Super Surya

Super Surya
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Sehari sebelum berangkat, Surya sudah berlatih terlebih dahulu. Mempelajari beberapa teknik bermain badminton yang dia lihat dari YouTube. Surya benar-benar sudah siap untuk memulai triple challenge tersebut. Surya mengemas barang yang akan dibawanya. Satu ransel dan satu koper kecil sudah cukup baginya. Surya memasukkan barang bawaannya tersebut kedalam mobil.


"Oke, semua barang udah siap nih, tinggal berangkat aja kita ke bandara" kata Surya. Tissa yang juga ikut mengantar sudah masuk kedalam mobil.


"Eh... Tunggu dulu, Gista belum datang nih, kita tunggu bentar yah" cegah Sosila.


"Lama gak? Nanti kakak ketinggalan pesawat lagi kalau kelamaan nunggu Gista" kata Surya.


"Gak kok, kak, paling bentar lagi nyampe, dia tadi bilang udah dekat kok, sabar dikit lagi yah, kak" Sosila menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Nah... Itu dia orangnya datang" Sosila melihat Gista yang berlari dari kejauhan, memberi isyarat agar Gista lebih cepat lagi.


"Maaf yah, aku telat, jalanan macet banget" kata Gista yang masih ngos-ngosan karena berlari.


"Ya udah, yuk, buruan kita berangkat sekarang".


Semua masuk ke mobil dan berangkat menuju bandara. Dalam hatinya Gista merasa sangat bahagia, karena sebentar lagi akan bertemu dengan idolanya yang selama ini dia lihat di layar kaca.


Sekitar 45 menit perjalanan, mereka pun sampai di bandara.


"Oke, kalau gitu, aku sama Gista berangkat yah, kalian berdua baik-baik yah dirumah" Surya berpesan pada Sosila dan Tissa.


"Iya, kak!" Jawab Sosila dan Tissa bersamaan.


"Safe flight yah, kalian" kata Sosila, sambil melambaikan tangan pada Gista dan Surya yang berjalan ke pintu masuk bandara.


"Yuk, Tis, kita balik sekarang" Sosila menarik tangan Tissa, menuju parkiran dan segera pulang kembali ke rumah.


"Tis, kita sarapan dulu yuk, kamu pasti juga belum sarapan kan" kata Sosila.


"Kamu aja, Si, aku biar dirumah aja nanti" Tissa menolak.


"Udah, gak usah banyak mikir, aku sungguh bayarin, sekalian ada sesuatu yang mau aku omongin dan kamu gak boleh nolak" Sosila sedikit memaksa. Mau tidak mau, Tissa pun mengikuti apa yang Sosila mau.

__ADS_1


"Kamu gak berubah yah, Si, selalu baik sama aku, sama seperti waktu kita SMA dulu" kata Tissa. Sosila hanya tersenyum mendengarnya.


"Eh... Kita makan didepan sana aja yah, katanya makanan disitu enak dan recommended banget, gimana" Sosila meminta pendapat Tissa.


"Terserah kamu aja, Si, aku ikut aja" jawab Tissa. Mobil Sosila segera menepi dan berhenti tepat di depan warung yang dia maksud. Saat berjalan masuk kedalam warung tersebut, mereka berpapasan dengan seseorang yang sepertinya mengenali mereka


"Eh... Osi! Tissa! Kebetulan nih kita ketemu disini" katanya.


"Maaf, mas siapa yah?" Tanya Sosila.


"Yaelah, masa kamu lupa sih, aku Davi, teman sekelas kamu" jawabnya.


"Davi? Davi yang suka tidur di kelas itu yah' Sosila mencoba menerka.


"Kamu kok ingatnya malah yang itu sih, tapi, ya udahlah, yang penting kamu masih ingat" katanya sambil menghela nafas.


"Kamu ngapain disini? Abis ngantar seseorang atau apa?" Tanya Davi.


"Kamu sendiri ngapain disini?" Sosila berbalik bertanya.


"Rumah aku kan dekat sini, dibelakang warung ini" jawab Davi.


"Mau sekalian mampir ke rumah gak, mumpung kita ketemu, udah lama banget nih, kita gak ngobrol-ngobrol" Davi menawarkan pada Sosila dan Tissa. Sosila dan Tissa saling pandang, berharap satu sama lain memberikan jawaban.


"Mau sih, Dav, cuma abis dari sini, kita masih ada urusan, lain waktu deh kalau lagi gak sibuk" Sosila menolak secara halus.


"Oh... Gitu, ya udah gak apa-apa, kamu save nomer aku deh, biar nanti kamu kabari aku kalau mau kerumah, supaya aku bisa siapkan apa gitu buat kalian, oke" kata Davi. Sosila pun terpaksa menyimpan nomer Davi di handphone-nya untuk sekedar menghargainya saja, meskipun sebenarnya dalam hati, Sosila tidak mau.


"Oke deh kalau gitu, aku duluan yah, kasihan orang dirumah kalau kelamaan nunggu pesanannya, see you, girls" Davi beranjak pergi. Sosila dan Tissa melambaikan tangan sambil tersenyum.


"Si, kenapa kamu tolak ajakan Davi kerumahnya sih? Kan udah lama gak ketemu dia?" Tanya Tissa sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.


"Emang kamu gak ingat dengan yang dia lakukan ke kita dulu? Yang waktu acara perpisahan di villa milik keluarga Renita itu?" Sosila mengingatkan Tissa pada kejadian saat masih SMA.

__ADS_1


"Dia nyuguhin kita minuman yang gak tahu apa, sampai bikin kita mabuk, untung aja ada Rahma, ketua kelas kita, yang melihatnya. Mana tahu kan, dia berbuat hal seperti itu lagi" lanjut Sosila.


"Iya juga yah, kalau tadi kita terima ajakan dia kerumahnya, terus bikin kita sampai mabuk berat, dan ngapa-ngapain kita" Tissa merasa ngeri membayangkannya.


"Nah... Makanya kan, aku mencegahnya sebisa mungkin dengan menolak ajakannya itu" kata Sosila.


"Oh iya, Si, tadi katanya mau ngomong sesuatu, mau ngomong apa?" Tissa kembali bertanya.


"Oh... Ini soal kak Surya" jawab Sosila singkat.


"Emang kak Surya kenapa?" Tissa terlihat penasaran.


"Jadi, gini, kak Surya itu sebenarnya suka sama kamu, udah lama katanya dia suka sama kamu, waktu kita masih SMA, cuma dia gak berani ungkapinnya" jelas Sosila.


"Itulah alasannya kenapa kak Surya kerja keras, supaya bisa nabung untuk beli rumah dan juga untuk melamar kamu jadi istrinya, dia ceritakan itu sama aku" Sosila menambahkan.


"Berarti itu juga alasannya, kenapa kak Surya nolongin aku dan adik aku saat diusir paksa dari rumah dan berupaya meminta ijin pada om dan tante agar aku bisa tinggal dirumahmu" Tissa seolah bisa membacanya.


"Yup, tepat sekali" Sosila membenarkan.


"Entahlah, apa aku bisa membuka hatiku untuk kak Surya, karena jujur saja aku masih takut menjalin hubungan baru, masih ada rasa trauma yang tersimpan dalam hatiku. Biarkan waktu yang menjawabya, kalau memang kak Surya adalah lelaki yang ditakdirkan untukku, kelak akan dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan, dengan cara serta waktu yang tidak disangka" batin Tissa.


Sesampainya mereka di Bali, dari bandara mereka langsung mencari hotel untuk menginap malam ini.


"Kak Surya, kapan kita anterin pesanannya Chiharu itu dan bertemu langsung dengan dia?" Tanya Gista yang terlihat tidak sabaran.


"Ya ampun, Gista, kita baru juga nyampe, belum nyimpan koper di hotel, belum juga istirahat abis perjalanan jauh, kamu udah nanyain itu, sabar dong" kata Surya, menggelengkan kepala melihat tingkah Gista.


"Lagian juga anterinnya besok, Chiharu aja baru akan tiba sore nanti, besok dia mulai latihan untuk turnamen Indonesia Masters" lanjut Surya.


"Maaf, kak, aku kan cuma nanya aja" kata Gista.


Surya menganggukkan kepala, seolah memahami Gista yang sangat bersemangat untuk bertemu dengan idolanya

__ADS_1


__ADS_2