
Enzo dan Bagas keduanya akhirnya digotong keluar dengan tandu, keduanya terluka sangat parah dan harus menerima perawatan. Ran menatap Enzo yang dibawa pergi menggunakan tandu dengan tatapan sedih tapi juga lega.
"Gila... Aku tidak menyangka akan sampai seperti ini, kerusakan dari pertarungan mereka berdua sangat besar, bahkan pertarungan Eduardo dan William pun tidak separah ini."
Pertarungan berikutnya yang akan menjadi giliran Ran, akhirnya ditunda untuk sementara karena arenanya hancur. Dan pihak staff sedang memanggil pihak yang akan memperbaiki arena.
Tapi Ran tidak pergi keluar colosseum, melainkan memilih langsung ke ruang tunggu peserta yang akan bertarung.
Di dalam ruang tunggu, ia bertemu dengan Ranker Emily. Ranker Emily yang melihat Ran, menyapanya dengan datar, seperti hanya basa-basi saja, "Halo... Kau yang akan bertarung berikutnya yah? Mengejutkan, kukira kau akan pergi keluar dulu untuk makan."
Ran menunduk sedikit sebagai tanda hormat sebelum menjawab pertanyaan dari Ranker Emily, "Ah iya, setelah ini giliranku. Aku langsung ke ruang tunggu karena takut ketinggalan jadwal."
"Padahal nanti akan langsung dipanggil, buat apa khawatir. Atau mungkin... Kau takut yah?" Nada bicara Ranker Emily tiba-tiba berubah, nadanya masih datar, tapi terasa lebih mencekam, seolah-olah ia berbicara sambil mencekik lawan bicaranya.
Ran merasa merinding mendengar suara dari Ranker Emily yang sangat menakutkan.
Ranker Emily mendekati Ran perlahan-lahan dengan ekspresi datar yang menekan, "Iya kan? Kau pasti takut bukan? Aku sudah melihat info tentangmu, kau tidak punya kekuatan yang hebat seperti rekanmu, kau lebih sering mengandalkan trik dengan memanfaatkan lingkungan, tapi di arena ini, trikmu itu tidak berguna. Jadi... Kau pasti takut bukan?"
Badan Ran serasa menggigil mendengarnya, ini adalah pertama kalinya ia merasa merinding hingga hampir pingsan hanya dengan mendengar suaranya saja.
Ranker Emily semakin dekat, ia mendekatkan wajahnya kepada Ran, wajah tanpa ekspresinya itu terasa sangat menakutkan. Keringat dingin pun mengalir dari kening Ran.
Melihat Ran yang berkeringat, Ranker Emily langsung sadar bahwa Ran menjadi ketakutan karenanya, dia pun mundur beberapa langkah, "Sepertinya aku sudah berlebihan, jangan diambil hati, terkadang aku memang sok tahu. Sampai jumpa."
Ranker Emily pergi keluar dari ruang tunggu, meninggalkan Ran yang ketakutan.
Ketika Ranker Emily pergi, barulah Ran bisa bernapas lega, ia langsung jatuh terduduk di lantai.
"Hah... Heh... Hah... Heh... Apa-apaan dia itu? Sinting, orang gila. Jangan sok tahu, kau tidak... Tahu... apa pun... tentangku." Ran ngos-ngosan setelah jatuh, jantungnya berdegup kencang dan napasnya terasa sangat sesak. Ia mencoba sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya sendiri.
...****************...
Ran duduk termenung di ruang tunggu, sudah 15 menit berlalu dan gilirannya masih belum juga dimulai.
Di waktu kosong ini, Ran jadi memikirkan banyak hal, ia kembali teringat dengan perkataan Ranker Emily tentang dirinya yang takut.
Jika dipikir lagi, perkataan Ranker Emily tidak salah, bahkan sejujurnya, itu sangat benar. Aku memang sangat takut.
Setelah melihat kekuatan dari peserta lain, Ran kembali takut lagi, kepercayaan dirinya yang sudah ia pupuk dengan bantuan dari William sudah sirna setelah tidak ada lagi orang di sisinya.
Ran menjadi sadar, ia bukan apa-apa tanpa William, ia masihlah anak kecil yang labil dan penakut. Ia masih dirinya yang mudah terkena provokasi dan mudah marah, ia masihlah seorang pengecut yang dibully bertahun-tahun di sekolah.
Singkatnya, ia masih belum berubah banyak.
Dirinya memang sudah tidak ragu lagi untuk berkompetisi dan saling menjatuhkan, tapi ia tetaplah seorang yang takut pada sesuatu yang belum pasti.
Aku menyedihkan, Batin Ran menyalahkan dirinya sendiri.
Beberapa menit berlalu, pintu untuk ke arena terbuka, tanda akan dimulainya pertarungan Ran.
Ran pun masuk dengan hati yang berat dan gelisah.
Di dalam arena, lawannya sudah lebih dulu masuk dan menunggu dimulainya pertarungan. Sementara Ran berjalan masuk dengan lambat.
Lawan Ran bernama Andre Hermawan, seorang anak laki-laki yang terlihat sepantaran dengan Ran, ia memiliki kulit berwarna gelap dengan rambut berwarna hitam dengan potongan pendek, ia juga memakai kacamata. Penampilan Andre terlihat normal, ia memakai seragam sekolah yang terdiri dari kemeja berwarna putih yang dibalut dengan jas berwarna coklat yang tidak dikancing, serta celana panjang berwarna serupa dengan jasnya.
Secara sekilas, Ran tidak merasakan apa-apa darinya, sehingga tanpa sadar ia menurunkan rasa waspadanya dan masuk ke arena tanpa berhati-hati.
"Semangat Ran!" Suara yang akrab tiba-tiba memanggil Ran.
Ran menoleh dan melihat ada William yang tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Rasa gelisah Ran menjadi lenyap, ia merasa tenang dengan kehadiran William yang mendukung dan menyemangatinya. Setidaknya dengan itu, Ran merasa tidak sendirian lagi.
Ran yang awalnya lesu karena takut dan gelisah, kembali bersemangat, kehadiran teman yang menemaninya kembali membangkitkan semangatnya. Ran memasang kuda-kuda ketika berhadapan dengan anak laki-laki bernama Andre yang menjadi lawannya, lalu Ran menghunuskan pedang katana miliknya.
Sementara Andre menanggapi sikap Ran dengan santai, ia tetap memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Lalu...
Denggg...
Bel berdentang, menandakan dimulainya pertarungan, namun... Sebelum Ran bisa melakukan apa pun. Lawannya menghilang dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Syuuutttt....
Andre tiba-tiba muncul di depan Ran, tanpa bisa bereaksi, Andre melancarkan serangan fatal.
Dengan satu tangannya, Andre mendorong pedang Ran turun, dan dengan satu tangannya lagi, ia mendorong kepala Ran kebelakang.
Kretek
Bunyi tulang yang patah terdengar dari leher Ran, Ran pun langsung ambruk ke lantai.
Dalam sekejap Ran menjadi tidak berdaya, ia tidak bisa bergerak, napasnya tercekat hingga membuat kepalanya pusing.
Dengan tenaga terakhir, Ran mencoba mengayunkan pedangnya ke arah Andre, tapi Andre langsung menghilang dan muncul melayang di atas Ran.
Bruak
"Bwoghh..."
Andre menggunakan seluruh tubuhnya untuk menginjak Ran, membuat Ran semakin tidak berdaya.
Ba-Bagaimana dia bisa menghilang dan muncul mendadak tanpa bisa terlihat? Jangan-jangan, teleport?
Tebakan Ran benar, lawannya, Andre Hermawan memilik kemampuan untuk menteleport dirinya atau benda miliknya dalam jangkauan tertentu.
Namun, terlambat bagi Ran meski ia sudah mengetahui kemampuan Andre. Secara mutlak, ia sudah kalah telak.
Bhuaghhh
Andre menginjak perut Ran dengan keras, menambah luka fatal pada Ran, sekarang Ran bahkan tidak memiliki kekuatan lagi untuk berteriak. Pandangannya Ran menjadi kabur, ia tidak bisa bergerak lagi, perlahan-lahan, kesadaran Ran menghilang. Hal terakhir yang didengar Ran, hanyalah teriakan dari William, dan bel yang menandakan kekalahannya.
...****************...
"Dimana ini?" Ran membuka matanya, hal yang ia lihat pertama kali adalah langit-langit ruangan berwarna putih yang tampak asing baginya.
Ketika ia melihat sekeliling, tampak benda-benda yang pernah ia lihat di rumah sakit.
Ran menyadari hal yang sudah terjadi, ia mengangkat lengannya lalu menutupi wajahnya, "Begitu ya... Jadi... Begitu, aku... Kalah."
Begitulah, Ran hanya bisa menangisi kegagalannya sendirian, di ruang putih yang asing baginya, tanpa ada satu pun orang yang menemani atau pun menenangkannya.
...****************...
3 hari berlalu.
Ran sudah kembali pulang ke distriknya.
Drrrkkk...
Ran berjalan keluar dari bandara sambil menyeret koper berisi bajunya dengan wajah datar seperti orang yang telah kehilangan segalanya.
Di luar bandara, Bob dan Amy menyambut Ran dengan wajah yang penuh dengan rasa khawatir. Mereka berdua sudah tahu apa yang terjadi pada Ran.
"Ra-Ran... Kau tidak apa-apa?"
"Jangan dipikirkan kawan, kau bisa mencobanya lagi."
Ujar mereka berdua untuk menghibur Ran.
Tapi, kata-kata hiburan bukanlah hal yang tepat bagi Ran yang sekarang, kata-kata hiburan yang penuh dengan motivasi yang berasal dari fantasi yang dibuat manusia, tidak bisa menyemangati seseorang yang baru saja dihajar oleh kejamnya realita yang sudah ia hadapi.
"Tidak apa-apa, Bob, Amy, kalian tidak perlu repot- repot kesini, kalian pasti sedang sibuk kan? Pergilah, aku tidak apa-apa." Ucap Ran dengan suara yang dipenuhi oleh rasa putus asa dan kesedihan.
"Ta-Tapi-"
"Sudah kubilang, aku tidak apa-apa. Kalian bisa pergi." Ucap Ran dengan dingin.
Bob dan Amy pun terpaksa diam, mereka tahu bahwa Ran saat ini tidak bisa dihibur dengan apa pun, hal yang bisa mereka lakukan hanyalah diam dan menunggu waktu yang menyembuhkan Ran.
Ran tiba dirumahnya.
Kondisi rumahnya jauh lebih buruk dibanding saat terakhir kali ditinggal pergi oleh Ran. Namun Ran mengacuhkan itu dan melempar kopernya dengan kasar ke sembarang tempat.
Lalu Ran duduk di pojok rumah, ia tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan, usahanya selama ini dalam bertahan di tengah kerasnya ujian, sekarang sudah sirna. Kegagalannya yang Ran dapatkan memberi rasa hampa dalam hatinya. Ran menjadi lupa apa motivasinya selama ini.
__ADS_1
Malam pun tiba.
Ran sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, ia hanya diam di pojok rumahnya, tanpa peduli seberapa kotor rumahnya sendiri.
Malam berakhir, pagi yang cerah tiba.
Namun Ran masih juga diam, wajahnya yang murum berbanding terbalik dengan pagi yang cerah di tempat tinggalnya. Ran bahkan mengabaikan perutnya yang sudah berbunyi karena kelaparan.
Hari kembali berganti, namun Ran masih tetap terjebak di hari kegagalannya.
Kondisi Ran kian hari semakin menyedihkan, tubuhnya kurus karena tidak makan, wajahnya semakin suram dan badannya pun kotor dan bau.
Ran masih tetap meratapi kegagalannya, di kepalanya masih terus muncul momen-momen kekalahannya yang sangat memalukan. Semuanya terekam dengan jelas dalam pikirannya.
Malam pun kembali tiba, cuaca berubah drastis dari yang awalnya cerah menjadi hujan badai yang gelap, seperti perasaan dan pikiran Ran yang dipenuhi dengan kegagalannya.
"Sebenarnya apa alasanku ingin menjadi Ranker? Apa aku punya alasan? Entahlah, aku sudah lupa" Gumam Ran dengan suara yang lirih.
Lalu tiba-tiba, sebuah kertas jatuh di dekat Ran karena tertiup angin. Itu adalah sebuah kertas yang sudah lusuh dan lecek seperti bekas diremas. Ran mengacuhkan kertas itu, atau lebih tepatnya ia tidak menyadari keberadaan dari kertas tersebut.
Namun sepertinya kertas itu ingin sekali mendapatkan perhatian dari Ran, berkat angin badai yang masuk ke dalam rumah Ran dari jendela yang tidak tertutup, kertas itu berputar-putar di hadapan Ran, seolah ingin menarik perhatian dari Ran.
Mau tidak mau, Ran pun memperhatikan kertas yang berputar-putar di hadapannya itu, didorong karena rasa penasaran, Ran meraih kertas itu dan membukanya.
Kertas lusuh yang tampak tidak berarti itu adalah surat dari ayah Ran, surat terakhir yang diberikan kepada Ran sebelum ayahnya pergi.
Ketika membacanya, Ran kembali teringat dengan motivasinya lagi, "Benar, itu dia! Kenapa aku bisa lupa dengan itu. Itu adalah alasanku, alasan aku ingin menjadi Ranker, agar aku tidak diremehkan lagi, agar aku tidak dipandang rendah lagi, dan agar aku bisa membalas orang yang telah merebut hal penting dari hidupku." Perlahan-lahan Ran mengingat apa motivasinya menjadi Ranker.
Dengan badan yang lemas Ran mencoba berdiri, "Ukhhh..."
Dengan kepayahan, Ran berhasil berdiri dengan menjadikan meja sebagai penopangnya.
Ran teringat dengan seseorang, orang itu adalah harapan terakhir Ran, ia adalah orang yang telah menawarkan opsi alternatif bagi Ran, "Pak Bon! Aku harus bertemu dengannya."
Ran berjalan dengan sempoyongan, ia dengan nekat menerobos hujan badai sendirian, tidak peduli dengan suara petir atau derasnya hujan, Ran tetap nekat pergi ke rumah pak Bon.
Di perjalanan Ran menghadapi banyak rintangan, ia berkali-kali jatuh karena badannya yang sangat lemas akibat tidak makan berhari-hari, tapi ia tetap menyeret tubuhnya untuk berjalan.
Bruk
Ran jatuh ke jalanan aspal, hidungnya mimisan, tapi ia tetap bangkit, "Harus! Sekarang juga!"
Beberapa kali ada benda-benda yang terbang akibat badai, entah itu tong sampah atau pecahan kaca, Ran mengabaikan itu semua dan tetap berjalan ke rumah pak Bon.
Ran menyeret tubuhnya berkali-kali, menahan rasa sakit dari benda tajam yang menusuk tubuhnya, hanya demi bertemu dengan pak Bon.
Usahanya membuahkan hasil, setelah jatuh bangun hingga menahan rasa sakit, Ran sampai di rumah pak Bon.
Dengan tergesa-gesa, Ran menggedor pintu rumah pak Bon dengan kasar.
Dok Dok Dok Dok
"Pak, tolong buka pintunya."
Suara langkah kaki yang terdengar gusar muncul dari dalam rumah, kemudian terdengar suara dari kunci yang dibuka, lalu pintu terbuka, pak Bon muncul dari balik pintu dengan penampilan seperti baru bangun dari tidur, dengan memakai piyama dan wajah yang mengantuk.
"Siapa kau ini!? Apa kau tidak punya sopan santun, malam-malam begini bertamu dengan tidak sopan." Ucap pak Bon dengan nada kesal sambil mengucek matanya.
Baru setelah pak Bon bangun sepenuhnya, ia sadar bahwa yang di depannya adalah Ran, "Ya ampun, Ran! Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa sampai seperti ini? Ada yang menakalimu lagi yah? Siapa orangnya!?"
Ran hanya diam.
Pak Bon yang cemas meminta Ran untuk masuk terlebih dahulu, "Sudahlah, yang penting kau masuk dulu sini."
"Pak, aku mau menjadi Ranker liar." Ucap Ran tiba-tiba.
Pak Bon terkejut mendengar perkataan Ran yang sangat tiba-tiba itu, ia bertanya ulang untuk memastikan, "Begitu yah, kira-kira aku paham garis besarnya. Jadi apa kau benar-benar yakin?"
"Yakin!" Ucap Ran dengan suara pelan, namun penuh dengan rasa percaya diri.
"Begitu, kalau begitu masuklah dulu. Kita bicarakan itu nanti, yang penting kau harus diobati terlebih dahulu."
Ran pun masuk ke dalam rumah pak Bon, terasa suasana hangat dari dalam rumahnya yang terasa sangat menenangkan bagi seseorang yang sudah putus asa.
__ADS_1