
Pria di hadapan Ran yang bernama Madison Bertof memperkenalkan dirinya sebagai ilmuwan yang banyak menciptakan alat-alat bagi Guild mereka. Dia jugalah yang membantu Aurelia dalam memaksimalkan kemampuannya. Dan saat ini ia sedang melakukan percobaan untuk menciptakan mekanisme pelindung untuk markas Guild.
"Hahahahaha... Akhirnya ada anggota baru, sudah lama sekali tidak ada anggota baru." Madison terkekeh sambil menepuk-nepuk pundak Ran.
"Ehehehe..." Ran membalasnya hanya dengan tertawa canggung.
Tap Tap Tap
Kemudian sebuah langkah kaki yang terdengar tidak sabaran mendatangi mereka, disusul dengan suara teriakan kesal bercampur rasa khawatir dari seseorang, "Hoi Madison! Kau dimana? Masih hidup atau sudah mati?"
Teriakan khawatir itu disusul dengan kemunculan seseorang dari arah terlemparnya Madison.
Ran menatap orang itu, dari suaranya terdengar seperti perempuan meski agak serak, tapi penampilannya sangat mirip laki-laki, orang itu memakai Jumpsuit berwarna biru gelap yang biasa dipakai pengrajin logam ketika mengelas besi. Di kepalanya, dililitkan kain yang menutup seluruh bagian atas kepalanya sehingga membuatnya tampak botak, seluruh tubuhnya terlihat kekar dan kuat, bahkan meski tertutupi oleh bajunya, otot-otot di badannya terlihat jelas oleh Ran. Hal yang paling mencolok darinya adalah, ia tidak punya alis dan bulu mata, bahkan tangannya terlihat kuat tanpa adanya bulu tubuh sedikit pun.
Melihat penampilannya yang sangar itu, Ran memutuskan bahwa orang itu ada laki-laki, Ya, pasti dia laki-laki, hanya saja suaranya sedikit seperti perempuan.
Madison yang melihat orang itu datang, langsung menyambutnya dengan genit, "Oh maaf sayangku, aku sudah membuatmu khawatir yah? Sini peluk." Ujar Madison sambil mendekati orang itu dengan posisi akan memeluk.
Ran merasa geli melihat tingkah Madison, Ughhh... Pantas saja pak Bon bilang dia sedikit gila.
Orang itu menjadi jengkel dan kesal melihat tingkah Madison yang genit padanya, dirinya yang awalnya berlari dengan khawatir langsung berubah menjadi marah dalam sekejap.
Bhuaghhh
Orang itu dengan kesal langsung meninju perut Madison sambil berteriak marah
"Jangan bertingkah menjijikkan seperti itu dasar gila!"
"Ohok!"
Madison langsung ambruk karena terkena pukulan telak, ia terduduk sambil memegangi perutnya dengan kesakitan.
Ran yang melihatnya mundur karena merasa ngeri.
Madison batuk-batuk karena perutnya dipukul, sementara pelaku yang memukulnya tampak tidak menyesal dan hanya menaruh tangannya di pinggang sambil menatap Madison seperti melihat kotoran di jalan.
"Hah~ Dasar, si gila ini tidak pernah belajar yah?"
"Uhok uhok, hehehe... Tidak apa-apa, jika itu kamu, aku rela dipukul 1000 kali pun." Madison dengan santai mengacungkan ibu jarinya sambil tersenyum senang.
Tingkahnya itu akhirnya semakin membuat marah orang di depannya.
"Kau suka hah? Kau suka seperti ini hah!? Sini kau, biar kuhajar sampai mampus!!!!"
Tanpa ampun, orang itu menginjak-injak kepala Madison ke lantai.
Buk Buk Bak
"Ah! Aw! Sakit! Tapi aku senang selama kau yang melakukannya ahahahaha."
Ran semakin heran melihat perilaku mereka berdua, ia mendekati pak Bon dan bertanya dengan berbisik.
"Apa mereka selalu seperti ini?"
"Tepat sekali, sudah kubilang kan? Madison itu jenius tapi sedikit sinting."
"Aku bisa mengerti itu."
Setelah puas menghajar Madison, barulah orang itu sadar dengan kehadiran Ran.
"Eh? Ada tamu yah? Maaf, maaf, aku tidak sadar."
Orang dengan jumpsuit itu buru-buru meminta maaf sambil menunduk setelah memberikan serangan terakhir kepada Madison.
"Akhhh..." Madison mengerang kesakitan di belakangnya.
Ran membalas dengan ikut menunduk sambil memperkenalkan dirinya.
"Ah iya, salam kenal, aku Ran Corbin."
"Salam kenal juga, namaku Rose Feliyin."
Namanya terdengar tidak cocok dengan penampilannya itu, Pikir Ran dalam hatinya.
Kemudian Pak Bon maju untuk mengambil alih percakapan, "Nah Rose, Ran adalah anggota baru, aku mengajaknya kesini untuk memperkenalkan anggota lainnya. Baik-baik dengannya yah."
"Siap pak." Ucap Rose dengan semangat.
Ran pun mengajak berjabat tangan, "Kalau begitu, mohon bantuannya yah pak Rose."
Deng
Seketika semuanya tertegun mendengar ucapan Ran, Rose yang berada di depannya mendadak diam, dia yang awalnya bersemangat mendadak menundukkan kepalanya seperti orang yang depresi.
__ADS_1
Pak Bon di sebelah Ran memegangi kepalanya sambil bergeleng-geleng seperti sedang sakit kepala dan bergumam pelan, "Haduh, harusnya aku kasih tahu dulu sebelum dikenalin."
Madison yang tiduran di lantai juga berperilaku aneh, ia mendadak tertawa terbahak-bahak sambil berguling-guling kesana kemari.
"Pak?" Gumam Rose pelan.
Ran bingung apa yang terjadi sebenarnya, ia merasa tidak melakukan hal aneh apa pun dan hanya bersikap biasa saja.
Kemudian Rose mengangkat wajahnya, barulah Ran bisa melihat ekspresi yang terpampang darinya.
Ekspresi Rose terlihat sedikit rumit, matanya terlihat berkaca-kaca seperti orang yang mau menangis, tapi sudut matanya yang tajam membuatnya tampak marah. Ran tidak mengerti apa yang membuat perilakunya berubah dalam sekejap mata.
"Pak? Kau memanggilku pak!?" Tanya Rose dengan suara yang bergetar.
Ran secara insting mundur sambil menaruh tangannya di depan dengan posisi seperti ingin mendorong orang, ketika mendengar pertanyaan itu.
"Eh? Eummm...? I-Iya?"
"Pak kau bilang!?" Tanya Rose sekali lagi dengan nada kesal, ia menarik kain yang membalut kepalanya dengan kasar, tampak kepala plontos licin yang selama ini ditutupi.
Ran tidak perlu bertanya lagi, jelas sekali Rose sangat marah, itu tergambarkan dengan jelas pada wajahnya.
"E...e...e... I-iya?"
"Ba****n! Aku ini perempuan bodoh!!!!" Teriak Rose seraya meninju wajah Ran.
Bhuaghhh
Ran tidak bisa menghindar dan berakhir terpukul tepat di wajahnya.
Ran melayang terkena tinju Rose dan terlempar beberapa meter ke belakang.
Buk... Prang...
Ran tidak bisa menghindar dari menabrak perabotan yang ada di belakangnya, ia menabrak meja dan menjatuhkan beberapa barang yang terbuat dari kaca.
"Akh...! Ti...dak mung...kin."
"Hmmmph..." Rose mendengus sambil menyilangkan tangannya di dadanya, kemudian pergi entah kemana.
...****************...
"Aduh, aduh... Tolong pelan-pelan."
"Ma-maaf, aku tidak tahu kalau dia perempuan."
"Tenang, tenang, itu wajar kok, hampir semua anggota disini pernah salah paham tentang Rose sepertimu tadi."
Saat ini Madison sedang mengobati luka memar di wajah Ran yang merupakan hasil dari pukulan Rose kepada Ran.
Sembari mengobati Ran, Madison menceritakan sedikit tentang Rose kepada Ran.
"Sebenarnya wajar saja sih kalau kau salah paham, Rose itu memang terlihat seperti laki-laki dibanding perempuan, tapi jangan salah, walau seperti itu, hatinya sangat rapuh dan sensitif."
"Kalau begitu kenapa dia berpenampilan seperti laki-laki jika tidak ingin dianggap laki-laki? Apa dia berharap agar semua orang bisa tahu dia itu perempuan dengan penampilan macam itu? Menyebalkan sekali, dasar egois!" Ucap Ran dengan nada menggerutu
Mendengar ucapan Ran, Madison tertawa, "Ahahaha... Ya ampun kawan, jangan menarik kesimpulan seperti itu dong, Rose berpenampilan seperti itu karena tuntutan pekerjaan."
"Pekerjaan apa?"
"Pekerjaan sebagai Blacksmith disini." Pak Bon tiba-tiba menjawab pertanyaan Ran.
Madison mengacungkan kedua ibu jarinya untuk membenarkan jawaban pak Bon, "Betul itu, Rose memiliki pekerjaan sebagai Blacksmith disini, namun sayangnya, dia itu bukan Hyper, jadi dia tidak memiliki kekuatan sebagaimana Hyper pada umumnya. Karena itu penampilannya berubah seiring waktu selama ia bekerja sebagai Blacksmith."
"Apa? Dia bukan Hyper? Padahal pukulannya sangat menyakitkan, kukira dia Hyper kelas atas."
"Ahahahaha, sudah kuduga kau mengiranya seperti itu, tapi dugaanmu salah. Itu adalah kekuatan fisik yang didapatkannya dari latihan selama menjadi Blacksmith, bekerja berjam-jam untuk memukul dan membentuk besi telah melatih otot-ototnya secara alami, dia juga rajin berolah raga tiap pagi, oh iya, gen dari orang tuanya sendiri memang bagus sih."
"Ehhhh...?" Ran menganga tidak percaya.
Selama ini Ran selalu percaya ia sudah berusaha keras untuk membentuk kekuatan fisik yang kuat karena dia adalah Hyper level rendah. Sangat tidak disangka kalau ada manusia biasa yang memiliki fisik setara dengan Ran hanya bermodal latihan biasa.
Sial, rasanya aku semakin kalah saja.
"Oh iya, sebagai tambahan, Rose botak karena tempatnya bekerja selalu panas, jadi rambut tubuhnya selalu terbakar habis."
"Aku tidak perlu info semacam itu!"
"Ahahaha..." Madison tertawa terbahak-bahak.
Ran tidak bisa berkata-kata lagi kepada Madison. Ran pun melirik pak Bon untuk memberikannya kode agar menariknya pergi.
Pak Bon berhasil mengerti kode yang dikirimkan oleh Ran, "Sudahlah, soal Rose kita selesaikan nanti lagi, ayo Ran, kita ke atas, harusnya jam segini sudah ada yang datang."
__ADS_1
"Ayo pak!" Ran menjawab ajakan pak Bon dengan semangat sambil berjalan canggung ke arah pak Bon.
Madison tersenyum aneh melihat Ran yang berjalan dengan kaku, lalu ia melambaikan tangannya dan memberi salam perpisahan, "Sampai jumpa kawan, sering-sering mampir ke sini yah, ada beberapa hal yang mau kucoba padamu nanti, ahahahaha..."
Urrggghhh... Aku tidak mau tahu apa yang ingin dia lakukan. Pikir Ran dalam hati.
Ran dan pak Bon kembali naik ke atas memakai lift ke tempat Aurel.
"Loh? Cepat sekali pak? Kukira akan lama." Tanya Aurel ketika melihat pak Bon dan Ran yang datang.
"Memang tidak berniat lama-lama kok, masih ada anggota lain yang belum kuperkenalkan lagipula."
Krieettt
Tepat setelah pak Bon berbicara, pintu masuk tiba-tiba terbuka, muncul 4 orang dari balik pintu.
Bau amis darah menguar ke penjuru ruangan ketika 4 orang itu masuk.
"Hufffttt... Akhirnya beres juga bersih-bersihnya."
"Ack, badanku pegal banget."
"Mending tidur saja langsung kali yah? Males mandi nih."
"Jangan jorok, selelah apa pun dirimu, mandi tetap harus dilakukan."
4 orang itu mengobrol santai tanpa sadar kehadiran Ran dan pak Bon. Mereka semua berlumuran darah yang kelihatannya masih segar.
"Halo semuanya." Pak Bon menyapa mereka dengan santai, tanpa mempedulikan penampilan mereka yang terlihat mengerika dengan semua darah yang berlumuran di seluruh tubuh mereka.
Sapaan singkat pak Bon langsung menarik perhatian mereka, mereka langsung menengok ke arah pak Bon dan membalas sapaan pak Bon dengan cara yang berbeda-beda.
"Wah halo pak Bon, sudah lama sekali anda tidak berkunjung ke sini."
"Ack, kenapa anda ada disini?"
"Erghhh... Anda tidak disini untuk melakukan evaluasi mendadak lagi kan?"
"Oalah, ternyata anda toh pak Bon, harusnya anda memberitahu kami lebih dulu sebelum datang, jadi kami bisa bersiap-siap agar terlihat lebih pantas."
Mereka menanggapinya dengan berbeda-beda, dari ekspresi yang ada di wajah mereka saja sudah terlihat bahwa mereka memandang pak Bon dengan cara yang berbeda-beda.
Ada yang terlihat ceria dan senang seolah bertemu dengan teman lama, ada yang terlihat terkejut seolah-olah takut kepada pak Bon. Adapula yang terlihat malas seperti tidak menganggap pak Bon adalah orang yang penting. Bahkan ada yang terlihat dengan jelas sangat menghormati pak Bon.
"Yah begitulah, intinya aku mau memperkenalkan anggota baru, sapalah dia." Ucap Pak Bon sambil mendorong Ran ke arah mereka.
Aduh, bagaimana ini? Ran mengeluh dalam hatinya, ia canggung dan bingung harus bereaksi apa di hadapan orang-orang asing ini.
4 orang itu menatap Ran dengan intens seperti melihat hewan langka di kebun binatang.
"Wahahaha... Ada anak muda yang baru."
"Eekkk... Ta-Tatapannya terlihat menakutkan."
"Ukhhh... Hanya perkenalan saja kan? Aku lelah."
"Hooo... Sudah lama sekali kita tak kedatangan orang baru."
Ran menggaruk kepalanya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia berpura-pura tidak mendengar ucapan mereka.
Tatapan intens mereka membuat Ran menjadi takut, beruntung pak Bon menengahi.
Klap Klap Klap
Pak Bon bertepuk tangan untuk mendapatkan perhatian semuanya, "Sudah, sudah, jangan ditatap begitu terus, nanti dia takut. Jangan diam saja, langsung perkenalkan diri kalian cepat."
Tatapan intens yang sedari tadi ditujukan pada Ran akhirnya berakhir, mereka kemudian memperkenalkan dirinya satu persatu.
"Ahahaha... Maaf, aku terlalu senang karena ada anggota baru, kenalkan namaku Rodri Flare, panggil saja aku Rod, nanti akan kuajari hal-hal menarik." Rodri adalah seorang pria muda yang tampak enerjik, ia tampak berusia 20 tahunan awal dengan rambut hitam keriting, senyum lebar selalu terpampang di wajahnya sejak awal, taring kecil terlihat di ujung bibirnya. Rodri memakai mantel tebal yang panjang berwarna hitam dengan corak api yang melingkar. Di dalam mantelnya ada kau hitam yang dilingkari oleh rantai kecil. Ia juga memakai sarung tangan tanpa jari berwarna hitam legam dengan corak api yang sama dengan yang ada di jubahnya.
"Eee...eee... Na-namaku Ribben Robben, pa-panggil saja sesukamu." Ribben hanya memakai kaus lengan panjang dengan model garis-garis hitam serta celana berwarna senada, dengan tambahan kupluk yang juga seiras. Ia entah kenapa terlihat ketakutan selama berhadapan dengan Ran.
"Otto, Otto saja. Aku sudah boleh pergi kan?" Otto, dari penampilannya ia terlihat yang paling muda disini, ia terlihat seperti siswa nakal dengan rambut berwarna pirang yang dicat dan diikat menggunakan karet kebelakang. Ia memakai kemeja putih yang dibalut rompi abu-abu berkerah hitam dan celana sekolah berwarna abu-abu.
"Perkenalkan, namaku Yamaguchi Tanaka, umurku 34 tahun, tapi kamu bebas untuk berbicara informal jika mau. Sebagai anggota baru, aku akan memberitahumu beberapa hal seperti jam malam disini, dan juga tetap ada peraturan terkait kebersihan karena akan ada inspeksi kamar tiap beberapa bulan sekali, selain itu juga, ada-" Yamaguchi tetap mengoceh panjang walau Ran tidak mendengarnya sepenuhnya. Yamaguchi memiliki penampilan layaknya pria paruh baya dengan kacamata mines. Ia memiliki rambut yang disisir rapih kebelakang yang memiliki warna hitam yang beberapa diantaranya sudah memutih akibat umur. Yamaguchi memakai coat coklat yang didalamnya memakai baju ketat berwarna hitam.
Melihat Yamaguchi yang terus mengoceh, membuat pak Bon terpaksa menghentikannya, "Sudah, sudah, nanti saja biar aku yang memberitahunya, kalian mandi saja sana."
"Ah maaf pak, saya kelepasan lagi." Yamaguchi akhirnya berhenti berbicara.
"Nah Ran, kira-kira begitulah anggota kita, sebenarnya masih kurang satu orang lagi, dia ada di lantai di atas kita ini, tapi disini tidak ada yang mau berurusan dengannya, karena itu kita lewati saja dulu."
Aku penasaran, tapi sepertinya itu berbahaya, jadi akan kutahan saja rasa penasaranku. Pikir Ran ketika mendengar tentang sisa anggota yang belum ditemuinya.
__ADS_1
Ran memandang 4 orang tadi yang berjalan pergi ke arah lift dengan pandangan intens, Mulai sekarang, mereka adalah rekanku.