
"Eduardo? Kenapa kau mau masuk ke team kami? Kau pasti punya rencana lain kan?" Tanya Ran sekali lagi kepada Eduardo dengan penuh rasa curiga.
Dengan santai Eduardo menjawab, "Mau saja, tidak ada alasan khusus. Ah! Tapi kalau harus dijawab sih, karena dia..." Eduardo menunjuk ke arah William, "Aku masih penasaran kepadamu William Austin, kau tidak bersungguh-sungguh ketika melawanku kan? Tapi jika didekatmu, pasti aku akan melihat kau bersungguh-sungguh."
"Alasan macam apa itu!? Intinya kau hanya mau cari ribut dengan William, begitu?"
Mendengar Ran membentaknya, Eduardo menjadi kesal, "Hei! Kau itu bukan siapa-siapa! Jangan ikut campur." Ucap Eduardo sambil menarik kerah Ran.
Melihat aksi Eduardo, William langsung turun tangan, ia menarik tangan Eduardo yang menarik kerah Ran dan berkata, "Dia temanku, kamu lah yang jangan macam-macam Eduardo."
Melihat William yang membela Ran, cukup membuat Eduardo terkejut, "Hei Hei Hei! Apa ini? Ternyata kalian teman dekat toh? Wah berita besar ini."
"Diamlah Eduardo, jika kau ingin masuk hanya untuk cari masalah saja, lebih baik pergi saja." Ujar William sambil melempar tangan Eduardo yang ia cengkram.
Perasaan Eduardo tampak jelas di wajahnya, ia merasa terhina karena dianggap tidak penting oleh William. Tapi ia tidak menahannya.
"HahhhHahhhh.... Sulit juga yah agar kalian percaya padaku. Tenanglah, aku juga mau lulus ujian tahu. Aku berjanji tidak akan membuat ulah hingga ujian ini selesai."
"Mempercayaimu itu adalah tindakan bodoh! Siapa yang akan percaya omongan dari orang yang gila bertarung sepertimu? Ayo William, lebih baik kita cari orang lain saja." Ran pun mengajak William pergi.
Tapi Eduardo tidak terlihat kesal, justru ia terlihat tenang seakan-akan yakin jika dirinya nantinya akan terpilih, "Heiii! Jika kalian berubah pikiran, aku akan tetap disini, cari saja aku."
"Tidak akan!" Balas Ran dengan kesal.
Ran percaya bahwa dirinya akan bisa untuk menemukan rekan lain yang bisa dipercaya.
Tapi, masalahnya bukanlah sulit mencari orang, yang sulit adalah untuk mempercayai mereka.
Ran berputar-putar selama 5 menit untuk mencari rekan baru selain William, dan selama 5 menit itu, ia tidak mendapatkan satu pun.
Rasa curiga membuat penilaian Ran menjadi rumit, pengalaman mengerikan yang diberikan Tim, membuatnya sulit mempercayai orang lain.
Berkali-kaki William memberikan saran kepada Ran, dan berkali-kali pulalah Ran menolaknya.
Tidak peduli bagaimana tampang mereka, apakah terlihat ramah, galak, licik, dan lainnya, Ran selalu berpikir buruk tentang mereka.
Bagaimana jika ia seperti Tim.
Dia pasti sulit diajak kerja sama.
Sangat mencurigakan.
Menyeramkan.
Itulah pikiran buruk yang terus muncul di pikiran Ran, sehingga menyebabkan Ran dan William masih belum bisa memilih satu pun rekan baru.
Ran merasa frustasi, ia awalnya percaya diri dengan menolak ajakan Eduardo dan mencari rekan sendiri, tapi sekarang justru ia tidak bisa menentukan satu pun rekan baru.
Melihat keadaan Ran yang sudah semakin frustasi, William pun turun tangan langsung, "Ran, menurutku, lebih baik kita terima tawaran dari Eduardo saja."
Ran dengan sangat terkejut, bertanya tentang keputusan William, "Apa? Apa kau bercanda Will? Kau tahu sendiri kan kalau dia itu psikopat yang suka mencari masalah, kita tak akan bisa lolos jika ada dia."
William pun menenangkan Ran, ia menepuk pundak Ran dan memintanya untuk mendengarkannya dulu, "Aku tahu Ran, tapi lebih baik jika kita sudah tahu sifat orang itu lebih dulu dibanding tidak tahu sama sekali. Kalau pun kita memilih salah satu dari sekian banyak orang disini dengan harapan orang itu lebih baik dari Eduardo, bisa saja harapan itu terkhianati nantinya..."
"Ta-Tapi..."
"Tenang saja Ran, aku yang akan bertanggung jawab untuk mengatasi Eduardo jika seandainya dia berbuat ulah, lagipula dia kesini juga untuk lulus, setidaknya aku yakin dia tidak akan melakukan hal yang merugikan team, karena itu juga akan merugikannya nanti."
Ran tidak bisa menjawab lagi, bukannya Ran tidak punya alasan lain untuk menolak Eduardo, tapi karena kepercayaannya pada William yang membuatnya tidak bisa menolak perkataan William.
Dengan enggan, Ran pun menyetujui saran William, "Baiklah, aku setuju dengan saranmu Will. Toh, ada kau ini, dia tidak akan bisa berbuat banyak jika ada kau."
"Baiklah Ran, aku jamin aku akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap Eduardo."
Ran dan William pun kembali ke tempat awal tadi, dan perkataan Eduardo memang benar, Eduardo tetap di tempatnya tanpa berpindah. Terlihat Eduardo tetap berdiri di tempat semula tanpa berpindah sambil tersenyum mengejek, seolah tahu jika Ran dan William akan berubah pikiran dan merekrutnya ke dalam team.
"Nah kan! Sudah kuduga, kalian akan memilihku pada akhirnya."
"Diamlah! Bukannya kami ingin, tapi karena kami terpaksa."
"Iya iya, aku paham, kalau begitu, mohon bantuannya yah, Ran dan William." Ucap Eduardo sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Dengan rasa enggan dan takut, Ran berjabat tangan dengan Eduardo sambil mengucapkan kalimat yang sama, tapi disertai rasa enggan dan penolakan, "Ya, mohon kerja samanya juga."
__ADS_1
"Kalau begitu, siapa satu orang lagi yang akan kita rekrut?" Tanya William kepada mereka berdua.
Ran tidak kepikiran dengan hal itu, bahkan untuk mendapatkan satu orang saja, sudah merupakan hal yang sulit bagi Ran.
Tapi tampaknya Eduardo sudah memilik jawabannya, "Mudah saja, lebih baik kita segera ke pos pendaftaran."
"Kenapa seperti itu? Kau mau langsung mendaftar tanpa anggota lengkap?" Cemooh Ran.
Tapi Eduardo tetap santai, entah karena dia tidak sadar kalau dia dicemooh Ran atau memang ia tidak peduli, "Sederhana saja, pastinya ada beberapa orang yang menunggu di pos pendaftaran dengan harapan merebut tempat di team yang akan mendaftar. Dan lagi... Mereka pastinya orang-orang yang kuat karena percaya diri untuk merebut tempat dalam team."
"Apa ada jaminan mereka orang baik?"
"Buat apa peduli dengan sifat mereka, di ujian kali ini, yang kita perlukan adalah rekan yang kuat bodoh! Aku tidak peduli jika mereka psikopat atau bagaimana, yang penting dia bisa berkontribusi nantinya."
Ran mengernyitkan dahinya tanda tidak senang dengan saran Eduardo, tapi perkataannya memang tidak sepenuhnya salah. Sedari tadi, justru Ran lah yang terus menghambat teamnya sendiri. Tapi harga dirinya malah membuat dirinya kembali berdebat.
"Tidak penting? Kau bercanda? Bagaimana jika dia mengkhianati kita di tengah ujian? Bagaimana jika dia cuman psikopat yang cuman peduli untuk membunuh kita? Tak ada jaminannya kan?"
Kesabaran Eduardo mulai habis, ia kembali mencengkram kerah Ran, "Kau ini! Apa kau sadar? Kau dari tadi menghambat team ini dengan sifat manjamu itu, lalu kau mau bagaimana? Terus berkeliling mencari rekan team yang sesuai kriteriamu? Lucu! Mau sampai kapan? Batas waktunya keburu habis hanya untuk menghadapi sifat manjamu itu."
William langsung bergerak cepat untuk melerai mereka, "Berhenti kalian berdua, pertengkaran tidak akan memberikan solusi."
"Kau diam dulu William, jangan memanjakan orang ini terus, aku heran denganmu, bisa-bisanya kau tahan dengan anak manja seperti ini."
Ran tidak bisa membalas perkataan Eduardo, jauh di lubuk hatinya, ia sadar bahwa dia sendiri yang menghambat teamnya.
Ran pun membuat keputusan sulit, ia menggertakkan giginya dan berkata, "Baiklah! Aku setuju dengan idemu itu."
Eduardo yang mendengar jawaban Ran, melepaskan cengkramannya pada kerah Ran, "Nah begitu dong, lama banget sih, tinggal jawab 'Iya' Saja juga."
Dengan langkah yang sangat berat, disertai rasa enggan, Ran pun berjalan paling belakang mengikuti Eduardo yang berjalan ke arah pos pendaftaran, membelah kerumunan orang yang masih mencari team mau pun sudah memiliki team.
Dugaan Eduardo benar, di pos pendaftaran ada 1 orang yang menunggu dan terlihat mencari sesuatu, tampak jelas dia belum memiliki team.
Eduardo yang pertama mengajaknya berbicara, "Hoi! Kau belum punya team kan? Gabung dengan team ku saja sini."
Orang itu menengok ke arah Eduardo, penampilan orang itu terlihat normal, tapi tidak pantas ada disini. Orang itu memakai coat berwarna coklat dengan kerah lebar, dibaliknya ia memakai kemeja putih yang berlumur lumpur serta dasi kotak-kotak, ia juga memakai sarung tangan kulit berwarna hitam serta kacamata kotak tanpa bingkai.
Eduardo dan William pun senang dengan antusiasme yang ditunjukkan orang itu, kecuali Ran yang masih merasa ragu, pikiran buruk masih menghantuinya.
William pun bertanya kepada orang itu, "Omong-omong, apa kekuatanmu?"
"Ah... Kekuatanku it-"
Teng Teng Teng
Belum selesai orang itu menjawab, suara bel berdentang di ruangan itu. Suara perempuan mengikuti di belakangnya.
[Perhatian! Waktu pendaftaran tinggal 1 menit lagi, dimohon untuk segera mendaftar]
Mendengar pengumuman itu, William tidak bertanya lagi, ia segera membawa teamnya ke dalam untuk pendaftaran, "Nanti saja kita lanjut lagi pertanyaannya, untuk sekarang kita daftar dulu."
"Bagus, sekarang kau tidak kaku, aku suka kau yang sekarang." Balas Eduardo.
"Baiklah, aku juga tidak mau sampai tereliminasi." Orang baru itu juga setuju.
Hanya Ran yang masih sedikit enggan, ia merasa tidak nyaman dengan banyaknya orang yang bergabung. Tapi dengan terpaksa, ia pun mengikuti teamnya masuk ke dalam pos.
Di dalam pos masih ada 2 team yang masih mendaftar di depan meja pendaftaran yang dijaga oleh seorang perempuan, Eduardo yang tidak sabaran berniat untuk langsung menerobos barisan, "Sial! Biar langsung kuterobos saja barisannya."
William pun langsung mencegah Eduardo yang berniat membuat kekacauan, "Jangan, nanti kita dieliminasi kalau sampai ada tindak kekerasan di luar ujian."
"Tch, kutarik kata-kataku tadi tentangmu."
Mereka ber-4 pun terpaksa menunggu, beruntung tidak perlu waktu lama bagi team di depan untuk menyelesaikan pendaftaran.
Tapi, hanya tersisa 15 detik lagi untuk mereka melakukan pendaftaran, William pun langsung maju, mengambil kertas pendaftaran dan menuliskan nama mereka dengan cepat.
-William Austin
-Ran Corbin
-Eduardo Andres
__ADS_1
Dengan sangat cepat, William menuliskan nama mereka bertiga dengan sangat cepat, tapi waktu tersisa 5 detik lagi.
William bertanya kepada orang baru itu dengan berteriak tanpa sadar, "Siapa namamu?"
"Enzo! Hanya Enzo saja." Balas orang itu dengan ikut berteriak.
-Enzo
William pun langsung memberikan kertas pendaftaran kepada penjaga pos di depannya pada detik-detik terakhir.
Teeettttt....
Suara bel langsung muncul untuk menandai selesainya waktu pendaftaran, team Ran beruntung berhasil mendaftar di waktu-waktu akhir.
Suara frustasi terdengar dari beberapa orang di belakang yang telat untuk mendaftar.
Penjaga pos di depan team Ran tersenyum misterius sambil berkata, "Selamat untuk kalian karena berhasil mendaftar, silahkan kembali ke tempat awal untuk mendapatkan penjelasan terkait ujian ini."
Team Ran pun keluar dari pos pendaftaran, setelah mereka keluar, pos pendaftaran di belakang mereka kembali turun ke bawah.
Di luar, ada beberapa orang yang terlihat marah dan kesal.
Ranker Amare dan Emily muncul kembali di atas panggung.
"Selamat untuk 20 team yang sudah mendaftar, sayang sekali ada beberapa yang terlambat mendaftar."
Orang-orang yang gagal mendaftar karena ragu untuk memilih team, menyampaikan keluhan mereka, "Ini tidak adil! Bagaimana bisa kau meminta kami membuat team dengan orang asing yang tidak kami kenal?"
"Benar sekali, pada ujian pertama banyak psikopat yang mengejarku, dan kalian berharap kami membuat team dengan orang-orang seperti itu?"
"Setidaknya berikan waktu lebih untuk mendaftar! Aku gagal mendaftar karena team di depanku yang belum selesai mendaftar."
Ranker Amare menghembuskan napasnya dengan kesal, ia mendorong kembali kacamata hitam miliknya ke dalam dan berkata, "Itu bukan urusan kami! Kegagalan kalian adalah salah kalian sendiri, dan asal kalian tahu, membuat team dengan cepat adalah bagian dari ujian ini, kalian gagal membuat team, kalian sudah gagal dengan ujian ini."
"Apa? Kau tidak memberitahu kami!"
"Kalau kalian pintar harusnya kalian bisa menebaknya sendiri. Dan lagi, kami tidak perlu persetujuan kalian untuk menggagalkan kalian, kalian tidak bisa memenuhi ekspektasi kami, kalian gagal!"
Ranker Amare mengeluarkan aura yang mencekam
Znggg.... Grrrkkkkk....
Ruangan terasa bergetar dengan aura yang dikeluarkan Ranker Amare.
Para peserta yang gagal pun terpaksa menerima takdir mereka dan pergi berjalan keluar dari gedung ujian dengan kepala yang tertunduk ke bawah.
Ran melihat mereka dengan perasaan sedih, sekaligus bersyukur karena ia tidak menjadi salah satunya.
Ranker Emily pun menjelaskan ujian ke-2, "Seperti yang tadi sudah kami jelaskan, ujian kali ini akan memakai sistem team dan akan berjalan seperti Tag Play atau permainan kejar-kejaran..."
Peserta gaduh dan saling berbisik mendengar penjelasan ujian kali ini.
Permainan? Mereka anggap apa ujian ini.
Mereka sepertinya senang yah mempermainkan peserta.
Mereka tidak serius yah? Kenapa seperti ujian anak-anak.
Ranker Emily mengabaikan semua itu dan melanjutkan penjelasannya, "...Setelah kalian mendaftar, ada beberapa team yang mendapatkan Pin berwarna merah yang akan menjadi identitas team kalian. Dan ada juga yang tidak mendapatkannya. Team yang mendapat Pin akan menjadi team hidup, dan yang tidak dapat akan menjadi team mati."
Ran merasakan firasat buruk, teamnya tidak mendapatkan pin, sehingga posisi team Ran adalah.
Team Mati.
"Team hidup, harus bisa menjaga pin mereka sampai akhir ujian yaitu 24 jam atau satu hari. Dan team mati harus bisa merebut setidaknya satu Pin team hidup agar bisa lolos. Pada ujian ini masih berlaku sistem eliminasi seperti pada test pertama, kalau HP kalian habis, kalian akan terkirim ke ruang eliminasi. Tapi jika rekan kalian masih ada dan berhasil merebut pin dan bertahan hingga akhir, kalian tetap akan lulus. Sekian, Kalian akan dipindahkan ke tempat ujian secara langsung, sama seperti sebelumnya."
Sial, kami malah mendapatkan peran yang buruk.
Sekejap kemudian, Ran dan Teamnya dipindahkan ke tempat lain.
Berbeda dengan tempat sebelumnya, tempat ujian kali ini adalah sabana dengan rerumputan setinggi 1 meter, dan ada beberapa bukit di sekitar sabana yang lumayan jauh dari tempat team Ran.
Kali ini, kami harus memburu orang lain, mau atau tidak, kami harus memburu team lain untuk lolos.
__ADS_1