Supir Taksi Dengan SISTEM

Supir Taksi Dengan SISTEM
Supir Taksi Dengan SISTEM - 029


__ADS_3

"Itu lebih dari cukup, kamu tenang saja kami akan berusaha untuk mencari barang yang bagus bahkan lebih dari kata bagus." Yuni menjawab tapi matanya memandang Handphonenya yang mendapatkan Transferan 500Juta. Alex menganguk senang saja sembari melangkahkan kakinya masuk kedalam Rumah yang sudah menjadi miliknya.


___________________________


Beberapa Jam Berlalu.


Hari sudah menjelang malam. Alex berada di Rumah barunya cukup lama, karena dia harus melihat lihat kondisi Rumah yang akan dia tempatkan, seperti batu atau cat yang udah luntur. Jika itu terjadi dia akan membetulinya, tentu saja dia menyuruh Yuni.


Yuni juga mengatakan banyak hal pada Alex tentang Rumahnya, seperti berapa jumlah kamar dan kamar mandi. Sekarang Alex tau, Rumah yang akan dia tempatkan memiliki 2 Kamar bawah dan 3 kamar di lantai atas.


Juga, Rumah tersebut memiliki 1 Kamar mandi di lantai bawah, 1 kamar mandi di lantai atas. Alex baru mengetahuinya, karena saat dia membeli Rumah itu dia tidak melihat jumlah Kamar dan lainnya, dia hanya melihat gambar Rumahnya saja. Dan itu patut tidak di contohkan ya adik adik.


Karena Rumah itu tidak memiliki kolam berenang, jadi Alex memerintahkan Yuni untuk membuat Kolam Renang di belakang Rumahnya, pas sekali di belakang Rumahnya terdapat lahan kosong yang cukup besar.


Alex harus mengeluarkan dana sebesar 50 Juta, dan tidak lupa dia bilang kepada Yuni untuk membuat Kolam Renang tersebut dengan indah.


Setelah puas melihat semua hal yang ada di Rumah, Alex pulang dan mengantar Yuni terlebih dahulu dan setelah itu barulah dia mengantar Resya.


Saat ini Alex berada di depan Apartemen tempat Resya tinggal. Alex bisa menilai kalau Apartemen tersebut pasti sangatlah mahal untuk sebulannya, karena Apartemen tersebut sangatlah besar dan indah, dan Apartemen tersebut di sediakan Kolam Renang untuk orang yang menyewanya.


"Jika begitu aku pergi dulu, ya." Sahut Alex memandang Resya yang sudah turun dari Mobilnya.


"Hemm, hati hati ya, sampai jumpa." Resya menjawab tersenyum sambil melambaikan tangannya dengan kencang.


Alex menganguk seyum sembari menutup Kaca Mobilnya, dan langsung menancap Gas Mobilnya dengan santai saja.


_________________


Disebuah Rumah Sakit.


Salah satu Ruangan VVIP, terdapat seorang Pria Tianghoa yang sedang berbaring di tempat tidur dengan wajah yang dibaluti oleh kain. Pria tersebut tak lain adalah Pria yang di tendang oleh Alex.


BRAKK!!!


Secara tiba tiba, seorang Wanita berusia lanjut membuka Pintu Ruangan VVIP tersebut dengan keras. Wanita itu dengan tergesa gesa berjalan ke arah Pria yang berbaring di atas kasur dengan wajah sedih di campur marah.


"Tio Ong...!! Siapa yang berani melakukan ini padamu?" setelah sampai Wanita itu bertanya pada Pria itu. Dia tak adalah Istri dari Pria yang dipukuli oleh Alex tadinya.


"Hegg..." Pria itu bernama Tio Ong. Dia menggerakan kepalanya dengan susah saat mendengar suara Istrinya yang ia tunggu dari tadi.

__ADS_1


"Aku dipukuli oleh seorang bocah ingusan." Jawab Tio Ong dengan nada seperti orang sakit, tapi jika dilihat matanya dia seperti menyimpan suatu dendam.


"Apa? Berani sekali dia!" Istrinya yang baru duduk langsung berdiri dari duduknya saat mendengar perkataan Suaminya.


"Kita harus melapornya kepolosi karena berani memukulmu sampai seperti ini!" Istri Tio Ong dengan cepat mengeluarkan Handphonenya dari Tas, saat ingin menelpon sebuah tangan tua menghalanginya.


"Jangan menelpon Polisi, biarkan saja. Jika kita melaporkan polisi maka dia hanya akan dihukum penjara beberapa bulan saja. Sedangkan, jika kita yang melakukannya sendiri maka kita akan bisa melihat hal yang menyenangkan, bukan?".


Tio Ong menghalangi Istrinya yang ingin menelpon seorang Polisi, dia bilang kepada Istri dengan menyeringai kejam. Istrinya sedikit terkejut, tapi dia tersenyum saja dan mendukung tindakan Suaminya yang akan menyiksa Alex dengan kejam.


________________


Disisi lain tempat Alex berada, dia tentu tidak tau apa yang dibicarakan oleh Suami Istri yang jahat itu.


Saat ini Alex sedang memegang dagunya seperti memikirkan sesuatu."Hemm, apakah aku harus membeli makanan dulu?" gumam Alex. Dia memikirkan apakah dia membeli makanan atau tidak.


"Aku tau, jika aku membeli makanan pasti Anisa bakal marah dan dia pasti akan bilang kalau aku orangnya boros." Lanjutnya sedikit terkikik memikirkan saat dia dimarahi oleh Anisa karena membeli makanan yang mahal saat itu.


"Tidak apa apalah, sesekali membeli makanan untuknya bukanlah hal yang salah." Setelah memikirkannya cukup lama, Alex menancap gas mobilnya lebih cepat.


Saat ini dia juga lagi bingung, dia tidak tau apa yang harus dia beli sekarang. Jika dia beli Pizza dia tidak suka rasanya, jika dia beli KFC bagus beli KFC yang dipinggir jalan rasanya juga sama.


Beberapa puluh menit menjalankan Mobil, Alex telah sampai didepan Bakso Kang Ujang. Kang Ujang berjualan menggunakan sebuah grobak. Mungkin bagi orang kaya terlihat tidak higenis, walaupun begitu banyak sekali yang menjadi pelanggan setianya.


Bahkan sekarang Alex sedang menatap Grobak Kang Ujang yang dikelilingin banyak sekali orang yang ingin beli. Dia tidak ingin langsung turun, jika dia melakukan hal itu pasti banyak para wanita yang memandangnya dan itu sangat merepotkan baginya, dia tidak membencinya hanya saja dia sedikit risih.


Beberapa puluh menit menunggu, akhirnya orang yang membeli Bakso Kang Ujang telah dilayani semuanya. Alex langsung turun dari mobil dan berjalan ke arah Grobak Kang Ujang.


"Kang....Beli Bakso dong." Ujar Alex kepada Kang Ujang yang lagi mengipaskan dirinya dengan Topi yang ia pakai karena kelelahan meladeni para Pelanggan.


"Ahh, ohh boleh tunggu sebentar, tangan saya kelelahan karena meladeni para pelanggan tadi." Jawab Kang Ujang pada Alex.


Kang Ujang berusia sekitar 35 Tahun, dia berjualan Bakso sendirian tidak ada yang membantunya. Dulu ada yang membantunya, yaitu Istrinya. Istrinya meninggal di karenakan penyakit yang ia alami beberapa tahun silam.


"Tentu, kenapa tidak." Balas Alex tersenyum sedikit sembari berjalan ke arah kursi yang disediakan oleh Kang Ujang untuk para Pelanggan.


"Apakah Kang Ujang mengenalku?" setelah duduk di dekat Kang Ujang Alex bertanya. Walaupun dia tau pasti Kang Ujang tidak akan mengenalnya.


"Tentu saja aku mengenalmu, kau Alex bukan?" jawab Kang Ujang membuat Alex sangat terkejut.

__ADS_1


"Bagaimana Akang mengenalku? Bukankah wajahku telah berubah?" tanya Alex dengan membelak matanya. Dia berpikir, apakah wajahnya berubah kembali seperti sedia kala. Memikirkannya membuat dia takut.


"Hahaha, betulkah? Aku bisa menebak dari logat bicaramu, lagian tidak ada yang pernah memanggilku dengan panggilan Akang, hanya kamulah yang memanggilku dengan sebutan seperti itu." Jawab Kang Ujang terkekeh sedikit.


"Heh? Apakah begitu? Hemm, dipikir pikir benar juga ya." Alex sedikit legah, karena wajahnya tidak berubah seperti sedia kala.


Beberapa menit berbicara satu sama lain, Kang Ujang telah selesai berisitirahat jadi Alex meminta tolong kepada Kang Ujang untuk membuat 3 Bungkus Bakso. Satu Bakso yang dijual oleh Kang Ujang seharga 10Ribu.


Beberapa menit menunggu, pesanan Alex telah selesai tapi ada yang membuatnya merasa aneh. Karena Kang Ujang membuat Bakso sebanyak 5 Bungkus, dan itu tidak seperti yang dia pesan.


Kang Ujang berkata kalau itu hadiah karena Wajah Alex berubah menjadi Tampan. Walaupun alasan Kang Ujang sedikit aneh tapi Alex menerimanya dan membayar dengan harga 30Ribu. Alex dengan diam diam menyelipkan uang 100Ribu dibawah botol Saus, dia merasa tidak enak jika menerima itu dengan gratis.


Setelah percakapan kecil, Alex masuk kembali kedalam Mobilnya dan melaju dengan santainya saja.


Setelah beberapa menit menjalankan Mobil, dia melihat seorang Pria Tua berpakaian usam yang duduk di depan sebuah Toko, seperti seorang pengemis.


Alex mendapatkan suatu ide, idenya adalah dia akan memberikan 2 Bakso tadi kepada Pria Tua itu. Lagian dia merasa kasihan dengan orang orang yang tidak punya rumah seperti itu.


Alex menjalankan Mobilnya menuju kearah Pria Tua itu, setelah sampai Alex turun dari Mobil dan berjalan kearah Pria tua tersebut. Karena hari sudah malam, jadi tidak banyak banyak orang yang berlalu lalang.


"Kek, apakah anda lapar?" setelah sampai, Alex bertanya pada Pria Tua itu yang sedang duduk dengan nada lembut.


"Ohh, hemmm" Pria tua tua itu menoleh sedikit dan menganguk pada Alex.


"Kalau begitu pas sekali, aku membeli banyak bakso. Bagaimana kalau kita makan bersama?" Alex membalas dengan memegang pundak Kakek tersebut dengan senyuman indah.


"Betulkah? Kalau begitu ayoo kita makan...!" Kakek itu sangat senang, dan menjawab dengan mata berbinar.


Alex tersenyum saja sembari duduk di samping Kakek itu. Walaupun ada sedikit orang yang berlalu lalang dan melihatnya, Alex tidak memperdulikannya dan berbicara terus pada Kakek itu.


Saat ingin membuka Baksonya, dia menjadi bingung. Alex menoleh kearah Kakek itu dengan wajah yang malu. "Ini, bagaimana kita bisa makan tanpa mangkuk?" tanya Alex dengan wajah sedikit memerah.


____________________________


Bersambung


N/A: Kalau gw up 2 Chapter pasti salah satu chapter sedikit yang ngelike.


Like dong, tinggal pencet aja susah banget sih. Kagaknya disuru nguli.

__ADS_1


__ADS_2