
Zrssssss....
Hujan deras terus mengguyur tanah, pohon, dedaunan, rerumputan dan bunga-bunga tidak luput sedikit pun dari derasnya hujan
Di bawah pohon raksasa, ada Ran yang berlindung dari hujan. Ia cukup beruntung menemukan pohon raksasa ini, dahan-dahannya yang besar dan kuat, berhasil melindungi Ran dari derasnya hujan.
Ran mendekap kakinya sembari bersembunyi di antara akar-akar raksasa, sebisa mungkin ia menghangatkan tubuhnya.
Dingin... Lapar juga, kalau tahu akan begini, harusnya aku memakai pakaian yang lebih tebal. Sebenarnya ini dimana? Rasanya seperti di hutan biasa, tapi entah kenapa ada yang aneh dari tempat ini
Ran melihat sekelilingnya, mencoba mencari sesuatu yang bisa dimakan. Kemudian ia melihat sesuatu yang bulat dan berwarna merah diantara akar dan tanah. Ran mengambilnya.
Itu adalah sebuah apel, tampak sangat ranum dan menggoda, tanpa pikir panjang Ran langsung memakannya, "Enak.." Ucap Ran secara refleks.
Ran terus memakan apel itu hingga habis, tidak cukup mengenyangkan, tapi setidaknya Ran tidak selapar tadi.
Ran meluruskan kakinya yang sudah terasa pegal, ia menatap lurus ke atas, ke tempat daun-daun dan ranting-ranting raksasa yang melindunginya dari hujan.
Dan tanpa sadar, Ran menutup matanya, rasa lelahnya berhasil mengalahkan rasa laparnya.
Tidak butuh waktu lama hingga Ran akhirnya tertidur...
-Beberapa jam kemudian.
"Ughhh.... Kepalaku pusing..." Ran bangun sambil menguap, ia menggaruk-garuk kepalanya.
Ran masih setengah sadar, ia tidak sadar tentang betapa fatalnya hal yang sudah ia lakukan. Perlu beberapa menit hingga Ran sadar sepenuhnya.
"Eh? Ehhhh.....!?" Ran langsung berdiri karena panik ia memasang posisi kuda-kuda secara sembarangan sambil menengok kanan-kiri untuk memeriksa sekitar.
Suasana masih gelap, tapi hujan tadi meninggalkan jejaknya dengan jelas, tanah di sekitar basah, tempat ketiduran pun tidak luput dari air, pakaian yang Ran kenakan pun jadi ikut basah dan lembab.
Jantung Ran berdebar kencang, adrenalinnya naik secara drastis, ia belum bisa tenang hingga selesai memastikan keadaan benar-benar aman.
Setelah sedikit tenang, Ran langsung terduduk lemas, "Hahhhhh..... Sial, ceroboh sekali aku ini, bisa-bisanya ketiduran karena lelah sedikit. Aku cukup beruntung kali ini, tidak ada yang menyerangku saat sedang tidur. Tapi mungkin berikutnya aku tidak akan seberuntung ini."
Setelah pikirannya jernih, Ran berdiri dan berjalan pergi, ia sadar, saat ini ia sendirian, ia tidak akan bisa mempertahankan satu wilayah. Sehingga, satu-satunya pilihan yang bisa diambil oleh Ran adalah terus berjalan menghindari Hyper lain.
Sambil berjalan, Ran mengecek keadaan vitalnya di gelang yang ia kenakan. Terlihat bahwa HP-nya yang sebelumnya turun drastis ke angka 100, perlahan pulih ke angka 200.
HP yang tertulis di gelang Ran, memiliki konsep yang sama dengan HP pada karakter video game, ini diibaratkan seperti nyawa yang dimiliki para peserta.
Tapi, HP disini sudah disetel agar habis pada kondisi masih hidup, dan tidak sampai sekarat juga agar nyawa para peserta tidak dalam bahaya. Jika HP sudah habis, para peserta akan terkirim secara otomatis ke 'Ruang Tunggu' Bagi peserta yang kalah.
Tidak penuh, tapi setidaknya ada kenaikan.
Ran berjalan tanpa arah, dia tidak memiliki tujuan yang jelas, sebisa mungkin ia ingin menghindari peserta lain dan bertahan tanpa bertarung.
Deg
Tiba-tiba Ran merasakan sebuah tekanan yang kuat.
Bummm....
Ledakan yang besar menyusul tepat setelah tekanan itu muncul, Ran merasa daerah di sekitarnya bergoyang, daun-daun berjatuhan akibat ledakan tersebut.
Ledakan itu tidak jauh dari tempat Ran, hanya beberapa puluh meter saja.
Secara insting, Ran tahu dia harus kabur menghindari tempat terjadinya ledakan tersebut.
Tetapi, satu nama muncul ketika Ran pertama kali merasakan tekanan itu.
"William Austin!" Tekanan yang sebelumnya muncul sangat mirip dengan tekanan yang Ran rasakan ketika bertemu dengan William Austin.
Tekanan yang sangat mendominasi, sekaligus memberikan rasa kagum.
Ran ingin kabur, tapi rasa penasarannya setelah mendengar cerita Tim, mengalahkan rasa takutnya, "Aku penasaran, seberapa kuatnya Hyper yang bisa mengalahkan Ranker itu."
Tap... Tap... Tap...
Ran pun dengan nekat menuju tempat ledakan tadi, ia menembus dedaunan rimbun untuk menuju tempat itu.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama untuk Ran untuk sampai, dan semakin ia mendekat, tekanan di sekitarnya terasa makin kuat. Ran merasa merinding semakin ia mendekati tempat William, ia semakin memperlambat jalannya agar bisa berhati-hati.
Kemudian, sampailah Ran ke tempat William Austin, Ran sengaja berada di berada lumayan jauh dari area pertarungan agar William tidak sadar. Ia mengintip sedikit sambil jongkok.
Disana, William dikelilingi oleh banyak orang, setidaknya ada 7 orang dan mereka semua tidak lemah, setidaknya dari tekanan yang mereka keluarkan, mereka kurang lebih setara Rocky.
Masing-masing dari mereka membawa senjata, ada yang membawa bola besi berduri yang diikat dengan rantai, ada yang membawa tonfa, ada yang membawa tombak, ada yang membawa pistol, dan bahkan ada yang membawa pedang.
Mereka yang mengelilingi William tampak kelelahan, sementara William masih tampak baik-baik saja.
Kali ini, tidak hanya tangan kanan William saja yang dibalut oleh armor besi, tapi tangan kirinya juga dibalut oleh armor besi yang tampak serasi. Ran pun juga sadar bahwa kedua kaki William juga dibalut oleh armor besi walau hanya semata kaki.
Ran juga menyadari sesuatu, area pertarungan William bukanlah tempat yang terbentuk alami, terlihat ada sisa-sisa dari akar pohon, bunga-bunga dan rerumputan yang sudah hancur di tempat itu.
Dan tepat di hadapan William, dalam satu garis lurus yang besar, tanah di depannya terkikis panjang, begitu juga dengan pohon-pohon, rerumputan dan bunga-bunga yang berada dalam satu garis lurus, semuanya hancur tak bersisa, seolah-olah ada balok silinder raksasa yang dijatuhkan dari langit dan didorong lurus ke depan. Terlihat bercak darah mengotori tanah.
"Dasar monster! Bagaimana bisa seorang Hyper memiliki kekuatan sebesar itu!?"
"Sial, sudah kubilang ini ide buruk untuk menyerang William."
Beberapa orang yang mengelilingi William, berteriak ketakutan, mereka tampak sudah kehilangan semangat bertarung mereka. Sedangkan sisanya, menggantungkan harapan terakhir mereka dengan susah payah.
"Hahhh..... Dasar, memang seperti rumor yah, wahhh~ Sulit nih. Tapi, kalo menyerah disini memalukan juga kan?" Seorang pria yang membawa tonfa, sudah terlihat frustasi, tapi sekaligus tidak mau menyerah.
Si pemegang Tonfa memberikan aba-aba pada teman-temannya, "Bersiaplah kawan!" Ia memasang posisi siap menyerang, kawan-kawannya mengikuti dia.
William juga ikut memasang kuda-kuda.
Si pemegang Tonfa memutar-mutar Tonfanya, ia berbicara kepada William, "Hei William Austin, aku dengar kau dibesarkan di lingkungan mewah kan?"
William hanya diam tanpa memberikan jawaban, tapi sekilas dahinya berkedut menunjukkan tanda ketidaksukaan.
Si pemegang Tonfa kembali berbicara, "Kau mungkin tidak tahu, tapi Tonfa yang kugunakan ini bukan senjata sembarangan, ini adalah senjata yang dibuat oleh Blacksmith hebat yang biasa menjual senjata untuk Ranker liar, ya, tentu saja Hyper seperti kami juga bisa membelinya."
"Apa yang mau anda katakan?" Untuk pertama kalinya, William merespon perkataan mereka.
"Akhirnya kau berbicara yah, kukira kau ini robot, simpel saja yang mau kukatakan, jadi intinya, senjata ini tidak mudah hancur loh!" Setelah menyelesaikan kalimatnya, si pemegang Tonfa itu langsung melesat ke arah William.
Tanah yang ia jadikan pendorong langsung retak, dalam sekejap ia sampai di hadapan William.
William langsung melayangkan tinjunya, si pria Tonfa menghindarinya hanya dengan menggeser sedikit kepalanya.
Bum...
Pukulan William menciptakan ledakan.
Si pria tonfa mengabaikan itu dan menyerang wajah William menggunakan bagian pendek dari tonfanya.
William mengatur jarak yang diperlukan untuk menghindari serangan tonfa itu. Tapi kemudian, si pria tonfa memutar tonfanya, bagian panjang dari tonfa tersebut, memukul leher William dengan keras.
"Ukh.." William kehilangan keseimbangan, ia terhuyung ke samping, dan ketika itu pula, salah satu dari kawanan mereka tergerak.
Prak...
Salah satu rekan mereka yang memegang tombak panjang yang berasal dari China, yang bernama Guan Dao, menyerang pergelangan tangan William.
Tombak itu tertancap di armor besi yang menyelimuti William, ia tampak sedikit meringis ketika terkena serangan itu.
William langsung menarik tangannya yang tertancap tombak, tapi si pemegang tombak malah melepaskan tombaknya dengan sukarela.
"Naikkan 500 Kilogram!" Si pemegang tombak berteriak.
Sekejap kemudian, tangan kanan William langsung terasa berat.
Bruk...
Setengah badan William ambruk di tanah karena beban berat di lengan kanannya.
Si pemegang Tonfa di hadapan William tersenyum sinis, "Heh! Kaget yah? Itu kemampuan rekan kami, dia dapat mengubah berat benda yang sudah ia sentuh."
"Lalu kenapa? Saya tidak akan kalah hanya karena ini." William dengan percaya diri, mengayunkan lengan kanannya ke arah pria di hadapannya.
__ADS_1
Tetapi, gerakannya menjadi sangat lamban. Pria di hadapannya menghindari serangan William dengan santai.
Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!
Si pemegang tonfa menyerang William tanpa ampun memakai tonfanya. Ia menyerang secara acak, bahkan ia sering mengubah arah serangannya.
William semakin kesulitan menghindarinya karena beban di lengan kanannya.
"Cih!" William mendecakkan lidahnya sambil bertahan dengan tangan kirinya.
"Wahahahaha! Tidak kusangka-sangka, akan tiba hari dimana aku bisa menghajar William Austin yang sangat terkenal! Hei kawan-kawan, jangan diam saja, dia sudah tidak bisa apa-apa lagi!" Teriak si pria Tonfa.
Teman-temannya langsung tergerak melihat William yang hanya bisa bertahan, setengah dari mereka yang memakai senjata jarak dekat, maju ke arah William, sedangkan yang memakai senjata jarak jauh, langsung membidik dengan seluruh kekuatan mereka.
Dalam situasi ini, William mengambil keputusan, "Sebisa mungkin saya tidak mau menggunakannya, tapi situasi ini sulit ditangani jika tidak serius." Bisik William pelan.
Dalam posisi bertahan, William membuka telapak tangannya, kemudian ia berbisik dengan sangat pelan, "Muncullah, wahai pedangku..."
Sringgg....
Kilatan cahaya muncul dari pinggang bagian kanan William, cahaya itu membentuk sebuah pedang panjang.
Para Hyper yang menyerang dari jauh, memperingati mereka yang menyerang secara jarak dekat, "Hei hati-hati, dia berniat melakukan sesuatu!"
Tapi, mereka mengacuhkan peringatan itu dan maju dengan penuh nafsu, "Berisik! Dia akan tamat jika kita serang bersamaan, fokuslah untuk menyerang!"
Tepat saat semuanya hampir menyerang William, sebuah pedang berwarna perak muncul di pinggang William.
Dengan tangan kanannya, William langsung menarik pedang itu dari pinggangnya dengan kecepatan yang melampaui kecepatan menyerang lawannya.
Hanya dengan satu tangan, William menebas sekelilingnya membentuk lingkaran.
Crattt... Srakkk...
Dengan satu tebasan itu, semua lawan William langsung terluka, tidak hanya mereka, pohon-pohon yang masuk dalam radius serangannya, juga ikut terpotong hingga tumbang.
"Uhok..."
Baik yang dekat mau pun yang jauh, semua lawannya terkena serangan, senjata mereka rusak, darah keluar dari dada dan mulut mereka. Dan tanpa bisa berkata apa pun, mereka langsung kehilangan kesadaran karena HP mereka yang langsung habis sekaligus.
Ran menatap takjub sekaligus takut melihat kekuatan luar biasa yang ditunjukkan oleh William.
Satu tebasan yang dikeluarkan William, mampu mengeliminasi semua musuhnya dengan instan tanpa kesulitan.
Akibatnya, Ran tidak sadar dengan pohon di sekitarnya yang juga ikut tertebas oleh William hingga patah.
Krek
Suara dahan pohon yang patah muncul dari atas Ran, tapi Ran tidak menyadari hal itu karena sibuk mengagumi William.
Krrrkkk...
Dahan itu semakin patah dan sudah hampir jatuh ke atas Ran. Tapi Ran masih tetap tidak sadar dengan bahaya di atasnya itu.
Krak... Bruakk
"Akhhh..." Dahan itu akhirnya patah dan jatuh di atas Ran, Ran lumayan kesakitan karena dahan itu jatuh tepat di atas punggungnya.
Suara teriakan Ran terdengar oleh William, dengan gerakan yang sangat cepat, ia melesat ke tempat Ran.
Srakkk...
Ran masih kesakitan dan tidak bisa bangun, Ukhhh.... Sial, bisa-bisanya aku tidak sadar ada dahan yang jatuh
Ran mencoba berdiri perlahan, tetapi, ketika ia melihat ke depan, tampak sebuah kaki berlapiskan armor besi yang mengkilap.
Deg
Ran tahu siapa pemilik kaki itu, dan ketika ia melihat ke atas, tampak sebuah pedang perak dengan ukiran-ukiran indah yang mengkilap dihunuskan ke atas kepalanya, dan William memegang pedang itu dengan tatapan dingin yang menusuk.
Ah.... Habislah aku Pikir Ran sambil meratapi nasibnya
__ADS_1