Sword Ranker

Sword Ranker
All Is Anemy


__ADS_3

Suasana di sekitar terasa bergetar hanya karena bentrokan antara 2 orang.


Si pria pirang dengan sikap sopan bak seorang ksatria, William Austin.


Dan seorang anak laki-laki kurus kering dengan penampilan berantakan, yang entah siapa namanya.


Mereka berdua mengeluarkan tekanan aura yang sama besarnya, tekanan aura yang menyamai seorang Ranker hingga mampu membuat gedung terasa bergetar.


Ran menggigil melihat keduanya, pada titik ini, ia tidak tahu siapa yang akan menang jika mereka berdua bertarung serius.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain, mengamati pergerakan masing-masing, dan...


Syuuttt


Keduanya bergerak bersama.


Bum.


Bum.


Bam


Mereka berdua bergerak secepat kilat, tiap kali mereka bentrok akan tercipta dentuman besar. Tempat di sekitar mereka hancur, lantai tempat mereka berpijak hancur berkeping-keping, berubah menjadi tanah berdebu.


Orang-orang yang awalnya menonton dari dekat, secara alami menjauh agar tidak terkena dampak dari pertarungan mereka berdua.


Syatttt


Keduanya berhenti dan saling berhadapan, mereka berdua siap untuk saling memukul. Tapi kali ini terasa berbeda dari sebelum-sebelumnya.


Awalnya mereka hanya mengandalkan kekuatan fisik murni mereka. Tapi sekarang mereka melapisi tinju mereka dengan aura masing-masing.


Ran menggigil ketika membayangkan dampak yang akan terjadi ketika kekuatan mereka saling bertabrakan.


Tetapi, tepat sebelum pukulan mereka mengenai satu sama lain, terdengar suatu suara yang mendominasi.


"HENTIKAN!"


Dummm...


Suara itu terasa sangat berat dan mencekam, bahkan memberikan kesan horror seakan bertemu dengan hantu.


William dan lawannya sontak berhenti ketika mendengarnya.


Dan Ran, langsung merinding dan menggigil ketika mendengarnya, Monster macam apa lagi yang muncul kali ini?


Semuanya langsung menoleh ke arah suara.


Suara itu berasal dari tengah ruangan, tepatnya di atas panggung yang dilihat Ran pertama kali.


Panggung yang semulanya kosong, saat ini ditempati oleh 2 orang. Satu pria dan satu wanita


Si pria memiliki penampilan yang sangar, kulit gelap, rambut gimbal panjang hingga sepunggung, dan badan kekar yang penuh tato. Pria itu hanya memakai tanktop dan celana jeans berwarna hijau tua yang penuh robekan dimana-mana, serta sepatu sneaker yang juga tidak luput dari robekan dan kotoran. Ia juga mengenakan kacamata hitam dan rantai berwarna perak yang dijadikan sebagai kalung. Ia terlihat seperti seorang rapper.


Dan disebelahnya, ada si wanita yang terlihat kecil, berkebalikan dengan si pria yang memakai baju yang tidak formal, si wanita memakai baju formal dengan kemeja putih serta jas hitam, ia memakai rok hitam panjang hingga semata kaki dengan warna hitam yang senada dengan warna jasnya dan sepatu hak tinggi. Ia memakai kacamata tanpa lensa dan mempunyai potongan rambut model bob. Wanita itu memeluk papan clipboard di dadanya. Ia tampak seperti sekretaris kantor yang biasa muncul di dalam drama.


Ketika melihat mereka berdua, semua peserta sudah tahu siapa mereka berdua.


RANKER.


Itulah siapa mereka, tidak ada yang berani membuat keributan jika ada mereka. Belum lagi, Ranker yang biasa mengawasi ujian adalah Ranker B keatasnya.


Tapi, manusia adalah makhluk yang memiliki sifat yang berbeda-beda, tidak semua manusia akan menunjukkan reaksi yang sama jika berhadapan dengan sesuatu. Tidak terkecuali dengan Ranker.


"Hoi Hoi Hoi! Kenapa dengan kalian ini? Kalian mengacau di bagian paling seru tahu. Jangan hanya karena kalian Ranker kalian bisa berbuat seenaknya dan menganggap kalian selalu diatas tahu."


Seperti yang diduga, si anak kurus yang bertarung dengan William menyampaikan protesnya. Ia terlihat santai meski tahu sedang mencari masalah dengan seorang Ranker.


Si Ranker wanita tampak menghela napasnya seakan sudah lelah dalam menanggapi para Hyper muda.


Ia melihat papan clipboard yang ia bawa dan membolak-balik kertas yang ada di papan clipboard. Hingga ia menemukan yang ia cari.


Kemudian Ranker wanita itu berkata, "Eduardo Andres, benar kan? Lahir di distrik 83, dan menjadi satu-satunya peserta dari distrik itu."


Semuanya gaduh ketika mendengar hal itu, distrik 83 adalah distrik terburuk, tempat itu penuh dengan hal-hal kotor dunia karena jarang diurus oleh pemerintah. Walau hanya berjarak 4 distrik dari distrik Ran, distrik 83 jauh lebih dari distrik 79 karena terletak di ujung benua.


Dan Eduardo Andres, dia adalah penghuni distrik tersebut.


Eduardo yang identitasnya dibongkar menjadi tambah kesal dan marah, "Hahhhhhhh!? Lalu maksudmu ha!? Tiba-tiba membicarakan identitasku seperti itu, apa kau berniat mengejekku hah!? Karena aku adalah gelandangan dari distrik tersebut, sementara kalian adalah para elit dari distrik kaya."


Si Ranker wanita menggelengkan kepalanya dengan frustasi, "Hhhhh, karena inilah aku benci orang barbar." Ucap si Ranker wanita dengan sangat pelan.


Tapi, Eduardo masih mendengarnya, dengan sangat marah Eduardo berteriak, "Hahhh!? Apa kau bilang!? Sini kau dasar ja***g!" Eduardo sangat marah dan terlihat akan menghampiri duo Ranker itu.


Syuuung....


Itu hanya terjadi secara sekejap, hampir tidak ada yang melihatnya. Hanya terasa embusan angin yang melewati para peserta.


Dalam waktu yang sangat singkat itu, si Ranker pria yang awalnya berdiri di atas panggung, langsung berpindah tepat di depan Eduardo.


Ia mengarahkan pisau ke leher Eduardo sambil mengeluarkan aura membunuh.


Eduardo, si pria tanpa ketakutan yang berani melawan sang bintang, William Austin, untuk pertama kalinya merasa ketakutan.


Glek


"Jaga ucapanmu anak muda, bukan masalah jika kami kehilangan beberapa kandidat. Toh, ada banyak calon kandidat bagus disini." Ucap si Ranker dengan dingin.


Eduardo tidak bisa bereaksi, ia hanya diam saja.

__ADS_1


"Kuanggap diammu itu sebagai tanda mengerti." Si Ranker mengambil keputusannya.


Syuut...


Si Ranker itu langsung kembali menghilang dan muncul kembali di atas panggung.


"Dengarkan kami..." Dua Ranker itu serentak berteriak.


"...Nama kami Amare dan Emily kami disini akan menjadi pengawas untuk ujian ini, kekerasan diluar ujian tidak akan kami toleransi." Teriak dua Ranker itu.


Si laki-laki bernama Amare dan si perempuan adalah Emily. Mereka berdua dengan tegas memberikan larangan kepada semua peserta.


Semua peserta ujian hanya bisa tunduk dan patuh karena perbedaan kekuatan.


Melihat para peserta yang sepertinya sudah paham, Ranker Emily berkata, "Jika kalian semua sudah mengerti, keluarkan gelang hitam yang kalian dapatkan saat masuk kesini..."


Semua peserta serentak mengeluarkan gelang yang mereka dapatkan dari penjaga saat akan masuk.


Gelang itu berwarna hitam polos tanpa adanya hiasan atau pun pernak-pernik yang menghiasinya, dan tampak seperti terbuat dari karet. Tapi Ran bisa merasakan sesuatu dari balik gelang itu, Seperti ada sesuatu yang tipis menonjol dari dalamnya, seperti kabel mungkin? Tapi sangat tipis sekali.


"...Cukup kalian tempelkan di lengan kalian, gelang itu akan secara otomatis terpasang sendiri."


Ran menuruti perkataan Ranker Emily, dan benar saja. Gelang itu seperti sudah dirancang untuk langsung terpasang tanpa ada perintah aktivasi, "Wo...Wow!" Ran secara tidak sadar bergumam kagum.


Setelah menempel, permukaan gelang itu tiba-tiba bercahaya membentuk layar kotak seperti smartwatch.


Dari gelang itu, muncul gambar tubuh dengan hitungan waktu 7 menit.


Semuanya bertanya-tanya apa maksudnya.


Ranker Emily kembali menjelaskan, "Kalian tenang saja, gelang itu digunakan untuk menghitung statistik tubuh kalian. Dengan itu, kalian bisa mengetahui keadaan tubuh kalian secara terkini. Waktu yang muncul adalah waktu yang dibutuhkan gelang itu untuk menghitung stat kalian. Semakin kuat kau, akan butuh waktu semakin lama untuk menghitungnya."


Mendengar penjelasan tersebut, Ran melihat waktu digelangnya lagi, 7 menit huh? Lumayan, setidaknya statku tidak akan terlalu rendah.


"Dan ini, adalah waktu paling lama dibutuhkan gelang ini untuk menganalisis statistik salah satu peserta. Yaitu 32 menit, ini lumayan menakjubkan..." Ranker Amaren menunjuk sebuah layar besar yang berada tepat di atas penggung yang mendadak muncul.


"...Jadi kalian punya waktu 32 menit untuk bersantai. Setelah waktunya habis, kalian akan langsung dipindahkan ketempat ujian berikutnya, detailnya akan diberitahukan oleh gelang kalian masing-masing." Setelah selesai menjelaskan, keduanya pun pergi entah kemana dengan cepat.


Ran merasa sedikit kecewa dan malu, ia awalnya bangga dengan waktunya, tapi ia kembali disadarkan bahwa ada banyak monster di tempat ini, Sial, berarti hampir 5 kali lipat dari statku dong. Orang mana yang bisa sampai selevel itu. Apa mungkin... "Dia"?


Ran melirik William yang sedang memijat lengannya, dan sepertinya tidak hanya Ran yang berpikir hal seperti itu.


Tidak diragukan lagi, pasti dia


Tidak mungkin orang lain


Aku yakin pasti dia


Banyak orang yang juga melirik ke arah William, mereka sama-sama yakin bahwa William lah yang memiliki stat tertinggi diantara semua peserta.


Sementara itu, Eduardo tampak kesal setelah peringatan sang Ranker, "Cuih! Tempat ini sangat busuk." Kemudian ia beranjak pergi entah kemana.


Waktu berjalan terasa cepat ketika kau tahu ada orang lain yang perlu menunggu lebih lama darimu.


Penghitungan statistik Ran sudah selesai.


Data yang tertera adalah:


[Strength: 102]


[MP: 64]


[HP: 487]


Hmm... Lumayan tinggi untuk seukuran manusia biasa, tapi diantara Hyper ini sih rendah banget...


Batin Ran ketika melihat statistiknya.


Waktu sebelum ujian terakhir masih tersisa 25 menit lagi, waktu yang cukup untuk melakukan beberapa hal. Tetapi, karena Ran sudah terlibat perkelahian yang tidak biasa, ia tidak lagi memiliki semangat untuk melakukan hal lain, Diam disini sana deh, daripada kena masalah lagi


Ran pun hanya diam ditempatnya saja, menunggu waktu berlalu.


Ketika menunggu orang lain, waktu terasa berjalan sangat lambat, Ran merasa sudah menunggu hampir satu jam, tapi penanda waktunya memperlihatkan baru 15 menit berlalu.


Bosan juga kalo diam saja disini


Puk


Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Ran, Ran otomatis menoleh.


Di belakangnya, tampak anak laki-laki seusia Ran yang tersenyum Ramah, "Yo!"


Anak laki-laki itu memiliki rambut hitam dengan potongan pendek, garis mata yang tajam dan mulut yang terus tersenyum ramah. Ia setinggi Ran, dengan warna kulit putih, ia mengenakan pakaian yang memberikan kesan santai, yaitu kaos yang dibalut hoodie berwarna hitam dengan garis-garis berwarna merah di bagian lengannya, celana jeans berwarna hitam, dan sepatu kets.


Melihat penampilan anak itu, Ran secara tidak sadar menurunkan penjagaannya. Ia tidak merasakan adanya hawa yang mengancam ataupun memberi ketakutan. Malahan ia merasa santai melihat anak itu.


Ran pun membalas sapaan anak itu dengan kaku, "Y-Yo?"


Anak itu tersenyum dan tertawa lebar mendengar sapaan Ran yang sangat kaku, "Hahahahaha, santai saja, tidak perlu terlalu kaku seperti itu. Oh iya, salam kenal yah, panggil saja aku Tim." Ucap anak itu sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Ran menjabat tangan anak bernama Tim itu dengan ragu-ragu, "Ra-Ran." Ucap Ran untuk membalas perkenalan dari Tim.


Tim kembali tertawa dan berkata, "Hahaha, yah... Aku sudah tahu namamu kok."


"Hah!? Apa? Kau tahu darimana?"


"Tentu saja dari internet, kasus yang sempat viral bulan lalu, kau muncul saat persidangan terakhir kan?..."


Ran langsung mengingat kembali peristiwa itu.

__ADS_1


"...Kau muncul sambil berteriak dan menangis kencang, karena itu kau sempat terkenal dengan sebutan, "Hyper cengeng" tahu."


"Aaaaa...." Ran tergagap, ia tidak bisa menahan rasa malunya.


Ran kembali teringat dengan peristiwa memalukan itu, padahal kejadian itu sudah lama, dan Ran berharap tidak akan ada yang mengingatnya lagi. Siapa sangka, justru di tempat inilah peristiwa itu akan diungkit lagi.


Ran pun menutup wajahnya karena malu, telinganya sampai memerah.


Tim tertawa puas melihat ekspresi Ran, "Hahahaha, sudah sudah, toh video itu hanya viral sebentar. Kebetulan aku masih ingat karena ingatanku lumayan bagus."


"Uhhh..." Ran membuka wajahnya, ia tampak seperti lobster yang habis direbus.


"Maaf maaf! Sebagai gantinya, akan kuberikan info menarik."


"Info apa?" Ran menjadi penasaran


"Tentu saja tentang orang-orang yang tadi berkelahi, kau pasti penasaran kan siapa saja mereka?"


"Tentu saja." Rasa penasaran Ran terpancing keluar mendengar ucapan Tim.


"Baiklah, kita mulai dulu dari si pria bongsor yang dipermalukan itu. Walau dia tampak terus dipermalukan, tapi dia itu tidak boleh dipandang sebelah mata. Namanya Rocky, ia berasal dari distrik 68. Ia adalah seorang yang sangat kuat karena berhasil memecahkan rekor nilai di distriknya. Bahkan ia mendapat nilai kekuatan yang sama besarnya dengan para Hyper kuat di distrik elit."


"Apa? Dia sehebat itu?" Ran sangat terkejut, tidak ia duga kalau hampir saja ia terlibat perkelahian dengan orang sehebat itu.


"Tentu saja, hanya saja ia tidak beruntung karena bertemu dengan para monster yang lebih kuat darinya. Seperti si bocah berisik tadi, Eduardo Andres. Seperti yang sudah diberitahukan oleh si Ranker, Eduardo itu berasal dari distrik 83 yang merupakan distrik terburuk"


"Kalau begitu, kenapa dia bisa sangat kuat?"


"Karena lingkungannya buruk"


"Apa hubungannya?" Ran kebingungan mendengar jawaban Tim


"Apa kau pernah dengar pepatah, Hard Time make Strong man. Ran?" Tim bertanya sambil tersenyum misterius.


"Sepertinya iya."


"Nah, eduardo itu adalah contoh sempurna dari pepatah itu, dia lahir di lingkungan kumuh yang sangat buruk, tapi ia terlahir dengan bakat sebagai Hyper. Dan kebetulan, kekuatannya justru cocok dengan lingkungannya, dan malah membuat kemampuannya semakin terasah..."


"Tunggu!? Bagaimana kau tahu sampai info sedetail itu?" Ran menyela omongan Tim, ia berbalik menjadi penasaran dengan Tim yang serba tahu.


Tapi Tim tidak menjawab, ia malah melanjutkan bicaranya, "...Kemampuan dari Eduardo adalah Power Up. Tapi bukan sebatas buff untuk memperkuat diri, kemampuannya adalah untuk memperkuat statistik dirinya sendiri ketika menderita sebuah luka. Semakin ia terluka, justru ia semakin kuat. Sebuah kekuatan dengan efek samping mengerikan, tapi sangat cocok bagi dirinya yang tinggal di lingkungan kotor."


Glup


Ran menelan ludahnya, sekarang ia menjadi penasaran tentang siapa itu Tim. Penampilannya terlihat biasa, sangat biasa hingga membuat Ran menjadi lengah karena merasa santai.


Tapi, ada sesuatu yang misterius dari diri Tim, dan itu menjadi mengganggu bagi Ran ketika ia menyadarinya.


Tapi, Ran menyimpan rasa penasaran itu karena ia tahu bahwa Tim tidak akan mau menjawab pertanyaan tentang dirinya.


"Kalau tentang William?" Ran memilih topik yang sepertinya masih akan dibahas oleh Tim.


"Hmm? William yah? Sebenarnya ini info umum, jadi harusnya kau sudah tahu jika seandainya kau bukan idiot yang malas membaca berita."


Dug


Ucapan Tim terasa seperti lemparan batu bagi Ran. Ran pun menjadi minder hingga menunduk dan mengeluarkan aura suram.


"Hahaha, bercanda kok, hanya saja aku bingung ingin memulainya dari mana... Hmm...?" Tim memegang dagunya sambil berpikir serius.


Ran menantikannya dengan semangat.


"Oh kalau begitu dari situ saja. Ran, kau tahu kan dengan orang-orang dari distrik elit, terutama distrik 1-4?"


Ran mengangguk, "Iya, dibeberapa media seperti koran, televisi dan internet sering membahasnya. Bahkan terkadang guruku juga membahas tentang kehidupan mewah orang-orang di distrik elit yang paling dekat dengan Central City."


"Kalau begitu ini akan menjadi lebih mudah, kau tahu kan tentang keluarga besar di distrik elit?"


"Aku hanya tahu jika mereka adalah keluarga dari para Ranker terkuat pada masa Monster Attack."


"Nah, jika kau belum tahu, akan kuberi tahu, William itu adalah bagian dari keluarga itu. Ia adalah cucu dari Ranker terkuat sepanjang masa yang melebihi Taph, presiden dunia saat ini. Ranker yang gugur karena menutup Gate terbesar di dunia. Aldrich Austin." Ucap Tim sambil tersenyum lebar.


Ran langsung merinding, perpaduan dari rasa takut, kaget, dan kagum langsung bercampur. Siapa sangka jika William adalah keturunan dari orang sehebat itu.


"Pantas saja ia sangat kuat." Ucap Ran kepada Tim


"Tentu saja, dan bukan hanya nama besar dari kakeknya saja yang membuatnya terkenal. Tapi juga karena prestasi luar biasanya itu. Hal yang membuatnya sangat ditakuti adalah tentang kabar kalau dia berhasil mengalahkan seorang Ranker, dan bukan Ranker level rendah, tapi seorang Ranker A."


"A-Apa????" Ran benar-benar sanga terkejut hingga seluruh badannya bergetar.


Ranker, bagi Ran, itu adalah sebuah nama yang sangat besar. Bahkan Ranker sekelas Pengawas Farizi yang hanya Ranker B, bisa membuat Ran mati kutu jika berhadapan langsung. Tapi mendengar fakta bahwa William berhasil mengalahkan Ranker saat masih seorang Hyper. Adalah sesuatu yang terasa mustahil dan tidak nyata.


"Sepertinya kau sangat penasaran Ran, tapi maaf yah, waktunya sudah habis." Tim menoleh ke layar besar di atas panggung yang hanya tersisa 10 detik lagi.


"Tu-tunggu, masih ada yang mau kutanyakan." Ran mencoba menahan Tim di detik-detik terakhir.


Tim tersenyum dengan lembut melihat usaha Ran, "Tenang saja Ran, kita mungkin akan bertemu lagi. Itu pun jika kau bisa bertahan dengan kemampuan Projection and Creation Sword milikmu." Ucap Tim dengan nada sinis dan mengejek.


Sekali lagi, Ran kembali terkejut. Kemampuannya tidak pernah terekspos sekali pun, Tahu darimana dia?


"Kau, tahu dari mana?" Teriak Ran kepada Tim.


Tetapi, Ran tiba-tiba sudah berpindah ke sebuah tempat antah berantah. Secara mendadak, di sekeliling Ran berubah menjadi hutan belantara dan disertai dengan mendung.


Hah? Dimana ini? Ran kebingungan ketika melihat sekelilingnya berubah.


Gelang Ran menyala terang, Ran mengeceknya dan melihat tulisan. [Eliminasi para peserta lain, lawan akan dianggap tereliminasi jika HP habis. Lakukan hingga hanya tersisa 100 orang dari 367 peserta yang ada]


Ran merinding ketika melihat pemberitahuannya, ujian ini tidak ada bedanya dengan Battle Royal, tidak ada yang bisa dipercaya pada keadaan ini. Hanya diri sendiri yang bisa dipercaya sepenuhnya. Karena, "Semuanya adalah musuh"

__ADS_1


__ADS_2