
Alex menutup Telponnya dan menyimpan kembali. Karena dia sudah tau dimana tempat tinggal Dinda, jadi dia tidak perlu menanyakannya lagi. Tanpa berlama lama lagi, dia menancap Gas Mobilnya dengan cepat menuju ke Kostsan Dinda.
______________________
Saat ini Alex sudah sampai didepan Kostsan Dinda. Setelah dia keluar dari Mobil, ia berjalan menuju kamar dimana Dinda tinggal dan mengetuknya.
TOK! TOK!
Beberapa puluh detik kemudian, suara langkah kaki bisa terdengar dari dalam rumah bersamaan saat pintu terbuka.
Alex bisa melihat seorang wanita cantik dengan pakaian kasual sedang memakai sebuah masker wajah. Dia tersenyum saja saat melihatnya. Gadis itu tak lain ialah dinda. Kemudian, diapun menyapa.
"Halo... "
"Alex, kau akhirnya datang."
Dinda seperti sangat gembira sampai sampai masker diwajahnya hampir jatuh. Kemudian dia mempersilahkan Alex untuk masuk tanpa memperdulikan tatapan aneh dari para tetangganya.
Setelah masuk, Alex kemudian duduk diruang tamu dan Dinda berjalan kedapur untuk melepaskan masker di wajahnya.
"Jadi, apa yang bisa kutolong untukmu."
Setelah Dinda melepaskan maskernya. Alexpun bertanya dengan sikap serius. Dia merasa kalau masalah yang dialami oleh Dinda sedikit serius.
Saat mendengar jawaban dari Dinda, Alex sangat terkejut bersamaan dengan senyuman menghiasi wajahnya. Dia tau apa yang dimasalahkan oleh Dinda setelah dibicarakan.
Dinda mengatakan bahwa ada seorang Pria satu kuliah dengan dia dan Pria tersebut sangat menyukai sampai sampai dia rela melakukan apapun yang Dinda ingikan.
Permasalahannya bukan itu. Dinda mengatakan juga kalau dia keceplosan kalau dirinya mengatakan bahwa dia memiliki pacar. Hal tersebut membangkitkan rasa marah dari Pria tersebut.
Jadi, Pria itu mengajak Dinda dan pacarnya untuk makan bersama. Dinda tentu tau kalau acara makan tersebut bukan untuk memperayakan hubungannya tapi untuk membongkar kobohongan Dinda.
"Jadi begitukah... " Alex memegang dagunya dengan senyuman.
"Jadi apakah kau bisa membantuku untuk menjadi pacarku?"
Perasaannya ntah kenapa sedikit rumit saat mendengar perkataan dari Dinda. Alex menjadi mengingat Anisa yang pergi entah kemana. Dia menggelengkan kepalanya dan fokus ke Dinda sekali lagi.
"Sudah ku bilang, jika aku bisa membantumu maka aku akan membantumu. Lagian masalah ini cukup sepele, kan."
Yaa, jika dia menolak penawaran dari Dinda, kesannya terhadap dirinya pasti akan berkurang. Apalagi ia ingin lebih dekat dengan Dinda, tidak tau alasannya kenapa.
Perasaannya seperti mengatakan kalau ada sesuatu dari Dinda yang tak ia ketahui.
"Terima kasih, Alex!" Dinda kegirangan. Tanpa ia sadari dia sudah memeluk Alex dengan erat.
Alex membiarkannya saja dan menikmati pelukan tersebut. Tapi, pikiran yang menyebalkan datang lagi memasuki kepalanya. Dalam situasi apapun pikirannya tentang Anisa selalu melintas dikepalanya.
Semakin dia memikirkannya dia merasa sakit dalam hatinya. Tanpa Alex sadari, dia sudah menekan pundak Dinda dengan sangat kuat.
"Ohh... M-Maaf karena aku memeluk secara tiba tiba."
__ADS_1
Dinda yang merasakan kesakitan langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah Alex. Dia sedikit terkejut karena wajah Alex sedikit serius.
"Akulah yang harus meminta maaf karena sudah menekan pundakmu," Alex tersadar saat mendengar perkataan Dinda.
"Jadi apa yang kita lakukan setelah ini?" lanjut Alex mencari topik baru.
"Hemm, karena hari masih sore bagaimana jika kita membeli baju terlebih dahulu?"
"Betul juga. Baiklah kita akan kesana dan kau, bersiap siapla."
"Baik, tunggu aku disini." Setelah berdiskusi cukup singkat. Dinda langsung berdiri menuju kamarnya untuk berdandan.
***
Hari sudah malam.
Saat ini Alex dalam perjalanan menuju dimana acara makan di selanggarakan oleh Pria disebutkan oleh Dinda tadinya.
Mereka juga telah selesai berbelanja di Mall. Alex membeli sebuah Jas hitam dengan dalaman kemeja putih yang elegan sedangkan Dinda membeli sebuah pakaian yang panjang menutupi lengannya sampai ke ujung kaki, itupun usulan dari Alex jika tidak dia pasti akan membeli baju yang sedikit terbuka.
Tentu saja Alex yang membayar seluruh pakaian yang dia dan Dinda beli yang menghabiskan 50 Juta uangnya.
Sebenarnya Dinda ingin membayar tapi Alex menolak. Mau taruh dimana wajahnya jika wanita yang bayar?
Bahkan saat saat mereka berbelanja. Pikiran Alex tentang Anisa tidak juga hilang. Hatinya mengatakan kalau besok ada sesuatu yang akan terjadi pada Anisa.
Alex cukup gugup sekarang karena Dinda mengatakan kalau mereka akan makan disebuah Restoran tingkat 4, yang berarti Restoran tersebut ialah merupakan Restoran cukup besar dari sejagat Bali.
Yang berarti, Pria itu memiliki dukungan cukup kuat dibelakangnya. Jika Alex berurusan dengan Pria itu cukup keras maka apa yang akan dia lakukan?
***
Mereka sudah sampai didepan Restoran yang disebutkan. Alex cukup kagum karena ini pertama kali baginya untuk datang ketempat seperti ini.
"Apakah kau gugup?"
Dinda berkata setelah mereka memarkirkan Mobil dan keluar dari Mobil. Dia tersenyum saja saat melihat wajah gugup Alex, jadi dia berinisiatif memegang lengan Alex seperti halnya sepasang kekasih.
"Bisa dibilang seperti itu,"
Alex tidak mempersalahkannya dan dia menggelengkan pikirannya tentang Anisa yang melintas di pikirannya. Dia menghelakan nafss kemudian dia menatap Dinda lagi.
"Mari masuk."
"Hummm... " Dinda menganguk sebagai jawaban.
Kemudian, Alex dan Dinda berjalan menuju tempat masuk Restoran dengan tangan Dinda yang memegang lengannya.
"Selamat datang, Tuan, Nona!!"
Saat mereka sudah diujung pintu masuk. Mereka disambut dengan beberapa Pelayan Restoran. Wajar jika mereka disambut dengan cara seperti itu.
__ADS_1
Bisa dilihat dari wajah dan pakaian mereka, wajah Alex yang tampan dan Dinda yang cantik orang manapun bisa menilai bahwa Dinda dan Alex pastilah orang yang kaya.
"Humm, " Alex mangaguk elegan. Padahal dalam hatinya dia sangat gugup, bahkan melebihi kata gugup.
Saat mereka masuk kedalam Restoran, seketika mereka menjadi pusat perhatian dari orang orang.
Banyak gadis gadis muda yang tergiur dengan ketampanan dan bentuk badan Alex yang setara dengan artis artis Bollywood.
Sedangkan para Pria tentu tergiur dengan kecantikan Dinda dan ingin langsung mengambilnya. Tapi mereka menyadari bahwa lawan mereka jauh lebih tampan dari mereka.
Alex dan Dinda tidak memperdulikan tatapan seluruh orang tapi mencari dimana letak Pria yang dibicarakan oleh Dinda.
Dinda menemukan seorang Pria yang lumayan tampan sedang duduk diujung menatap mereka dengan perasaaan yang kesel. Dinda tersenyum saja dan menarik lengan Alex berjalan menuju kearah Pria itu.
"Apakah kau sudah menunggu lama, Doni?"
Setelah mereka sampai di tempat Pria itu. Dinda berkata dengan senyuman menawan. Tapi jika dilihat lebih jelas, ada seringaian dibibirnya.
"A-Ahh ...Tidak, tidak, aku tidak menunggu terlalu lama kok."
Jawab Pria itu dengan berdiri. Padahal aslinya dia sudah menunggu lebih dari 1 Jam.
Karena dia sangat bersemangat akan makan dengan Anisa. Dan dia memiliki ekspetasi kalau dia akan membuang pacar yang Dinda katakan padanya, tapi saat dia melihatnya, niatnya sirna seketika.
"Begitukah, kalau begitu perkenalkan. Dia pacarku Alex. Sayang perkenalkan, dia adalah Doni."
"Doni, salam kenal." Ujar Pria itu atau Doni pada Alex dengan tangan yang menjulur kedepan.
"Alex, salam kenal juga." Jawab Alex tersenyum sedikit dan menggapai tangan Doni.
'Widihh, tangannya halus bet gila. Hehe, buat apa menjadi tampan tapi lemah!' batin Doni menyeringai.
Kemudian dia menekan tangan Alex dengan seluruh kekuatannya.
Alex yang merasa hal tersebut tersenyum dan mengikuti permainan dari Doni, dia menambah beberapa puluh persen dari kekuatannya dan ikutan menekan tangan Doni lebih kuat.
Doni terkejut dengan tekanan yang diberi oleh Alex. Dia langsung menarik tangannya dari Alex dan langsung menyembunyikan di belakang punggungnya. Bahkan tanpa ia sadari tangannya sudah memerah.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Dinda yang tak mengetahui apa yang terjadi pada mereka berdua.
"Tidak terjadi apa apa diantara kami, kami hanya memperkenalkan diri secara Pria, yakan Doni."
Jawab Alex menepuk pundak Doni, membuat senyuman manis tapi bagi Doni itu senyuman yang menakutkan.
"B-Betul itu, ha ha ha." Dia tidak bisa apa apa hanya bisa menahan kesel. Sambil memikirkan untuk mempermalukan Alex dia didepan umum.
"Kalian aneh. Ohh iyaya, dari pada kayak orang bodoh kita berdiri saja bagus duduk aja."
Merasa kalau mereka dipandang aneh oleh orang orang. Dinda mengusulkan untuk duduk dan mereka hanya menganguk kemudian mereka duduk dibangku yang disediakan.
________________________
__ADS_1
Bersambung