
"A-Apaa.....!!!!" Anisa berteriak kencang ingin menangkap Alex. Tapi Alex sudah berlari kekamar mandi dengan sangat cepat.
__________________________
Beberapa Jam berlalu
Saat ini Alex dan Anisa sedang menonton Televisi dengan kepala Anisa di bahu Alex dan Alex memegang pundak Anisa dengan romantisnya.
Juga, Alex dan Anisa telah selesai mandi, ya walaupun mereka berdua mandi dengan waktu yang berbeda. Saat Anisa ingin mandi, Alex mempunyai rencana yaitu mengumpet dibalik handuk, tapi rencananya ketahuan dan jadinya dia dicubit oleh Anisa.
Dari saat Alex pulang Anisa menatap terus menerus tangan Alex yang dibaluti oleh kain, karena dia merasa aneh. Jadi dia memberanikan untuk bertanya pada Alex, dan jawaban Alex membuat Anisa setengah mati.
Karena Alex berkata dengan jujur kalau tangannya ditusuk oleh Pisau, Anisa dengan khawatir langsung mengambil Kotak P3K dan langsung mengecek ngecek luka Alex. Alex hanya terkekeh saja dan menenang Anisa dengan lembut, dan berkata kalau dirinya baik baik saja. Karena merasa Alex benar benar baik baik saja dia merasa legah.
Alex dan Anisa juga telah selesai makan, yaitu memakan Bakso dengan mie yang sudah lembek seperti air yang membuat rasanya menjadi tidak enak lagi. Jadinya, Anisa merebus Mie instan sebagai Mie dari Bakso tersebut.
"Hahaha...Mereka bodoh sekali, bukan?" Anisa menertawakan kebodohan yang dilakukan oleh salah satu komedian yang tayang di Televisi.
Alex tersenyum saja, mengelus rambut Anisa yang berada di bahunya. Hal tersebut membuat Anisa merasa sedikit geli dan memandang ke Alex.
Anisa teringat sesuatu yang dari pagi ingin dia katakan. Dia duduk tegak dan mematikan Televisi yang menyala, kemudian mamandang Alex dengan wajah penuh pertanyaan.
"Hemm, kenapa?" Alex bertanya dengan aneh karena Anisa membuat wajah seperti itu.
"Aku punya pertanyaan untukmu."
"Tanya saja semaumu, aku akan menjawab jika pertanyaan itu bisa kujawab." Balas Alex mengambil Teh yang berada di sampingnya dan menyesapnya.
"Aku tanya dan kumohon untuk menjawab dengan jujur." Anisa memandang Alex menjadi tajam, dan Alex hanya menganguk sambil mengangkat bahunya.
"Hah..." Anisa menarik nafas dan membuangnya, kemudian melanjutkan. "Kenapa kau ingin bersamaku?".
"Apa maksudmu?" tanya Alex dengan aneh, karena tidak mengerti apa maksud perkataannya.
"Aku bertanya, kenapa kau mau bersamaku? Maksudku, kenapa kau mau aku menjadi kekasihmu? Lihatlah aku, aku sudah berumur 35Tahun dan sudah bisa di bilang sebagai tante tante, sedangkan kau masih sangat muda bahkan sangatlah muda.
__ADS_1
Kau memiliki wajah yang sangat tampan, dan juga tinggi, bagimu, kau bisa sangat mudah untuk mencari seorang Gadis yang berumur sama dengamu bahkan gadis yang lebih cantik dariku. Kumohon, jawablah dengan jujur." Anisa menjawab dengan nada sedikit begetar dengan kepala yang menunduk.
Alex yang sedang menyesap Teh sangatlah terkejut dengan pertanyaan Anisa. Alex menjadi teringat sebuah kisah yang sangat dia kagumkan. Dia menaruh Tehnya di atas meja dan memandang kembali Anisa dengan tersenyum.
"Sini...." Alex melebarkan tangannya memberi isyarat agar Anisa untuk memeluknya. Anisa merasa aneh, tapi tidak melawan dan memeluk Alex dengan erat.
"Apakah kau ingin mendengar sebuah cerita?" Alex bertanya sambil mengelus kepala Anisa dengan lembut.
Anisa mengangkat kepalanya sedikit, memandang Alex dengan aneh. "Tentu, kenapa tidak?" walaupun sedikit aneh dengan pertanyaan Alex, dia menganguk saja dan memperbolehkannya.
Alex tersenyum menyenderkan punggungnya kebelakang Kursi. "Ini kisah berasal dari Negara Arab Saudi. Awal kisahnya ada seorang pemuda yang sangatlah Tampan, bahkan melebihiku. Saat it-"
"Tunggu...." Anisa memotong cerita Alex dan memandangnya dengan dahi mengerut. "Pemuda yang lebih tampan darimu? Memangnya ada?" Anisa bertanya dengan aneh.
"Tentu saja ada, Dunia ini sangatlah besar banyak orang yang lebih tampan dariku. Apakah kau pernah mendengar pepatah yang mengatakan, diatas langit masih ada langit?" Alex menjawab dengan tangan mengelus kepala Anisa.
"Tentu saja aku tau." Anisa membalas, kemudian dia berdiri dari pelukan Alex dan mengepal tangannya kearah Alex. "Tenang saja, walaupun ada orang yang lebih tampan atau lebih kaya darimu, aku akan tetap setia padamu sampai akhir hayat kita." Setelah berbicara seperti itu, dia menjatuhkan kembali tubuhnya ke Alex dan memeluk Alex lebih erat, karena mengingat sesuatu yang menyedihkan.
"Hehehe, aku mengharapkan itu." Alex mengelus rambut Anisa dengan senyuman yang indah.
"Ohh, benar sampai mana tadi....Oh iya. Cerita ini merupakan sebuah cerita nyata, pada saat Arab Saudi masih menjadi sebuah Negara yang miskin. Dulunya, ada seorang Pemuda yang sangatlah baik dan mempunyai sifat yang sangatlah mulia.
Kalaitu, Wanita itu merasa kalau dirinya menjadi suka kepada Pemuda itu, tapi dia merasa kalau dirinya tidak pantas menjadi istri pemuda tersebut. Karena tidak berani mengatakannya sendiri, dia menyuruh temennya menyampai perasaanya kepada pemuda itu.
Dan kau tau, apa jawabannya? Pemuda itu bersedia menikahi Wanita yang bersuia 40 Tahun sedang Pemuda itu masih sangatlah muda.
Jadi, kau tau apa kita ambil dari cerita ini, bukan? Aku tidak peduli berapapun usiamu, mau kau itu tua ataupun muda, aku mencintaimu dari lubuk hatiku yang terdalam." Alex menceritakan dengan panjang lebar. Memandang wajah Anisa dengan lembut dan tersenyum manis.
Anisa menjadi malu dan menyembunyikan wajahnya di dada Alex. "Y-Yaa. J-Jika kau bilang seperti itu maka aku juga akan selalu menyukaimu dan terus bersamamu." Anisa berkata dengan malu, tidak berani menatap Alex.
Alex semakin tersenyum mengelus kepala Anisa dengan lembut. "Aku juga menyukai wanita dewasa loh." Saat Alex telah selesai berbicara, sebuah mata merah memandangnya dengan tajam, membuat Alex sedikit takut.
Anisa memandang Alex dengan tajam, sambil membalas. "Sepertinya aku sudah salah menilaimu, ya!"
"Hah....." Alex menjadi keringat dingin dan menjawab. "W-Walaupun aku menyukai wanita dewasa, tapi cintaku padamu tidak bisa di nilai".
__ADS_1
Anisa langsung membuang mukanya kesamping, tapi jika dilihat lebih jelas ada sedikit merah di bagian pipinya. "H-Hemm, apasih, tidak nyambung!".
"Hehh, apakah kau malu?" Alex terkekeh, mencolok colok pipi Anisa dengan senyum seringai.
"Kauuu, yaa....!!" Anisa menjadi malu, dan mencubit Alex perut Alex dengan kuat.
"AWWW...!!" Alex merintih kesakitan tapi tidak melawan. Dia hanya terkekeh saja dan langsung menarik Anisa kedalam pelukannya.
"Anisaa....Lakukan itu yuk." Saat merasa sesuatu yang kenyal, hawa nafsu Alex langsung meningkat dan berkata pada Anisa dengan nada memohon.
"Tidakk....Aku tidak mau, yang kau lakukan semalam saja ini masih terasa sakit kau tau! Bahkan saat aku kencing aku harus berusaha untuk menahan sakit." Anisa berkata dengan nada menolak.
"Apakah begitu? Jika begitu aku minta maaf. Ayo lakukan sekali lagi, aku bersumpah untuk lembut bahkan selembut busa."
"Apakah Nagamu bisa selembut busa? Pokoknya Tidak!"
"Tentu saja bisa, Nagaku sudah jinak kepadaku, kau tau. Tchh..Ayolah, sekali saja. Aku janji, aku bakal masukin cuman di ujung doang".
"Tidakk, aku tidak mauu...."
"Ayolah...Kumohon."
"Tidak....!"
"Jika kau mau, aku bakal Gift Alok."
"Kau kira aku bocil. Pokoknya tidak."
"Ayolahh.."
"Tidakkk...!!!"
Bahkan Alex bersujudpun Anisa tidak memberikannya. Juga, Alex mengancam Anisa, jika Anisa tidak memberinya maka dia akan telanjang dan berlari di tengah jalan. Dan jawaban Anisa membuat Alex sakit hatinya, yaitu 'Pergilah'. Terpaksa deh, Alex tidak melakukan hal itu malam ini.
___________________________
__ADS_1
Bersambung
N/A: Kisahnya di ambil dari kisah Nabi Muhammad SAW.