Sword Ranker

Sword Ranker
Teacher


__ADS_3

Ujian kelulusan.


Bahkan di sekolah Hyper sekali pun, tetap ada yang namanya ujian kelulusan yang akan menentukan lulus atau tidaknya seorang Hyper.


Ujian ini terdiri dari 3 tahap, Ujian tertulis, ujian fisik, dan ujian skill Hyper.


Dari semua ujian, yang paling berpengaruh adalah ujian Skill, karena di ujian ini lah skill seorang Hyper akan dilihat, apakah pantas untuk lulus atau tidak.


Tes tertulis mencakup banyak hal seputar Hyper, seperti tipe-tipe Hyper dan Ranker, atau sumber kekuatan dari seorang Hyper. Ujian tertulis juga mencakup pemahaman strategi dan teori bertarung, itu merupakan salah satu hal dasar yang harus dikuasai.


Dan apakah Ran bisa menyelesaikan ujian tertulisnya?


Tentu saja.


Bisa.


“Pak! Saya sudah selesai.”


“Cih, yasudah kau boleh keluar.”


“Baik, terimakasih.”


Ran menyerahkan kertas ujiannya dan keluar dari ruangan ujian.


Walau Ran lemah, tapi ia sangat pintar dalam pelajaran tertulis, Ran selalu belajar dengan keras di tiap mata pelajaran agar bisa bertahan di sekolah.


Karena itulah, Ran mendapat peringkat 1 pada bidang akademis.


Para murid lain merasa jengkel dan dengki dengan Ran.


Cih, pasti dia curang.


Dasar sombong, mentang-mentang pintar sedikit.


Cuman pintar di ujian tertulis saja sudah sok sekali.


Kebanyakan Hyper, lebih fokus kepada pengembangan kekuatan mereka, bagi sebagian Hyper, ujian tertulis tidaklah penting.


Tapi, melihat Ran yang sangat unggul pada bidang akademis, membuat mereka menjadi semakin terpancing untuk membenci Ran.


Suara hati mereka terdengar jelas sekali, kalau sebegitu kesalnya, kenapa tidak belajar dengan benar saja sih?


Ran langsung pergi ke gedung olah raga, guna menghindari tatapan kebencian para Hyper lain.


Di pintu gedung olah raga, sudah ada guru pengawas yang menunggu para murid untuk menyelesaikan ujiannya.


Ketika guru itu melihat Ran, ia menyapa Ran dengan santai.


“Oit, Ran! Lagi-lagi selesai lebih dulu yah?”


“Oh, halo pak Aji, bapak sepertinya sehat yah.”


“Tentu saja sehat, kalau aku tidak sehat, aku tidak akan bertahan lama di pekerjaan ini.”


Sukmi Aji, ia adalah guru biasa yang mengajar olah raga, walau hanya orang biasa, ia adalah mantan tentara veteran yang menjadi saksi Gate Break pertama.


Pak Aji adalah salah satu dari sedikitnya guru yang memperlakukan Ran dengan normal, beliau tidak pernah merendahkan Ran sekali pun.


“Jadi mau menunggu di dalam saja Ran?”


“Ah iya pak, saya sekalian ingin ganti baju di dalam juga kalo boleh.”


“Boleh, boleh, masuk saja Ran.” Pak Aji membuka pintu gedung sambil tersenyum ramah.


“Terimakasih yah pak, padahal bapak bisa kena marah kalo membiarkan saya masuk seenaknya.”


“Tidak apa-apa, anggaplah ini permintaan maaf bapak juga, karena bapak kemarin sakit, bapak jadi tidak bisa melakukan apa-apa saat kamu dipukuli lagi beberapa minggu lalu, maaf yah, saat itu saya sedang sakit, jadi tidak bisa membangunkanmu, saya baru mendengar tentang apa yang kamu alami dari pembicaraan guru lain” Ekspresi Pak Aji berubah muram.


“Ah tidak apa-apa pak, itu masalah saya sendiri, jadi harus saya selesaikan sendiri, bapak tidak perlu minta maaf karena bapak tidak salah apa-apa kok.” Ran malah jadi ikut merasa bersalah ketika melihat ekspresi pak Aji.


"Tidak, itu adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai seorang guru, seorang guru seharusnya bisa membela muridnya. Saya ingin kamu bisa mendapatkan kehidupan sekolah yang normal. Tapi, sebagai manusia biasa, saya tidak punya kuasa untuk mengendalikan para Hyper"


"Tidak pak, Bapak sudah cukup berjasa bagi saya, diperlakukan ramah seperti ini saja saya sudah merasa sangat senang."


"Haha, semoga kamu bisa terus kuat yah Ran, meskipun saya sedikit sedih karena setelah ini saya akan sulit melihatmu setelah kamu lulus."


"Duh pak, saya ini tidak mati, kalau bapak ingin bertemu, bilang saja, meski pun jauh dan susah, saya akan sebisa mungkin untuk bertemu dengan bapak."


"Sifat optimismu itu memang hebat yah, yasudah, sana masuk, katanya mau ganti baju."


"Oh iya, saya masuk dulu yah pak, babay."


Ran masuk ke dalam gedung olah raga, di dalam gedung masih sepi, tidak ada orang lain yang berada di dalam sini.


Ran melihat tempat dimana ia dipukuli beberapa minggu sebelumnya.Secara reflek, tubuhnya langsung menggigil dan gemetaran.


"Hihhhhh, saking seringnya dipukul di sini, aku jadi merinding kalo melihatnya, semoga ini tidak memberikanku PTSD."


Ran pergi ke pojokan dan berganti pakaian ke seragam olah raga.


.


.


.


.


35 menit berlangsung


"Hoammmmm... lama sekali, kenapa belum ada yang datang lagi yah?"


Ran menunggu di pojokan sambil tiduran, ia sesekali menguap karena bosan.


Yang ia lakukan hanya menatap langit-langit gedung.


Beruntungnya, tidak lama kemudian, terdengar suara derap kaki yang kencang dari arah luar.


"Oh ini dia, mereka akhirnya datang." Ran langsung berdiri ke posisi siap.


Pintu gedung terbuka, para murid langsung berhamburan masuk.


Ketika para murid lain masuk, mereka langsung memandang Ran dengan sinis. Berbagai bisikan gosip langsung keluar dari mulut mereka.


kenapa dia sudah masuk? Bukannya tidak boleh masuk duluan yah?


Pasti ia menyogok guru.


Bukannya dia miskin? Uang darimana yang ia pakai untuk menyogok.


Pasti ia mencuri barang orang lain, ingatkan ada beberapa anak dari kelas lain yang kehilangan beberapa barang berharga, pasti dia pelakunya*.


Ran jengkel mendengar gosip mereka yang tidak berdasar.


Menyogok? Gosip macam apa itu? Eugh, mereka semua sangat menyebalkan


Prittttttttt.......


Suara peluit membuyarkan semua bisikan, anak-anak yang sebelumnya asik bergosip, seketika berhenti begitu mendengar suara peluit.


Pak Aji lah yang meniup peluit untuk menenangkan kegaduhan yang terjadi.


"Ok anak-anak, karena kalian semua sudah disini, mari kita mulai tes fisiknya. Tes fisik untuk kelulusan kalian akan mencakup 3 hal dasar, yaitu kekuatan fisik, stamina dan kecepatan kalian. Untuk kekuatan fisik, akan diuji dari seberapa kuat kalian dalam mengangkat beban, beban minimal yang harus kalian angkat adalah 30 kg. Untuk tes kecepatan, minimal harus mencapai 2 km dalam 10 menit. Nilai stamina akan dihitung bersamaan dengan tes kecepatan, sekarang kita mulai terlebih dahulu dengan tes kekuatan fisik, silahkan kalian pemanasan terlebih dahulu."


"Baik pak."


Tes fisik memang terdengar berat, tapi itu merupakan hal wajar karena Hyper sejatinya memiliki fisik yang lebih kuat dari rata-rata manusia, bahkan bagi para Hyper atau Ranker yang berorientasi pada kekuatan fisik sebagai senjata utamanya, mereka memiliki fisik sekelas monster.


Tapi, tes fisik tidak dibuat dengan standar yang terlalu tinggi agar para Hyper yang berorientasi pada Skill, terutama skill heal atau buff tidak terlalu kesulitan, karena mereka biasanya tidak memiliki fisik sekuat Hyper yang berorientasi pada fisik.


Ran memulai pemanasan di pojok ruangan, sementara teman sekelasnya melakukan pemanasan bersama-sama. Walau tidak setajam tadi, Ran masih tetap merasakan tatapan tajam dari teman sekelasnya.


Mereka tidak ada niat untuk berhenti menatapku yah? Bikin risih saja sih.


5 menit berlalu, waktu pemanasan telah selesai, para murid berkumpul di tengah lapangan dengan posisi berbaris. Tapi hanya Ran yang berbaris sendirian.


Mereka sengaja yah? Segitunya benci denganku nih?


Dan di depan barisan, sudah tersedia barbel sebagai alat tesnya.


"Baik, kita akan mulai sesuai dengan absen, yang pertama, Abdul, majulah. Kemudian Bruce, kamu langsung berbaris di belakang Abdul, dan terus begitu untuk selanjutnya, kalian paham?"


"Paham pak."


"Ok, Abdul kamu boleh langsung mulai, silahkan."


.

__ADS_1


.


.


"Yang terakhir, Ran! Cepat maju."


"Baik pak." Akhirnya tiba giliran Ran, ia maju dan menunggu di belakang Marco.


Marco adalah seorang Hyper bertipe support yang berorientasi pada skill jenis Buff, yang berfungsi untuk memperkuat kekuatan Hyper lain. Tapi sayangnya, pada ujian fisik, diharuskan untuk tidak memakai skill apa pun karena yang dinilai adalah fisik murni seorang Hyper, bukan skill yang dimiliki.


Karena itulah Marco cukup kesusahan untuk mengangkat Barbel seberat 30 kg.


"Hngggggggg....." Marco mengerang ketika mengangkat Barbelnya, ia sangat kepayahan untuk mengangkat Barbel ke posisi sempurna.


"Hnggggg.... Hahhhhhhh....." Akhirnya Marco dengan susah payah berhasil mengangkat Barbel itu, dan langsung mengembalikannya lagi.


"Bagus, mau coba yang lebih berat?"


"Hah.... Hahhhh... Hahh.. Ti-Tidak pak."


"Baiklah, sayang sekali. Tapi setidaknya kamu mendapatkan berhasil, silahkan beristirahat."


"Baik pak. Hosh.... Hosh... Hosh...." Marco pergi ke belakang sambil terengah-engah.


Ran sedikit tersenyum karena merasa lucu dengan adegan ini.


"Ok Ran, sekarang giliranmu."


"Baik pak."


"Jadi kamu mau mulai dari angka berapa? Mau dari 30 atau mau lebih tinggi."


"Langsung mulai dari 50 kg saja pak." Secara serentak, para murid di belakang langsung menatap ke arah Ran, terutama murid yang memiliki fisik yang lemah, mereka cukup terkejut mendengarnya.


"Bagus bagus, saya suka dengan keberanianmu."


Pak Aji langsung menyetel Barbel menjadi seberat 45 kg. Dia menggunakan sebuah remote untuk mengatur berat barbelnya.


Barbel yang digunakan adalah Barbel khusus, agar tidak repot ketika menyetel beratnya, barbel ini bisa disetel menggunakan sebuah remote, hanya dengan menekan tombol dan memasukkan berat yang diinginkan, barbel itu akan secara otomatis merubah beratnya menjadi sesuai dengan berat yang diinginkan.


"Huppppp... Hufffff....." Ran menghela nafas yang panjang, ia memegang batang besinya.


"Hupppp....." Dan dengan satu tarikan nafas lagi, Ran mengangkat barbel itu.


Ia mengangkat barbel hingga ke dadanya, berhenti sebentar, kemudian diangkat lagi hingga ke atas kepala.


"Huffffff...." Ran membuang nafasnya.


Selang beberapa detik, barulah Ran menurunkan kembali Barbelnya.


"Berjalan dengan lancar, hebat hebat, mau ditambah lagi Ran?"


"Tidak usah pak."


"Hehe, saya kira kamu mau sampai 100 kg, sayang banget yah."


"Kalau sampai 100 kg saya mana kuat pak."


"Hahaha, kirain."


Ran kembali ke pojokan ruangan.


"Baik anak-anak, kalian sekarang boleh istirahat dulu 15 menit, kemudian kalian keluar dan kita akan mulai tes kecepatan dan stamina."


"Baik pak!"


Pak Aji pun keluar dari gedung olah raga.


Ran mengeluarkan botol airnya, tapi belum sempat ia minum, ada beberapa orang yang mendatanginya.


Sial, kayaknya bakal kena masalah lagi nih.


Orang-orang yang mendatangi Ran, mengelilingi Ran seperti hewan langka.


"Bangun kau bocah."


Ran tidak peduli dengan ancaman itu dan lanjut minum.


Baru sampai botolnya ke bibir Ran, salah satu dari mereka malah menendang botol air Ran.


Prak! Botol air itu terlempar hingga ke dinding.


Huffft, baiklah, ini dia


Ran berdiri dengan kepala yang tertunduk.


"Cih, bocah miskin ini makin berlagak saja yah."


"Aku memang sudah tidak suka dia dari awal, hanya karena pintar sedikit, ia menjadi besar kepala."


"Apalagi tadi, kalian lihat pandangannya? Dia terasa meremehkan kita."


Segala umpatan dilayangkan kepada Ran. Ran hanya diam dan menunggu hingga tenang.


Ran tahu siapa saja mereka.


Steven Uncal, anak laki-laki berbadan kekar, berambut hitam panjang yang diikat dengan model ekor kuda. Ia adalah Hyper tipe Fighter


Helena Tuskap, Anak perempuan tomboy berambut pendek hingga terlihat seperti laki-laki, ia memiliki gigi taring yang panjang hingga selalu terlihat. Ia adalah Hyper tipe Fighter juga.


Tony Sky, Anak laki-laki dengan badan tinggi kurus dengan rambut hitam klimis yang disisir rapih, memiliki wajah berjerawat dan memakai kacamata kotak hingga terlihat seperti orang intelek walau nyatanya ia punya nilai terendah di kelas. Ia merupakan Hyper tipe support dengan skill heal.


Mereka jarang membully Ran terang-terangan, tapi Ran tahu jika mereka lah yang paling tidak suka dengan Ran.


"Kau itu harusnya sadar diri, orang macam kau ini bahkan tidak layak untuk masuk sekolah Hyper." Steven mengumpat kepada Ran sambil menusuk bahu Ran dengan jarinya.


"Benar, orang sepertimu tidak akan gunanya walau berhasil menjadi Ranker, aku yakin jika kau pasti akan mati di hari pertamamu menjadi nanti." Helena menimpali.


Tidak peduli umpatan apa yang diberikan, Ran tetap diam dan tidak membalas. Walau dirinya sendiri sangat direndahkan.


"Omong-omong, apa kalian tahu apa istilah yang cocok untuk orang seperti dia?" Tony yang tidak banyak berbicara, mendadak berbicara.


"Hah? Apa yang kau maksud Tony?"


"Tentu saja, tentang sebutan atau istilah yang cocok untuk dia."


"Memangnya apa?"


"Anak Haram! Atau anak yang tidak diinginkan."


"Pfft, hahahahahahahaha, bisa-bisanya kau kepikiran hal itu." Steven tertawa terbahak-bahak.


Ran langsung marah setengah hati, ia sampai menggigit bibirnya sendiri untuk menahan amarahnya.


"Dan kau tahu? Biasanya, anak haram itu lahir dari orang tua yang juga anak haram, mungkin saja, ibunya juga merupakan anak ha- Khookkk!" Tepat sebelum Tony selesai berbicara, Ran langsung meninju wajahnya.


"Akhh, hidungku! hidungku patah." Tony berteriak histeris.


"Coba saja sekali lagi kau menghina ibuku, akan kupatahkan semua tulangmu!" Ran berteriak marah.


Steven yang melihat itu menjadi makin marah. "Owhhh, si curut jadi berani yang sekarang, sini ka- Bruppp." Ran tanpa basa-basi lagi, langsung menendang wajah Steven, tetapi.


"Gak mempan curut." Jangankan jatuh, bahkan Steven tidak terlihat kesakitan.


Dasar Monster! Aku harus mengatur jarak


Ran berniat mundur, tapi belum sempat ia menarik kakinya, Steven sudah memegang kaki Ran.


"Curut itu! harus dibuang!!!" Hanya dengan satu tangan, Steven mengangkat seluruh tubuh Ran dan membantingnya ke lantai.


Buakkk!!


Lantai mengeluarkan bunyi yang menggelegar, suara pertarungan membuat orang murid lain menjadi tertarik dengan apa yang terjadi. Mereka berkerumun di sekitar Ran untuk melihat pertarungan.


"Akhhh." Ran langsung merasakan kesakitan yang luar biasa.


Tubuhnya serasa hancur.


Sial, tulang rusukku seperti patah.


Ran tidak menggerakkan satu jari pun.


Steven melihat Ran dengan tatapan yang merendahkan.


Ran memaksa tubuhnya untuk bangun, tapi Steven langsung menduduki tubuh Ran. Ran terjebak di posisi yang sulit.


Hajar! Hajar! Hajar! Hajar

__ADS_1


Suara sorak sorai dari para murdi menambah kegaduhan dari situasi ini.


"Lihatlah Ran, mereka ingin aku menghajarmu, itulah bukti dari tidak bergunanya dirimu. Ayo teman-teman, pilih bagian mana yang harus dipukul duluan!"


Muka!


Injak Tangannya!


Patahkan hidungnya!


Hancurkan mukanya*!


"Baik, dimulai dari yang pertama, yaitu muka! Siapkan gigimu Ran!."


Steven mengepalkan tinjunya, ia bersiap memukul wajah Ran


"Hosh... Hhhh. Hoshhhhhhhhh...." Nafas Ran menjadi tidak karuan. Ia berusaha sekuat mungkin untuk lepas dari jepitan Steven, tapi tidak bisa karena perbedaan berat badan.


"Apa kau takut hah? Makanya, jangan banyak bertingkah!" Steven mengejek Ran, sambil mengangkat lengannya, dia sudah siap untuk memukul wajah Ran hingga hancur.


3. Para murid menghitung mundur.


2


1


Hancurkan


Tinju Steven melesat ke bawah bagai komet, Ran gemetaran ketika melihatnya.


Tapi kemudian Ran menyadari sesuatu.


Apa ini? Kenapa? Kenapa terlihat lambat? Rasanya seperti mudah dihindari, cukup menghindar ke kanan.


Entah secara reflek atau insting bertahan hidup Ran yang tinggi, kepala Ran bergerak ke samping mengikuti pikirannya, dan tinju Steven yang bergerak sangat cepat, bisa dihindari.


Eh?


Kenapa tidak kena?


Apa yang terjadi?


Apa Steven masih bercanda?


Semuanya tidak percaya dengan pemandangan di depan mereka, mereka berbisik-bisik mengenai hal ini.


Steven tidak terkecuali, rasa bingungnya melebihi amarahnya hingga ia terdiam sesaat.


Tapi dalam sepersekian detiknya, ia kembali tersadar dan malah bertambah marah.


"Kau! Bagaimana bisa kau menghindarinya?"


Steven menjadi tambah marah, ia memukul secara membabi buta.


Buk! Bak! Buk!


Tapi Ran dengan mudah menghindarinya


Ke kiri, sekarang ke kanan, tetap di kanan.


Bagi Ran, tinju Steven terlihat lambat.


Bahkan hingga lantai rusak, Steven masih belum bisa mendaratkan satu pukulan pun pada Ran.


"Hoshh.... Hosh... Ba-bagaimana bisa?" Steven masih tidak percaya dengan pemandangan ini, dia sangat syok, begitu juga dengan murid lain.


Ran mengambil kesempatan ini, dia mengumpulkan air liur dalam mulutnya kemudian, meludahkannya kepada Steven.


Cuih!


Steven yang syok tidak bisa menghindarinya. Air liur itu mengenai matanya


"Anjing! Apa-apaan kau." Steven langsung menggunakan lengannya untuk mengelap matanya.


Akibatnya, jepitan Steven menjadi lebih kendor.


Ini dia! Ran langsung menarik tangannya yang terjepit.


Ketika tangannya bebas, Ran mengangkat sebagian tubuhnya, dan menggunakan tangannya untuk menusuk tenggorokan Steven


"Khekkk, ohok, ohok." Steven batuk-batuk.


Di saat penjagaannya semakin kendur, Ran menarik seluruh tubuhnya untuk bangun, ia berjuang melawan rasa sakit.


Ran berhasil, ia berhasil bangun, Steven terbanting ketika Ran mengangkat badannya yang ditindih.


"Sekarang tukar tempat breng**k!" Ran melompat ke arah Steven, sekarang ia berbalik yang menindih badan Steven.


"Tu-Tunggu dulu!" Steven meminta Ran untuk berhenti.


"Mana ada yang mau" Ran mengepalkan tangannya, ia bersiap membalas pukulan Steven.


Tapi Ran lupa lawannya bukan cuma Steven. Ia melupakan Helena.


Helena menarik kerah Ran hingga Ran tercekik.


"Khekkk." Nafas ran tercekat karena kerahnya ditarik kencang.


Ran ditarik hingga terangkat, kemudian dilempar jauh oleh Helena.


Brukkk! Tubuh Ran menabrak dinding.


Sial, wajahku kena duluan. Hidung Ran berdarah karena menabrak tembok.


Ran berdiri dan berbalik ke Helena, tapi Helena langsung menyambutnya dengan tendangan tepat di dagu Ran.


"Akhhh!" Mulut Ran langsung mengeluarkan darah, giginya lepas dan badannya langsung lemas.


Helena memandang Ran dengan tatapan dingin "Cuma segini saja nih?"


Ran tidak bisa bangun, pandangannya berkunang-kunang.


Buakkk!!! Helena kembali menendang Ran, kali ini tepat di perutnya.


Ran bahkan tidak punya tenaga untuk berteriak, mulutnya mengelurkan darah yang banyak.


Hoshhhh.....


Buakkk!!! Helena menendang Ran lagi, darah yang keluar makin banyak.


Ran sudah tidak kuat, tubuhnya mati rasa, bahkan dia sudah tidak bisa merasakan rasa sakit karena di tendang lagi oleh Helena.


Ketika pandangannya semakin gelap, Ran melihat bayangan dari seorang pria yang menerobos masuk dengan marah.


.


.


.


.


"Hah? Dimana ini? Ukhh, kepalaku" Ran terbangun di sebuah sofa, kepalanya terasa pusing.


"Akhirnya, kau bangun juga Ran." Suara Pak Aji terdengar dari belakang Ran.


"Eh? Pak Aji, dimana ini?"


"Ini di ruangan saya, tadi saya melihatmu dihajar oleh murid lain, sudah saya marahi mereka semua, dan akibatnya, tes stamina diundur menjadi besok."


"Terimakasih pak, kalo tidak ada bapak, entah bagaimana nasib saya. Dan maaf juga pak." Ran menunduk dalam-dalam.


"Karena saya terbawa emosi, suasana menjadi kacau, jadinya tes malah ditunda."


"Memang kenapa kamu bisa terbawa emosi?"


"Mereka, mereka, menghina orang tua saya." Ran semakin tertunduk, dia menjawab dengan gemetaran.


"Kalau begitu jangan meminta maaf, kamu tidak salah, siapa pun pasti akan marah jika orang tuanya dihina, kamu hanya melakukan hal yang sewajarnya."


"Ta-tapi pak."


"Tapi apa? Harus diam saja meski dihina sejauh itu? Tidak Ran, kamu harus melawan mereka, jangan terus membiarkan orang lain seenaknya saja, kamu berhak melawan mereka jika mereka memang sudah keterlaluan."


"Te-Terimakasih pak."


Pak Aji tersenyum hangat "Ini ambilah, Teh hangat, kamu tadi sudah diobati oleh Healer, sekarang kamu minum, tenangkan diri dan pulanglah." Pak Aji memberikan segela teh hangat dan pergi keluar.

__ADS_1


Ran diam-diam tersenyum kecil


__ADS_2