
Sesuai dengan janjinya, Surya bergegas kembali ke lokasi resto itu. Rendy mengirimkan pesan pada Surya, agar menemuinya di warkop yang letaknya tidak jauh dari lokasi restonya. Selang 20 menit kemudian, Surya akhirnya datang. Disitu bukan hanya Rendy saja, tapi, ada Renata juga, sang manajer resto, lalu ada pula Felicia yang merupakan mantan karyawan resto tersebut.
"Eh... Surya, akhirnya kamu datang juga, silahkan duduk, Sur" Rendy menyambutnya.
"Loh... Kok ada Felicia juga disini?" Tanya Surya yang terlihat bingung.
"Gini, Sur, aku mau ngomong sama kamu nih, rencananya aku sama Renata, akan berangkat ke Bali dan fokus untuk kelola resto yang ada disana, terus untuk karyawan yang lain memutuskan untuk bikin usaha sendiri dengan gaji yang aku berikan itu" jelas Rendy.
"Terus, kalau Felicia sendiri kesini itu, mau beli tanah yang bekas resto itu dan nantinya akan dibangun toko perhiasan, dia membelinya dengan harga 750 juta dan ini kita habis menyelesaikan pembayarannya" Rendy melanjutkan. Surya menyimak setiap perkataan Rendy.
"Terus ini ada cek sebesar 600 juta buat kamu, untuk bayar gaji kamu dan reward dari aplikasi super delivery, mohon diterima yah" Rendy memberikan selembar cek dengan nominal yang disebutkan pada Surya. Surya pun menerima cek pemberian Rendy tersebut.
"Terima kasih banyak, pak" Surya menganggukkan kepala.
"Oh iya, aku juga udah minta ibu Renata untuk menutup aplikasi super delivery itu, jadi, kamu gak usah khawatir akan ada masuk notifikasi di handphone kamu mengenai super delivery" kata Rendy.
"Ya udah kalau seperti itu, udah kelar semua, kalau gitu aku dan juga ibu Renata pamit, kita berdua mau berkemas dan siap-siap berangkat ke Bali" Rendy menyalami Surya dan juga Felicia, lalu beranjak pergi dari hadapan keduanya. Renata mengikuti langkah Rendy, setelah menyalami keduanya.
"Sur, aku kasihan lihat pak Rendy, yah... Meskipun masih ada satu resto lagi di Bali, tapi, kan tetap aja ada rasa sedih juga" Felicia merasa iba pada mantan atasannya tersebut.
"Yah... Namanya juga ujian, kita harus bisa terima dengan lapang dada, tinggal kitanya gimana cara menyikapi masalah yang kita hadapi dan mencari solusi untuk bisa keluar dari situasi sulit itu dan bangkit dari keterpurukan" kata Surya.
"Iya juga sih, benar banget apa yang kamu bilang itu" Felicia membenarkan.
__ADS_1
Felicia terdiam sejenak dan sepertinya sedang ada masalah yang tengah dia hadapi. Surya memperhatikan perubahan raut wajah Felicia. Surya menerka kalau Felicia sedang ada masalah dan seperti dia butuh seseorang untuk bisa curhat tentang masalahnya itu.
"Fel, kalau misalkan kamu ada masalah, ngomong aja, aku siap kok jadi pendengar yang baik" kata Surya.
"Masalah? Aku gak ada masalah apa-apa kok, kamu salah, Sur" Felicia tampaknya mencoba menutupinya.
"Udahlah, Fel, kamu jujur aja, siapa tahu aku bisa bantuin kamu, agar terbebas dari masalah itu dan gak mengganggu hal yang lain" Surya sepertinya tahu kalau Felicia berbohong padanya.
"Fel, masalah gak akan selesai kalau kamu pendam aja, mending diceritakan, biar pikiran kamu juga plong, daripada nantinya malah ganggu kerjaan kamu, malah kamu sendiri yang susah" Surya mencoba membujuk Felicia. Sambil menghela nafas, dengan enggan Felicia pun mau menceritakannya.
"Jadi, gini, Sur, 20 tahun yang lalu, waktu aku masih berusia lima tahun, ayah dan ibuku bercerai. Aku ikut dengan ibuku sedangkan adik aku ikut dengan ayahku. Aku pengen mencari keberadaan adik aku sekarang, bahkan aku dengar kabar kalau ayahku udah meninggal dunia dua tahun yang lalu karena terkena covid dan otomatis adik aku hidup sebatang kara, pasti dia kesepian dan gak tahu harus kemana" Felicia mengawali ceritanya.
"Makanya itu, aku mau cari dia dan ajak dia tinggal bareng aku, aku juga tinggal sendiri juga, ibu aku juga udah meninggal beberapa bulan yang lalu karena serangan jantung. Kabarnya, adik aku tinggal di kota ini sekarang" lanjut Felicia.
"Iya, tenang aja, aku akan bantuin kamu kok" Surya bersedia membantunya.
"Kamu tahu gak dia tinggal dimana? Atau setidaknya tempat kerjanya dia gitu?" Tanya Surya.
"Kalau tempat tinggalnya dia sih gak tahu yah, cuma aku tahu dari orang yang ngasi informasi ke aku, katanya adik aku itu gamers sih" jawab Felicia.
"Hah! Gamers? Namanya siapa, Fel? Nanti biar aku cari tahu, kebetulan aku punya teman yang profesinya gamers juga, yah... Dia pernah jadi customer aku dan pernah aku anterin pesanannya di super delivery itu, siapa tahu aja dia kenal dan kamu bisa cepat-cepat bertemu dengan adik kamu" kata Surya.
"Namanya itu Clara Anindita" Felicia memberitahu nama lengkap adiknya tersebut.
__ADS_1
"Clara? Kok sama persis dengan Clara yang aku kenal itu? Apa mungkin Clara yang lain kali yah? Bisa aja kan ada dua orang yang namanya Clara dan memiliki profesi yang sama" batin Surya.
"Aku harus cari tahu dulu, sebelum aku kasi tahu ke Feli nih" pikir Surya.
"Fel, kalau misalkan aku udah ketemu sama adik kamu itu, aku kabari kamu" kata Surya.
"Oh iya, nama lengkap kamu siapa? Biar nanti kalau benar-benar ketemu dia nanti, dianya percaya gitu" tanya Surya dan siap akan menulis nama lengkapnya.
"Felicia Fitriana" jawab Felicia singkat. Surya pun menulisnya.
"Tolong yah, Sur, aku tunggu kabar baik kamu, kalau gitu aku pamit, aku masih ada urusan, see you, Sur" Felicia beranjak dari duduknya dan pergi dari tempat tersebut. Surya langsung mengirimkan pesan pada Clara, mengatakan kalau dia ingin bertemu dan menyampaikan sesuatu, karena kalau melalui WhatsApp terlalu panjang. Clara bersedia untuk bertemu dan meminta Surya kerumahnya, karena hari ini dia free dan tidak ada kegiatan apa-apa. Surya pun langsung bergegas menuju kerumah Clara. Selang 30 menit kemudian, Surya sampai dirumah Clara. Clara juga sedang menyapu halaman rumahnya saat Surya datang.
"Wih... Clar, lagi bersih-bersih rumah nih" kata Surya dan melangkah masuk ke halaman rumah Clara.
"Gak juga kok, cuma nyapu dikit aja" jawab Clara sambil tersenyum.
"Ya udah, masuk, yuk" Clara melangkah masuk kedalam rumah. Surya mengikuti langkah Clara, lalu duduk di ruang tamu.
"Jadi, apa nih yang mau kamu bicarakan?" Tanya Clara sambil menaruh minuman diatas meja dan duduk di depan Surya. Surya menyusun kata-kata yang hendak dia sampaikan pada Clara.
"Gini, aku cuma mau tahu aja, apa kamu punya kakak, yang terpisah bertahun-tahun yang lalu" Surya menatap Clara dengan serius.
"Kok kamu tiba-tiba berpikiran untuk mengatakan seperti itu? Apa kamu tahu sesuatu tentang aku?" Clara bertanya-tanya.
__ADS_1
"Karena jujur aja, apa yang kamu katakan itu benar" Clara membenarkan.