Sword Ranker

Sword Ranker
New Life


__ADS_3

"Ukhhh... Emmmm... Dimana ini?"


Ran membuka matanya setelah tertidur cukup lama setelah pesta penyambutan yang dilakukan oleh para rekan barunya di Guild.


Ran mendapati dirinya di sebuah ruangan yang asing bagi dirinya, ini adalah sebuah ruangan mewah yang jauh berbeda dengan rumahnya yang kumuh, tidak ada dinding kotor yang penuh dengan sarang laba-laba, atau pun atap yang sudah bocor.


Tempat Ran terbangun bagaikan hotel mewah yang hanya bisa ia lihat melalui layar televisi buram yang ia miliki dirumahnya.


Kamar ini sangat luas karena mencakup setengah dari lantai Ran. Belum banyak perabotan di dalamnya, tapi sudah ada beberapa interior sederhana seperti pot bunga dan tanaman lainnya di pojok kamar, dan lukisan abstrak yang tidak bisa dipahami oleh Ran.


Sepertinya selera seniku memang rendah.


Kasur yang ditempati Ran adalah kasur dengan tipe Double Bed, ini cukup untuk tidur berdua, dan karena Ran tidur sendiri, ia tidak perlu khawatir lagi akan terjatuh karena berguling saat tidur. Tidak seperti di rumah lamanya, Ran kerap terjatuh karena kasur kecil yang sudah reyot.


Kasur disini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kasur di rumahnya, sangat empuk dan halus, ditambah aroma harumnya, membuat Ran serasa ingin tetap tidur dan tidak melakukan aktivitas apa pun. Lalu di sebelah kasur, terdapat lemari baju dengan desain modern.


Di kasur lamaku saja aku selalu susah bangun, entah bagaimana dengan kasur ini.


Ran kembali berbaring ke kasur dengan posisi terlentang, ia melihat langit-langit, sebuah lampu berdesain mewah tergantung di atasnya. Lampu itu sudah mati tanpa perlu Ran turun tangan, dari yang Ran dengar, lampu sudah diatur agar menyala dan mati secara otomatis sesuai dengan intensitas cahaya.


"Apa aku pantas menerima ini semua?" Ran berkata dengan nestapa.


Awalnya Ran berpikir untuk masuk ke Guild Ranker liar sebagai bentuk pelarian terakhirnya. Ran tidak berniat menetap lama, ia hanya berpikir untuk tinggal sebentar dan pergi tahun depan saat ujian Ranker digelar lagi.


Tapi, melihat kemewahan yang ia dapat, Ran merasa malu sudah merendahkan Guild Ranker liar sebelum melihatnya langsung.


"Kukira markas Guildnya akan ada di pabrik terbengkalai atau gubuk yang sudah reyot atau semacamnya, siapa yang sangka ternyata markasnya berbentuk hotel mewah seperti ini."


Merasakan keramahan mereka serta kemewahan yang belum pernah ia rasakan, membuat Ran meragukan dirinya sendiri. Apakah dirinya pantas untuk semua ini? Ran sendiri ragu.


Setelah menderita kekalahan yang pedih di ujian Ranker, rasa inferior Ran semakin menjadi-jadi. Ia semakin tidak percaya dengan dirinya sendiri, ia menjadi ragu dengan kemampuan yang dimilikinya. Dari pandangan Ran, selalu ada orang yang lebih pantas untuk menerima ini semua dari dirinya sendiri.


Ran ragu dirinya akan berguna, ia takut akan menjadi beban lagi, sama seperti saat sekelompok dengan William, dimana dirinya hampir tidak bisa berbuat apa pun saat William dihajar Tim. Ran butuh waktu lama untuk bisa maju membantu William, karena kelemahannya itu, William harus menderita luka yang diakibatkan kelemahan Ran sendiri.


"Apa... Mungkin... Aku ini, memang tidak cocok menjadi Ranker?" Gumam Ran pelan.


Ran merasa dirinya sangat menyedihkan, bahkan setelah mengumpulkan tekad untuk bergabung ke Guild, ia masih saja tidak percaya diri, bahkan sampai sekarang, ia masih saja merendahkan dirinya sendiri.


Ran menutupi wajahnya dengan kedua lengannya, seolah-olah ingin menutupi rasa frustasinya.


"Sial, aku ini sangat menyedihkan." Ucap Ran untuk menghina dirinya sendiri.


Rasa rendah diri dan inferior Ran secara ironis malah menghancurkan dirinya sendiri. Dia masih belum tumbuh dewasa.


Ran hanya tiduran di kasurnya saja, ia masih belum berminat untuk bangun, tapi sebuah suara yang familiar terdengar.


Ting.


Lift? Siapa yang naik?


Pertanyaan Ran langsung terjawab seketika ketika pintu kamarnya diterobos tanpa izin.


"Woi Ran!" Suara yang nyaring dan riang muncul setelahnya, itu adalah suara dari seseorang yang dikenal oleh Ran, mereka belum kenal lama, tapi orang itu selalu ingin akrab dengan Ran, "Sudah pagi ini! Jangan tidur saja, ayo bangun dan sarapan!"


"Pa-Pak Rodri?" Teriak Ran keheranan untuk menganggapi kedatangan Rodri yang terlalu mendadak tanpa permisi.


"Hehe... Karena kau tidak kunjung turun, jadi aku diminta oleh pak Bon untuk mengajakmu turun."


"Tunggu, bagaimana anda bisa masuk? Bukannya kamar ini dikunci? Anda tidak mendobraknya kan?"


"Tentu saja tidak, tidak ada cara rumit, hanya saja aku punya key master untuk markas ini, jadi aku bisa bebas masuk ke kamar siapa pun." Ucap Rodri sambil menunjukkan key master berbentuk kartu untuk membuka kamar dengan wajah jumawa.


"Dimana privasi!?"


"Ahahaha, tenang saja, aku tidak pernah mengobrak-abrik kamar siapa pun. Hanya untuk keadaan darurat seperti ini saja."


"Dari sisi mana anda menganggap ini sebagai keadaan darurat?" Tanya Ran dengan frustasi. Ia menjadi tidak nyaman mengetahui ada orang yang bisa dengan bebas keluar masuk kamarnya yang adalah wilayah privasi.


"Sudah! Itu tidak penting, sekarang turun yuk, kita sarapan bersama." Ajak Rodri sambil melambaikan tangannya dengan gerakan seperti mengajak pergi ke kantin sekolah.


Ran tergoda untuk pergi jika mengingat makanan yang ia makan semalam, itu adalah makanan yang paling enak yang pernah ia makan. Tapi, ia masih canggung untuk sarapan bersama, kasus semalam hanya karena ia ditarik dengan paksa saja. Sejatinya, Ran masih belum cukup berani untuk bisa bersikap akrab dengan semuanya.


"Ti-Tidak usah, saya belum lapar, saya makannya nanti saja." Tolak Ran dengan sopan.

__ADS_1


Tapi Rodri seperti tidak menerima penolakan, ia dengan ngotot menarik selimut yang membungkus Ran dan melemparnya, "Maaf, tidak menerima penolakan, Yamaguchi sudah membuatkan sarapan sejak pagi, tidak sopan jika menolaknya."


Ran mulai ketakutan, tapi ia tetap menolaknya, "Ti-Tidak usah repot-repot, bagian saya buat anda saja."


Rodri pun menatap Ran dengan tajam, ia terlihat masih ngotot, tapi tidak mau berdebat lagi. Jadi, tanpa mengatakan apa pun, Rodri menarik kaki Ran dan langsung membawanya turun.


"Uahhhhhhh!!!! He-Hentikan!!!!"


...****************...


Ting


Lift turun ke lantai Rodri, tempat sarapan akan digelar di tempat yang sama dimana mereka mengadakan pesta penyambutan Ran.


Secara kebetulan, Rose melewati lift setelah mengambil sesuatu.


Kebetulan sekali liftnya sampai, bareng saja sekalian deh.


Mendengar bunyi lift yang turun, Rose berniat untuk menyapa siapa pun yang datang dan pergi ke tempat sarapan bersama. Tapi pemandangan yang membingungkan justru muncul dari dalam lift.


Ada Rodri yang tersenyum ceria, sambil menyeret kaki Ran yang tidak berdaya, Ran diseret dengan posisi terlentang dan tampak seperti akan pingsan sebentar lagi.


Pembunuhan? Pikir Rose ketika melihat pemandangan ini sambil berjalan mundur beberapa langkah.


"Oh Rose, kebetulan sekali bertemu di depan lift. Ada apa?"


"Eeeeuuu... Aku tadi diminta tolong oleh Yamaguchi untuk mengambil piring, omong-omong, apa yang terjadi disini?"


"Hmm...? Ini? Bukan apa-apa, jangan dipikirkan. Hahhahaha..."


Rodri tertawa lepas seperti tidak ada apa-apa.


"Nah, karena sudah sampai disini, sekalian makan saja yah Ran? Sayang sekali jika sudah disini tapi tidak makan." Ucap Rodri sambil menyeret Ran keluar dari lift.


"Urfff... Aku merasa akan muntah." Ran mengerang pelan, mendadak diseret dengan kasar seperti tadi bukanlah hal yang menyenangkan sama sekali.


"Tidak apa-apa, jika kau mencium wangi masakan Yamaguchi, kau tidak akan mau muntah."


Ran yang sudah dipaksa sampai seperti ini, akhirnya menyerah dan menerima ajakan Rodri untuk sarapan bersama.


"Baiklah, jika anda memaksa."


"Hehe, nah begitu dong harusnya dari tadi."


Rose kebingungan melihat ini, tapi ia tidak bertanya lebih lanjut dan berjalan duluan ke tempat sarapan.


"Eh Rose, jangan pergi duluan, tungguin kami dong."


Di tempat sarapan.


Tempat yang dipakai untuk sarapan adalah tempat yang sama yang dipakai untuk pesta sebelumnya, tapi ada yang berbeda. Atapnya menjadi transparan, tidak lagi menampakkan langit gelap, melainkan langit pagi yang cerah.


Yamaguchi baru selesai memasak, kali ini ia menggunakan kompor listrik untuk memasak sarapan, ia membuat roti bakar yang terdiri dari telur, keju, daging dan beberapa sayuran segar. Walau terlihat sederhana, aroma harum dari masakannya memenuhi ruangan.


Ran dan yang lainnya merasa puas hanya dengan mencium aroma masakannya saja.


"Oh Rose, kau sudah kembali toh. Tolong bawa piringnya kesini yah, eh kebetulan sekali kalian berdua juga sampai."


"Halo Yamaguchi, maaf yah lama, Ran tadi susah dibangunin."


"Ma-maaf."


"Eh buat apa minta maaf? Aku hanya bercanda, bercanda saja, tidak perlu sampai seperti itu."


Ran tetap menunduk meski sudah dibilang seperti itu. Ia masih memikirkan hal yang ia pikirkan tadi pagi.


Melihat Ran yang murung, Rodri hanya bisa menggaruk kepalanya.


"Emmm... Yasudah, lebih baik kita duduk saja dulu." Ajak Rodri kepada Ran.


Ran pun mengikuti ajakan Rodri dan duduk di sembarang kursi, Rodri duduk di sampingnya.


Seperti biasa, Rodri dengan ceria terus mengajak Ran mengobrol, Ran hanya bisa menanggapinya dengan jawaban pendek, tapi Rodri tampak terbiasa dan terus berbicara.

__ADS_1


Makanan pun datang dan langsung menyumpal mulut Rodri yang terus berbicara.


"Wah mantap, kali ini roti bakar yah. Isinya apa saja?" Rodri dengan bersemangat menyambar roti bakar yang diletakkan Yamaguchi di depannya, dan langsung menikmatinya.


"Silahkan Ran." Yamaguchi meletakkan piring berisi roti bakar di hadapan Ran.


Setelah semuanya mendapat jatah makanannya, barulah Yamaguchi duduk dan akan menikmati sarapannya sendiri.


Dengan sedikit ragu-ragu, Ran mengambil roti bakar di hadapannya, dan memakannya. Rasa hangat dari roti itu membuat Ran menjadi lebih tenang. Setidaknya ia bisa melupakan sejenak tentang masalah yang ia pikirkan sejak pagi.


Setelah pikirannya jernih, baru lah Ran menyadari sesuatu.


"Yang lain dimana?"


Hanya ada sedikit orang yang ikut sarapan, selain Ran hanya ada Yamaguchi, Rodri dan Rose. Hanya ada mereka berempat saja di meja makan.


Tidak ada pak Bon, Madison, Aurelia, Ribben dan Otto.


Rose menjawab, "Madison akan menyusul nanti, saat ini dia sedang sibuk dengan penelitiannya. Sementara yang lain... Mereka sibuk."


Jawaban Rose terdengar sedih, seolah-olah mereka semua memang jarang berkumpul.


Apakah karena itu Rodri memaksaku untuk sarapan bersama? Pikir Ran dengan perasaan bersalah.


Ran kalut dalam pikirannya, lalu tanpa sengaja, Ran malah berkata, "Apakah, kalian memang jarang berkumpul?"


"!?" Semuanya terkejut mendengar pertanyaan Ran.


Ran pun sama terkejutnya, padahal itu hanya hal yang ia pikirkan saja, tapi tanpa sengaja pikiran itu keluar begitu saja.


Semuanya menjadi hening untuk sementara, tidak ada yang berkata apa pun, lalu kemudian, Rodri lah yang menjawabnya.


"Memang, itu memang benar, kami lumayan jarang berkumpul seperti ini. Sulit untuk mengajak semuanya berkumpul bersama karena semuanya memiliki masalah pribadi masing-masing."


"Masalah pribadi?"


"Untuk detailnya, kau tidak perlu tahu, tapi kami semua bergabung kesini karena memiliki masalah masing-masing. Karena itu kami semua jarang berkumpul karena masing-masing sering sibuk dengan masalahnya sendiri, hanya saat acara khusus saja agar mereka mau ikut, seperti kemarin. Sangat disayangkan memang, padahal... Lebih enak makan bersama seperti ini dibanding sendirian."


Semuanya terdiam, tidak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun.


Ran merasa dipukul oleh kenyataan, walau tidak mau mengakuinya, tapi Ran setuju bahwa lebih enak untuk menyantal makanan bersama dibanding sendirian. Dalam lubuk hatinya pun, Ran merindukan saat-saat dimana ia makan bersama dengan keluarganya.


Kukira, karena mewahnya pesta penyambutan kemarin, mereka semua memang suka berkumpul seperti kemarin. Sepertinya, pemahamanku memang dangkal.


Ran sangat menyesalinya, ia menyesal karena sebelumnya menolak ajakan Rodri, lalu untuk memperbaikinya...


"Kalau begitu, mari kita lebih sering berkumpul bersama, walau hanya kita berempat saja, pasti yang lain lama kelamaan juga akan ikut. Aku juga akan meminta pak Bon untuk hadir." Ucap Ran dengan suara pelan.


Walau disampaikan dengan suara yang rendah dan pelan, tapi semuanya dapat mengerti apa yang disampaikan oleh Ran.


Rodri tersenyum lebar, ia melingkarkan lengannya ke leher Ran dan menarik Ran kedekatnya, "Nah harusnya begitu dong, kalau diajak makan bareng jangan nolak lagi yah."


"Ehhh...Eee... A-akan kuusahakan."


"Ahahahahhahaha......." Rodri pun tertawa puas mendengarnya.


Tidak lama kemudian, Madison datang dan bergabung.


"Haloooooo.... Aku datang, halo Rose sayang..."


"Uwaggghhh... Jijik! Diam kau!"


"Oyyy!!! Kalian berdua, jangan berisik di meja makan."


"Ayo sini sayangku!"


"Menjauh sana!!!!"


"Ahahahaha... Melihat kalian berdua selalu menyenangkan."


"Rodri jangan ketawa, pisahkan mereka berdua."


Ruangan yang awalnya diselimuti rasa canggung, menjadi mencair. Bagaikan musim semi yang datang, setelah sekian lamanya musim dingin.

__ADS_1


__ADS_2