
"Terima" Atau "Tidak"
Hanya ada 2 pilihan sederhana yang diberikan para orang dewasa pada Ran.
Ran saat ini sudah lebih tenang dan tidak terlalu menggebu-gebu seperti sebelumnya, sehingga ia berpikir panjang dengan penggunaan permen itu.
Jika memakan permen ini, semua perkataanku akan dipercaya, tidak akan ada bantahan lagi. Tetapi, efek sampingnya cukup mengerikan, bagaimana jika ada efek samping lain yang lebih berbahaya dari apa yang pengawas Farizi katakan? Bagaimana jika efek samping itu akan mempengaruhi masa depanku? Pikir Ran dalam-dalam.
Keadaan menjadi sunyi cukup lama, Ran terus menatap permen yang ada di tangan pengawas Farizi cukup lama. Keringat dingin mengalir tanpa diketahui di kening Ran.
Pengawas Farizi menjadi tidak sabaran, "Ayolah Ran, cepat ambil, tanganku sudah pegal nih."
Pengacara wanita di seberang tidak membiarkan pengawas Farizi, "Hei diam kau! Tidak boleh ada campur tanganmu atas keputusannya."
Hakim ikut menimpali, "Itu benar pak pengawas, saya minta agar anda sama sekali tidak ikut campur dalam mempengaruhi keputusan dari saksi."
Pengawas Farizi menjadi kesal karena dipojokkan, "Ck! Sensitif sekali sih mereka ini."
Ran sama sekali tidak mendengar perdebatan para orang dewasa itu, ia masih berpikir panjang tentang apa keputusannya.
Hampir 1 menit berlalu...
Dan ketika tepat 1 menit kemudian...
Telapak tangan pengawas Farizi yang menyodorkan "Permen pengikat lidah" menutup, seperti menutup semua pilihan Ran, Ran terkejut karena ia belum memutuskan apa pun.
Kemudian pengawas Farizi dengan nada kesal berkata, "Sudahlah, aku tidak peduli lagi, aku muak dan bosan dengan orang labil sepertimu bocah. Cih! Salahku juga yang berharap lebih pada remaja labil."
Pengacara wanita di seberang tersenyum gembira melihat adegan ini, dalam hatinya ia bersorak sorai karena merasa telah menang, Akhirnya pria keras kepala ini menyerah!"
Namun, tanpa disangka-sangka, ucapan pengawas Farizi malah memprovokasi Ran.
Ran tidak suka dianggap remaja labil, sejak dulu, sejak ayahnya menjadi rusak, Ran sangat tidak suka diremehkan oleh orang dewasa.
"Di-Diam kau..." Ucap Ran kepada pengawas Farizi dengan suara yang lirih.
"Haaaaaa....!? Apa yang kau bilang? Aku tidak mendengarmu dengan jelas."
"Kubilang diam...." Ucap Ran sekali lagi dengan suara yang sama dengan sebelumnya.
Pengawas Farizi yang awalnya kesal, kembali tersenyum melihat perkembangan Ran, Bagus, dia mulai terpancing, hanya butuh sedikit dorongan lagi.
Sekali lagi, pengawas Farizi mendekatkan telinganya ke dekat Ran, dan dengan nada suara yang menantang, pengawas Farizi berkata, "Ayolah 'nak, apa ada masalah di lidahmu? Jika benar, daripada kesini, lebih baik kau langsung ke dokter saja."
Ran semakin terpancing, ia menarik ujung bajunya yang lusuh, dan dengan bergetar ia berkata, "Diam kau dasar orang dewasa yang tidak sabaran, jangan menganggapku anak kecil."
Pengawas Farizi bertambah senang, dan sebaliknya, pengacara wanita di seberang meja menjadi ketakutan dan panik, Sial, kenapa dia bisa termakan provokasi orang itu sih?
Pengawas Farizi memperbaiki senyumnya dan berkata dengan nada mengejek kepada Ran, "Hei, suaramu masih bergetar, tapi aku apresiasi karena sudah berani berbicara. Tadi katamu kau tidak mau dianggap anak kecil kan? Kalah begitu kau pasti sudah menyiapkan keputusanmu, iya kan?"
Ran mengangguk dengan yakin.
"Bagus!" Pengawas Farizi memuji Ran sambil mengeluarkan permen "Pengikat Lidah" Dari dalam sakunya lagi, dan mengulurkannya pada Ran.
Ran mengambilnya, meski masih ada keraguan, tapi Ran sudah tidak terlalu takut lagi.
Pengacara wanita di seberang meja, mencari cara untuk mencegah Ran memakannya, kliennya menatap tajam, seolah-olah menyuruhnya untuk melakukan tindakan sekotor apa pun untuk menghentikan Ran.
Tubuh pengacara wanita itu bergetar, keringat mengalir deras dari kedua keningnya, pikirannya sangat kacau. Hingga ia berpikir suatu metode buruk namun efektif, Tidak ada pilihan lain lagi
Pengacara wanita itu berdiri, melepas sepatunya dan berjalan pelan ke arah Ran, tidak ada yang menyadarinya karena terlalu fokus kepada Ran.
Dan di detik-detik terakhir, pengawas Farizi sadar akan keberadaan pengacara wanita tersebut, yang semakin dekat dengan Ran.
Pengawas Farizi sadar dengan niat pengacara wanita itu, tapi ia terlambat bereaksi.
Brak Gubrak
Si pengacara wanita berpura-pura terjatuh dan ke arah Ran, menyebabkan Ran ikut terjatuh dan tertimpa si pengacara wanita itu.
Semua yang ada di ruangan menjadi panik.
"Nak kau tidak apa-apa?"
"Hei Ran, permennya tidak hilang kan?"
"Aduh sakit...." Ran mengaduh kesakitan.
"Ah! Ma-Maafkan saya, kaki saya mendadak lemas, kamu tidak apa-apa 'nak?" Pengacara wanita yang menimpa Ran berpura-pura bersimpati dan menolong Ran, ia buru-buru berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Ran.
Ran meraih tangan pengacara itu, dan berdiri kembali.
Pengawas Farizi bertanya kembali, "Ran dimana permennya?"
Ran baru sadar dan melihat sekitarnya, permen itu berada di lantai dengan keadaan sudah hancur, Ran merasa kecewa dan bersalah, "Maaf pak, permennya sudah hancur"
Pengawas Farizi memegang keningnya, kemudian menghela napas dan menggeleng-geleng, "Ya ampun, harusnya kau jaga dengan baik, permen itu memang lumayan rapuh sehingga mudah hancur."
__ADS_1
Ran menunduk, sementara si pengacara wanita yang menjadi dalangnya, malah tersenyum picik di sebelah Ran
Pengawas Farizi diam-diam menatap pengacara itu, ia berhasil menangkap momen sekejap dimana pengacara itu tersenyum senang. Dan pengawas Farizi ikut tersenyum.
Kemudian Pengawas Farizi kembali merogoh sakunya, dari dalamnya, muncul, "Yah sudahlah, toh aku bawa dua." Permen pengikat lidah, ternyata pengawas Farizi membawa dua permen pengikat lidah.
"Akh.... I-Itu, ternyata anda membawa dua yah? Ba-Baguslah jika seperti itu." Pengacara wanita itu, berbicara dengan terbata-bata.
Jelas sekali dia sedang memikirkan cara baru untuk menyabotase permen itu.
Tapi, pengawas Farizi tidak berniat untuk ditipu lagi, "Sudahlah, duduk sana, jangan berdiri terus di depanku, sangat memuakkan tahu."
Pengacara wanita itu tampak akan menangis, tapi ia menahannya dan kembali duduk kembali di tempatnya, walau ia tidak suka. Kliennya menatap dengan bengis ke arahnya, pengacara wanita benar-benar kelihatan akan menangis.
Pengawas Farizi lalu membuka bungkus permen itu, kemudian ia menjepitnya dengan jarinya lalu disodorkan pada Ran, "Kuberi peringatan, jangan merasa ragu lagi, langsung makan saja. Kalau masih ragu tidak usah."
Mendengarnya, Ran langsung menarik kembali semua keraguannya, ia langsung menyabet permen itu dan memasukkannya ke mulutnya.
Glek.
Permen itu langsung mencair dengan cepat.
Bzzzt!
Ran merasa ada aliran listrik menjalar ke seluruh tubuhnya seketika, membuat seluruh badannya terasa kaku, berat, dan sakit.
Sa-Sakit sekali, ternyata begini efeknya. Ran mengaduh dalam hatinya, ia memegang mulutnya untuk menahan muntah sambil membungkuk kesakitan.
Pengawas Farizi memegangi pundak Ran agar tidak jatuh, "Sakit sedikit kan? Tahan sebentar, lama-kelamaan rasa sakitnya akan berkurang."
Ran mengangguk pelan untuk meresponnya.
Dan benar saja, hanya dalam 3 menit, rasa sakit dari permen pengikat lidah berkurang drastis. Ran kembali berdiri tegak.
Hakim menatap mata Ran yang bersinar penuh dengan keyakinan, kemudian berkata, "Sepertinya kamu sudah siap yah?"
Ran mengangguk dengan yakin dan berkata dengan tegas, "Siap pak!"
Hakim tersenyum, "Bagus jika kamu sudah siap, sekarang tolong jelaskan, baru saja para murid menuduhkan beberapa hal terkait tindakan pak Aji yang tidak profesional dengan cara memberikan perhatian lebih pada 1 murid tanpa ada alasan khusus. Coba jelaskan semua tuduhan itu."
Ran menghembuskan napasnya sebelum menjawab agar bisa tenang, "Memang ada beberapa hal yang benar terkait tuduhan mereka, tapi ada banyak info yang dilebih-lebihkan. Contohnya, tuduhan yang mengatakan jika pak Aji memberi banyak makanan untuk saya, itu dilebih-lebihkan, pak Aji hanya memberi sebungkus coklat sebagai ucapan selamat karena saya mendapat nilai tertinggi. Dan kertas yang diberikan pak Aji saat di kantor adalah hasil ujian saya, saya tidak pernah menyontek, prestasi saya, semua saya dapatkan berkat usaha sendiri."
"Bo-Bohong!" Salah satu teman sekelas Ran mendadak memotong ucapan Ran.
"I-Itu pasti bohong, pasti permen itu tidak ada efeknya sama sekali kan? Coba buktikan jika perkataanmu benar." Salah satu ikut menimpali.
"I-Iya, coba buktikan dulu hasilnya agar kami percaya." Teman sekelas Ran menantang pengawas Farizi.
Pengawas Farizi tersenyun mendengar tantangan itu, kemudian ia bertanya kepada Ran, "Hei Ran! Kau sedang menyukai seseorang atau tidak?"
"Ha-Hah!?" Ran sangat terkejut mendengar pertanyaan sensitif dari pengawas Farizi, wajahnya memerah seperti kepiting rebus, dan dengan terbata-bata ia menjawab, "Te-Tentu saja tidak! Si-Siapa yang- Khekk" Ran mendadak berhenti.
Lidah Ran menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan seperti kanebo kering. Rasanya sangat sakit hingga Ran terbungkuk dan tidak bisa berdiri tegak.
Pengawas Farizi malah tersenyum melihatnya, ia kemudian dengan bangga berkata, "Nah lihatkan! Itu buktinya, jika kau berbohong lidahmu tidak akan bisa digerakkan. Dan sebagai tambahan, ada rasa sakit yang besar untuk memberi rasa ancaman agar tidak berbohong. Itu akan menghemat waktu, karena akan membuang-buang waktu jika ia terus-terusan berbohong."
"Ukh...." Teman sekelas Ran yang awalnya dengan lantang berbicara, kembali diam.
Sementara itu, Ran menatap pengawas Farizi dengan kesal, dalam hatinya ia mengumpat, Cih, harusnya kau jelaskan dari awal.
Sambil melihat keadaan Ran, hakim bertanya kepada pengawas Farizi, "Berapa lama efeknya akan bertahan?"
"Hanya 1 menit saja kok."
.
.
1 menit yang menyiksa akhirnya berakhir.
Ran kembali berdiri tegak dan menghembuskan napasnya kembali.
Hakim semakin tertarik dengan permen itu, "Hmm.... Sangat efektif yah~"
Pengawas Farizi dengan gembira menimpali ucapan hakim, "Iya kan~ Sudah kubilang ini memang yang terbaik."
Cih! Mereka tidak memikirkanku sama sekali yah?" Ran mengumpat dalam hati.
Kemudian hakim lanjut bertanya, "Lalu, ini adalah masalah yang paling besar, tadi ada yang bilang jika kau diberikan izin masuk ke ruangan tes lebih dulu. Dan berdasarkan peraturan, harusnya kau tidak boleh masuk ke dalam ruangan tes lebih dulu, tidak peduli apa kau sudah selesai dengan tes sebelumnya. Jujur saja, walau terdengar sepele, tapi bagi saya ini cukup serius. Tidak sedikit kasus kecurangan dimana murid menyabotase ruangan tes agar bisa mendapatkan nilai tinggi."
*Gle**k*
Ran menelan ludahnya.
Hal itu sama sekali bukan kebohongan dan tidak dilebih-lebihkan, dan hal itu tidak terjadi sekali saja. Dari tahun pertama, pak Aji memang sering memberi izin agar bisa masuk ke ruangan tes lebih dulu dibanding yang lain. Dan tindakan pak Aji memang terlihat sangat pilih kasih.
Ran ingin mengubahnya sedikit, tapi karena permen pengikat lidah, ia tidak berani berbohong, jadi ia jawab dengan sejujurnya saja, "Ya itu memang benar, sama sekali tidak ada hal yang salah dari tuduhan itu."
__ADS_1
Hakim menatap ragu, "Hmm... Jika seperti ini, pak Aji akan terlibat masalah lebih lanjut."
Pengawas Farizi dan pak Aji hanya diam saja mendengarnya, mereka sudah memutuskan untuk percaya pada Ran. Makanya mereka hanya diam untuk menjaga kepercayaan mereka pada Ran.
"Tunggu pak!" Ran mencegah hakim mengambil keputusan lebih lanjut.
"Kenapa? Apa ada hal yang kurang?"
"Ya pak! Hal yang kurang adalah alasan kenapa pak Aji memberikan izin istimewa itu."
"Alasan? Saya tidak tahu alasan apa yang cukup untuk memberikan izin khusus pada seorang murid."
Ran diam sejenak, karena keputusannya bicara akan mengubah nasibnya sepenuhnya. Ran menatap pengawas Farizi dan pak Aji sejenak, ketika mereka sadar sedang di tatap Ran, mereka berdua mengangguk seolah-olah untuk meyakinkan Ran pada pilihannya.
Baiklah, mereka sudah percaya padaku, maka karena itu, aku harus membalas kepercayaan mereka sepenuhnya.
Ran menarik napas dalam-dalam hingga merasa tenang, lalu kemudian, dengan suara yang sangat lirih, Ran berkata, "Pak hakim, apa anda tahu bagaimana status saya di sekolah? Bagaimana latar belakang saya di sekolah? Bagaimana sikap orang di sekitar saya? Dan bagaimana perilaku para remaja?"
"...." Hakim hanya diam, ia tidak mengerti dengan maksud dari Ran.
"Saya berasal dari keluarga miskin, saya Hyper dengan kekuatan rendah, saya selalu dihina dan diremehkan oleh semua Hyper di sekolah. Apa anda tahu? Para remaja ini! Para remaja yang katanya perlu bimbingan ini, selalu mengganggu saya? Dan bukan hanya saya, para Hyper dengan kekuatan rendah selalu menerima diskriminasi yang sangat parah. Mereka memalak, memukul, dan bahkan menjadikan para Hyper lemah sebagai mainan mereka."
Hakim menjadi tertarik dengan topik ini.
Ran menunjuk seorang teman sekelasnya, "Dia, memberiku es kopi yang sudah diberi abu rokok dan air liur, lalu memaksaku meminumnya hingga habis."
"I-Itu...." Orang yang ditunjuk Ran kelabakan.
Jari Ran berpindah ke yang lain, "Dia, sering menjadikan anak kelas 1 sebagai sandbag di belakang sekolah, dan mencekoki mereka dengan air toilet."
"He-Hei! I-Itu fitnah."
Jari Ran terus berpindah ke semua teman sekelasnya, ia menceritakan semua kelakuan buruk teman sekelasnya itu.
Hingga sampai, ke sang pemimpin yang mendalanginya. Michael!
"Dan... Dia..." Ran bergetar ketika akan mengeluarkan keburukan Michael. Michael menatap dengan bengis kepada Ran.
Ran terus bergetar hingga menangis, dan dengan terisak, Ran menceritakan semua hal yang dilakukan Michael, "Dia... Hiks... Memukuliku, merusak seragamku, mengambil uangku, hiks... Mengurungku di toilet hingga malam... Memfitnahku di hadapan para guru... Mengucilkanku... Dan bahkan menghajarku hingga sekarat dan meninggalkanku saat terjadi Gate Break!" Suasana menjadi heboh.
Tindakan terakhir Michael terdengar sangat mengerikan. Karena itu sama saja dengan membunuh seseorang.
Brakkk!!!
Michael menggebrak mejanya, ia dengan emosi mencoba membalikkan fakta, "Bohongggg!!! Dasar kurang ajar!!! Hei kalian! Itu tidak benar kan?" Michael bertanya kepada teman-teman di sampingnya, tapi mereka hanya diam, menolak untuk membela Michael.
Michael beralih ke Bardolf, "Hei! Bardolf, coba jelaskan kepada mereka! Itu semua bohong kan, cepat jelaskan! Hoi! Kau dengar aku kan?"
Bardolf hanya diam mendengar perintah Michael, padahal biasanya ia akan menurut tanpa bertanya.
"Hei! Bardolf, cepat lakukan!" Michael semakin menekan Bardolf.
Lalu kemudian, untuk pertama kalinya, Bardolf melakukan sesuatu yang berkebalikan dengan dirinya, "Maaf Michael, sekarang kau tidak bisa mengelak lagi. Jangan mengelak dari kesalahanmu. Dan aku bukan boneka yang bisa kau suruh-suruh." Ucap Bardolf dengan tegas.
Michael sangat syok mendengarnya, ia menggertakkan giginya dengan marah, seluruh urat di wajahnya keluar, "Kauuuuu.... Tidak tahu diuntung! Kalian berdua, dasar orang rendahan!" Ucap Michael dengan marah sekaligus bergetar.
Melihat ini, hakim mengambil kesimpulannya sendiri, "Sepertinya aku tidak perlu bertanya lagi."
Akal Michael langsung putus saat itu juga, kesabaran yang terus ia jaga, hilang saat itu juga, "AAAAARGGGGGGHHHHHHHH!!!!!!!" Michael melompat ke arah Ran dan Bardolf seperti binatang buas.
Ran dan Bardolf tidak sempat menghindar.
Namun tidak disangka-sangka, pria yang membawa Ran kemari, langsung bergerak cepat untuk menghadang Michael.
Dengan satu tangan, ia mencengkram wajah Michael seperti sedang memegang anak kucing.
"Grrrrrr!!!!!!" Michael menggeram seperti binatang.
Srak Srek Srak Michael mencoba lepas dengan mencakar lengan pria itu.
Tapi, jangankan terlepas, bahkan Michael tidaj bisa menggores lengan pria itu.
Pria itu menghembuskan napasnya dan mencengkram Michael semakin kencang.
Akibatnya, Michael hilang kesadaran dan pingsan.
Dan saat itu juga, hakim mengumumkan keputusannya, "Dengan ini! Saya putuskan bahwa para murid sekolah khusus Hyper XXX, kelas 3, saya nyatakan bersalah, dengan hukuman pengulangan kelas selama 3 tahun!!!!"
Tok Tok Tok
Suara palu hakim, menandai akhir persidangan ini.
Dari pihak penggugat, mereka semua bernapas lega dan puas dengan akhirnya.
Sebaliknya, pihak tergugat terduduk lemas dan ketakutan.
Sementara Ran, ia merasa sangat puas, kesabarannya membuahkan hasil yang manis. Semua rasa sakit sudah ia keluarkan, terasa sama seperti melepas semua rasa sakit di tubuhnya sekaligus.
__ADS_1
Ran juga merasa sangat kelelahan akibat permen pengikat lidah, ia oleng dan hampir terjatuh. Dan untungnya, pengawas Farizi dan pak Aji menahan tubuh Ran yang hampir terjatuh. Mereka tersenyum bangga dan berkata, "Kerja Bagus"