Sword Ranker

Sword Ranker
New Rival


__ADS_3

Seminggu kembali berlalu.


Ran sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter setelah dinyatakan sembuh tanpa ada komplikasi lain.


Ran merasa sangat senang karena sudah boleh keluar.


Akhirnya bisa keluar juga, aku sudah muak selama seminggu ini karena hanya makan makanan hambar. Pikir Ran sembari melihat langit di pintu keluar rumah sakit.


Ran kembali ke rumahnya menggunakan bus umum, walau tidak nyaman karena lumayan padat, tapi setidaknya ini lebih murah daripada harus naik taksi.


Di perjalanan, Ran memikirkan hal-hal yang harus ia lakukan setelah keluar dari rumah sakit.


Bagaimana keadaan rumah yah? Pasti berantakan sih, ‘orang itu’ mana peduli dengan keadaan rumah, aku sakit saja tidak pernah di jenguk sekali pun. Kemudian sekolah, nilaiku pasti tertinggal jauh, sial! Padahal aku bisa bertahan selama ini karena nilai akademisku lumayan bagus.


2 jam kemudian, Ran turun dari bus di halte terdekat dari rumahnya


“Gila, kenapa mereka membawaku ke rumah sakit yang jauh sih? Padahal ada yang lebih dekat.” Ran sedikit mengumpat karena mengalami perjalanan yang jauh, seluruh tubuhnya merasa sakit dan pegal-pegal karena harus berdiri lumayan lama.


Ran melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki lumayan jauh.


30 menit berlalu, Ran telah berjalan kaki lumayan jauh sejak dari halte bus. Ditambah dengan membawa barang bawaan, Ran merasa sangat lelah.


“Bangke, jauh banget sih, kalau tahu sejauh ini, lebih baik naik taksi saja.”


Ran pun akhirnya memutuskan beristirahat, dia pergi ke supermarket dan membeli sebotol air.


10 menit Ran gunakan untuk istirahat, dan kemudian ia kembali melanjutkan perjalanannya.


20 menit kemudian, Ran sudah sampai di rumahnya.


Yah, masih tetap sama yah, tidak ada yang berubah sedikit pun.


Ran masuk ke dalamnya dengan perlahan, di dalam, ada ayahnya yang terlihat sedang menunggunya. Namun anehnya, tidak ada sebotol bir atau pun puntung rokok di sekitar ayahnya.


Tapi Ran tidak peduli, ia tetap cuek dan pergi masuk ke kamarnya.


Kemudian tanpa disangka-sangka, ayah Ran berbicara “Ka-kamu sudah sehat?” pertanyaan yang singkat dan seperti basa basi, tapi entah mengapa, Ran merasakan sedikit rasa haru.


Tapi karena gengsinya, Ran hanya menjawab ketus. “Apa pedulimu.” Dan langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu.


Ran melempar barang-barangnya dengan sembarangan, kemudian berbaring di ranjang.


Kenapa dengan orang itu? Kenapa dia mendadak peduli, cih, bodo amat.


Pusing karena terus memikirkannya, Ran memutuskan untuk tidur saja.


.


.


.


Keesokan paginya, Ran bersiap untuk ke sekolah, Walau Dokter menyarankannya untuk beristirahat saja, tapi karena Ran tidak ingin absennya semakin parah, dia memutuskan untuk berangkat.


Ia bangun dan bersiap untuk mandi.


Tapi di perjalanannya menuju kamar mandi, Ran tertegun dengan makanan berupa sandwich di meja makan, di samping sandwich terdapat secarik kertas bertuliskan sebuah pesan dari ayahnya.


“Cih, siapa yang peduli.” Ran cuek dan tetap pergi mandi.


Setelah selesai mandi, Ran berganti seragam dan bersiap untuk pergi, tapi kemudian ia teringat dengan sandwich buatan ayahnya. Dan karena merasa sedikit sayang, Ran memutuskan untuk memakannya.


“Yasudahlah, toh sandwich ini tidak salah apa-apa.” Ran mengambil sepotong sandwich dan memakannya dengan pelan.


Ia makan sambil sembari memandangi pesan yang dituliskan oleh ayahnya.


Ran terus berpikir, apakah dia perlu membacanya atau tidak.


Bawa saja dulu, dibaca atau tidak urusan nanti. Ran mengambil surat itu secara kasar dan menaruhnya di sakunya.


Ran menghabiskan makanannya dengan cepat dan bersiap untuk berangkat.


Tapi kemudian ia teringat sesuatu.


“Oh iya! Tasku! Aku lupa jika tasku sudah hilang karena dihajar Michael, cih terpaksa pakai tote bag dulu saja.”


Ran mengambil kantung belanja yang ia dapatkan gratis dari supermarket dan mengisinya dengan beberapa buku catatan serta alat tulis.


Ran pun berangkat ke sekolahnya.


Di perjalanan, Ran melihat Gang dimana ia dihajar oleh Michael, itu membawakan kenangan buruk baginya.


Lewat jalan biasa saja deh, aku takut ketemu mereka lagi.


Ran memutuskan untuk melewati jalan biasa meski itu lebih jauh daripada lewat gang kecil yang biasa ia lewati untuk pergi ke sekolah.


Ketika sampai di gerbang, Ran menghela nafas panjang


“Hahhhhhh, meski sudah berkali-kali ke tempat ini, entah mengapa aku selalu merasa tidak terbiasa.”


Langkah Ran terasa sangat berat, ia selalu dibayang-bayangi ketakutan saat dibully oleh para Hyper lain.


“Tapi yah, kalau kabur bukan berarti masalah selesai kan? Lebih baik hadapi saja sekuat tenaga.”


Ran melangkah masuk ke dalam sekolah, suasana sekolah masih cukup sepi karena ini masih lumayan pagi.


“Huffffff, setidaknya ini lumayan damai.” Ran merasa tenang dan damai dengan suasana ini.


Ran menuju kelasnya, di depan kelas, Ran kembali terdiam sebentar, dia mempersiapkan mentalnya untuk masuk ke dalam kelas.


“Hufffff, tenanglah, tidak usah takut.” Ran berulang kali menenangkan dirinya agar tidak panik.


Dan ketika Ran ingin meraih gagang pintu.


Kriiiiittt.


Pintu kelasnya mendadak ditarik, ada orang yang mau keluar dari kelas.


Ran samar-samar mendengar suara percakapan beberapa orang.


“Mau ke kantin?”


“Tidak usah deh, ke belakang saja buat merokok, Hmm?”


Deg!


Ran langsung tertegun melihat siapa yang mau keluar dari dalam kelas, mereka adalah gangnya Michael.


“Wow, lihat siapa yang datang, Ran.... Bagaimana kabarmu selama ini? Pastinya kau nyaman bukan tidur di rumah sakit? Hehe.”


“....” Ran hanya diam tanpa menanggapi provokasi Michael, ia sedikit melotot untuk memberi tanda agar Michael cepat keluar.


“Hoooo.... Lihat ini, sepertinya berada di rumah sakit cukup lama membuat otakmu rusak yah? Padahal sudah kuperingatkan agar menunduk, atau kau lupa?”


“.....” Ran tetap diam, tapi ia menunduk ke bawah, tidak berani menatap mata Michael lagi.


“Baru nurut kalau sudah diancam? Terserahlah, sini ikut kami.” Michael menarik kerah baju Ran dan menyeretnya mengikutinya.


Ran tidak bisa melawan karena perbedaan kekuatan fisik yang terlalu besar antara ia dan Michael.


“Tunggu Michael, bagaimana jika ketahuan oleh guru?”


“Tenang saja, para guru pasti masih di kantor saat pagi, kalau pun ada, memangnya mereka peduli dengan bocah gagal ini?”


Ran hanya diam dan menuruti Michael yang menariknya ke belakang sekolah.


Brukkk!


Michael dengan kasar melempar Ran ke dinding gedung.


Ran tetap diam sambil menunduk.


Sementara itu, para bawahan Michael memeriksa tas Ran.


“Apa ini? Isinya hanya buku catatan saja? Membosankan sekali, dasar kutu buku”


“Tidak ada uang, tidak ada apa pun yang berharga, bahkan tasnya pun tidak berharga.”


Ran mengepalkan tangannya karena kesal, dia tidak suka dihina terus seperti ini, tapi ia lebih takut jika dihajar oleh mereka.


Michael berdiri di depan Ran, dia mengambil sebatang rokok dan menghisapnya di depan Ran.

__ADS_1


“Fuuuuuu.” Michael menghembuskan asap rokok ke wajah Ran.


“Uhuk, uhuk, hoek.” Ran terbatuk-batuk karena tidak terbiasa dengan asap rokok.


“Batuk? Cuman segitu saja langsung batuk? Lemah banget sih”


“Uhuk uhuk” Ran masih batuk-batuk, matanya sampai berair karena tidak tahan dengan asap rokok.


“Kau tahu, sejujurnya aku masih kesal, orang selemah dirimu kenapa berani menantangku sih? Orang-orang seperti kalian, selalu saja berharap keajaiban jika berusaha keras. Apa kau tahu? setiap orang punya takdir yang telah ditentukan sejak lahir, jika kau sudah dari awal ditakdirkan menjadi pecundang, bersikaplah seperti pecundang, jangan terus berusaha keras dengan mengharapkan keajaiban, aku sudah muak melihat pemandangan menjijikkan itu tahu.”


“....”


“Pfft, sekarang kau tidak berani menjawab yah, bagus-bagus, harusnya seperti itu saja dari awal, kan kalo seperti ini kita sama-sama enak kan? Lagipula dari awal aku tidak berniat melakukan apa pun padamu, aku sudah kasihan karena kau sampai di rawat di rumah sakit karena kejadian yang lalu.”


“....” Ran hanya diam, tapi dalam hatinya, dia merasa sedikir bersyukur.


Syukurlah, setidaknya aku bisa lepas kali ini.


“Tapi yahhhhhhhh, pikiranku sedikit berubah.”


“Eh?” Ran menanggapi perkataan Michael secara Refleks karena kaget.


“Awalnya sih, aku mau membiarkanmu saja, tapi ketika melihatmu kurang ajar pada pagi ini, membuatku berubah pikiran.”


Cih! Bilang saja dari awal, kenapa sok simpati seperti itu? Dia mau mengejekku yah? Ran merasa sangat geram di dalam hatinya, dia menggigit bibirnya hingga hampir berdarah.


Smirk.


Michael sedikit tersenyum.


“Hoi Bardolf, kemari sini.”


“Ah iya, ada apa Michael.”


“Sama seperti sebelumnya, berikan pendidikan kepada kawan kecil kita ini, sepertinya pendidikan yang kau berikan sebelumnya masih kurang efektif.”


“Haha siap.”


“Baguslah, oi kalian! Mari kita pergi ke kantin saja, tadi itu batang terakhirku.” Michael dan gangnya pergi meninggalkan Ran dan Bardolf.


Ran dan Bardolf saling bertatapan.


Suasana diantara mereka sangat sunyi, tidak ada yang mau membuka percakapan.


Hingga kemudian, ketika Michael dan Gangnya sudah pergi jauh. Bardolf menyodorkan sesuatu kepada Ran.


“Ini tisu, pakailah untuk mengelap wajahmu, itu sedikit kotor.”


“Eh?” Ran kebingungan dengan perlakuan Bardolf.


“Pakai saja, maaf jika kau tersinggung, tapi aku tidak tahan melihat ingusmu itu.”


“Oh, i-iya, terimakasih.” Ran mengambil tisu yang diberikan Bardolf dan mengelap ingus serta air matanya.


Bardolf hanya menatapnya dengan mata sipitnya serta ekspresi datar.


Kenapa orang ini? Apa yang ia rencanakan?


Tepat setelah Ran memikirkan hal-hal buruk tentang Bardolf, Bardolf mencoba mengatakan sesuatu.


“A-anu..... Ran, ada yang mau kukatakan...”


Bardolf berkata dengan sedikit tergagap dan terlihat malu-malu.


“Hah?” Ran melongo melihatnya.


“Ja-jadi yang mau kukatakan adalahhhhhhh....”


“A-Apa?”


“Ini lumayan sulit untuk dikatakan.” Bardolf terlihat sangat malu, bahkan wajahnya menjadi merah dan pandangannya menjadi tidak fokus. Ia banyak melihat sekeliling sambil menggaruk rambutnya.


“Tentang apa?”


“Maaf.” Bardolf mengucapkan kata itu sambil tertunduk.


“Hah? Ada apa? Kenapa mendadak minta maaf.”


“....” Ran tidak bisa berkata-kata ketika mendengarnya.


“Beberapa minggu sebelumnya, aku sudah mengatakan kata-kata yang kejam tentang ibumu, tapi kau masih mau menolongku.”


“....” Ran mulai paham kemana arah pembicaraan ini.


“Sebelumnya aku merasa sangat marah ketika terbangun di toilet, aku mengira kau mau mengejekku, tapi kemudian aku baru tahu jika terjadi Gate Break pada saat itu. Dan yang kau lakukan itu demi menolongku. Jadi aku ingin berterima kasih sekaligus minta maaf kepadamu.”


“Ya-yah itu bukan apa-apa” Ran ikut merasa malu mendengar ucapan terima kasih dan maaf dari Bardolf, ia memegang lehernya karena gelisah.


“I-itu bukan hal kecil, aku mendengarnya di rumah sakit, katanya kau dirawat karena diserang Monster kan? Itu pasti karena kau menolongku, sehingga kau melewatkan waktu untuk evakuasi.”


“Tidak apa-apa, lagipula aku mendapat sesuatu yang berharga.”


“Be-begitukah? Yah tapi aku tetap perlu minta maaf, setelah tahu kau dirawat karena diserang Monster, aku selalu berpikir itu salahku. Aku takut jika kau sampai mati, karena itu sama saja dengan aku yang membunuhmu.”


“Yah sama sepertimu, aku juga merasa sangat bersalah jika meninggalkanmu, makanya aku menolongmu.”


“Haha, begitukah? Kau sedikit aneh apa kau tahu? Padahal kau bisa saja meminta orang lain untuk mengevakuasiku, tapi kau malah memutuskan untuk menolongku seorang diri.”


“Yah kemampuan sosialku cukup buruk, tidak banyak orang yang kukenal dengan dekat.”


“Hahahahaha, begitu yah? Kalau begitu, sekarang tidak ada dendam lagi kan?” Bardolf menjulurkan tangannya untuk mengajak Ran berjabat tangan.


Ran menanggapi dan menjabat tangan Bardolf


"Tentu saja lagipula tidak baik untuk terus membuat musuh.”


Mereka berdua saling tersenyum.


“Tapi maaf yah, aku tetap tidak bisa menentang perintah Michael.”


“Hoooooo.”


Sepatah kata dari Bardolf kembali membuat suasana tegang, mereka berdua tersenyum sambil memperkuat jabat tangan mereka.


“Sialan! Katanya mau damai, tapi malah nurutin perintah Michael, dasar tidak konsisten.”


“Woi berisik lah! Bisa mampus aku jika menolak perintah Michael.”


“Ngajak ribut yah? Sini kau!”


“Kau yang sini!”


Keduanya saling menantang satu sama lain untuk maju, tapi tidak ada satu pun yang memulai serangan pertama. Hingga....


Buk! Buk!


Keduanya melepaskan jabat tangan dan memukul satu sama lain secara bersamaan.


Keduanya terdiam di posisi yang sama selama beberapa detik. Hingga kemudian mereka langsung mundur menjauh.


Bardolf mundur hingga ke pagar kawat, sedangkan Ran mundur hingga terpojok ke dinding.


“Haha! Kondisiku sekarang lebih bagus, menyerahlah Ran!”


“Jangan terlalu pede, maju saja jika percaya diri.”


“Ok, siapa yang takut. Hiyyaaa.” Bardolf melompat sambil menendang ke arah Ran.


Ran hanya diam di posisinya, seperti menunggu timing.


Ketika Bardolf sudah tepat di hadapannya, Ran langsung meluncur ke arah bawah untuk menghindari tendangan Bardolf.


Bardolf yang tengah di udara, tidak bisa merubah arah dan terpaksa menendang dinding.


“Awwwww, ***! Sakit banget!” Bardolf terjatuh ke tanah dan meringis.


Ran tidak membuang kesempatan, ia menarik kerah Bardolf dan mengangkatnya.


“Hoi! Mau ngapain kau?”


“Mau buang sampah pada tempatnya”

__ADS_1


Bruak!


Ran melempar Bardolf ke arah tong sampah terdekat, Bardolf langsung terbaring sambil dikelilingi oleh sampah.


“Hahaha, rasakan itu!”


Plak!


Belum selesai tawa Ran, Bardolf langsung melempar kulit pisang ke arah wajahnya.


“Uwekkk, jijik.” Ran buru-buru melepaskan kulit pisang dari wajahnya.


Ran tidak bisa melihat sementara karena kulit pisang itu, Bardolf memanfaatkannya. Ia mengambil tong sampah, kemudian melemparkannya ke arah Ran.


Tongggg!


Kepala Ran terkena langsung lemparan tempat sampah Bardolf. Ia merasa pusing karena terkena langsung di kepala.


“Awww, sakit woi!”


“Ini belum selesai!” Bardolf langsung berlari ke arah Ran sambil membawa tutup tempat sampah.


Bardolf memegang tutup tempat sampah itu seperti perisai dan langsung ia arahkan ke wajah Ran.


“Hiahhhh!!” Bardolf berteriak bagai prajurit di medan perang.


Donggg!


Wajah Ran terpukul keras hingga terdengar suara kencang.


Ran sedikit terhuyung dan berputar-putar karena pusing.


“Ughhh, tunggu, kenapa dunia berputar-putar? Ho-Hoekk” Ran sedikit muntah karena pusing.


“Pfffttt, hahahahaha, lihat itu! Aku sudah membalasmu atas perilakumu kemarin!”


“Ughhh... dasar bocah curang.” Ran diam-diam mengambil tempat sampah yang sebelumnya di lempar Bardolf.


Ran mengambil kesempatan di saat Bardolf lengah karena kemenangan semunya.


“Hahahha, tunduklah padaku!”


“Wahhh, haha, hebat sekali yah.”


“Tentu saja, apa kau baru sadar hah?” Bardolf dengan sombong membusungkan dadanya.


“Kalau begitu....”


“Apa?”


“Terimalah ini!” Ran langsung memutar tong sampah yang ia pegang dan memukul wajah Bardolf dengan sekuat tenaga menggunakan tempat sampah.


“Akhhh!” Bardolf terlempar sedikit.


“Pfft, cuman segitu saja tuh?”


“Ughhh, hi-hidungku! Pa-patah! Dasar curang, tidak boleh menyerang diam-diam!”


“Oh yah? Kenapa tidak bilang begitu saja sekalian ke para Monster itu, seperti ‘Hei! Tidak boleh menyerang dunia orang, kalian harus sopan’ Begitukah?”


“Begitu hah? Kemari kau, akan kutunjukkan pertarungan yang benar!” Bardolf langsung melompat ke arah Ran.


Ran tidak sempat menghindar, kerahnya keburu ditarik oleh Bardolf.


“Sekarang kau tidak bisa melarikan diri!”


Buk!


“Aw!” Ran mengaduh kesakitan saat dipukul oleh Bardolf.


“Haha gimana? Setelah kalah darimu, aku latihan mati-matian tahu!”


“Begitu hah?”


Buk!


“Akhh” Sekarang gantian Bardolf yang kesakitan setelah wajahnya dipukul.


“Sepertinya latihanmu masih kurang.”


“Mari kita buktikan.


Buk! Buk!


.


.


.


.


“Hosh... Hosh... me-menyerahlah”


“Tidak akan! Aku tidak mau kalah dari Hyper sepertimu. Hosh... Hosh...”


Bardolf dan Ran sudah kelelahan setelah saling memukul selama beberapa menit, mereka berdua mulai ngos-ngosan karena capek dan sakit.


“Eughhhhh... Baiklah, aku yang nyerah saja, aku sudah tidak kuat lagi.” Bardolf memilih untuk menyerah, dia melonggarkan cengkramannya pada kerah Ran


“Ha-harusnya begitu dari awal.”


Bardolf langsung berbaring lemah karena kelelahan.


“Wu-Wuhuuu.” Ran menyusul tidak lama kemudian.


Sekarang mereka berdua sama-sama kelelahan setelah bertarung.


“Hosh... Hosh... Hosh... kau benar-benar bertambah kuat yah.”


“Te-tentu saja setelah kalah darimu, aku latihan fisik seperti orang gila.”


“Haha, kau benar-benar gila yah.”


Mereka berdua berhenti berbicara, keduanya tersenyum masam, lalu kemudian mereka berdua tertawa bersama.


“Ahhahahahahahhaha.....”


“Aehhehehehehehehehe.....”


“Ya ampun, ternyata kau tidak begitu buruk huh.”


“Haha yeah, sejujurnya aku tidak begitu suka membully.”


“Lalu kenapa melakukannya?”


“Tentu saja untuk bisa diterima, kau kan tahu, Hyper seperti kita ini sangat menjunjung tinggi kekuatan, orang lemah tidak diterima disini.”


“Yeah, alasan yang masuk akal bung."


Mereka kembali terdiam, Ran memikirkan kata-kata Bardolf dalam-dalam.


“Omong-omong, apa kau siap dengan ujian hari ini?”


“Hah apa? Ujian apa?”


“Tentu saja ujian kelulusan.”


“Apa? Tunggu, bukannya ujian kelulusan diadakan pada bulan Mei? Ini masih januari.”


“Ini sudah Februari bung, lebih tepatnya sekarang tanggal 5 Februari.”


“Tapi tetap saja, terlalu cepat 3 bulan dengan tanggal aslinya.”


“Kau belum tahu? Ujian kelulusan dipercepat, karena kekurangan Ranker. Beberapa minggu lalu, ada Gate besar yang mengeluarkan banyak Monster kelas S, ada banyak korban di pihak Ranker. Karena itu ujiannya dipercepat untuk mendapatkan personil tambahan, sekarang hari ujian ke-3, sebelumnya ujian tertulis, dan hari ini ujian tertulis terakhir dan kemudian ujian fisik, baru besoknya ujian Skill.”


“Ah sial! Aku tidak tahu tentang hal ini.”


“Tidak ada yang memberitahumu?”


“Tidak, karena tidak ada yang mau repot-repot memberitahuku, bahkan guru sekali pun.”

__ADS_1


“Ow, aku turut prihatin”


__ADS_2