Super Surya

Super Surya
Misi Kedua Dari Clara


__ADS_3

Sekali lagi, Surya dapat menyelesaikan misinya dengan baik dan berhasil mendapatkan poin maksimal, yakni, seribu poin.


"Selamat, tuan, anda telah berhasil menyelesaikan misi kali ini dan berhasil dapatkan seribu poin. Dengan seribu poin tambahan itu, total poin anda saat ini sudah mencapai seratus ribu poin, yang dimana jika anda mencapai angka tersebut, anda akan mendapatkan tambahan reward lagi. Saya ucapkan selamat pada anda, pencapain yang luar biasa!".


Surya terlihat sangat senang saat membaca notifikasi yang masuk di handphone-nya. Surya tidak menyangka kalau bisa mencapai poin segitu banyaknya sampai dengan hari ini.


Surya berpikir ini saat yang tepat untuk mulai PDKT dengan Tissa. Surya berniat untuk mengajak Tissa kencan berdua saja dengannya. Namun, baru saja dia ingin mengutarakan niatnya itu, sebuah notifikasi masuk di aplikasi super delivery dan misi baru untuknya telah diaktifkan. Surya pun terpaksa menundanya dan harus segera menyelesaikan tugas tersebut. Misinya kali ini berbeda dengan misi-misi yang telah dilaluinya sejauh ini. Kali ini Surya hanya perlu menyelesaikan tugas yang diberikan tanpa mengambil pesanan di resto, karena customernya itu tidak memesan sama sekali. Tugas kali ini berasal dari Clara dan kali keduanya Surya mendapat tugas darinya. Surya bangkit dari tempat tidur dan langsung bergegas menuju kerumah Clara. Namun, saat Surya melewati meja makan, Surya melihat kedua orang tuanya, Sosila dan juga Tissa tengah mengobrol hal serius. Karena penasaran dengan obrolan mereka, Surya pun menghampiri.


"Nah... Jadi, gitu, gimana, Osi, Tissa, apa kalian mau?" Tanya papa dan menatap Sosila dan Tissa bergantian. Sosila dan Tissa tidak menjawab dan hanya saling pandang.


"Kalau misalkan kalian berdua mau, papa akan urus semuanya, kalian tinggal terima beres aja, ini kan demi masa depan kalian juga, siapa tahu dengan cara ini kalian berdua bisa sukses" mama menambahkan.


"Iya, pa, aku mau kalau kayak gitu, aku senang juga kalau bisa bareng Tissa" Sosila bersedia.


"Iya, om, aku juga bersedia" Tissa menimpali.


"Eh... Ada apa sih ini, kok kayaknya serius banget ngobrolnya" Surya duduk ditengah-tengah mereka.


"Ini, Sur, papa, mama, Osi dan juga Tissa lagi bicarakan soal bisnis, yang nantinya akan dijalankan oleh Osi dan Tissa, modalnya dari papa sama mama, yah... Gak langsung besar sih, tapi, kan pelan-pelan dirintis dari bawah, biar sekalian mereka berdua juga belajar jadi pebisnis" jelas papa.

__ADS_1


"Kamu juga bisa ikut bantuin kalau kamu mau dan kalau lagi gak ada pesanan yang diantarkan" lanjut papa.


"Wah... Itu sih ide yang bagus banget, pa, aku siap bantu deh kalau gitu" Surya juga bersedia membantu.


"Oke, udah fix yah, tinggal eksekusinya aja nih, kemungkinannya seminggu dari sekarang semuanya akan kelar dan kalian sudah bisa memulai usaha" kata papa. Setelah selesai sarapan, Surya berpamitan dan segera menuju kerumah Clara. Sekitar 30 menit kemudian, Surya pun sampai di depan rumah Clara. Clara ternyata sudah menunggu Surya datang.


"Gimana, mau jalan sekarang?" Tanya Surya. Clara mengangguk.


"Sebenarnya kita ini mau ngapain sih? Terus tugas apa yang harus aku lakukan nih?" Surya bertanya-tanya, saat mereka diperjalanan.


"Tugas kamu, cukup dengan menjadi asistenku aja, karena aku mau memata-matai seseorang dan aku butuh bantuan kamu untuk melakukannya" kata Clara.


"Nah... Itu dia pacar aku, Sur, cowok yang pakai baju hitam Disana itu, yang lagi menggandeng cewek" Clara menunjuk seseorang yang tidak jauh darinya.


"Ternyata benar kalau pacar aku lagi jalan berdua sama cewek lain, tega kamu selingkuh dibelakang aku, Fadi" Clara terlihat geram.


"Kamu harus tenang dulu, Clar, jangan langsung bertindak, kita harus pastikan dulu deh kayaknya, siapa tahu aja cewek itu cuma saudaranya, kita kan gak tahu" Surya memberi masukan.


"Aku udah yakin banget, Sur, aku kenal semua keluarganya dia, kalau dibilang saudara, saudaranya dia itu laki-laki semua, dia 3 bersaudara, terus ayah sama ibunya itu sama-sama anak tunggal, kalaupun teman gak mungkin gandengan tangan mesra gitu" Clara benar-benar begitu yakin. Tanpa menunggu lama lagi, Clara langsung menghampiri pacarnya tersebut yang tengah gandengan dengan wanita lain.

__ADS_1


"Oh... Jadi gini kelakuan kamu di belakangku? Pantes kamu selalu punya banyak alasan tiap kali aku ajak jalan, ternyata ini yah alasannya, tega kamu!" Clara memelototinya.


"Clar, aku bisa jelaskan, ini gak seperti yang kamu duga" Fadi mencoba membela diri.


"Mbak, aku bisa jelaskan, aku juga terpaksa jalan sama dia" wanita disamping Fadi itu mencoba memberi penjelasan pada Clara.


"Udahlah, kalian berdua itu sama aja, udah jelas semuanya, kalian senang-senang aja sana!" Clara sudah terlanjur kesal dan langsung beranjak pergi dari hadapan keduanya. Clara benar-benar merasa sangat sakit diduakan seperti ini. Clara selama ini selalu percaya dengan Fadi, namun, ternyata kepercayaan yang selama ini diberikannya malah dibalas dengan pengkhianatan. Air mata Clara terus mengalir tanpa bisa dibendungnya.


"Aku gak nyangka Fadi tega melakukan semua ini" Clara benar-benar terguncang.


"Kamu yang sabar yah, Clar, terkadang apa yang kita harapkan itu tidak sesuai dengan kenyataannya" Surya mencoba menenangkan Clara.


"Tapi, kamu harus kuat hadapi ini dan kelak akan menemukan sebuah kebahagiaan sejati, yang tidak akan pernah kamu sangka" Surya menambahkan.


"Udah yah, kamu jangan nangis lagi" Surya secara refleks menghapus air mata yang menetes di pipi Clara. Clara terkejut, karena tiba-tiba Surya melakukan hal itu. Dengan perlakukan Surya seperti itu membuatnya teringat lagi dengan mantannya dulu, David.


"Sur, aku jadi teringat sama mantanku dulu, saat aku nangis, dia juga refleks gitu untuk hapus air mata aku, karena dia itu gak mau melihat aku nangis, makanya itu dia selalu berusaha untuk membuatku tersenyum bahagia" Clara teringat dengan mantannya dulu.


"Tapi, kami berdua dengan sangat terpaksa harus mengakhiri hubungan kami, karena kedua orang tua kami gak setuju dengan hubungan kami itu, karena ternyata ayahku itu saingan bisnis ibunya David, padahal aku sayang banget sama David. Seiring berjalannya waktu aku udah bisa melupakan David dan bertemu dengan si Fadi itu, yang ternyata pada akhirnya mengkhianati aku" Clara mengakhiri ceritanya. Clara menatap Surya dengan tatapan yang berbeda. Seperti menyimpan perasaan suka pada Surya. Namun, Clara tidak mau terburu-buru untuk menjalin hubungan baru lagi, sampai rasa sakit hatinya itu benar-benar sembuh.

__ADS_1


__ADS_2