
Saat Alex melihat kelakuan Pria Kekar itu, pikirannya menjadi aneh. 'Pria ini sangatlah aneh, seperti ada sesuatu yang dia umpeti. Apa jangan jangan?Hem..Ntahlah, aku bisa melihatnya setelah menyelidiki masalah ini'
___________________________
Alex mengalih pandangannya ke depan, dia melihat sebuah kaca yang menutupi masakan yang tersedia di Warteg Pak Jima.
"Kalian tidak perlu masuk, biarkan aku saja masuk dan menyelidiki masalah ini." Ucap Alex pada orang di belakangnya, setelah itu dia maju dengan perlahan dan melihat sekitar.
Dia berjalan ke arah tempat nasi dan masakan lainnya. 'Hemm...Disini tidak ada yang aneh, dan juga tidak ada bukti, jadi dimana ya? Coba aku lihat di dapur' batinnya.
"Hey, kalian berdua, kemarilah. Mari ikutlah denganku ke dapur." Ujar Alex seraya memanggil 2 orang Pemuda sekitar berumur 20 tahunan.
Dia memanggil mereka agar saat dia menemukan barang bukti, orang orang tidak akan mengira dia hanya berbicara omong kosong. Jadi, jika saat itu terjadi dia memanggil 2 orang itu dan membicrakan apa yang terjadi.
Mereka tidak menjawab dan berjalan ke arah Alex. "Kalian bertiga jangan kemana, tunggulah disini." Ucap Alex. Setelah itu dia berjalan ke arah dapur Pak Jima masak dan di ikuti oleh 2 Orang pria di belakangnya.
Setelah sampai, Alex melihat kalau dapur ini sangatlah higienis dan bersih. Tapi bukan itu yang Alex cari, dia berjalan ke arah sekitar dapur mulai melihat dari panci, wajan dan lain lain, tapi tidak ada yang aneh.
'Apa yang terjadi? Kenapa tidak ada bukti disini? Sial! Tidak mungkinkan Pak Jima menggunakan racun. Jika Pak Jima melakukan hal itu, untuk apa dia melakukannya, coba?'
'Apakah dia memiliki dendam pada seseorang? Tidak mungkin, dari yang kukenal dia orang yang baik dan pemaaf. Sepertinya pelaku yang melakukan hal ini sangatlah ahli'
'Mungkin aku saja yang tidak sabar, jika aku mencarinya lebih bersabar mungkin saja aku akan menemukan Buktinya.....Tunggu! Bahan Bahan!'
Setelah mengingat sesuatu yang mengganjal, dia dengan cepat mencari Bahan Bahan untuk memasak. Mencari beberapa detik, dia menemukan Bahan Bahan tertata rapi di dekat Kompor, seperti Garam, Kunyit, Gula, Kecap, Saus, dan lain lain.
'Jika aku tidak menemukannya di tempat tempat yang lainnya, aku pasti akan menemukannya di Bahan Bahan masakan' batinnya menyeringai.
Dia melihat lihat seluruh Bahan masakan, tapi tidak ada yang aneh dari itu. 'Sial! Tidak ada yang aneh di Bahan ini....Tunggu, dari yang kutahu, ada sebuah racun mirip seperti Bahan Masakan. Jangan jangan..!'
Dengan gerakan cepat, Alex mengambil Garam yang ada di samping gula. Dia melihatnya dengan teliti tapi tidak ada yang aneh.
'Sistem...Bisakah kau melihat, apakah ada yang aneh dengan Garam ini?'
[Ding..! Tentu....
Nama Bahan : Racun Makanan
Tingkat Bahaya : Bisa membuat orang yang memakannya akan merasakan sakit perut sampai berminggu minggu.]
Sontak Mata Alex membelak terkejut, tiba tiba dia menyeringai menyeramkan. 'Hehehe....Sepandai pandainya menyimpan bangkai pasti baunya akan tercium juga'
'Ini salah satu bukti yang kutemukan, tapi ini tidak bisa dibilang sebagai bukti. Sepertinya ini sedikit susah.' Batinnya membalik badannya seraya menyimpan Garam atau Racun itu kedalam kantung baju Supir Taksinya.
'Racun pasti tersimpan menggunakan sebuah Plastik Clip, mungkin saja pelakunya membuang Plastik itu tidak jauh dari sini'
Setelah berpikir seperti itu dia melihat sekeliling kembali tapi tidak menemukan apa apa. 'Hemm...Pasti orang itu membuangnya di bawah kolong'
Bepikir seperti itu, dia menundukkan kepalanya dan melihat kebawah kolong Kompor, dan sesuatu yang mengejutkan dia melihat sebuah Plastik Clip berukuran kecil.
Dengan perasaan yang terkejut dia mengambil Plastik itu dengan susah payah, karena pelaku itu membuang Plastik itu sangatlah jauh dibawah kolong. Karena tangannya yang panjang, dia berhasil menggapainya.
__ADS_1
Setelah berhasil mengambilnya, dia berdiri kembali dan melihat Plastik Clip di tangannya dengan perasaan senang. '2 Bukti telah di temukan, tinggal satu lagi yang bukti, yaitu Rekaman!' batinnya menyeringai.
Dia menyimpan Plastik Clip tersebut kedalam Baju Bajunya. Alex membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Dua Pemuda yang dari tadi menatapnya dengan aneh.
"Mas, apakah kamu sudah mendapatkan Buktinya?" tanya salah satu Pemuda itu pada Alex.
"Tentu saja sudah." Jawab Alex tersenyum ringan. Setelah itu dia berjalan kedepan rumah menuju 3 Orang lainnya.
Setelah sampai, dia melihat 3 Orang itu duduk dengan malas. Tapi beda dengan Pria Kekar itu, dia duduk dengan wajah yang seperti ketakutan.
"Hah...Mereka telah keluar." Salah satu dari mereka berdiri menunjuk Alex. Seketika seluruh orang juga berdiri dari duduk mereka.
"Apakah kamu sudah menemukan Bukti?" tanya Pria Kekar itu dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Belum." Jawab Alex dengan sedih. Seketika 2 Orang itu sangatlah terkejut dan ingin berbicara, tapi mereka melihat Alex seperti memberi isyarat untuk tidak berbicara.
Pria kekar itu langsung senang di dalam hatinya. "Sudah kubilang bukan, Pelakunya itu Pak Jima".
Alex tidak menjawab perkataan Pria kekar itu dan bertanya pada 4 orang lainnya. "Apakah ada orang yang rumahnya dekat dengan rumah Pak Jima dan memiliki Cctv di rumahnya?".
"Saya, mas." Seorang Pria yang mengikuti Alex tadinya mengangkat tangan.
DUK!! DUKK!!
'Sial! Kenapa aku merasa bahaya, apakah bukti sudah di temukan?' batin Pria kekar itu dengan jantung yang berdetak kencang.
"Bisakah kita melihat Cctvmu?"
"Tentu saja, kenapa tidak"
Pemuda itu menganguk dan memimpin jalannya, Alex dan lainnya mengikuti dari belakang, sesekali Alex melihat ke arah Pria Kekar itu. Melihat tingkahnya, dia semakin nyakin dengan apa yang dipikirnya.
Rumah Pemuda itu tidak jauh, hanya beda 3 Rumah saja dengan Rumah Pak Jima. Setelah sampai, Pemuda itu, Alex dan lainnya masuk kedalam rumah dan ketempat rekaman Cctv.
Rekaman Cctv berada di dalam Kamar Pemuda itu, atau lebih tepatnya berada di Computernya. "Tolong bukakan Rekaman Cctvnya," ucap Alex.
Pemuda itu menganguk dan duduk, terus dia mengetik ngetik Komputernya. Setelah itu dia membuka Rekaman Cctv.
"Buka Rekaman hari ini" Pemuda itu menganguk dan menyetel Rekaman Cctvnya.
"Tolong mundurin Rekaman Cctv ke Jam 8 atau 9" Pemuda itu menganguk kembali dan menyetel.
Pria Kekar itu merasa bahaya dan mundur kebelakang dengan perlahan. Alex tentu menyadari apa yang dia lakukan, dengan cepat Alex menarik tangan Pria kekar itu.
"Mau kemana kau?" tanya Alex dengan menyeringai seraya meremas tangan Pria kekar itu dengan kuat.
"A-Aku hanya ingin pergi kerumah, perutku mules." Alasan Pria kekar itu.
"Kenapa buru buru? Aku juga mules, setelah ini mari kita B.A.B bersama." Balas Alex menarik tangan Pria kekar itu kesisinya.
Pria kekar itu tidak tau apa yang harus dia lakukan, dia ingin berlari tapi kekuatan Pemuda yang menariknya lebih kuat dari pada dirinya. Jadi dia hanya memohon pada keberuntungannya saja.
__ADS_1
"Mas! Aku sudah mencarinya, aku menemukan Mas Kekar itu berjalan kearah Warteg Pak Jima." Ucap Pemuda itu.
Alex sontak terkejut dan menjadi fokus pada Computer di depannya, di layar Komputer dia bisa melihat ada seorang Pria yang sangat mirip sekali dengan Pria Kekar di sebalahnya.
"Tolong besarin." Pemuda itu menganguk dan membesarkan layar Komputer ke fokus Pria Kekar itu.
"Mundurin beberapa detik dan perlambatkan waktunya" ucap Alex semakin tajam. Pemuda itu menganguk kembali dan memerintahkan apa yang di perintahkan oleh Alex.
Tiba tiba, Alex merasa sebuah tarikan kuat dari sebelahnya, dia mengalih pandangannya melihat ke Pria kekar itu sedang mencoba untuk pergi dari sisinya. Alex dengan cepat menguatkan gengamannya dengan sangat kuat, dan mengalih kembali pandanganya ke arah Layar.
"Sekarang, lanjutkan." Pemuda itu menganguk dan memulai Rekaman Cctv.
Seluruh orang di Ruangan bisa melihat seorang Pria kekar sedang berjalan, saat sedang berjalan Pria kekar itu seperti menyimpan sesuatu.
"Besarin, besarin sebisanya!" ucap Alex dengan nada tinggi. Pemuda itu menjadi gugup dan melakukannya.
Setelah itu Pemuda itu memulai kembali Rekamannya, saat di scane Pria kekar ingin menyimpan sesuatu, Alex berteriak.
"BERHENTI..!!!" Pemuda itu sontak memberhentikan Rekaman Cctvnya.
Dia mengalihkan pandangannya ke belakang, seketika Pemuda itu menjadi lebih terkejut, dia melihat Alex sedang mencekik Pria kekar itu dengan sangat kuat.
"Sekarang, apakah kau tidak ingin mengaku bahwa kau yang memberi racun pada makanan Pak Jima?!" ucap Alex dengan wajah yang marah.
"U-URGGH!! B-Berhenti" ucap Pria kekar itu terbata bata.
Alex melepaskan cekikkannya tapi dia memegang tangan Pria kekar itu dengan cengkaman yang kuat.
"Hurgg!! Hurgg!!" dia terbatuk batuk. "Bukan aku yang melakukannya, sementang mentang aku di Rekaman itu sedang menyimpan sesuatu, jadi apakah kau mengira kalau aku yang memberi racun itu?" lanjutnya setelah beberapa saat.
"Hehh..!" Alex menyeringai dan mengeluarkan 2 Barang Bukti yang dia temukan tadi. "Apakah kau tau benda apa ini?" lanjutnya bertanya pada Pria kekar itu.
Sontak Pria kekar itu membelak matanya seperti ingin keluar, tapi beda dengan 4 Orang lainnya yang tidak mengetahui apa apa.
"Saat kau berjalan kearah Warteg Pak Jima kau menyimpan sebuah Plastik Clip, dan ini adalah Plastiknya. Setelah itu kau masuk kedalam Warteg Pak Jima saat kondisi Pak Jima sedang pergi belanja untuk bahan bahan masakannya.
Dan setelah itu, kau membuang Garam dan menjadikan Racun ini menjadi sebuah Garam, bukan? Jika kau ingin membantah, maka kau tidak akan bisa.
Kenapa? Karena hanya kaulah yang masuk kedalam Warteg Pak Jima saat dia sedang pergi, dan kejadian keracunannya pada saat Siang dan sebelum waktu itu tidak ada yang masuk."
Penjelasan Alex membuat seluruh orang yang ada didalamnya sangatlah terkejut, mereka pikir pikir apa yang di bilang oleh Alex adalah kebenaran yang hakiki.
"T-Tidak...A-Aku tidak m-melakukan ini, A-Aku tidak Uwaa...!" Pria kekar itu ingin berlari tapi dia merasa tulang seperti akan di remukan.
Alex tanpa berkata kata meremukan kedua tangan dan kedua kaki Pria kekar itu agar tidak bisa melarikan diri, tapi bukan membuatnya menjadi cacat.
"AARRGGHHH...!" teriak Pria kekar itu menggema di seluruh rumah.
Alex tidak memperdulikannya, dia mengalih pandangannya orang orang lainnya. "Tolong pegang dia terlebih dahulu. Kalian tidak perlu khawatir, tenaganya sudah tidak ada lagi." Ucap Alex pada orang orang dengan tersenyum.
Mereka semua menganguk, dengan perasaan yang terkejut 2 orang yang berani memegang kedua tangan Pria kekar itu dan menuntunnya keluar, dan Alex mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
_________________________
Bersambung