Sword Ranker

Sword Ranker
Dominating


__ADS_3

Sekarang masuk ke pertarungan ke-3, giliran William.


"Sekarang giliranku, kalau begitu aku pergi dulu yah Ran."


"Hemm, semoga beruntung William."


William pun pergi ke ruangan tunggu untuk peserta yang akan segera bertarung.


Hanya tersisa Enzo saja disamping Ran.


"Hei Ran, menurutmu William akan menang?"


"Apa yang kau katakan itu? Sudah jelas William akan menang dengan mudah."


"Begitukah? Tapi apa kau tidak berpikir jika William berada di posisi yang merugikan."


"Maksudnya?"


"Coba kau pikirkan, nama William sudah tersebar luas, semua orang tahu bagaimana kekuatan William secara garis besar, sementara William tidak tahu apa pun terhadap musuhnya."


Ran baru kepikiran, selama ini William memang bisa menang, tapi ada kalanya ia kesulitan melawan musuh dengan kekuatan unik.


"Tapi William itu sangat kuat, aku yakin dia bisa tetap menang meski tidak tahu apa-apa tentang musuhnya."


"Ya ampun Ran, kau ini pintar, tapi sangat polos, apa kau tidak menyadari selama ujian ini banyak Hyper dengan kemampuan unik dan juga rumit sampai-sampai kau sulit mengetahui cara kerja kemampuannya."


"Ya, yaaaa... Memang sih, aku pernah berhadapan dengan musuh yang bisa menyerap kekuatan orang lain, dan aku sempat tertipu karena dia memakai senjata."


"Nah itulah! Banyak Hyper yang memiliki kemampuan yang unik dan rumit, seperti contohnya kenalanku, orang-orang mengira kalau dia bisa menciptakan ruang dimensi untuk menyimpan senjata, padahal kemampuannya itu cuman bisa mengubah ukuran benda yang lalu ia simpan di bajunya. Sama seperti ujian ini, mungkin saja ada seseorang yang memiliki kemampuan yang bisa menjadi lawan alami bagi William."


"Contohnya?"


"Hmm... Coba kau pikirkan, William itu adalah petarung jarak dekat, dia memang bisa menyerang dari jarak jauh dengan melepas energi pada tebasannya, tapi itu tidak cukup bagus karena kurang akurat dan mudah dihindari. Jadi, kalau semisalnya lawan William adalah petarung jarak jauh yang bisa menggunakan busur atau pistol, mungkin William akan sedikit kesulitan."


"Begitukah? Tapi menurutku itu bukan masalah besar."


"Ya ampun, kalian ini teman masa kecil atau apa sih? Kenapa kalian sangat mempercayai satu sama lain sampai seperti itu?"


"Haha... Begitukah? Owh, sudah mau dimulai nih."


"Hmmpphh... Baiklah, mari kita lihat secara langsung."


William dan Jack keluar dari pintu yang berlawanan.


Lawan William kali ini adalah pria bernama Jack Miller, dia adalah laki-laki tua dengan rambut panjang hingga sebahu, berbeda dengan Frank yang rambutnya jabrik seperti hewan liar, rambut Jack justru lurus seperti perempuan. Ia memiliki banyak luka di wajahnya, di bibir, pipi, dan alis mata, terdapat luka goresan yang sepertinya dibuat dengan pisau. Ditambah dengan badannya yang kekar, membuatnya tampak menakutkan. Ia memakai jubah hitam yang menutupi seluruh pakaiannya, sehingga Ran tidak yakin pakaian apa yang ia kenakan.


"Ya ampun, sepertinya keberuntunganku sangat buruk, bisa-bisanya malah dapat lawan seperti ini."


"Maaf yah, tapi aku tidak berniat untuk mengalah, aku akan serius tidak peduli siapa lawannya."


Jack menggaruk-garuk kepalanya, daripada gatal ia terlihat seperti frustasi dan ingin menyerah, "Ya... Bukannya aku ingin kau mengalah sih, aku hanya sedikit mengeluh saja, tak usah kau pikirkan."


"Baiklah, kalau begitu mari kita bertarung dengan sungguh-sungguh."


"Baiklah, setidaknya aku harus mengeluarkan semua kemampuanku agar tidak kalah dengan memalukan."


Jack mengeluarkan dua buah senjata dari balik jubahnya, senjata yang ia ambil adalah 2 buah sabit yang sama persis. Lalu ia hunuskan keduanya ke arah William sambil memasang kuda-kuda yang terlihat sangat kuat.


William melakukan hal yang sama, ia memasang setengah armornya, dan mencabut pedangnya juga.


Tinggg...


Bwussshhh...


Keduanya langsung melesat tepat setelah bel dibunyikan.


Tranggg


Suara dari sabit dan pedang mereka yang saling bertabrakan membuat sekeliling menjadi bergema.


Jack jauh lebih baik dari yang Ran duga, biasanya hampir tidak ada orang yang mampu untuk berkonfontrasi secara frontal dengan William. Tapi Jack mampu melakukannya walau tetap kesulitan, tapi Jack layak mendapat pujian.


Krrrttkkk... Krrrtkkk...


"Lumayan juga yah... Sesuai dengan rumor yang beredar, anak muda jaman sekarang memang kuat-kuat."


"Terimakasih pujiannya."


William tidak mau berlama-lama, ia mendorong pedangnya ke depan dengan sekuat tenaga, Jack yang awalnya bisa bertahan, akhirnya terdorong juga ke belakang.


William mengayunkan pedangnya untuk mendorong Jack, Jack yang sudah tidak mampu bertahan akhirnya terlempar ke belakang.


Ha...Ha... Seperti yang diduga dari William Austin


William langsung maju lagi untuk menyerang Jack bahkan sebelum Jack menyentuh lantai.


Dengan brutal, William mengayunkan pedangnya untuk menyerang Jack tanpa henti.


Tranggg... Tranggg... Klanggg...


Jack mampu menahannya, tapi ia tetap terdorong mundur perlahan-lahan ke belakang oleh William, sementara William tidak berniat untuk berhenti mengayunkan pedangnya.


Keras... Dan berat... Entah seberapa besar latihan yang ia curahkan demi mencapai level ini dalam usia muda, atau mungkin inilah yang dinamakan bakat? Pikir Jack.


Lalu tanpa sadar, Jack terpojok ke dinding, Jack berada di posisi yang merugikan, ia tidak bisa mundur lagi. Sementara William tetap berniat menebas Jack.


Syuuunggg...


Pedang William terayun secara Horizontal, secara insting, Jack tahu kalau tebasan ini tidak bisa diblokir lagi karena posisinya yang tidak menguntungkan. Karena itu, Jack memilih untuk menghindarinya, ia menunduk untuk menghindari serangan William, lalu berputar kebelakang William.


Brakkkk....


Pedang Ran menebas dinding, dinding batu yang sangat kuat itu tembus sangat dalam oleh pedang William. Sementara Jack sudah ada di belakang William.

__ADS_1


Sekarang!


Jack mengayunkan sabitnya untuk menyerang punggung William, tapi serangannya tertahan oleh armor yang dikenakan William.


Tranggg


Serangan Jack terpental oleh armor William, ia tidak pernah mengira bahwa armor milik William sekeras itu.


William mencabut pedangnya dari dinding, ia berputar cepat ke belakang sambil mengayunkan pedangnya. Jack dengan refleks langsung mundur jauh ke belakang.


Wuussshhh...


Angin berhembus kencang hanya dengan ayunan pedang William, bahkan Jack sampai terdorong mundur hanya dengan hembusan angin yang diciptakan oleh William.


Jack pun mundur, ia menghindari konfrontasi frotal dengan William karena perbedaan kekuatan mereka.


William mengejar Jack, ia tidak membiarkan Jack lepas semudah itu. Mereka berdua berputar mengelilingin arena seperti bermain kejar-kejaran


Awalnya Jack berhasil membuat jarak yang cukup jauh dari William, tapi William mampu mempersempit jarak mereka dalam waktu yang singkat.


Dengan mudahnya, William sudah sampai di belakang Jack, tanpa menunggu, William langsung menebas Jack dengan pedangnya, Jack tidak sempat bertahan, ia berusaha menghindar hanya dengan instingnya saja.


Crattt...


Perut Jack terkena tebasan William, beruntung tebasannya tidak dalam. Tapi itu membuat Jack semakin takut untuk mendekati William.


Jack pun terpaksa menggunakan kartu terakhirnya. Ia mundur untuk mengatur jarak lagi, lalu tanpa menunggu William menyerangnya lagi, Jack mengeluarkan kartu terakhirnya.


Klanggg


Jack melepaskan mata pisau dari gagang sabitnya, ketika ditarik, rantai keluar dari dalam gagang sabitnya, rantai itu menjadi penghubung bagi mata pisau dan gagang sabit.


Jack lalu memutar-mutar mata pisaunya, William yang melihatnya, tidak jadi maju karena berjaga- jaga dengan kemungkinan terburuk.


Melihat William yang mundur, membuat Jack bisa sedikit bernapas lega. Ia mulai mengatur rencananya.


Langkah pertama yang dilakukan Jack adalah dengan melempar mata pisau dari sabit miliknya.


Syuuunggg...


Mata pisau dari sabit Jack melesat ke arah William, rantai yang mengikatnya terus memanjang mengikuti arah yang dituju.


Sepanjang apa rantai di dalamnya? Pikir William. Tapi William lebih fokus dengan apa yang datang kepadanya, William pun menangkis mata pisau yang terbang ke arahnya.


Klanggg


William menangkis mata pisau yang terbang ke arahnya, mata pisau itu terlempar ke samping. William pun maju ke tempat Jack.


Jack tersenyum kecil, Kena kau anak muda.


William merasakan perasaan yang ganjil, ia merasakan ada bahaya yang datang dari belakangnya. Karena keraguan itu, Ran berhenti dan melihat ke belakangnya, ketika ia menengok, sebuah mata pisau yang berkilau datang tepat di depan matanya.


"Ukhhh..." William langsung menengadahkan kepalanya untuk menghindari mata pisah itu.


Aneh sekali, aku yakin dia tidak menggerakan gagang sabitnya lagi setelah dilemparkan, apalagi rantai yang keluar terlalu banyak, pasti butuh gerakan yang besar untuk menariknya lagi.


Baru setelah itu Ran menyadari sesuatu setelah melihat lagi senjata Jack.


"Ah... Begitu yah, jadi sepertinya itu kemampuan milikmu Jack."


Jack tersenyum bangga mendengarnya, "Benar! Kau hebat bisa langsung menyadarinya, kemampuan milikku adalah rantai ini, aku bisa mengendalikan apa saja yang sudah diikat dengan rantai ini hanya dengan perintah pikiran saja."


"Kemampuan yang hebat."


"Haha... Terimakasih, kalau begitu mari kita mulai lagi."


Jack memutar sabitnya yang satu lagi, lalu ia melemparnya ke arah William.


Syuunggg...


Mata pisau yang satu lagi terbang ke arah William, William menangkisnya dengan pedangnya.


Tranggg


Mata pisau itu terhenti di udara, disaat itu William langsung menarik rantai yang mengikat mata pisau itu, ia menarik rantainya dengan sekuat tenaga untuk menarik Jack maju. Tapi, saat ia menarik rantainya, justru rantai itu malah bertambah panjang, sementara Jack tidak bergerak sedikit pun.


Ternyata percuma.


Tahu jika tindakannya percuma, William membuang mata pisau yang ia tarik ke belakang, dan langsung maju ke tempat Jack.


Sepertinya kau menyerah untuk membuatku maju dan lebih berniat untuk maju langsung ke tempatku, tapi, jangan lupakan pisau yang satu lagi William.


Belum sampai setengah jalan, serangan Jack muncul dari depan, William loncat ke atas untuk menghindarinya, ia berhasil melewati serangan Jack. Tapi ketika ia turun, datang lagi serangan dari samping, Jack mundur satu langkah, lalu menarik rantainya dan membuangnya ke belakang.


Jack mengambil kesempatan itu untuk lari dari tempatnya dan mengelilingi arena agar tidak tertangkap.


William mencoba mengejarnya, tapi ia selalu dihadang oleh mata pisau dari sabit Jack yang membuatnya sulit maju.


William memutar otak agar tidak terus terkejar, ia pun mengeluarkan aura miliknya untuk mendorong mata pisau yang terus mengejarnya, rencananya berhasil, mata pisau yang terus mengejarnya terlempar jauh dari tempatnya, lalu William mengambil kesempatan itu untuk mengejar Jack.


Wahhh... Sepertinya masih susah nih. Pikir Jack ketika melihat William yang mengejarnya dengan kecepatan penuh.


Ketika William berhasil mempersempit jarak dan hampir menangkap Jack, ia merasakan hawa dingin di lehernya, mata pisau dari senjata Jack sudah berhasil mengejarnya, Jack sengaja memancing Ran ke tempat yang dia inginkan, jadi ia mengendalikan rantainya untuk langsung menuju tempat yang dia inginkan.


Mata pisau itu mengarah ke leher William, William pun hawa dingin dan menusuk pada lehernya, sadar bahwa ia akan terkena serangan, William melompat ke atas sambil berputar.


Saat berada di udara, serangan Jack masih menyerang, senjata Jack langsung bergerak sebelum William mendarat ke lantai. Namun dengan kaki yang memakai armor, William justru memakai mata pisau itu sebagai pijakan.


Tranggg


William naik lagi lebih tinggi di udara, dia mengambil kesempatan itu untuk melepaskan tebasan energi kepada Jack, tapi Jack bisa menghindar dengan mudah.


Tebasan William membuat sebagian arena tertutupi oleh debu dan asap, Jack bersembunyi di balik asap yang tercipta oleh serangan William.

__ADS_1


Tak bisa melihat apa pun lagi, William akhirnya turun ke lantai, tanpa ia sadari ia terkena jebakan.


Ketika William turun, ia menginjak sesuatu, William mengangkat kakinya dan melihat apa yang ia injak, itu adalah rantai dari senjata Jack.


Rantai? Sepertinya rantainya tersebar kemana-mana. Pikir William tanpa Risau


Tapi, Ran yang menonton merasa gelisah, ia yakin ada alasan kenapa rantai itu disebar di seluruh arena.


Tidak mungkin itu disebar tanpa alasan, Jack bisa saja terpeleset karena rantainya sendiri, apalagi dia terlihat sengaja mengarahkan serangannya secara berputar-putar. Jangan-jangan!?


Ran memikirkan suatu kemungkinan, mungkin saja...


Ran secara refleks ingin berteriak untuk memberitahu William, "Will! Hati- Uph..."


Belum selesai Ran berbicara, Mulutnya langsung ditutup oleh Ranker Amare, "Maaf nak, tapi sesuai peraturan, peserta yang sedang bertarung tidak boleh dibantu oleh peserta yang sedang menonton karena itu curang."


Ran dipaksa untuk mengikuti peraturan, dengan sedikit berat hati, Ran mengangguk untuk menyetujui aturan yang ada, Ranker Amare pun melepaskan mulut Ran.


Sial, hati-hati Will, jangan lupa tentang rantainya.


William diam di tempat, ia tidak mau bergerak gegabah karena tabir asap di sekelilingnya.


Lalu dari pojok arena, terdengar suara Jack, "Sepertinya aku harus berterimakasih padamu William, terimakasih sekali karena kau membuat tabir asap ini, ini membuatku semakin leluasa."


William awalnya tidak mengerti, tapi ia baru sadar dengan adanya rantai di sekelilingnya. Namun sayangnya, William telat menyadari itu.


Cranggg...


Semua rantai di arena bergerak melilit William, membuat William tidak bisa bergerak, William terkunci sepenuhnya oleh rantai milik Jack.


"Hahaha... Wow, tidak kusangka akan berjalan mulus, padahal aku sedikit pesimis. Maaf yah, tapi aku ingin lulus karena ini adalah ujian ke-3 ku."


Walau William terkunci oleh rantai Jack dan berada di posisi yang merugikan, wajah William tampak santai untuk ukuran orang yang terkena jebakan.


"Tidak apa-apa, aku tidak masalah dengan ini, karena bagiku itu adalah hal normal bagi semuanya untuk bersungguh-sungguh untuk menang."


"Begitukah? Senang mendengarnya, kalau begitu tidak akan ada dendam antara kita bukan?"


Jack mengeluarkan sabitnya yang lain, ia berniat untuk mengakhiri ini disaat William sedang terkunci.


Ran yang melihatnya menjadi gelisah, ia tidak percaya kalau William akan kalah. Sementara Enzo hanya bersiul pelan karena terkejut.


"Hooo~ Tidak kusangka William akan kalah, ini sangat mengejutkan."


"Tidak Enzo, William masih belum kalah."


"Haduh kau ini yah, aku paham jika kau mendukung William, tapi kau juga harus melihat kenyataannya."


"Aku tahu, aku tahu kalau William memang sudah dipojokkan, tapi William masih punya kartu as untuk menang."


"Contohnya?"


"Lihatlah sendiri."


Jack melangkah pelan sambil membawa sabitnya, ia ingin mengakhiri pertarungan ini.


"Kalau begitu, sampai jumpa William." Ucap Jack sambil mengangkat sabitnya ke atas.


"Tidak! Ini masih belum berakhir." Ucap William tegas.


"Eh?"


Seketika itu juga, aura William menjadi semakin kuat, angin di sekitarnya berhembus kencang hingga meniup debu arena.


William hanya diam tanpa sepatah kata pun, tapi semuanya tahu jika ia sedang mengeluarkan seluruh kekuatannya.


Jack menjadi ragu, ia tidak bisa menyerang William, serangannya terhembus dengan sendirinya hanya dengan aura yang dikeluarkan William.


Bzzzttt... Drrrkkkk... Dar...


Udara terasa bergetar dan meledak-ledak, Jack merasa seperti sedang gempa. Lantai arena di sekeliling William pun retak dan hancur.


Jack langsung mundur karena ketakutan, aura yang dikeluarkan William sudah tidak berada di level yang sama dengan Hyper biasa.


Hanya dengan auranya, rantai yang membelit William perlahan-lahan.


Pranggg...


Ran membentangkan tangannya ke atas, rantai yang melilitnya seketika itu langsung hancur. Dan William langsung maju menyerang Jack tanpa menunggu.


Jack berusaha kabur, tapi ia tertangkap oleh William, baju Jack ditarik, lalu dilempar oleh Ran ke pojok arena.


"Ohok!"


Jack ingin kabur, tapi sebelum ia kabur, Ran menusuk bahunya dengan pedang miliknya.


Jrassshhh...


"Ukhhh..." Jack meringis kesakitan, ia sudah tidak bisa kabur lagi.


Dengan suara datar, William memberikan penawaran, "Bagaimana? Masih mau lanjut? Atau menyerah?"


Jack menghembuskan napas frustasi, ia tahu bahwa dirinya tidak akan bisa menang melawan William, "Hufffttt... Seimbang apanya ini, ini sih perbedaannya terlalu jauh. Baiklah, toh aku tidak akan bisa menang, aku menyerah." Ucap Jack sambil mengangkat sebelah tangannya sebagai tanda menyerah.


Tinggg


Bel berbunyi tanda berakhirnya bertarungan.


[Pemenangnya, William Austin]


Semuanya tidak terkejut dengan hasil yang ada, semua yakin bahwa William bisa menang dengan mudah.


Dari awal, William masih belum serius, ia masih menahan diri entah apa tujuannya. Yang pasti, tanpa serius pun, William mampu mendominasi pertarungan.

__ADS_1


__ADS_2