Sword Ranker

Sword Ranker
First Ally


__ADS_3

Ran saat ini terjebak dalam situasi yang sangat berbahaya, dengan posisi terjepit dahan pohon, sebuah pedang perak mengkilap yang berlumuran darah dihunuskan padanya.


Hawa membunuh yang besar terpancar dari pedang perak yang berlumurkan darah ini. Ran menggigil meski jarak pedang itu dengan kepalanya sangat jauh. Saking takutnya, Ran yang awalnya menengok ke atas, langsung kembali membenamkan kepalanya ke tanah karena rasa terror yang keluar dari pedang itu.


William menatap Ran dengan pandangan yang dingin dan menusuk, terasa seperti sinar laser keluar dari mata William.


Dalam hati Ran, terdapat berbagai pemikiran tentang cara untuk lolos dari situasi ini, Bagaimana ini? Pura-pura mati? Tapi tadi dia sudah melihatku bangun? Serang diam-diam? Mustahil! Orang-orang tadi saja gagal, apa aku harus memohon ampun padanya?


Suasana menjadi sunyi, William hanya menatap Ran saja, sementara Ran hanya bisa membeku tanpa suara.


Ditengah-tengah keheningan itu, orang pertama yang memecahkan keheningan adalah... William.


William menarik pedangnya dan memasang posisi untuk mengayunkan pedangnya, Ran langsung menutup mata karena mengira akan ditebas.


Srak...


"Eh...?" Ran kembali membuka matanya karena kebingungan, ternyata yang ditebas oleh William bukanlah dirinya melainkan dahan pohon yang menindih Ran.


Ran melirik ke arah William, dan William berkata, "Berdirilah!" Dengan tegas.


"Hah?" Ran kebingungan dengan ucapan William.


Melihat Ran yang bingung, William melanjutkan perkataannya, "Berdirilah agar kamu bisa melawan saya dengan maksimal, saya tidak mau menghabisi seseorang yang berada pada keadaan sulit seperti ini, karena itu adalah tindakan pengecut."


Ran pun langsung buru-buru berdiri mendengar ucapan William, setelah berdiri, ia langsung mundur hingga ke pohon di belakangnya untuk menjaga jarak.


Walau memberikan kesempatan bagi musuhnya, William tidak menunjukkan tanda-tanda lengah sama sekali, ia tetap menghunuskan pedangnya ke arah Ran.


Dengan wajah datar, William berkata, "Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di semak-semak? Apa kamu mencoba menyerang diam-diam? Jika itu memang niatmu, saya sarankan untuk membuangnya, saya sudah sering menghadapi serangan diam-diam."


Ran dengan gelagapan menjawab, "Ma-maaf... A-Aku ti-ti-tidak berniat u-untuk menyerang-rangmu..."


Mendengar jawaban Ran yang kacau, William menjadi sedikit kebingungan.


Ran melanjutkan perkataannya, "Ha-akhu.. Ha-hanya penasaran saja... Ti-tidak ada maksud lebih."


William memasang wajah kebingungan karena ucapan Ran yang kurang jelas, lalu kemudian ia seperti mengingat sesuatu, "Tunggu, sepertinya saya pernah melihatmu? Sebentar..." William tampak mengingat-ngingat sesuatu sejenak.


Ketika William sudah ingat, ia menjentikkan jarinya seolah mendapat pencerahan.


Ctak


"Oh iya, kamu yang dibully oleh pria berbadan besar sebelum ujian itu kan?"


"Eh...?" Ran cukup terkejut mendengar fakta William masih mengingatnya.


William yang awalnya menghunus pedangnya pada Ran, kembali menyarungkannya, lalu menunduk sambil meminta maaf walau entah apa salahnya, "Maafkan saya karena salah sangka, kamu pasti hanya kebetulan disini dan tidak sengaja terkena dahan yang terpotong oleh saya. Saya minta maaf."


William membalikkan badannya setelah meminta maaf dan hendak melangkah pergi.


Ran semakin kebingungan dengan situasi ini, ia pun bertanya kepada William sebelum ia berjalan pergi, "Tu-tunggu, kenapa kau melepaskanku begitu saja? Bu-bukannya kita ini musuh, dan harusnya kau menghabisiku kan?"


William berhenti sejenak, kemudian ia menoleh ke arah Ran dengan wajah yang masih sama datarnya, "Saya memiliki kode etik yang sudah diajarkan sejak kecil, bahwa saya tidak boleh melawan orang yang lemah, karena itu bukanlah pertarungan, tapi hanya sebuah penindasan, itu merupakan tindakan rendah dan menjijikkan. Dan hanya seorang pengecut yang akan melakukan penindasan." William langsung kembali berjalan seolah-olah tidak terjadi apa pun setelah ia mengucapkan kalimat itu.


Ran merinding mendengar perkataan William, Ran sadar bahwa William melepaskannya karena William tidak menganggap Ran sebagai sebagai apa-apa, bagi William, Ran hanyalah orang lemah yang tidak pantas untuk ia kalahkan.


Perasaan Ran menjadi campur aduk mendengar ucapan William, Cih! Entah aku harus senang atau tidak kesal karena dilepas begitu saja.


Begitulah, Ran terduduk lemas tidak berdaya karena merasa tidak dianggap sama sekali oleh William, dan William berjalan pergi meninggalkan Ran.


Tapi... Ran merasakan sesuatu yang aneh, firasat buruk yang sering ia rasakan sebelum ia dibully semasa sekolah. Dan hal berbahaya itu mengarah pada William.


Ran melihat William yang berjalan dengan santai seolah tidak merasakan apa pun, tapi Ran merasakan sesuatu yang aneh datang dari arah timur.


Secara refleks, Ran langsung berlari ke arah William, ia tidak tahu apa yang merasukinya, apa yang membuatnya mencoba menyelamatkan William? Itu pun hal yang ingin diketahui oleh Ran sendiri.


Mendengar langkah berisik Ran, William langsung menoleh, ketika melihat Ran yang berlari ke arahnya, William langsung kesal, ia hendak kembali menarik pedangnya sambil berteriak, "Dasar licik! Kamu pasti mau berbu-" Belum selesai perkataan William, Ran langsung memeluk William dan mendorongnya ke depan.


Disaat itulah, sebuah panah cahaya melintas di belakang mereka.


Syuuttt....


Ran bergidik ketika punggungnya dilewati panah cahaya itu, dan ketika panah itu menyentuh tanah.


Bummm...


Panah itu langsung meledak ketika menyentuh tanah, William dan Ran terlempar akibat ledakannya.

__ADS_1


Mereka berdua terlempar hingga ke rerumputan, disana mereka berdua berguling-guling akibat efek ledakan yang menghantam mereka berdua.


"Hosh... Hosh...." Ran ngos-ngosan dengan posisi masih memeluk William dan masih gemetaran, jika seandainya tadi William terkena serangan itu, dia pasti akan hancur.


Sementara William kebingungan melihat Ran yang ketakutan sampai melupakan dirinya, ia memanggil Ran, "Umm... Tadi itu apa?"


Ran dengan gemetaran menjawab, "A....A...Ku ti...tidak tahu..."


"Kalau begitu bisakah kita berganti posisi dulu? Rasanya posisi ini kurang nyaman."


Ran pun baru sadar jika ia masih memeluk William, ketika ia sadar, ia buru-buru melepaskan pelukannya.


Mereka berdua pun berbicara di balik pohon besar.


William bertanya kepada Ran, "Kenapa tadi kamu menolongku? Sepertinya tidak ada alasan bagimu untuk menolongku kan?"


Ran pun bingung jika ditanya seperti itu secara langsung, ia hanya bisa menjawab, "Entahlah, badanku bereaksi sendiri, mungkin karena kau tadi tidak jadi menghabisiku, atau mungkin karena aku merasa serangan tadi terlalu berbahaya dan bisa membunuh. Jadi tanpa sadar aku menolongmu karena tidak ingin melihat ada yang sampai mati di depan mataku."


William tampak berpikir sejenak, kemudian ia bergumam pelan, "Begitu, jadi itulah kode etikmu yah..."


"Eh? Kenapa?"


"Bukan apa-apa. Jadi, mungkin kita masih belum berkenalan dengan benar sampai sekarang, perkenalkan, aku William Austin." Ucap William sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak bersalaman.


Ran menanggapi perkenalan William dengan menjabat tangannya sambil ikut memperkenalkan dirinya, "Ra-Ran, Ran Corbin."


Sembari berjabat tangan, William menatap mata Ran dalam-dalam, Ran menjadi gugup karena merasa aneh dipelototi oleh William.


William melepaskan jabatan tangannya, kemudian, William mengucapkan sesuatu yang amat mengejutkan bagi Ran, "Nah Ran, maukah kamu bekerja sama denganku?"


"Ehhhh.....?" Ran tentu saja sangat terkejut, tawaran kerja sama dari seorang Hyper sekuat William memang hal yang bagus dan membuat Ran sedikit senang, tapi tetap saja itu adalah hal yang sangat aneh.


Melihat kebingungan di wajah Ran, William bertanya kembali, "Hmm... Kenapa Ran?"


"Ahhh.... I-itu, kenapa kau mau bekerja sama dengan o-orang yang... Sepertiku ini? Ya-yahhh maksudku kan ada banyak orang yang lebih baik dariku bukan? Aku ini kan lemah, bahkan untuk melawan satu orang saja aku harus mengandalkan berbagai macam trik."


Bukkkkk


William langsung memukul punggung Ran, ia dengan muka kesal memarahi Ran, "Percaya dirilah! Kamu itu kuat, jangan merendahkan dirimu sendiri. Buktinya kamu mau menolong saya yang hampir terkena serangan tadi, padahal kamu bisa tinggal pergi saja. Lagipula, rekan yang saya cari adalah orang yang bisa saya percaya, saya tidak peduli dengan rekan yang kuat, bagi saya lebih penting untuk memiliki rekan yang bisa dipercaya."


Ran tersenyum sedikit, sampai saat ini, sulit menemukan orang yang mau mengakuinya. Dan tanpa disangka-sangka, justru orang sekuat William yang menjadi orang pertama disini yang mengakui kemampuannya.


Ran mengangkat kepalanya kembali dengan percaya diri, ia balik menatap William dengan tatapan yang penuh dengan rasa percaya diri.


"Baiklah, mari kita bekerja sama untuk menyingkirkan sniper ini." Ucap Ran dengan penuh percaya diri.


William tersenyum melihat Ran, "Baik, saya harap kita bisa terus bekerja sama hingga ujian ini berakhir."


"Lalu, bagaimana rencana kita sekarang?"


"Mudah saja, kita hanya perlu mencari lokasi sniper itu."


"Bagaimana?"


"Saya! Saya akan bertindak sebagai umpan untuk memancing serangan sniper itu. Sementara kamu Ran, harus mencari lokasi tembaknya."


"A-apa? Apa kau gila? Serangan tadi sudah sangat berbahaya, kau mungkin bisa menahannya, tapi pasti sulit untuk menahannya berkali-kali."


"Karena itulah Ran, kamu harus menemukan lokasi si sniper secepat mungkin."


Glek.


"Apa kamu yakin memberikan tugas sepenting itu padaku? Lebih baik aku yang menjadi umpan, tidak ada jaminan kalau aku bisa mengalahkan sniper itu."


"Tidak apa-apa Ran, saya percaya padamu."


Melihat tatapan yang penuh kepercayaan dari William, Ran akhirnya menyetujui rencana itu, "Baiklah, aku setuju."


"Terimakasih Ran, tapi, jika ada hal yang tidak diperkirakan muncul, lakukanlah...."


.


.


.


Ran dan William sudah siap untuk melakuakan rencana mereka berdua, Ran sudah bersiap berlari ke timur dengan melewati pepohonan dan rerumputan untuk menghindari penglihatan si sniper. Dan William akan maju untuk menarik perhatian sniper di tempat serangan tadi.

__ADS_1


Mereka berdua menatap satu sama lain, lalu kemudian mereka mengangguk untuk memberi tanda. William langsung meloncat ke ruang lapang yang kosong hingga mudah terlihat oleh si sniper, ia menghunuskan pedangnya ke depan dengan posisi kuda-kuda yang kokoh untuk menghadapi serangan yang akan datang. Ia juga sekaligus mengeluarkan auranya lebih tebal lagi agar lebih mencolok.


Ran langsung berlari ke arah timur bersamaan dengan William, 9 detik berlalu, Ran melihat sebuah panah cahaya melesat ke arah William, bagus, aku menuju arah yang benar. Batin Ran.


William melihat panah cahaya itu, ia langsung menangkisnya dengan pedangnya, "Eughhh...." Bahkan bagi William, serangan itu terasa sangat berat. Ia berhasil menahannya, tapi ia sampai terjengkal dari tempatnya. "Fuhhhh... Sepertinya orang ini sangatlah kuat."


William mengatur kembali posisinya, kali ini ada lebih banyak panah yang datang, tahu jika dirinya akan kesulitan, William memilih untuk menghindari semua serangan panah cahaya tersebut.


Sat Set Set


William bergerak zigzag untuk menghindari semua panah cahaya itu, dan terakhir ia melompat tinggi.


Bum Bum Bam


Semua panah cahaya itu mengenai tanah dan meledak, menghancurkan tanah dan pepohonan. Tapi, ketika William sudah merasa menghindari semuanya, satu panah cahaya menyerang dari titik butanya.


Tak bisa menghindar karena berada di udara, William memilih bertahan menggunakan lengannya yang dilapisi oleh armor.


Bum Brak


Panah cahaya meledak di lengan William, ia terlempar jauh hingga menabrak pepohonan, pohon yang ditabrak William menjadi hancur.


Fuhhhh.... Orang ini sangat hebat ternyata, sepertinya ia sengaja mengarahkan saya ke udara, di udara pastinya sulit menghindar, disaat itu ia menyerang dari titik buta


William menganalisis musuhnya, ia sadar bahwa musuhnya bukan orang sembarangan.


Sementara Ran, ia masih terus mengikuti arah panah cahaya itu untuk mencari si sniper, ketika melihat beberapa tembakan panah yang ditembak secara bersamaan, ia menjadi khawatir dengan keadaan William, Sial! Apa William baik-baik saja? Sepertinya sulit untuk bertahan jika diserang secara bersamaan seperti itu.


Tapi Ran mengkesampingkan perasaannya, jika ia memang khawatir dengan keadaan William, hal terbaik yang harus ia lakukan adalah menangkap si sniper secepat mungkin.


Sudah hampir 100 meter Ran lewati, sekarang, Ran sudah bisa melihat asal dari panah cahaya itu. Tembakan itu berasal dari atas pohon raksasa yang disinggahi Ran sebelumnya.


Cukup lucu bagi Ran, Haha, siapa yang sangka? Tempat yang kupakai untuk berlindung malah dipakai musuh untuk mencoba membunuhku.


Dengan hati-hati, Ran berjalan ke samping pohon agar tidak ketahuan. Ia menciptakan dua bilah belati untuk memanjat pohon raksasa tersebut.


Stab Stab Stab


Dengan hati-hati, Ran memanjat pohon tersebut menggunakan dua bilah belatinya.


Setelah Ran memanjat pohon itu secara langsung, ia dapat merasakan betapa besar dan tingginya pohon tersebut. Semakin ia naik ke atas, angin bertiup semakin kencang.


Ketika Ran melirik ke bawah, dasar tanah terasa sangat jauh, padahal ia belum naik terlalu tinggi, itu menyebabkan Ran merasa sangat merinding dan semua bulu kuduknya berdiri, Hiiiiii.... Kalau sampai aku jatuh, pasti aku tidak hanya berteriak "Ah" saja


Perlu waktu yang lumayan lama bagi Ran untuk sampai di salah satu dahan dari pohon raksasa ini. Ketika Ran melihat dahan pohon raksasa tersebut, ia dengan hati-hati, mengintip ke atas untuk memastikan posisi dari si sniper itu.


Ran melihatnya, Sniper itu berada di salah satu dahan yang tidak terlalu jauh dari dahan Ran. Ia memakai tudung hitam yang menyembunyikan penampilannya, ia bersembunyi di antara dedaunan raksasa. Tampak Crossbow yang ia pegang untuk menyerang Ran dan William.


Ran menarik napas dalam-dalam, ia mencoba menenangkan dirinya sebelum menyerang sniper itu.


Ran naik dengan perlahan ke salah satu dahan raksasa yang selebar jalan raya, Ran menyiapkan salah satu belatinya yang akan ia gunakan untuk menyerang si sniper.


Tenang Ran, cukup serang dia agar jatuh saja, jangan sampai membunuhnya, seorang Hyper pasti masih hidup meski jatuh setinggi ini kan? Lagipula dia pasti lebih kuat dariku. Tapi, kalau dia ternyata lebih lemah dariku bagaimana?


Pikiran Ran menjadi kacau karena ragu untuk menyerang musuhnya, ketakutan jika ia sampai membunuh musuhnya itu malah membuatnya menjadi sangat ragu.


Krrtt


Ran mengencangkan pegangan kepada belatinya, tenanglah, pastinya panitia tidak akan membiarkan ada yang sampai mati disini


Ran membidik musuhnya, ia mengincar perut dari si sniper itu agar keseimbangannya goyah dan jatuh.


Ran memasukkan Mana ke dalam belatinya, tetapi, ketika Ran hendak melempar belatinya, si sniper itu mendadak menoleh.


Ran yang kaget membuat bidikannya kacau, bukannya membidik perutnya, ia malah melempar ke kepala.


Tetapi, bukannya menghindar, si sniper itu malah diam saja, belati yang dilempar Ran melesat ke arah orang itu, beruntung bagi ia, belati itu hanya menggores tudung kepalanya saja.


Sreekkk


Serangan belati itu membuat tudungnya sobek dan lepas.


Ran pun bisa melihat sosok yang sangat tidak ia sangka, tapi anehnya, ia tidak terlalu terkejut.


"Kau... Tim!?"


"Halo Ran, kita bertemu lagi yah" Sapa Tim sambil tersenyum yang penuh dengan misteri

__ADS_1


__ADS_2