
"Sekarang kita hanya perlu sembunyi saja kan?" Enzo bertanya kepada teamnya dengan riang, kontribusinya yang cukup besar dalam mencuri pin dari lawan membuatnya menjadi girang.
"Ya." Ran menjawab dengan kurang bersemangat
"....?" Enzo kehilangan kata-kata ketika melihat Ran.
Sementara Eduardo terlihat sangat gusar dengan perilaku Ran. Ia maju dan menarik pin yang dipegang Ran.
"Sini! Biar aku saja yang memegangnya!"
"Apa-apaan kau? Mana boleh seenaknya begitu!"
"Diam kau! Kau pikir aku tidak sadar dengan apa yang kau lakukan!? Jangan berpikir aku akan membiarkanmu melakukan hal yang merugikan team!"
"Apa maksudmu?"
Eduardo dengan perasaan jengkel menarik kerah Ran keatas dengan kedua tangannya, "Jangan kau kira aku tidak sadar, kau tadi menahan diri untuk melukai wanita itu kan? Padahal kau bisa langsung membuatnya tereliminasi karena kehabisan HP, tapi kau malah sengaja tidak menyerang di bagian vital."
"Khukkkhhh.... Tahu apa kau!" Ran dengan marah melepaskan tangan Eduardo dari kerahnya, "Jangan sok tahu!"
"Aku tidak sok tahu, tapi memang kenyataannya, kau menahan diri! Itu faktanya! Jangan kabur dari kenyataan itu."
Ran tidak bisa berkata-kata lagi, Enzo sebagai pihak netral hanya diam tanpa bisa membantu salah satu, sementara William, yang selama ini selalu membela Ran, untuk pertama kalinya hanya diam, sepertinya ia sendiri tahu jika Ran memang salah.
"Kau ini bodoh yah? Konyol sekali jika kau merasa ragu dan bersalah untuk mengeliminasi orang lain, bagaimana dengan test pertama? Aku yakin kau pasti setidaknya mengeliminasi orang lain dengan jebakan buatanmu kan? Jangan munafik dan merasa suci! Untuk bisa bertahan disini, kita harus mengeliminasi dan mengalahkan orang lain, aku perlu lulus dari test ini, dan aku tidak akan membiarkan orang konyol sepertimu membuatku gagal!"
Ran tidak bisa membalasnya, ia tahu dengan jelas kalau perkataan Eduardo sama sekali tidak salah, dirinya lah yang salah karena keraguannya yang akan merugikan team.
Pada test pertama, Ran terus terpicu oleh adrenalinnya, sehingga tidak memikirkan bagaimana nasib orang lain yang tereliminasi. Tapi kali ini berbeda, ia melihat seberapa putus asanya peserta lain, dan itu membuatnya merasa bersalah, ia menjadi memikirkan orang-orang yang sudah ia eliminasi.
Mungkin saja, mereka yang sudah dieliminasi oleh Ran, memiliki alasan yang lebih dibanding Ran yang melakukannya untuk harga dirinya sendiri.
"Aku... Aku... Juga tahu itu, aku juga banyak mengeliminasi orang lain di test pertama. Tapi..."
"Sudahlah! Jika kau tidak mau, berikan pinnya padaku saja, aku akan menjaganya lebih baik daripada kau."
"Ran maaf, aku juga berpikir seperti itu." William yang sedari tadi diam, kali ini ikut berbicara, "Aku juga punya alasan Ran, aku memang temanmu, tapi aku tidak bisa membiarkan keegoisan yang kamu miliki merugikan team ini."
Enzo hanya diam sambil menggaruk kepalanya, ia tampak tidak tertarik untuk ikut dalam pembicaraan.
Ran pun kalah suara, tidak ada yang membelanya lagi, ia sudah kehilangan hak untuk mempertahankan posisinya. Yang bisa Ran terima hanyalah, memberikan pinnya kepada Eduardo. Dengan memberikan pinnya, Ran sama saja tunduk kepada Eduardo.
Ran merogoh kantungnya, ia mengambil pin yang sudah ia rebut untuk diberikan kepada Eduardo.
Dengan tangan yang bergetar, Ran mengulurkan pinnya kepada Eduardo. Eduardo pun ikut mengulurkan tangannya untuk meraih pin yang akan diserahkan kepadanya.
Bats
"....!?"
Pin team Ran tiba-tiba direbut, kejadian itu terlalu cepat bagi Ran untuk bereaksi terhadap sang pencuri.
Pencuri yang mengambil pin team Ran adalah seekor elang, tapi bukan elang biasa, elang itu tampak seperti hologram berwarna biru yang transparan. Dengan sangat cepat, elang itu merebut pin Ran dengan cakarnya.
Eduardo dengan kesal langsung loncat ke udara untuk merebut pin yang dicuri oleh elang itu.
Namun, elang itu menaikkan ketinggianya hingga tak bisa dicapai lagi oleh Eduardo.
Eduardo pun kembali turun ke tanah.
"Cih! Elang sialan."
Setelah cukup jauh, elang itu terbang turun ke arah seseorang, elang itu mendarat di lengan orang tersebut. Orang asing itu memakai pakaian dengan gaya cowboy, lengkap dengan tali lasso topi cowboynya.
"Kerja bagus." Ucap orang asing itu sambil meraih pin yang dicuri dari team Ran.
Eduardo tidak bisa menahan emosinya lagi, dengan meledak-ledak, Eduardo berteriak, "Hoi sialan! Siapa kau!? Seenaknya ngambil."
Team Ran langsung bersiaga, kecuali Ran, ia memasang kuda-kuda, tapi pikirannya tidak fokus.
Orang asing yang merebut pin mereka, tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Eduardo, "Asal ambil? Bahahahahahhahaha..... Kau itu lucu sekali, memangnya untuk mencuri pin ini, harus izin dulu? Tidak ada dalam peraturannya tuh."
"Oh iya, bodoh sekali aku bertanya seperti itu, seharusnya langsung kuhajar saja kau!!!!" Eduardo langsung melesat ke arah orang tersebut.
"Eduardo, jangan terburu-buru!" William berteriak memperingati Eduardo, tapi Eduardo tidak peduli dan tetap menyerang orang itu.
Tapi ada yang aneh, orang asing itu jangankan takut, ia bahkan tidak mundur sama sekali. Padahal harusnya ia tahu tentang Eduardo berkat keributan di hari pertama. Hanya ada 2 kemungkinan, yaitu dia lebih kuat daripada Eduardo atau... Itu adalah jebakan.
Hap!
Tepat di hadapan orang itu, sebuah hologram ular raksasa muncul dari bawah tanah dan melahap Eduardo.
__ADS_1
"Eduardooooo!!!!" William berteriak kencang.
"Hahaha, jangan kira kau bodoh, aku tahu tentang kalian semua, dan aku tidak ada niat untuk bertarung langsung dengan kalian." Orang itu langsung mundur ke belakang.
"Haaaaaa.... Aku sudah muak dengan ini." Dari dalam perut ular raksasa itu, terdengar suara Eduardo.
Blarrrr.....
Ular itu langsung meledak dan dari dalamnya, Eduardo langsung keluar dan kembali melesat ke hadapan musuhnya.
"Jangan anggap kau bisa lari dengan mudah!"
"Itu sih, terserahku."
Eduardo mengamuk, ia langsung melesat seperti roket ke arah orang itu.
Bledarrrr...
Tanah di sekitar hancur meledak karena Eduardo, tapi musuhnya tidak ada di tempat, yang ada hanyalah boneka hewan kelinci.
"Dimana dia!?" Eduardo mencari-cari ke sekitar.
"Halo... Kau mencariku yah?" Orang itu keluar dari balik pohon, dan ia tidak sendirian, ada orang di sampingnya yang membawa keranjang berisi boneka di punggungnya, Eduardo berasumsi dia lah yang menukar posisi orang tadi dengan boneka.
"Hei bro! Santai saja, kan tadi aku sudah bilang, aku tidak ada niatan untuk bertarung langsung dengan kalian." Orang itu menjentikkan jarinya, dan beberapa orang muncul dari dalam tanah dan berkumpul dengannya.
"Hoi kalian, jangan hanya berdiri saja, apa kalian mau pin kita dicuri dengan sebegitu mudahnya?"
Eduardo berteriak marah kepada teamnya.
"Tenang saja kawan, aku sama sekali tidak ada niat untuk kecolongan." Enzo menarik benang miliknya dari tanah.
Srrrrttt...
Dalam sekejap orang-orang asing tadi, langsung terikat menjadi satu oleh benang Enzo.
Enzo sejak tadi secara diam-diam menebar benangnya di tanah sehingga tidak terlihat, dan mengambil kesempatan saat mereka semua berdekatan untuk mengikat mereka menjadi satu.
"Bagus Enzo! Sekarang tinggal kuhajar mereka."
"Usaha yang bagus, tapi sekali lagi kuberitahu, kami tidak ada niat untuk bertarung."
Bruk Bruk Brrkk Brak
Dari semua sisi, tanah naik dengan bentuk seperti tombak hingga menutupi mereka hingga tidak terlihat.
Tapi itu hanya bagaikan jelly kenyal bagi Eduardo, tanpa mundur, Eduardo menghancurkan semua tombak tanah yang menjadi pelindung mereka.
Krakkkkk....
Namun, mereka yang ada di dalamnya, sudah menghilang. Di tengah terdapat bekas lubang galian yang sudah ditutup yang sepertinya mereka pakai untuk kabur.
"Enzo! Apa kau bisa melacak mereka!? Mereka kabur lewat bawah tanah."
"Tidak bisa, benangnya sudah mereka putuskan, coba cek lewat jalur bawah tanah yang mereka gali saja."
"Tidak bisa! Lubangnya sudah mereka tutup."
"Biar aku saja yang melacak mereka!" William maju, ia memfokuskan semua indranya untuk melacak musuh mereka, ia tahu untuk membuat lubang galian dalam waktu singkat ini, pasti memakai kemampuan Hyper yang dimiliki salah satu dari mereka.
William pun merasakan energi mereka di bawah tanah di arah jam 11 sejauh 100 meter dengan kecepatan tinggi.
"Arah jam 11, sejauh 100 meter dan semakin jauh." William menunjuk ke arah musuh mereka berada, ia tidak menunggu yang lain bergerak, ia langsung men-charge energi di pedangnya dan menebaskannya ke arah yang dia perkirakan, tebasan energi berbentuk bulan sabit melesat ke tempat yang dituju.
Bhummm....
Energi yang dilepaskan William meledak, orang-orang yang berada di bawah tanah terlempar keluar akibat ledakan itu.
"Haha, kukira kami bisa kabur dengan mudah, tapi ternyata lumayan sulit juga."
"Jangan harap bisa kabur dengan pin kami." Eduardo kembali menuju ke arah musuh tanpa memperhitungkan apa pun, ia mengabaikan peringatan teman seteamnya.
"Wow, kau itu sangat meledak-ledak yah." Si pria dengan baju cowboy, mengulurkan salah satu tangannya ke depan, tangan satunya memegangi lengannya yang diulurkan ke depan dan menjadi seperti pondasi.
Hologram badak bercula satu muncul di hadapan pria cowboy itu dan langsung menerjang Eduardo. Eduardo tidak menghindar, sebaliknya, ia terus maju tanpa takut tertusuk.
Tranggg
William mendadak muncul di hadapan Eduardo, ia menahan serangan dari badak itu dengan pedangnya.
"Maju!" Ucap William.
__ADS_1
Eduardo langsung maju tanpa ragu.
Si pria cowboy masih tetap tenang, ia kembali menciptakan banyak hologram hewan untuk menyerang Eduardo.
Burung, harimau, singa dan berbagai hewan lainnya maju menyerang Eduardo. Dan semuanya hancur dalam waktu 10 detik oleh Eduardo.
"Kau tidak berpikir bahwa itu cukup untuk mengalahkanku kan bodoh!?" Eduardo sampai di hadapan pria cowboy. Tinjunya sudah siap untuk dilancarkan ke wajah pria cowboy itu.
"Memang tidak." Si pria cowboy itu menjawab dengan tenang sementara tinju Eduardo melesat ke arah wajahnya.
Syuuuttt...
Pria itu berpindah ke sebelah temannya yang membawa keranjang boneka, tempatnya berdiri digantikan oleh boneka beruang milik temannya.
"Cih, trik murahan ini lagi. Kalian tidak ada niat untuk bertarung yah?"
"Memang." Jawab si pria cowboy dengan senyum yang menjengkelkan.
sedari tadi, team lawan hampir tidak menyerang, mereka hanya memberikan serangan remeh yang sama sekali tidak memberikan damage besar. Seolah-olah sedang mengulur waktu. Dan yang menyadari itu pertama kali adalah Enzo, Enzo satu-satunya yang tidak sibuk dan masih bisa berpikir jernih, ia menyadari hanya ada 2 orang yang melawan teamnya, padahal tadi ada 4 orang.
Mengingat kemampuan 2 orang tadi, Enzo menyimpulkan sesuatu, "Teman-teman! Awas! Ini jebakan."
Semuanya terkejut mendengar peringatan Enzo, hanya Ran yang masih belum sadar karena terus tenggelam dalam pikirannya.
"Heh, kalian sudah menyadarinya yah."
Tanah di sekitar bergetar seperti gempa bumi, dan tanah di sekitar berangsur-angsur jatuh.
Eduardo, Enzo dan William langsung mundur, keluar dari lingkup getaran. Hanya Ran yang masih kebingungan, ketika tersadar dari lamunannya dan melihat tanah yang bergetar, Ran tidak tahu harus melakukan apa.
"Eh...? Apa? Ada apa ini?" Teriak Ran kebingungan.
Ketika Eduardo, Enzo dan William sudah keluar dari lingkup getaran, Ran masih di dalamnya.
Ketika William melihat Ran yang kebingungan di tempat, ia tanpa ragu langsung berlari ke tempat Ran, Eduardo berteriak mencegah William, tapi diabaikan oleh William.
"Ran, cepat keluar dari sini." Teriak William untuk menyadarkan Ran.
Pikiran Ran kembali jernih, ia langsung sadar apa yang terjadi dan berlari mengikuti William.
Tetapi, tepat saat mereka hampir keluar dari lingkup getaran, tanah di hadapan mereka naik ke atas dengan bentuk seperti duri-duri tajam raksasa yang menjadi tembok penghalang.
Tanah terakhir yang dipijak oleh Ran dan William pun akhirnya jatuh juga, dan mereka berdua jatuh ke bawah tanah.
"Aaaaaaa....." Ran berteriak panik, sementara William tidak bisa melakukan apa pun.
Mendengar teriakan Ran, si pria cowboy tersenyum puas, "Bagus, William Austin akhirnya tersingkir."
"Memang kenapa kalau dia tidak ada? Aku sendiri sudah cukup untuk membunuh kalian semua!" Ucap Eduardo dengan marah.
"Jangan salah paham, kami dari tadi kabur bukan karena kami lemah, tapi kami mau lulus tanpa kesusahan. Jangan meremehkan kami, kami juga memiliki senjata pamungkas." Ucap si pria cowboy sambil mengulurkan tangannya ke atas. Sebuah hologram dari elang raksasa sebesar 20 meter muncul di atasnya.
Elang raksasa itu mengepakkan sayapnya, udara mengalir kencang akibat kepakan sayapnya. Elang itu terbang dan menangkap Eduardo, lalu Eduardo dibawa terbang tinggi ke angkasa, "Arrgggggghhhhh, sialan kau! Lepaskan aku!!!" Teriak Eduardo sambil memberontak untuk melepaskan diri.
"Nah... Sekarang tinggal kau, jadi... Masih mau lanjut?" Tanya Si pria cowboy kepada Enzo, 2 teman seteamnya mendadak muncul dari bawah tanah.
Enzo pun mengangkat lengannya ke atas sebagai tanda menyerah. Tanpa diberitahu pun, pria cowboy itu tahu bahwa Enzo tidak lagi punya niat untuk bertarung.
"Bagus, kalau begitu kami ucapkan sampai jumpa yah, ya itu pun kalau kalian masih bisa lolos hahahahahhahahaha....." si Pria cowboy dan teman seteamnya pun pergi hingga lenyap dari pandangan.
.
.
.
Plak
"Bodoh! Bagaimana bisa kau tidak fokus di saat pertarungan hah!?" Eduardo sedang memarahi Ran, ia tanpa ragu menampar pipi Ran karena sangat marah.
Ran hanya terdiam tanpa bisa membalas perkataan Eduardo sedikit pun, ia sama sekali tidak mencoba untuk menghindar karena tahu apa kesalahannya.
William pun mencoba menghentikan Eduardo sebelum bertambah parah, "Cukup Eduardo, jangan membuat suasana team menjadi semakin buruk."
"Cukup Will, jangan terus membela Ran, kau harusnya juga sadar kalau kekalahan kita disebabkan oleh Ran yang tidak fokus hingga merugikan kita" Ucap Enzo.
Enzo yang awalnya netral, kali ini berpihak pada Eduardo, karena dirinya juga kesal atas sikap Ran yang merugikan team.
"Pokoknya Ran! Jika kau sampai membuat hal yang merugikan team lagi, akan kuhajar kau sampai HP milikmu habis, aku tidak peduli lagi bahkan jika itu membuatku tereliminasi.
Ran tidak menjawab, pikirannya sudah kosong, yang ia lakukan hanya menunduk ke bawah.
__ADS_1