Sword Ranker

Sword Ranker
I Can Fight Too


__ADS_3

"Waahhhh... Beneran menang ternyata, percuma saja aku khawatir."


"Sudah kubilang bukan?" Ucap Ran dengan jumawa.


"Iya, iya, kau benar, kalau begitu aku pergi sekarang." Enzo berdiri dari tempat lalu pergi ke ruang tunggu.


Melihat Enzo yang berjalan sambil memunggungi Ran, entah kenapa membuat Ran sedikit sedih, ia merasa khawatir dengan Enzo jika karena kekuatan Enzo yang bukan untuk bertarung. Sebelum Enzo hilang, Ran menyemangati Enzo.


"Semangat Enzo, jangan sampai kalah."


Enzo berhentik sejenak mendengar ucapan dari Ran, kemudian ia menggaruk kepalanya seperti orang yang kebingungan, "Hadehhh, kalau kau bilang seperti itu, rasanya aku seperti akan kalah saja."


Enzo menengok kebelakang, ia seperti akan mengucapkan sesuatu, tapi entah kenapa malah tidak jadi, "Sudahlah, aku pergi dulu, kau juga semangat saat giliranmu."


"Umm..."


Enzo melangkah pergi meninggalkan Ran ke ruang tunggu. Sepanjang perjalanan, Enzo jadi berpikir macam-macam.


Sejujurnya, aku memang merasa tidak akan menang sih, yah... Mau bagaimana lagi, ini pilihan yang kupilih sendiri, mau bagaimana pun, aku harus berusaha semaksimal mungkin.


Beberapa menit berlalu, Enzo kemudian masuk ke arena bersamaan dengan lawannya.


Lawan Enzo bernama Bagas Evan, ia adalah bapak-bapak berjenggot dengan rambut berwarna hitam yang sudah dipenuhi uban, dan ia memakai kacamata hitam. Bapak itu hanya memakai tanktop dan celana kebesaran dengan motif militer saja, sehingga tubuhnya terlihat jelas, ada banyak tato dan luka di tubuhnya yang berotot.


"Hooo... Jadi lawanku adalah seorang anak muda yah, ya ampun, ini membuatku jadi tidak tega."


"HahaHaha... Tidak perlu segan pak, mari kita bertarung dengan benar."


"Hmm... Hmm... Bagus, bagus, beginilah seharusnya anak muda."


Bapak itu memasang kuda-kuda tinju, sementara Enzo mempersiapkan semua peralatan yang bisa dijadikan senjata.


Denggg...


Pertarungan dimulai, Enzo mengambil beberapa pisau bedah untuk ia lemparkan, tapi sebelum Enzo menyerang, sebuah bola api terbang ke arahnya.


Bummm...


Bola api itu meledak di depan Enzo, ledakannya menghancurkan lantai di depannya dan sekaligus menerbangkan Enzo.


"Uhuk!" Enzo batuk-batuk di pojok arena, untungnya dia tidak terluka parah, Enzo langsung mengambil obat-obatan yang dia miliki di dalam jasnya untuk mengobati luka-lukanya.


"Heummm... Sayang sekali malah meleset, tadinya aku berniat untuk menyelesaikan ini dalam satu serangan. Sayang sekali, malah meleset." Ucap Bagas yang sedang mengacungkan tinjunya ke depan, kepalan tinjunya seperti terbakar dengan asap yang keluar dari kepalan tinjunya serta warnanya yang berubah menjadi kemerahan seperti terkena luka bakar.


"Ukhhh... Kelihatannya ia sengaja deh." Ucap Enzo sambil berbisik, dengan sempoyongan Enzo berdiri.


Bagas menyerang lagi, ia mendorong tinjunya yang satu lagi, bola api keluar dari tinjunya dan terbang ke tempat Enzo.


Enzo langsung menghindar, bola api itu mengenai pojok arena dan kembali meledak.


Buuummm...


Retakan dinding tersebar kemana-mana, disertai dengan asap tebal, Enzo bersembunyi di dalam asap itu.


"Hoo... Apa kau berpikir jika bersembunyi di dalam asap, aku tidak akan menyerang? Salah besar!!!" Bagas berteriak, ia meninju udara secara bertubi-tubi, melepaskan bola api miliknya.


Bak Buk Bak Buk Bak Buk


Bola api dengan jumlah masif terbang ke dalam tabir asap, Enzo pun langsung keluar dari dalam tabir asap untuk menghindari serangan bola api.


Bammm Bummm Braakkkk


Bola api itu menabrak dinding arena, ledakan besar terjadi, dampak dari ledakan itu, tempat duduk penonton runtuh, beruntung tidak ada yang peserta di tempat duduk yang dihancurkan bagas.


Enzo berlari mengitari arena, ia mengambil beberapa pisau bedah miliknya, lalu melemparkan beberapa ke arah bagas.


Syuuutttt... Syuuttt... Syuuuttt....


Pisau bedah Enzo terbang dengan cepat ke arah Bagas, tapi Bagas bisa menghindarinya hanya dengan memiringkan kepalanya sedikit ke arah yang berlawanan.


Jleb Jleb Jleb


Apada akhirnya pisau bedah itu hanya tertancap pada dinding atau lantai arena.


"Hanya segitu saja kemampuanmu hah!?"


"Cih!"


"Berhentilah berlarian kesana kemari, jangan membuat ini semakin lama."


Bagas terus melancarkan tinju apinya kepada Enzo, Enzo yang tidak bisa melawan hanya menghindar sekuat tenaganya saja sambil melemparkan pisau bedah atau guntingnya saja.


Tindakan Enzo terkesan percuma, pisau dan gunting yang ia lempar terlalu lambat, jika itu hanya manusia biasa, tentu saja akan kena, tapi lawannya adalah Hyper.


"Hoi! Apa kau mau terus melarikan diri? Aku yakin kau pasti sudah lelah bukan?"


Enzo mengacuhkan provokasi Bagas, ia tetap terus menghindar sambil melempar pisau dan gunting.


Tapi benar kata Bagas, Enzo tidak bisa menghindar selamanya, perlahan-lahan, Enzo mulai kelelahan. Dan ketika Bagas mengetahuinya, Enzo dalam bahaya.


"Hossshhh... Hossshhhh..." Enzo mulai mendesah kelelahan, Bagas melihatnya sebagai kesempatan emas.


Bagus! Sekarang waktunya.


Bummm...


Bagas melesat mengejar Enzo seperti memakai pegas, dalam sekejap, Enzo terpojok oleh Bagas, Enzo hampir tidak bisa meloloskan diri, sementara Bagas sudah menyiapkan tinjunya.


Mati aku. Pikir Enzo meratapi nasib, namun ia teringat kata-kata Ran, kata-kata sederhana dari Ran memacu semangat dan harga dirinya. Dengan mati-matian, Enzo melemparkan tubuhnya ke samping untuk menghindari serangan Enzo.

__ADS_1


Buuummm....


Tinju Bagas menghantam dinding, ledakan dahsyat terjadi hingga meruntuhkan tempat duduk penonton. Enzo yang berada di pusat ledakan terlempar jauh.


"Hooo... Kau ternyata bisa mendorong dirimu sendiri hingga sejauh itu yah, kupuji kau karena berhasil menghindari seranganku. Tapi... Sepertinya tidak bisa menghindar sepenuhnya yah."


"Ukhhhh..." Enzo meringis menahan sakit dari punggungnya yang terluka, ia berhasil menghindar dari ledakan, tapi ia tetap terkena serpihan bebatuan dari dinding yang hancur akibat ledakan.


Enzo menderita gores dan memar di punggungnya, baju bagian belakangnya pun sobek akibat serpihan tajam yang mengenai punggungnya sehingga memperlihatkan bagian punggungnya yang memar dan berdarah.


"Enzo!!!" Ran berteriak panik melihat Enzo yang terluka parah, tapi ia tidak bisa berbuat lebih dari itu karena peraturannya.


Yang bisa dilakukan oleh Ran hanya menahan rasa khawatirnya saja, Sial! Enzo...


Bagas merasa heran mendengar teriakan panik dari Ran, "Hmmmm...? Mengejutkan sekali, tidak kusangka ada peserta yang benar-benar berteman dekat, padahal kukira semuanya hanya menjadi satu team untuk sementara saja."


Enzo meringis menahan sakit, ia sebisa mungkin menyembuhkan luka bakarnya dengan menciptakan obat dengan kemampuan miliknya, kemudian ia menjawab perkataan Bagas, "Heh... Heh... Jangan dipedulikan, dia memang anak yang seperti itu, tapi itulah yang membuatnya menarik."


"Hoh, Hoh, sepertinya kalian benar-benar berteman dekat yah? Aku sedikit terhatu melihat pertemanan anak-anak muda."


"Terimakasih, tapi simpan saja rasa harumu untuk hal lain. Saat ini kita masih bertarung."


"Apa kau yakin ingin melanjutkannya? Menilai dari luka yang kau derita, pilihan terbaik yang bisa kau pilih adalah menyerah saja. Akuilah, kau tidak akan bisa mengalahkanku, lagipula kemampuan milikmu itu bukan kemampuan bertarung, lebih baik kau gunakan kemampuanmu itu di tempat lain saja."


"Terimakasih atas sarannya pak tua, tapi ini adalah hidupku sendiri, aku yang akan menentukan sendiri dimana kekuatanku akan digunakan." Ucap Enzo sambil tersenyum menahan sakit.


"Begitu... Tidak apa, aku senang melihat anak muda yang memiliki kepercayaan diri, namun aku tidak suka dengan anak muda yang tidak tahu batasnya."


Bagas mengambil kuda-kuda tinju, kaki kanan diletakkan di belakang, kaki kiri di depan, tangan kanan diletakkan di pipi sejajar dengan pinggang sementara tangan kiri berada di depan.


Kemudian Bagas mengumpulkan kekuatannya di tangan kanannya, Enzo yang merasakannya tahu bahwa itu akan menjadi serangan terkuat dari Bagas.


"Kuberikan satu kesempatan lagi nak, menyerahlah!"


"Sudah kubilang bukan? Tidak akan!" Enzo menggertak padahal ia masih belum sembuh.


"Begitukah? Sayang sekali."


Kekuatan berskala besar berkumpul di tinju kanan Bagas, kemudian ia menarik tinju kanannya mundur, ia siap untuk melepaskan bola apinya kapan saja, namun kali ini berbeda, kekuatan yang ia kumpulkan memiliki skala yang jauh berbeda dari semua serangan yang telah ia lancarkan.


"Kalau begitu, sampai jumpa."


Bwussshhhh....


Bola api raksasa keluar dari tinju Bagas, dengan gerakan lambat, bola itu terbang ke arah Enzo.


Semua penonton yang ada di arah yang dituju bola api itu langsung melarikan diri untuk menghindari ledakan yang akan datang.


Lari....! Jangan diam disini


Awas ledakannya.


Enzo melihat bola api itu dengan tatapan nanar, ia tahu bahwa dirinya bisa mati jika terkena serangan ini, dengan terhuyung ia berdiri dan berjalan ke arah bola api itu sambil bergumam pelan, "Ini adalah pertaruhan besar, tapi layak dicoba."


Buuuuuummmmmmm.......


"Enzoooooo!!!!!" Teriak Ran sambil menangis.


Bola api itu meledak, menghancurkan setengah bangku penonton hingga luluh lantak.


Bagas yang merasa dirinya sudah menang membalik badannya dan berjalan pergi, tapi ia baru menyadari sesuatu, "Tunggu, bukannya aku sudah menang? Kenapa pengumumannya tidak berbunyi?"


"Karena kau belum menang bodoh!" Suara Enzo tiba-tiba terdengar dari belakang.


Kaget dengan suara Enzo, Bagas langsung berbalik ke belakang, dan yang menyambutnya adalah tusukan dari pisau bedah ke perutnya.


Jleb


Pisau bedah yang kecil menusuk perut Bagas, darah mengalir keluar dari perutnya. Dan Enzo lah yang sudah menusuk perutnya


"Enzo! Kau selamat!" Ucap Ran dengan dipenuhi rasa bersyukur melihat temannya selamat.


Dengan rasa tidak percaya, Bagas bertanya kepada Enzo, "Ka-Kau! Bagaimana bisa kau lolos dari ledakan?"


"Bagaimana? Sederhana! Bola apimu itu, hanya meledak ke satu arah kan?"


"Bagaimana kau mengetahuinya?"


"Jangan kira aku hanya lari-lari tanpa tujuan saja selama ini, aku sudah mengamati ledakan dari bola apimu selama ini, dan kuambil kesimpulan kalau ledakan dari seranganmu itu hanya satu arah saja, yaitu arah yang dituju oleh bola apimu. Dengan itu, aku mengambil resiko untuk menghindari ledakannya dengan menyelinap ke bawah bola apimu itu lalu kabur ke depannya. Dan ternyata berhasil haha!"


"Ukhhhh... Kau hanya bocah ingusan!"


"Begitukah? Maka bocah ingusan ini yang akan mengalahkanmu." Enzo memutar pisaunya, daging Bagas teriris semakin banyak hingga menyebabkan rasa sakitnya berlipat ganda.


"Arrkkkhhhh... Sa-sakit..."


"Nah, sekarang kau yang harus menyerah pak tua"


"Ya, memang sangat sakit, tapi... Memang kenapa!?"


Bagas langsung menahan tangan Enzo yang menusuk perutnya.


"Ugh... Kau..."


"Jangan mengira aku akan kalah hanya dengan ini saja nak! Aku punya pengalaman mengikuti ujian ini 5 kali, dan kali ini aku harus lulus, tidak akan kubiarkan bocah ingusan sepertimu membuatku gagal!"


Bagas menahan tangan Enzo untuk bergerak, Enzo yang kalah kuat tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali. Lalu Enzo berniat menggunakan tangan satunya yang bebas untuk menusuk bagian lain dari bagas. Tapi...


Kretekkk

__ADS_1


Suara bunyi dari benda patah terdengar dari jari Enzo, itu adalah bunyi dari tulang jarinya yang dipatahkan oleh Bagas.


"Arrrgggghhhhhhhhhh.....!!!!!" Enzo berteriak kesakitan, ia mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Bagas.


"Hahaha, anak muda jaman sekarang sangat lemah, hanya segini saja sudah berteriak kesakitan." Bagas menertawakan respon Enzo, lalu melepaskan tangan Enzo.


Enzo langsung mundur dan jatuh setelah lepas, ia tidak berpikir untuk kabur, tapi ia langsung mengobati lukanya dengan obat-obatan dan perban.


Bagas mencabut pisau bedah yang menusuk perutnya dan melemparnya ke pojok.


"Menyusahkan, lebih baik kau menyerah saja sekarang."


Enzo menangis kesakitan, tapi ia tidak berniat untuk menyerah, dengan sempoyongan Enzo berdiri, "Tidak akan! Aku harus menang!"


"Kau tidak memberiku pilihan lain lagi."


Syuuuttt... Bhuakkkk....


"Uakhhh..."


Dalam sekejap Bagas sudah berpindah ke tempat Enzo dan meninju perut Enzo hingga Enzo terangkat ke udara.


"Masih belum!"


Bagas memutar kepalan tinjunya, lalu kepalannya berubah menjadi merah dan...


Buuummm....


Bagas meledakkan bola apinya langsung di perut Enzo, ia sama sekali tidak berbelas kasihan lagi kepada Enzo.


'Bworrrghhhh...." Enzo yang terkena serangan langsung dari jarak dekat langsung muntah darah hebat.


Tidak hanya muntah darah, Enzo juga menderita luka bakar yang sangat serius pada perutnya. Ia tampak seperti sudah akan kalah. Namun, bel masih belum berbunyi.


"Apa-apaan ini? Kenapa masih belum selesai juga? Dia sudah sekarat, tidak mungkin masih bisa bertarung!" Ucap Bagas memprotes panitia.


Dengan dengan terengah-engah, Enzo menjawab pertanyaan Bagas dengan nada yang mengejek, "Su..dah je...las kan? Hah... Hah... HAh... Aku... belum... kalah..."


"Belum kalah? Jelas-jelas kau sudah sekarat! Berhenti keras kepala dan menyerahlah! Atau kubuat kau benar-benar mati!"


"Maaf yah, tapi aku tidak akan kalah!" Ucap Enzo dengan percaya diri.


Bagas yang tidak bisa menahan amarahnya lagi, mengangkat tinjunya, kali ini sasarannya adalah kepala Enzo untuk memastikannya kalah.


Tapi, Enzo mengangkat tangan kanannya, lalu ia menggenggam sesuatu, itu adalah seutas benang tipis berwarna bening.


Benang? Pikir Bagas kebingungan, tapi kemudian ia mengacuhkan itu dan melesatkan tinjunya ke kepala Enzo.


Tapi kemudian, tangan kiti Enzo mengambil sesuatu, itu adalah seikat benang yang sama yang ada di tangan kanannya, lalu Enzo lemparkan benang itu ke atas kepala Bagas seperti menebar jala untuk menangkap ikan.


Benang itu melewati kepala Bagas dan ketika sampai di tengah tubuhnya, benang itu langsung mengetat dan mengikat tubuh Bagas, dan menggagalkan niatnya untuk menyerang Enzo.


"Apa ini? Kau kira hanya dengan benang tipis ini kau bisa menghentikanku hah? Aku bisa menghancurkan benang tipis ini dengan mudah." Teriak Bagas marah.


"Bukankah tadi sudah kubilang, aku tidak hanya berlari tanpa tujuan." Ucap Enzo dengan tenang.


Barulah Bagas menyadari, jika benang tipis ini terhubung dengan semua pisau bedah dan gunting yang sudah dilemparkan oleh Enzo.


Dengan perasaan syok dan kaget Bagas bertanya kepada Enzo, "Kau... Sudah merencanakan ini semua dari awal?"


"Tepat, dan benang inilah yang akan menarik semua senjataku kembali."


Menyadari kenyataan ini, Bagas berteriak ketakutan sambil memberontak untuk melepaskan dirinya, "Tidakkk!!! Lepaskan ini, aku tidak boleh kalah disini! Aku tidak boleh kalah!"


Tapi benang Enzo sama sekali tidak hancur, "Itu adalah benang spesialku, walau lebih tipis dari yang biasanya, itu jauh lebih kuat."


Enzo menarik benang terakhir yang menjadi tuas untuk menarik kembali semua senjatanya, dengan suara yang tenang dan lembut, namun menakutkan, Enzo mengucapkan perpisahan dari mulutnya yang berlumuran darah, "Selamat tinggal!"


Tekkk.


Enzo menarik benangnya, dengan wajah ketakutan dan putus asa, Bagas mengucapkan, "Ti...dak...."


Sssrrrrrttttt....


Seketika itu juga, semua benang yang mengikat pisau bedah dan gunting yang sudah Enzo sebar, tertarik ke badan Bagas seperti magnet.


Semua senjata itu berputar seperti tornado, sebelum akhirnya menancap ke tubuh Bagas.


Jleb Jleb Jleb Jleb Jleb Jleb


"Akkhhh..."


Bruuusshhhhh...


Darah segar keluar seperti air mancur dari tubuh Bagas.


Pengumuman kemenangan datang setelahnya.


[Pemenangnya, Enzo]


Setelah pengumuman pemenang keluar, Enzo melepaskan semua benang yang mengikat Bagas sekaligus semua senjata yang menancap di tubuh Enzo.


Semuanya gaduh melihat aksi Enzo, mereka berpikir itu tidak diperlukan karena adanya staff yang akan mengurusnya.


Tapi mau bagaimanapun, Enzo adalah seseorang yang memiliki kemampuan menyembuhkan, bukan membunuh, dengan sisa kekuatannya, Enzo menyembuhkan Bagas.


"Hehe... Ini adalah ujian, bukan perang untuk saling bunuh, jadi aku tidak akan membiarkan ada seorang pun yang mati, terutama karena diriku sendiri. Setidaknya dengan ini kau tidak akan mati."


Setelah menggunakan seluruh sisa kekuatannya, Enzo pun ikut jatuh pingsan kehabisan tenaga, tapi karena kemenangannya, ia jatuh dengan rasa puas sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2