Sword Ranker

Sword Ranker
Intelligence VS Instinct


__ADS_3

"Mode berserker? Apa itu?" Tanya Ran kepada Tim yang sedang kepayahan untuk berbicara.


"Hoshh... Hosh... Uhukk... Mo..de berserker itu... Aku kurang tahu detailnya juga, hahhh... Hahhh...


Dari yang kudengar, itu adalah kondisi hilangnya kesadaran, uhuk! Pada mode itu, kesadarannya akan hilang dan membuatnya menjadi binatang buas, hoshh... Tapi sebagai gantinya, semua kekuatannya menjadi berlipat ganda." Jelas Tim dengan kesusahan.


"Apa-apaan itu? Aku baru mendengarnya, tapi jika benar, itu menjelaskan aura tidak mengenakkan yang terus dipancarkan oleh William."


"Da-Dari yang ku...dengar, Aldrich Austin yang pertama mengalami mode ini, ia mengamuk melawan monster dari gate terbesar, dan akhirnya juga kehilangan nyawanya sendiri."


"Apa!? Kalau begitu bagaimana cara mengatasinya?"


"Entahlah, aku pun tidak tahu."


"Hoi!!! Jangan bercanda, dia sekarang semakin mendekat." Ran panik melihat William yang mendekat dengan ekspresi buas.


"Bah, bocah sialan, sekarang kau merengek meminta bantuan padaku? Jangan melucu, lagipula aku tidak berniat mati disini, aku tidak akan mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh tuanku. Camkan ini, akan kuhabisi dia dan kubawa kau ke tuanku, hoshhh... Hoshhh..." Ucap Tim dengan marah.


Tim pun berdiri dengan sempoyongan, ia terluka sangat parah karena serangan William, tampak jelas darah menetes dari perutnya.


"Ahhhh..... Menyebalkan! Aku tidak mau harus buang-buang energi, tapi kalo seperti ini, biarkan saja deh. Sekalian aku habiskan semua energi yang kudapat dari kalian." Tim mengucapkan kata-kata yang tidak bisa dimengerti sambil berdiri sempoyongan.


William yang merasa terancam, langsung melesat dengan sangat cepat untuk menyerang Tim.


Bummm....


William menyerang Tim dengan pedangnya, dengan sigap, Tim menahan pedang Ran dengan sesuatu, sesuatu yang sangat kuat hingga mampu menahan William di tempat.


Tabir asap terbentuk ketika serangan William ditahan, menutupi benda yang dipakai oleh Tim.


Ran terlempar akibat gelombang serangan William, ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dipakai oleh Tim.


"Ternyata kuat juga yah..." Ucap Tim sambil menahan serangan William.


Ketika asap mulai menghilang, terlihatlah benda yang dipakai oleh Tim, dan itu adalah...


Pergelangan tangannya sendiri.


Apa-apaan itu? Padahal tadi dia terpental terkena serangan William, bagaimana bisa sekarang ia menahannya seperti bukan apa-apa?


Ran sangat terkejut melihat pemandangan ini, pedang William sama sekali tidak bisa melukai tangan Tim, bahkan menggoresnya pun tidak.


"Grrrrr...." William menggeram, kesal karena serangannya ditahan.


"Masih terlalu awal untuk terkejut, aku masih punya banyak hal yang akan kutunjukkan." Ucap Tim memprovokasi


Dengan satu lengannya itu, Tim menekan pedang William mundur ke belakang.


"Khekkkk.... Grrrr...."


"Hmmmppp..."


Dengan gerakan sederhana, Tim mendorong William dengan sangat kuat.


Bhuakkk... Krrkkk


William yang tidak bisa bertahan, terlempar jauh ke belakang, menabrak pepohonan dan bebatuan hingga hancur.


Tanpa memberikan jeda, Tim merangsek maju ke tempat William. William yang merasakan bahaya, hendak berdiri, tapi Tim menginjak tubuh William, mencegahnya bangun.


"Hmmmppp.." Tim mengambil napas dalam-dalam.


Tanpa berbelas kasih, ia meninju William dengan bertubi-tubi.


Bak Buk Bak Buk Bak Buk Bak Buk Bak Buk Bhak

__ADS_1


Tanpa bisa bangun, William hanya bisa bertahan di tempat, sementara Tim memukulnya dengan sangat brutal.


Tanah di sekitar William, hancur hingga membentuk kubangan besar, tapi Tim tidak berhenti.


Krrrttt


William menggenggam erat pedangnya, energinya berkumpul di pedangnya itu, ia berniat menyerang Tim dengan posisi yang sulit.


Zungggg...


Energi hitam kemerahan berkumpul di pedang William, tapi walau sadar dengan hal itu, Tim tidak menghentikan serangannya ke William. Seolah-olah tidak takut sama sekali dengan serangan itu.


Sranggg... Bummmm...


William mengayunkan pedangnya ke arah Tim, kilatan hitam kemerahan muncul hingga membelah pepohonan di depannya. Tapi, Tim sama sekali tak terluka, ia hanya menahan pedang William dengan satu tangannya saja.


Ba-bagaimana bisa? Dia sama sekali tak terluka setelah serangan brutal itu. Ran bertanya-tanya dalam hatinya.


Lalu kemudian Ran menyadari sesuatu, seluruh tubuh Tim, terselimuti oleh suatu selaput berwarna bening. Dan walau samar-samar, Ran merasakan energi yang familiar dari selaput bening itu.


Mu-mustahil, ba-bagaimana bisa? Kekuatanku, terasa dari selaput bening itu.


"Kkkhhhkk... Gggggrrrr..." William mencoba melepaskan diri dari Tim. Tapi percuma, justru Tim makin keras menginjaknya.


"Bagaimana bocah? Bagaimana rasanya diserang dan ditahan dengan kekuatanmu sendiri. Dan harus kuakui, kekuatanmu sangat luar biasa, tidak percuma aku menyerap kekuatanmu tadi."


A-apa? Menyerap kekuatan katanya? Ja-jangan-jangan, kekuatannya itu adalah....


[Kemampuan khusus Tim: Stealing.


Kemampuan milik Tim ini, bisa mencuri energi dari seseorang dan menjadikannya sebagai miliknya. Tapi ia tidak bisa mencuri kemampuan khusus orang lain, hanya energi dan staminanya saja]


"Kau memang luar biasa William, tapi juga menyedihkan, karena disini kau akan dihancurkan oleh kekuatan milikmu sendiri." Tim berkata sambil memfokuskan seluruh kekuatannya pada tinjunya.


"Akhhhh...." William memberontak, tapi Tim menginjak lehernya.


"Terimalah!" Tinju Tim melesat ke wajah William.


William memberontak sekuat tenaga untuk lepas dari Tim.


Lalu kemudian, di detik-detik terakhir, ketika wajah William hampir terkena tinju dari Tim, William memberontak sekuat tenaga untuk melepaskan seluruh kekuatannya.


"Grahhhhhhhhhh!!!!" William mengaum bagaikan binatang buas.


ZNGGGGGGGG


Aura hitam kemerahan menyeruak keluar dari William, aura yang sangat tidak mengenakkan, bahkan hanya berada di dekatnya saja, sudah membuat panas dan sakit.


"A-apa?"


Tim yang hampir meninju William langsung menarik mundur tinju dan tubuhnya ke belakang.


"Grrrrrr....." William bangkit dengan kondisi yang lebih mengerikan dari sebelumnya.


"Apa itu? Cih, jadi kau masih bisa lebih kuat lagi yah? Kebetulan saja, energi yang kudapatkan selama ujian ini masih belum habis. Majulah!" Tim memasang kuda-kuda dasar, tangan kiri di pipi, tangan kanan di depan membentuk angka 11. Dan kedua kaki dibuka selebar bahu, Tim sudah siap menerima serangan William, ia juga memfokuskan energi yang dia dapat untuk melapisi tubuhnya dengan lebih kuat.


"Khakkk... Grrrrr...." William menggeram di tempat, ia tampak pusing dan sempoyongan.


Di leher William, muncul sesuatu.


Krrrkkk Krrkk


Apa itu? Kulit? Bukan! Itu armor. Tim menyadari sesuatu yang muncul di leher William.


Armor besi muncul seperti kulit baru di leher William, daripada seperti armor yang bisa dilepas, itu tampak seperti kulit baru yang muncul di atas kulit lama karena tampak menyatu dengan kulit dan aliran darah.

__ADS_1


"Ahhh~ Aku paham, sepertinya kau masih belum mampu mengendalikan semua kekuatanmu kan? Itu menjelaskan kenapa kau tidak pernah mengeluarkan seluruh armormu. Pantas saja, hanya orang gila yang tidak memakai armor yang dia miliki kita menghadapi seorang sniper, kukira itu karena kau sombong, tapi ternyata kau masih belum mampu mengendalikan semua kekuatanmu. Sepertinya aku menilaimu terlalu tinggi ketika mendengar kabar kau mengalahkan seorang Ranker B." Ucap Tim untuk memanas-manasi William.


"Graaaaaa.....!!!" Entah karena paham atau hanya karena insting binatang buasnya, William mengaum dan menerjang Tim.


William melesat bagai komet sambil menghunuskan pedangnya seperti tombak.


Serangan yang cepat, tapi mudah ditebak.


Tim hanya perlu menggeser kepalanya ke samping untuk menghindari serangan William.


"Kuakui, kau memang sangat cepat, tapi... Mudah dihindari."


Bhuakk...


Tim meninju perut William.


"Uphhh.. Hoeekkk.." William kesakitan karena tinju dari Tim, dengan instingnya, ia mundur ke belakang.


"Mudah sekali, kukira akan sulit, sepertinya rumor tentangmu terlalu dibesar-besarkan yah."


"Grrrr... Graaaa...." Sekali lagi, William menyerang Tim.


William mengayunkan pedang besarnya ke segala arah dengan brutal. Setiap kali William mengayunkan pedangnya, energi hitam miliknya akan terlempar dengan bentuk bulan sabit ke segala arah.


Tapi lagi-lagi Tim menghindarinya dengan mudah, bagi Tim, serangan William brutal William sangat mudah dihindari.


"Lagi? Ya ampun, jika dibandingkan dengan binatang buas, kau ini hanya seperti anakannya saja." Ucap Tim sambil menghindari serangan William dengan santai.


Tep Tep Bhuak


Tim mendekat dengan sangat cepat dan meninju William, dan langsung mundur lagi.


William tidak berhenti, sambil mengaum, ia terus mengayunkan pedangnya, pohon-pohon di sekitar mereka terus hancur terbelah.


Slasssshhh... Slassss... Slassh


Tebasan pedang William membelah batu, pohon, rerumputan dan apa pun di sekitarnya, tapi tak ada satu pun yang mengenai Tim.


Dengan gerakan langkahnya yang cepat, Tim melakukan gerakan maju mundur dengan kecepatan yang sangat cepat, ketika maju, ia akan meninju William, dan kurang dari sedetik kemudian, ia akan mundur lagi.


William tak berdaya menghadapi teknik mematikan dari Tim. William hanya terus menyerang karena ia tidak bisa merasakan sakit, tapi faktanya, wajah William semakin hancur terkena serangan dari kekuatannya sendiri yang dipakai oleh Tim.


"Graaaaa....!!!!!" William mengaum semakin kencang, marah akibat terus diserang oleh Tim.


William mengangkat pedangnya naik, energi hitamnya menjadi semakin pekat, pedang William yang terbungkus energi gelapnya kian membesar hingga menjulang tinggi, melampaui pepohonan besar di sekitarnya.


William pun menjatuhkan pedangnya ke arah Tim, pedang raksasa yang terbungkus energi hitam itu terasa sangat kuat. Tim pun tahu, dia tidak akan selamat jika terkena serangan itu.


Syuungggg.....


Pedang itu diayunkan turun, angin di sekitar berhembus kencang akibat benda raksasa yang jatuh ke tanah, debu-debu berterbangan kemana-mana.


Bummmm.... Krekkkkk Krkkkkk...


Pedang itu diayunkan ke tanah, membelah apapun yang di tebasnya. Debu-debu berterbangan, membuat tabir asap yang menutupi pemandangan.


Sementara itu Ran.


"Hhhh.... Hhhh... Hoshhh..." Ran terengah-engah ketakutan, di sampingnya, pedang hitam raksasa William membelah batu di belakang Ran. Pedang itu hampir saja memotong telinga Ran, hanya berjarak satu centimeter saja.


Ba-bagaimana? Apakah William berhasil? Ran bertanya-tanya siapa pemenang dari pertarungan ini. Tapi pandangannya terhalang oleh asap dan debu yang berterbangan.


Hanya tampak dua siluet di baliknya, satu orang berdiri tegak seperti pemenang, dan satu orang jatuh tersungkur seperti pecundang.


Tabir asap mulai menipis, memperlihatkan siapa pemenang dari pertarungan ini. Dan tampaklah, Tim yang berdiri tegak, dan William yang jatuh tersungkur.

__ADS_1


A-apa? Bagaimana bisa.


"Inilah bedanya binatang buas yang mengandalkan insting dengan petarung cerdas yang memakai akal."


__ADS_2