Sword Ranker

Sword Ranker
I Want To Live


__ADS_3

Srak Srek Srak Srek


"Hah..! Hah...! Hah...!"


"Psssss...."


Suara lumpur yang terinjak, napas yang berat serta kelelahan, dan napas dari pemburu yang haus akan perburuan. Bersatu di tempat ini.


"Apa-apaan!? Apa-apaan ini!? Tempat macam apa ini!? Aku tidak pernah mendengar tentang ini."


Gruduk Gruduk Gruduk


Tanah bergetar, seolah-olah akan runtuh kapan pun, namun Ran tidak mempedulikannya. Ran tetap berlari, dari kejaran monster badak yang mengejarnya dengan ganas.


Beberapa jam sebelumnya.


Hal yang pertama Ran pikirkan ketika membuka matanya adalah...


"Mengerikan."


Setelah tersedot ke dalam Gate, Ran bangun di tempat yang asing sendirian.


Tempat Ran terbangun hanya bisa digambarkan dengan kata 'Mengerikan'. Ini seperti dunia yang mengalami kiamat.


Tanah tiada hentinya bergetar hingga terbelah menjadi jurang, gunung-gunung meledak mengeluarkan isinya ke luar, pepohonan di sekitar Ran sudah layu dan terbakar.


Ran tidak bisa bereaksi, walau tanah di sekitar Ran serasa akan terbelah, dirinya tidak mampu bergerak. Tempat ini menyerang mentalnya hingga hancur.


Namun ironisnya, hal yang membuatnya mampu bangkit menghindari bahaya, adalah bahaya lainnya.


Tanah bergemuruh, tapi kali ini lebih kencang, gemuruh tanah yang terasa berbeda, membuat insting bahaya Ran hidup kembali.


Ada yang datang.


Ran menengok, jauh di belakang, siluet berapi mendatanginya, hanya butuh beberapa detik untuk Ran bisa melihatnya dengan jelas.


Itu adalah monster badak berukuran 6 meter dengan cula sebesar orang dewasa. Monster itu diselimuti api yang membakar kulitnya hingga merah menyala.


Ran adalah orang yang lemah, dan sebagai orang yang lemah, satu-satunya jawaban yang terlintas pada benaknya hanyalah... LARI.


Ran bangkit, tubuhnya yang awalnya tidak bisa bergerak, seketika dipenuhi energi, adrenalinnya meningkat pesat. Ran langsung berlari dengan semua kekuatannya.


Drap... Drap... Drap Drap Drap Drap


Ran hanya fokus berlari, satu-satunya yang bisa ia dengar hanya suara jantungnya sendiri.


Jantungnya berdebar kencang, seluruh ototnya mengencang seolah merespon ketakutannya.


Secara naluri, Ran tahu bahwa ia tidak akan bisa mengalahkan monster itu. Lari hanyalah satu-satunya pilihan baginya.


Namun, sepertinya takdir memaksanya untuk melawan.


Jurang lebar terbentang di hadapan Ran, lava yang meletup terlihat di bawahnya, secara insting, Ran tahu ia akan mati jika terjatuh. Ujung lain dari jurang itu tidak terlihat, mustahil bagi Ran untuk bisa mencapainya.


Ran berada di ujung tanduk.


Takdir seolah memerintahnya untuk melawan monster itu, memaksanya untuk berhenti kabur.


"Mustahil! Mustahil! Mustahil! Tidak mungkin aku bisa melawan monster seperti itu. Tidak mungkin aku bisa menang, ini konyol!" Teriak Ran dengan putus asa


Monster badak semakin mendekat, nyala api dari monster itu membuat punggung Ran panas hanya dari jarak yang jauh.


Rasa takut mengunci tubuh Ran, kakinya lemas karena rasa takut hingga terjatuh. Ran tidak bisa bergerak, tubuhnya menjadi kaku, nalarnya kacau akibat ajal yang semakin mendekat.


Mati aku. Pikir Ran dengan pasrah.


Monster badak itu semakin mendekat, culanya yang terbakar tampak seperti besi panas yang akan menusuk daging yang akan dipanggang.


Ran berpikir untuk menyerah dan menerima kematiannya. Namun, ketika monster itu semakin mendekat, seluruh jaringan dalam tubuh Ran bereaksi, terasa seperti sengatan listrik pada seluruh tubuhnya, dan tepat ketika cula monster itu berada di hadapan Ran, secara dramatis, tubuh Ran langsung berguling menghindar ke samping tepat sebelum monster itu berhasil untuk menyentuhnya.


Jeebuuurrr


Kehilangan targetnya secara mendadak, monster badak itu tidak bisa berhenti berlari, dan berakhir jatuh ke dalam jurang.


Badan monster badak itu, secara pelan-pelan masuk ke dalam lava, seperti terhisap ke dalam lumpur hisap.


Deg Deg Deg Deg Deg Deg


Jantung Ran berdebar kencang, tak pernah disangka bahwa Ran berhasil menghindari kematiannya dengan cara ini.


"Aku selamat... Aku selamat! Ahahahaha" Ran berteriak dengan histeris untuk menyambutnya.


Ran merasa senang dan bahagia, hingga lupa sedang berada dimana dirinya untuk saat ini.


Debuuummmm


"Ahahaha... Hahhhh....?" Tawa Ran berhenti ketika terjadi ledakan dari arah jurang.


Lava dibawahnya naik ke atas dan turun kembali seperti air terjun merah menyala, namun, bukan itu yang paling mengejutkan bagi Ran.


Hal yang ada di puncak semburan lava itu, monster badak yang sebelumnya terjatuh, berada di atasnya, dan yang lebih mengerikannya lagi, monster itu sepertinya sudah berevolusi.


Badannya yang semula terselimuti oleh kobaran api, kali ini tubuhnya seperti gunung dengan lava yang mengalir dari tubuhnya.


Ketika Ran sudah dalam penglihatannya, monster badak itu seketika menerjang. Dengan kepayahan, Ran berhasil berguling dan menghindar untuk kedua kalinya. Monster itu menabrak tanah di samping Ran, lav di tubuhnya terlempar dan terciprat kemana-mana.


Crat Crat Crat


Melihat lava panas yang terciprat dari tubuh monster badak itu, dengan segenap tenaganya yang masih tersisa, Ran berguling untuk menghindar dari lava panas.


Meski sudah bersusah payah seperti itu, sangat disayangkan...

__ADS_1


"Arrggghhhhh... Panas....!!!" Ran mengerang kesakitan sambil memegang lengan kanannya


Lava panas mengenai lengan kanannya, tak kuat menahan sakit, Ran berteriak kencang.


Beruntung Ran memakai baju pelindung yang cukup tebal, meski tidak sepenuhnya melindungi lengannya, setidaknya itu cukup untuk menghalau lava untuk melelehkan tangannya.


Brek


Ran merobek lengan baju kanannya untuk menyingkirkan lava yang masih menempel.


Tangan kanan Ran terbuka telanjang, lava panas yang menempel meski hanya sebentar cukup untuk menciptakan luka bakar yang cukup serius.


"Errkkkhhhh...." Ran meringis menahan sakit dengan mata berkaca-kaca.


Saat ini situasi Ran bertambah buruk, monster badak yang ia kira sudah mati malah kembali dengan wujud yang lebih mengerikan, tangan kanannya yang biasa memegang senjata sekarang terluka parah.


Apa situasi ini tidak bisa lebih buruk lagi?


Ran merasa makin putus asa, monster di hadapannya tidak terlihat mudah diatasi, sementara situasinya tidak cukup bagus untuk bertarung.


Ini berbeda dengan di ujian, aku bisa benar-benar mati disini. Tapi...


Walau sudah dihadapkan pada situasi hidup dan mati, walau sudah hampir menyerah atas kehidupannya sendiri sebelumnya, tapi setelah merasakan kepuasan setelah lolos dari maut sekali...


"Aku tidak mau mati! Aku mau hidup! Dasar monster jelek! Maju sini!" Ran berteriak kencang demi hidupnya. Dia tidak mau menyerah atas hidupnya lagi.


"Grrrr... Sssshhhh...." Monster di hadapannya menggeram dengan menakutkan, tubuhnya yang diselimuti lava mengeluarkan asap dengan menakutkan.


Monster itu tampak siap untuk menerkam Ran.


Bammmm....


Dengan sekali kejapan mata, monster itu menerjang ke arah Ran dengan sangat cepat.


Dengan sekuat tenaga, Ran langsung melempar segenap tubuhnya ke arah samping untuk menghindar.


Buuummm...


Monster itu menabrak tanah di belakang Ran, culanya menembus tanah yang keras dan membuat lava ditubuhnya terlempar kembali.


"Akhhhh... Monster sialan, aku memang bilang maju, tapi jangan tiba-tiba." Ran berteriak dengan bercampur emosi kesal dan takut.


Ran buru-buru memperbaiki posisinya selagi monster itu tersangkut, dengan susah payah Ran berhasil menyeimbangi kembali tubuhnya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Ran langsung membuat Long Sword sepanjang setengah tubuhnya dengan ketebalan setara setengah dari lengannya.


Berat, tapi yang paling penting adalah bertahan.


Monster badak itu mencabut culanya yang tersangkut dan kembali menatap Ran. Tatapannya terlihat sangat ganas hingga membuat Ran gemetar ketakutan.


Jangan takut, jika mentalku hancur disini, aku akan mati.


Mereka berdua tampak seperti seorang matador dengan bantengnya. Saling menatap dan mengawasi satu sama lain, tanpa melepas satu pun gerak-gerik lawannya.


Bummm.


Tanpa peringatan, monster badak itu kembali menerjang maju. Tapi kali ini berbeda, Ran sudah siap untuk menahan serangannya.


Tang


Cula dan pedang beradu, menimbulkan suara melengking yang membuat pekak telinga.


Ughhhh... Berat, tapi masih bisa kutahan.


Krrttkk krrrtkkk


Ran bergetar untuk menahan serangan monster badak itu. Tahu jika dirinya tidak bisa terus bertahan, Ran maju satu langkah, dengan memusatkan seluruh tenaganya pada tangan kirinya, Ran mendorong monster badak itu mundur.


Duakkk


Monster itu terlempar ke belakang oleh Ran dengan satu hempasan.


"Hahhhh... Hahhhh... Berhasil." Ucap Ran senang.


Tapi ketika melihat keadaan bagian depan pedangnya, Ran tahu jika dia tidak bisa berlama- lama.


Pedangnya tidak bisa menahan lama serangan monster itu, bagian depannya sudah sedikit retak hanya dengan satu serangan.


Monster badak itu kembali mengamati Ran, monster itu seperti sedang mencari cara untuk menyerang Ran setelah sebelumnya serangannya diblokir.


Tapi Ran tidak mau menunggu seperti tadi.


Swuusshh


Ran langsung menerjang ke arah monster itu sambil mengayunkan pedangnya.


Tranggg.


Serangannya tepat menyerang cula monster badak itu dan mendorongnya mundur beberapa langkah.


Bagus. Tidak sia-sia aku belajar pada Rodri, setidaknya aku terbiasa menggunakan tangan kiri. Sorak Ran dalam hatinya.


Tap Tap Tap


Ran kembali mundur beberapa langkah untuk mengatur jarak. Ia kemudian berputar mengelilingi monster itu untuk membuatnya kebingungan, di tengah kebingungan itu, Ran langsung maju lagi dan...


Tranggg


Serangan yang sama diluncurkan oleh Ran. Mendorong mundur monster itu beberapa langkah.


Bagus, aku sudah paham dengan pola monster ini.

__ADS_1


Dari pengamatannya, Ran menyimpulkan bahwa monster itu akan melakukan pengamatan sebelum menyerang targetnya.


Pada waktu itu, akan tercipta jeda yang cukup lama. Ran memanfaatkan jeda itu untuk menyerang maju mundur untuk membuat monster itu kebingungan sehingga tidak bisa menyerang.


Tentu saja, Ran tidak berniat untuk mengalahkan monster itu, ia hanya berniat untuk mendorong monster itu kembali ke dalam jurang dan langsung kabur kembali.


Setidaknya ada waktu yang cukup untuk hilang dari pandangan monster ini.


Trang Trang Trang


Ran terus mengulang-ulang serangan yang sama. Melalui pola yang sama berulang-ulang, ia berhasil mendorong monster itu ke ujung jurang.


Sedikit lagi, hanya sedikit lagi.


Namun... Lagi-lagi rencananya hancur.


Pranggg...


Ehhh...


Pedang Ran hancur berkeping-keping, ketahanan pedangnya tidak cukup kuat untuk bertahan sampai akhir.


Tak mau menunda waktu, Ran langsung mundur jauh dan membuang gagang pedangnya dan bersiap membuat pedang baru.


Tapi, seolah sudah menunggu momen ini, monster badak itu melemparkan lavanya ke arah Ran.


Cprat


Lava panas mengenai pergelangan tangan kiri Ran.


"Arrrrrrrgggggggghhhhhhh......" Ran berteriak kesakitan.


Seperti kerasukan, Ran mengayunkan tangannya kesana kemari untuk melempar semua lava yang bersarang di tangannya.


Skakmat.


Situasi Ran sudah skakmat, ia kehilangan kedua tangannya, sudah tidak ada lagi yang bisa ia gunakan untuk menggenggam pedangnya lagi.


Hhahhhh Hhahhhh... Kenapa bisa menjadi seperti ini? Kenapa bisa gagal? Apa ini akhir hayatku? Pikir Ran dengan penuh putus asa.


Situasinya sudah sangat buruk, ia tidak lagi memiliki senjata, ia sudah dilucuti habis-habisan. Sementara monster di hadapannya sudah siap untuk menerjangnya lagi.


Gruduk Gruduk Gruduk


Monster itu berlari ke arah Ran dengan cepat, tapi Ran sudah tidak bisa menghindar, ia berlutut kesakitan karena lukanya.


Apa ini akhirku?


Gruduk Gruduk


Apa aku akan mati?


Gruduk Gruduk


Aku tidak akan bertemu mereka lagi?


Gruduk Gruduk


Selamanya?


Gruduk Gruduk


"Tidak mau!!!!"


Pak! Dhummmmmm.....


Di detik-detik terakhirnya, ketika monster badak itu hampir menusuk Ran dengan culanya, Ran menangkap cula monster itu dengan tangan kosong.


Rasanya seperti ketika Ran berhadapan dengan monster pterosaurus, seluruh tubuhnya serasa dipenuhi kekuatan.


"Aku tidak mau mati!!!! Aku masih mau hidup!!!" Teriak Ran dengan kencang. Sambil menekan cula monster badak itu dengan semakin kencang


Krrrrkkkk Prakkkk


Culanya hancur, monster badak itu dengan sangat terkejut langsung mundur ketakutan.


Posisi mereka dalam sekejap berbalik, monster itu mundur, sementara Ran langsung maju menerjangnya.


Tangannya bercahaya mengeluarkan Long Sword yang sama dengan sebelumnya, yang berbeda adalah, Long Sword kali ini tidak akan hancur seperti sebelumnya.


Ran langsung mengayun pedangnya dengan mengabaikan rasa sakit pada pergelangan tangannya.


"HYAAAAAAAA!!!!!!"


Swinggggg Crakkkkkk


Ran menebas monster badak itu menjadi dua bagian hanya dengan satu ayunan. Lava dan darah bercampur menjadi satu.


"Hahhhh... Hahhhh.... Hahhhhh...."


Seluruh energi dalam tubuh Ran serasa terbakar hebat dalam sekejap, namun kembali padam dalam sekejap juga.


Seluruh rasa sakit yang sebelumnya Ran tidak rasakan langsung menyerangnya.


"Urggghhhh...." Ran terhuyung karena pusing.


Badannya menjadi sempoyongan karena hilang keseimbangan, Ran memaksa dirinya untuk bisa sadar karena bahaya jika sampai pingsan.


Tapi tubuhnya sudah mencapai batas, tak kuat lagi menahan lelah dan sakit, Ran jatuh pingsan.


Bruk

__ADS_1


__ADS_2