
Team Ran berkumpul untuk melawan musuh, atau lebih tepatnya, untuk menjarah musuh mereka.
Musuh yang dihadapi oleh team Ran terdiri dari 2 perempuan dan 2 laki-laki.
Baru 2 orang yang kemampuannya sudah diketahui walau belum 100% yakin.
Ada seorang perempuan yang sepertinya bertindak sebagai Tanker, ia menggunakan sebuah payung plastik yang entah bagaimana sangat keras sehingga digunakan sebagai perisai, cukup keras untuk menahan serangan Eduardo, Ran pun tidak tahu, apakah payung itu bagian dari kemampuannya, atau set senjata yang terpisah. Perempuan itu memiliki rambut hitam panjang yang diikat dengan model ponytail, dan memakai kimono panjang berwarna putih polos.
Di belakang perempuan dengan kimono, ada seorang laki-laki yang memakai berambut hitam acak-acakan mantel kulit kebesaran berwarna hitam, di balik mantelnyaia memakai tanktop yang dibalut ikat pinggang yang diisi pisau, dan ia memakai sepatu boots hitam dengan tambahan duri besi dimana-mana. Ia juga memakai sarung tangan tanpa jari.
Di belakang mereka berdua, ada sepasang laki-laki dan perempuan dengan penampilan dan wajah yang sama persis, Ran menebak bahwa mereka berdua adalah anak kembar. Si pria memiliki rambut berwarna hitam dengan potongan cepak, sementara si wanita memiliki potongan rambut pendek sebahu. Mereka berdua memakai kaos putih dengan garis-garis terang di sekelilingnya, dan ditutupi dengan rompi kulit dengan berwarna-warni dan celana dan sepatu kulit dengan warna senada dengan rompi mereka.
Si kembar langsung bergabung dengan perempuan dengan kimono, payung di depan mereka membesar agar cukup untuk menampung semua anggota Team mereka.
"Bah! Trik murahan, jika tidak bisa lewat dari depan, maka lewat dari samping!" Eduardo dengan tidak sabaran melesat ke samping mereka untuk menyerang.
Ran mencoba menahannya, tapi itu sia-sia saja.
Bats..
Eduardo mencoba menerobos lewat samping, tapi ia langsung disambut dengan serangan dari si kembar.
Phiw Phiw Phiw Phiw Phiw
Sebuah tembakan laser menghujani Eduardo, beruntung dengan refleks kilatnya, Eduardo langsung merunduk dan kembali ke tempat semula.
Namun sayangnya, Eduardo tidak berhasil menghindari semua serangan laser itu, "Gahhh! Sial, tanganku kena, hei kalian, hati-hati dengan serangan laser itu, dagingku langsung hangus ketika terkena serangan itu."
Enzo pun langsung buru-buru mengobati luka Eduardo dengan kemampuannya.
Disaat Team Ran berpikir sejenak, musuh mengambil kesempatan itu.
Payung di hadapan mereka ditarik ke atas, dan sekali lagi, si pria dengan mantel kulit, menyemburkan api panas dari mulutnya.
Bwussshhhhh.....
Api berwarna merah menyembur dengan ganas dari dalam mulut si pria dengan mantel kulit.
William langsung maju ke depan untuk melindungi yang lain, "Mundur!"
William menghunuskan pedangnya ke depan, api yang menyembur pun terbelah oleh pedang William dan terbagi menjadi 2 arah.
Di celah sempit yang tercipta itu, team Ran berlindung dari kobaran api.
Crrkkk Crrrkkk
Lidah api mendesis di sekitar mereka, rumput di sekitar terbakar dan menjadi abu.
Enzo pun mengobati Eduardo sambil berlindung di belakang William.
Sementara Ran berusaha untuk memikirkan cara untuk menyerang musuhnya, Mereka ini, memiliki pertahanan yang sangat bagus. Dari depan ada perisai payung, dari kiri dan kanan ada tembakan laser, dan jika lewat atas, mungkin akan ada semburan api, jika diam saja, kami akan diserang. Apa? Apa pilihan terbaik yang harus diambil, aku tidak tahu seberapa kuat perisai payung itu, apa William bisa menghancurkannya langsung? Pilihan terbaik adalah William mengumpulkan energi di pedangnya, lalu mengeluarkannya sekaligus, tapi itu perlu waktu yang lama, musuh akan keburu menyerang ketika mereka merasakan energi William.
Berbagai ide muncul dalam pikiran Ran, tapi kemungkinan terburuk ikut menyertainya.
"Kau pasti punya ide kan Ran?" Tiba-tiba William di depannya bertanya.
"Eh?"
"Aku yakin kau pasti punya ide, sama seperti ide untuk mengalahkan Tim, dan ide untuk memancing team lain, aku yakin kau pasti punya ide"
"...." Ran diam sejenak, tentu saja ia punya banyak sekali ide. Tapi ia tidak yakin apakah idenya itu akan berhasil.
Lalu, Enzo juga ikut menyahut, "Aku juga berpikiran seperti itu, aku yakin kau pasti punya ide kan Ran?"
"....?" Ran terkejut mendengar perkataan Enzo, selama ini Enzo cukup pasif, ia hanya sekali membela Ran.
"Maaf yah karena aku terlalu pasif, sejujurnya aku merasa ragu padamu sebelumnya, karena melihatmu yang tidak berbuat apa pun saat melawan team pertama yang kita hadapi, aku kehilangan ekspektasi padamu. Tapi melihat rencana yang kau buat berhasil, aku merasa agar mempercayaimu setidaknya sekali lagi."
"Yah Yah Yah, aku tidak punya pilihan lain kalau begitu, aku akan ikut rencanamu kalau begitu." Eduardo juga menyampaikan kesetujuannya.
Melihat kepercayaan dari rekan-rekan teamnya, membuat Ran merasa tenang, kali ini bukan kepercayaan yang membebani Ran, mereka tidak menuntut Ran secara berlebihan, tapi mereka dengan tenang dan sabar mempercayai kemampuannya.
"Teman-teman, aku punya rencana! Enzo, seberapa kuat benangmu?"
__ADS_1
.
.
.
"Apa mereka sudah menyerah?" Si perempuan dengan pakaian kimono bertanya kepada rekan se-teamnya.
"Entahlah, ini kekurangan dari payungmu, kita jadi tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan."
"Yang pasti jangan keluar dulu, aku yakin mereka merencanakan sesuatu, jangan sampai kita kena perangkap mereka 2 kali."
"Benar, lebih baik kabur ketika ada kesempatan, memang sangat disayangkan jika kita tak bisa mengeliminasi William dan Eduardo, mereka berdua sangat kuat, dan pasti jadi hambatan untuk ujian selanjutnya."
Mereka sangat berhati-hati dengan trik yang mungkin akan dilakukan oleh Team Ran, si kembar berjaga-jaga di samping kiri dan kanan, si pria dengan mantel kulit berjaga-jaga di belakang sambil sesekali melihat ke atas.
Kekhawatiran mereka tidak berlebihan jika mengingat trik yang dilakukan Ran sebelumnya. Posisi mereka sebagai team hidup menambah ketegangan mereka.
Disaat itulah, dengan kondisi siaga sepenuhnya, serangan muncul dari kiri.
Cringgg
Sebuah pedang tanpa ada yang memegangnya melesat ke arah mereka, si kembar laki-laki langsung menembakkan pistol laser ke arah pedang itu tanpa mempertanyakan apa pun.
Phiw Phiw Phiw Phiw
Tembakan laser mengarah pada pedang itu, namun tak ada satu pun yang berhasil kena. Pedang itu sangat tipis, dan tidak memiliki gagang.
Khhhkkk.... Jika begini, pedang itu akan mengenaiku.
Si kembar laki-laki menyerah untuk menembaki pedang itu, ia membiarkan pedang itu melesat ke arahnya, dan ketika sudah dekat...
Pak
Si kembar laki-laki menepis pedang yang melesat itu dengan pistolnya, pedang yang sangat tipis itu melayang di hadapannya untuk sepersekian detik sebelum jatuh. Namun, sebelum pedang itu jatuh.
Bummm
"Kakak!" Saudara perempuannya berteriak dengan panik ketika melihat kakaknya terluka, ia hendak bergerak untuk mengobati saudaranya.
"Karen! Jangan berpindah dari posisimu!" Si perempuan berbaju kimono memperingati si kembar perempuan, dan benar saja, sebuah pedang kembali melesat ke arahnya.
Si kembar perempuan bernama Karen, kembali ke posisinya, tak mau mengulangi kesalahan yang dilakukan saudaranya, ia membidik dengan tepat ke arah pedang itu sebelum menembak.
Phiw
Tembakannya tepat sasaran, pedang itu terpental dan sebagian hangus karena tembakan laser.
"Sial! Kita kena trik mereka."
"Tenang Edward, sekarang giliran kita menyerang, siapkan napas apimu."
"Tentu!"
Laki-laki dengan mantel kulit yang bernama Edward, menarik napas dalam-dalam, kobaran api muncul dalam tenggorokannya dan siap untuk dilepaskan.
"Dengan aba-abaku, lepaskan napas apimu."
"Hum... Humm..." Edward maju ke depan payung.
"1... 2... 3..." Si perempuan berbaju kimono mengangkat payungnya ke atas, Edward siap melepaskan napas apinya.
Tapi, apa yang menyambut mereka sangat berlawanan dengan harapan.
Di depan mereka, William sudah selesai men-Charge tenaga yang diperlukannya. Ia berdiri sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi yang berisi energi super besar.
Sementara Ran dan Enzo di belakang sedang memegang pedang tipis yang dikaitkan dengan seutas benang merah.
"Maaf! Tapi kami harus lulus!" Ucap William sebelum mengayunkan pedangnya turun.
Bwusshhhhhh.....
Energi yang William kumpulkan, terlepas sekaligus ketika ia mengayunkan pedangnya turun, kilatan cahaya melaju kencang membelah apa pun di hadapannya.
__ADS_1
Si perempuan dengan pakaian kimono buru-buru, menutup kembali payungnya.
Bummmm....
Energi William bentrok dengan perisai payung di hadapannya.
Grrrtttt.... Grrrtttt....
"HhhhhhHhhhh....." Si perempuan dengan pakaian kimono, dengan mati-matian menahan serangan William.
Perisai payung itu bergetar, tak kuasa menahan serangan.
Sreeekkk... Srrrkkk...
Secara perlahan-lahan, payung itu mulai robek, hancur akibat serangan William.
"Aaaaaaaaaaaa..................!!!!!!"
Bruakkkkkkk......
Perempuan dengan pakaian kimono itu terlempar bersama teamnya ketika payung miliknya hancur akibat serangan William.
Mereka semua pingsan seketika.
"Uwoooooo....." Ran berteriak heboh atas keberhasilannya.
Enzo dan William hanya tersenyum kecil untuk merayakan moment ini. Sementara Eduardo tetap gusar dan tidak senang.
Ran pun maju untuk mengambil pin yang mereka perlukan, tetapi, si perempuan dengan pakaian kimono yang Ran kira sudah pingsan mendadak bangkit dengan sempoyongan.
"Ti...dak boleh... Tidak boleh.... Ka...lah..." Perempuan itu menggumamkan sesuatu dengan pelan.
Ran berhenti dan menciptakan pedang katana untuk melawan si perempuan itu, "Aku tahu kau punya alasan untuk tidak kalah, aku pun begitu." Ran menghunuskan pedangnya.
Eduardo hendak maju untuk melawan si perempuan itu, tapi ia ditahan oleh William. William hanya menggelengkan kepalanya sebagai alasan, Eduardo dengan terpaksa menurut.
Perempuan di hadapan Ran, mengangkat perisai payungnya yang sudah compang-camping. Hampir tidak tersisa apa pun di payungnya, bahkan benda itu sudah tidak bisa disebut payung.
Ran memegang pedangnya dengan kedua tangan, ia menarik pedangnya ke belakang, sejajar dengan pinggang, mata pedangnya mengarah ke belakang.
Ran merendahkan tubuhnya sedikit, lalu....
Tap!
Ran melesat untuk menyerang si perempuan itu, ketika jarak mereka sudah dekat, Ran mengayunkan pedangnya, menargetkan perut perempuan itu.
Bammm....
Serangan Ran ditahan oleh payung perempuan itu, lalu perempuan itu memukul mundur Ran dengan payungnya.
Dengan mati-matian, perempuan itu menyerang Ran dengan payungnya, ia menyerang dari segala sisi tanpa mempedulikan apa pun, tapi Ran bisa merasakan sesuatu, tenaga perempuan itu sudah hampir tidak ada. Ini adalah serangan putus asa dari perempuan itu.
Tapi Ran tidak berniat mengalah, pada celah serangan ketika perempuan itu mengangkat payungnya, Ran menyelipkan pedangnya pada sela-sela payung yang sudah robek.
Krakkkk....
Ran menarik pedangnya ke bawah, mematahkan payung milik wanita itu sepenuhnya.
Tanpa adanya perlindungan lagi, Ran menebas perut perempuan itu, darah mengalir deras dan akhirnya, perempuan itu pingsan.
Brukkk
Ran mengulurkan tangannya, ia meraih pin merah yang ada di baju wanita itu. Teamnya datang ke tempat Ran.
Enzo menepuk pundak Ran dengan riang dan memberinya selamat, "Kerja bagus Ran."
William hanya diam tanpa berkomentar apa pun.
Sementara Ran merasakan hal yang aneh, perasaan yang sudah ia rasakan sejak test pertama. Ia merasa tidak gembira ketika berhasil, padahal beberapa menit sebelumnya, ia ingin menjadi berguna untuk teamnya.
"Yah... Aku berhasil, mari kita pergi." Ran berkomentar pendek dan mengajak teamnya pergi.
Sementara Eduardo, ia mengamati luka dari perempuan yang dilawan Ran sebelumnya, ia kemudian merasa kesal dan bergumam pelan sebelum pergi, "Cih! Kalau seperti ini, bagaimana bisa lulus!?"
__ADS_1