Supir Taksi Dengan SISTEM

Supir Taksi Dengan SISTEM
Supir Taksi Dengan SISTEM - 025


__ADS_3

"A-Anu..." Saat sedang merasa legah, seseorang menarik bajunya. Alex baru ingat kalau dia sedang membawa seorang gadis. Dia menoleh ke arah Wanita itu menatapnya dengan banyak pertanyaan.


_______________________


"Iya, ada apa?" jawab Alex mencoba untuk berbasa basi terlebih dahulu.


"T-Terima kasih karena sudah menyelamatkan ku" balasnya dengan malu, dengan wajah menundukkan kepala. Jika dilihat lebih jelas, ada rona merah di pipinya.


Alex tersenyum saja sembari menjawab dengan mata fokus kejalanan. "Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, lagian aku memiliki dendam pada orang itu. Ngomong ngomong, bisakah kau memberi tahu namamu?".


"Ahh...Maafkan aku belum memperkenalkan diri. Humm...Hummm..Perkenalkan, namaku Dinda. Boleh aku tahu namamu?" Wanita itu berdehem 2 kali untuk memfokuskan pikirannya, dan menjawab dengan tersenyum pada Alex.


"Dindakah, nama yang indah. Namaku Alexander, kau bisa memanggilku Alex." Jawab Alex tersenyum sedikit pada Wanita itu atau Dinda.


"Senang bertemu denganmu. Ngomong ngomong, kenapa kamu langsung kabur saat Pria itu pingsan? Apakah kamu tidak ingin bertan-" belum menyelesaikan bicaranya, Alex memotong dengan suara kesel.


"Jangan berpikir yang aneh aneh, aku hanya tidak ingin membuat dia pergi dengan cepat. Yah, jika kamu berpikir begitu silahkan saja." Alex menjawab dengan sedikit nada kesel karena menuduhnya yang tidak bertanggung jawab.


"Juga, aku akan menemuinya lagi dan akan membuat pesta yang meriah dengannya." Lanjutnya menyeringai besar, mengepal tangannya kuat yang berada di stang Mobil.


Tapi, Dinda sangat aneh dengan apa yang di katakan oleh Alex, sembari bertanya. "Kau sangat aneh, kau baru saja memukulnya dan kau ingin mengajaknya pesta. Bukankah itu seperti lelucon?".


"Hah....." Alex mengehelakan nafas berat. Tadinya dia menilai kalau Dinda wanita yang berpikir tinggi ternyata dia hanya wanita polos dan bodoh yang tidak mengetahui kejamnya dunia.


"Benar, tadi aku hanya mengatakan sebuah lelucon. Ohh benar juga, dimana rumahmu? Biar aku mengantarmu selagi aku tidak ada orang yang memesan Taksiku".


Alex memang berniat untuk mengantar Dinda, jika dibiarkan di tempat kejadian pasti masalah akan menjadi merepotkan.


"Rumahku dekat dengan Universitas STI, aku ngekost disana." Jawab Dinda yang tak bisa berpaling dari jalanan karena dia sangat kagum dengan kemampuan mengemudi Alex.


"Universitas STI?" Alex sedikit aneh, karena Universitas itu merupakan Universitas yang besar dan para Siswanya kebanyakan keluarga yang terpandang.


Tapi dari cara berpakaian Dinda dia seperti orang yang bercukupan yang tidak mungkin masuk ke Universitas itu. "Apakah kau Mahasiswa disana?".

__ADS_1


"Hemm benar aku Siswa disana. Heh, btw apakah tanganmu tidak apa apa?" Dinda menatap khawatir Tangan Alex yang tertusuk oleh Pisau tadinya.


"Hemm..." Alex menatap tangannya yang sudah di baluti oleh kain dan kain tersebut sudah di selimuti oleh darahnya. Dia menoleh ke arah Dinda sembari menjawab. "Tidak apa apa kok, ini hanya luka sepeleh kau tidak usah khawatir".


"Tidak boleh seperti itu, jika sudah sampai di Kostsan aku akan merawat lukamu biar tidak menjadi infeksi." Balas Dinda membantah perkataan Alex.


Alex tersenyum sahaja dan tidak menjawab perkataan Dinda. Dia menancap Gas mobilnya lebih cepat agar sampai di Kostsan Dinda.


____________


30 Menit Kemudian.


Saat ini Alex memberhentikan Mobilnya ketika mereka berdua telah sampai di sebuah Kost yang dekat dengan Universitas STI yang berjarak 2Kilometer.


Setelah percakapan kecil, Alex dan Dinda keluar dari Mobil ingin masuk kedalam Kost. Sebenarnya Alex ingin langsung pergi, tapi Dinda tidak memperbolehkannya dan harus mengobati luka Alex lebih baik.


Setelah masuk kedalam, Dinda mempersilahkan Alex untuk duduk dan dia tidak menolaknya. Alex sedikit merasa aneh dihatinya, kenapa setiap kali dia masuk ke kamar Wanita pasti didalamnya sangatlah rapi dan bersih, juga baunya sangatlah harum. Sedangkan kamar cowok, sudahlah berserak barang berantak, bau pula itu, baunya bukan apa itu seperti bau pandan.


(N/T: You Know Lah.)


"Hemm, aku tidak ingin merepotkanmu jika ada aku ingin Teh Manis tapi gulanya jangan banyak kali buat aja 3 sendok makan, kalau ada Es boleh pake Es Batu biar dingin." Alex tentu tidak menolak, pas kali dia lagi haus.


Dinda menganguk sebagai jawaban seraya berjalan kedapur. Beberapa menit kemudian, Dinda kembali membawa sebuah Nampan Plastik di atasnya terdapat 2 Minum yang berbeda jenis, yaitu Teh Manis dan Susu Coklat.


"Ternyata kau seperti anak kecil ya" ejek Alex menatap Dinda yang sedang memberinya Teh Manis yang dia minta tadinya.


Setelah selesai, Dinda duduk didepan Alex menatapnya dengan tatapan kesel, sembari menjawab. "Aku bukan anak kecil, aku sudah besar, kau tau.


Hanya saja aku menyukai susu coklat. Kata Ibuku jika aku meminumnya setiap saat aku akan menjadi Anak yang tumbuh ke atas bukan kesamping." Balas kesel Dinda menggembung pipinya. Alex hanya terkikik kecil saja dengan sikap Dinda.


"Ohh benar juga." Dinda baru teringat, untuk apa dia membawa Alex kedalam kostnya. Dinda bangkit dari duduknya dan pergi ke sebuah kamar.


Beberapa menit kemudian, Dinda kembali lagi membawa sebuah Kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan atau di singkat P3K. Setelah itu, dia berjalan kearah Alex dan duduk di lantai.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau duduk di lantai?" Alex menatap Aneh pada Dinda yang berada di bawahnya.


Otaknya Traveling saat melihat Dinda, dia berpikir kalau Dinda ingin mendapatkan Blow*ob darinya. Tapi melihat tindakan Dinda, dia hanya menahan malu di hatinya.


"Aku melakukan ini agar lebih enak." Jawabnya seraya membuka balutan kain yang berada di tangan kanan Alex.


Setelah membuka kain tersebut, Dinda di perlihatkan tangan Alex yang berlubang memperlihatkan daging dan tulang tulang. Dinda merasa ngeri saat melihatnya, dia memberanikan dirinya dan mengambil balutan yang berada di Kotak P3K setelah itu dia membaluti tangan Alex.


2 Jam Kemudian, Dinda telah selesai membaluti tangan Alex. Tadinya Dinda ingin membaluti seluruh tangan Alex, tapi Alex menolaknya jika dia melakukan hal itu bagaimana Alex menyetir Mobil.


Setelah Dinda menyelesaikan tugasnya Alex ingin langsung pergi tapi Dinda memberhentikan langkahnya dan memaksa Alex untuk tetap di Kostsannya.


Alex tentu tidak menolak, siapa juga yang tidak ingin berduaan dengan seorang gadis cantik. Jika Iman orang tersebut kuat maka dia bisa melawan hawa nafsu, tapi tidak Alex.


Dia bahkan hampir kelupaan kalau dia sudah mempunyai seorang Kekasih yang cantik sedang menunggunya pulang. Dalam hatinya dia hanya meminta maaf pada Anisa.


TRINGG!! TRINGG!! TRINGG!!


"Hemm...." Saat mereka berdua sedang berbicara, sebuah nada dering dari Handphone Alex membuat mereka harus berhenti bicara. Alex mengambil Handphonenya yang berada di kantung celana dan tersenyum saja saat melihat Notifikasi tersebut.


"Sepertinya aku harus pergi." Ujar Alex seraya menyimpan Handphonenya ke dalam Kantung Celana.


"Begitukah" Dinda sedikit tidak rela dan hanya menatap sedih Alex yang sedang meminum Teh Manis yang beberapa Jam dibuat sampai sekarang belum habis, bahkan Esnya menjadi cair.


"Bolehkah aku meminta Nomor Teleponmu?" lanjut Dinda menatap Alex yang sudah beranjak berdiri.


"Tentu, kenapa tidak." Alex mengambil Handphonenya dan menyerahkan pada Dinda. Dinda mengambil sembari mencatat Nomor Telepon Alex. Setelah selesai, Dinda berterima kasih pada Alex dan Alex menganguk saja.


Saat ini Alex sudah berada di dalam Mobilnya, dia menatap Dinda yang sedang menatap dirinya dari balik jendela kecil. Alex tersenyum saja seraya melambaikan tangan padanya, dan Dinda membalas dengan lambaian tangan.


Setelah memberi senyuman kecil pada Dinda, Alex langsung menancap gasnya lagi menuju Penumpang yang memesannya.


________________________

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2