya sekedar ucapan terima kasih aja, berkat dia yang kenalin aku ke agency itu sampai aku bisa jadi model seperti sekarang ini, aku bukan selingkuhannya Fadi, jadi, kamu gak usah khawatir aku merebut Fadi dari kamu" wanita menjelaskan panjang lebar. Clara yang tadinya menyimpan perasaan marah saat melihat wajah wanita itu, perlahan mulai mereda setelah mendengar penjelasannya.
"Kalau aku tahu, Fadi melakukan ini dengan imbalan aku kencan sama dia, aku gak bakal terima tawaran dia saat itu, aku akan mencari cara sendiri untuk bisa mewujudkan impian aku ini, aku gak mau merusak hubungan orang lain, karena aku tahu gimana sakitnya dikhianati" dalam hati Fiola tersimpan rasa menyesal, karena telah menerima tawaran dari Fadi dan membuatnya berutang budi padanya.
"Kamu mau kan maafkan aku" Fiola menatap Clara dan menunggu jawaban darinya.
__ADS_1
"Iya, aku udah maafkan kamu, ini juga bukan sepenuhnya kesalahan kamu kok" Clara memberi jawaban.
"Tapi, soal kelanjutan hubungan aku dengan Fadi, aku akan tetap pada pendirianmu untuk mengakhir hubungan aku dengan dia" lanjut Clara. Fiola terkejut mendengarnya dan merasa makin bersalah karena telah jadi penyebab berakhirnha hubungan mereka. Clara menjelaskan pada Fiola, kalau keputusannya ini sudah menjadi komitmennya diawal saat Fadi mengatakan cinta padanya. Clara mengatakan kalau sekali saja Fadi berkhianat, maka saat itu juga hubungan mereka berakhir dan tidak ada kesempatan kedua.
"Kamu gak usah khawatir dan merasa bersalah seperti itu yah" Clara tersenyum.
"Syukurlah kalau gitu, aku jadi tenang sekarang. Aku juga sepertinya akan pergi jauh dari kehidupan Fadi, karena aku memang gak pernah suka sama dia, oke, cuma itu yang mau aku sampaikan, kalau gitu aku pamit yah, sampai jumpa lagi" Fiola beranjak pergi dari hadapan Surya dan Clara. Keduanya melambaikan tangan pada Fiola dan langsung pergi juga dari situ.
Setelah mengantar Clara kerumahnya, Surya kembali kerumahnya dan ingin mengutarakan niat awalnya, yaitu, mengajak Tissa kencan berdua dengannya. Surya merasa deg-degan, meskipun ini bukan hal yang pertama, dia mengajak seorang wanita kencan, tapi, tetap saja kencan pertama selalu mendebarkan bagi Surya. Namun, situasi sepertinya tidak berpihak pada Surya. Karena saat dia turun dari mobil, dia melihat Tissa dan seorang pria, berjalan keluar dari rumahnya sambil gandengan tangan.
"Oh... Iya, Tis, selamat yah untuk kalian, hati-hati dijalan yah" Surya memaksakan untuk tersenyum, meskipun dalam hatinya ada rasa sakit yang dia rasakan. Surya baru saja mau mengajak Tissa kencan, untuk mengenal Tissa lebih dekat lagi. Tapi, ternyata Tissa sudah terlanjur jadian dengan pria lain. Sakit rasanya, tapi, mau gimana lagi, itu gak Tissa untuk menjalin hubungan dengan siapapun.
"Eh... Kak Surya udah balik" Sosila berpapasan dengan Surya di ruang tamu. Sosila memperhatikan wajah kakaknya itu, seperti orang yang tengah bersedih.
"Kak Surya kenapa?" Tanya Sosila. Surya hanya menggelengkan kepala dan berlaku begitu saja.
__ADS_1
"Kak Surya kenapa yah, kayaknya sedih gitu, apa yang terjadi yah? Apa jangan-jangan karena dia melihat Tissa dan pria lain keluar dari rumah sambil gandengan tangan" batin Sosila. Sekali lagi, Surya gagal untuk bisa meraih cinta dari gadis impiannya, setelah dulu, saat masih berpacaran dengan Windy, Surya gagal mempertahankan Windy dan membuatnya berpaling pada pria lain. Kini, sebelum Surya menyatakan perasaannya pada Tissa, justru Tissa sudah terlanjur jadian dengan pria lain.
"Gagal deh untuk menggapai impianku dan sepertinya aku harus menerima semua kenyataan ini dengan ikhlas. Mungkin ini pertanda kalau Tissa itu tidak ditakdirkan untukku" Surya tampak sudah pasrah saat ini.
"Kak, aku tahu, pasti kak Surya sedih gini waktu lihat Tissa sama pria lain jalan berdua dan mengetahui kalau mereka sudah jadian kan" Sosila menghampiri Surya di kamarnya.
"Sepertinya kakak gak ada harapan lagi untuk menggapai cintanya Tissa, kakak udah pasrah dan mau gak mau kakak harus terima kenyataan ini, kalau Tissa memang bukan untukku dan kakak akan berhenti untuk mengejar Tissa" Surya sudah menyerah.
"Kak, kalau memang kak Surya dan Tissa itu benar-benar berjodoh, cepat atau lambat pasti akan dipersatukan di waktu dan tempat yang tidak disangka, percaya deh, kak, jangan patah semangat gitu dong, kak" Sosila menyemangati Surya.
"Istilahnya orang, selama janur kuning belum melengkung, masih ada kemungkinan berpindah hati. Jangankan yang pacaran, yang udah sah jadi suami istri aja, terkadang ada yang malah berpaling pada yang lain, karena memang jodohnya itu berhenti sampai situ aja, itu berdasarkan yang pernah aku dengar juga dari seseorang" Sosila menambahkan. Surya hanya tersenyum tipis dan dia tahu, kalau Sosila berkata seperti itu padanya, hanya sekedar untuk menghibur hatinya saja, agar tidak bersedih lagi.
"Gini aja deh, biar kak Surya gak sedih lagi, gak galau lagi, gimana kalau kita nonton di bioskop, aku yang traktir deh, kan kak Surya udah baik banget sama aku selama ini dan selalu menjaga aku dengan sebaik-baiknya, anggap aja ini ucapan terima kasih aku ke kakak" Sosila mengusulkan.
"Iya, dek, terserah kamu aja, kakak ikut apa kata kamu aja" jawab Surya.
__ADS_1
"Sip, kalau gitu, aku ganti baju bentar, abis kita berangkat, okey" Sosila segera beranjak ke kamarnya. Surya merasa begitu beruntung, karena memiliki adik seperti Sosila yang bisa menghiburnya dikala galau seperti saat ini. Surya bisa melupakan masalahnya sejenak dan secara perlahan akan mampu melupakan perasaan sedihnya itu.