Sword Ranker

Sword Ranker
One-Sided Massacre


__ADS_3

Bwusshhhh....


Api berkobar di dalam arena, orang bernama Dracko itu yang mengeluarkan api dari tangan kanannya untuk menyerang Rocky. Orang bernama Dracko itu memiliki penampilan yang cukup nyentrik, dengan baju berkerah lebar berwarna cerah yang dimasukkan ke dalam celana gombrang dan memakai kacamata, hal yang paling unik dari dirinya adalah warna rambutnya yang terbagi 2 yaitu merah dan biru.


Kemampuannya Dracko yang telah ia tunjukkan adalah mengeluarkan api dari tangannya, tapi ini berbeda jauh dibanding api yang dikeluarkan orang dengan jaket kulit yang Ran kalahkan pada test ke-2, api milik Dracko terasa jauh lebih panas dibanding api milik orang itu.


Suhu panas dari api Dracko terasa hingga ke bangku penonton yang jauh, bahkan Ran pun menjadi keringatan karena api yang Dracko keluarkan.


"Orang itu, sangat kuat, tidak heran dia bisa lolos dengan mudah."


"Ya... Dia memang sangat kuat, tapi lawannya juga bukan orang yang lemah."


Perkataan William benar, walau mengeluarkan api dengan suhu tinggi, Rocky sama sekali tidak terluka, ia bisa bertahan tanpa perlu bergerak sama sekali.


Rocky bertahan di tempat, ia menggunakan kemampuannya yang dapat melapisi tubuhnya dengan batu karang untuk menahan api Dracko. Dengan tangannya yang sudah dilapisi oleh batu karang yang keras, Rocky bertahan di tempat dari semburan api Dracko.


"Sudah? Hanya begitu saja seranganmu? Bah! Kau pikir api kecil begitu bisa mengalahkanku?" Ucap Rocky dengan sombong.


Dracko berhenti menyemburkan api, ia terlihat memikirkan strategi lain untuk melawan Rocky.


Namun Rocky tidak mau menunggu, ia langsung maju dan mengayunkan tinjunya yang dilapisi oleh batu karang untuk menyerang Dracko.


Bhammm...


Tinju Rocky menyerang Dracko, namun tinjunya malah luput dan berakhir menyerang lantai, Dracko berhasil menghindari serangan Rocky dengan cara meloncat sambil berputar ke belakang Rocky.


Saat Dracko berada di belakang Rocky, ie kembali menyemburkan apinya, Rocky terbakar sepenuhnya.


Bwussshhh....


Api panas menyembur ke arah Rocky, tapi ketika Dracko menghentikan apinya, Rocky tetap berdiri tegak tanpa terluka sedikit pun.


Hanya baju Rocky yang terbakar menjadi abu, dan dibalik bajunya, punggung Rocky sudah dilapisi oleh batu karang.


"Sudah kubilang kan? Apimu itu tidak mempan padaku bodoh!"


Dracko mundur ke belakang untuk menjaga jarak, Rocky dengan santai menggertakkan lehernya, ia tampak tidak menganggap Dracko sebagai masalah yang besar, walau seluruh batu karang yang melapisi tubuhnya mengeluarkan asap karena dipanaskan dalam suhu ekstrem.


Sekali lagi Rocky maju untuk menyerang Dracko, tapi Dracko berhasil lolos dan menyerangnya dengan apinya lagi.


"Lagi? Bukankah sudah kubilang itu percuma saja?"


Tidak peduli walau serangannya gagal, Dracko tetap menyemburkan apinya ke Rocky.


Serangan yang terus berulang membuat Rocky kehabisan kesabaran.


"Graaaa... Dasar monyet! Sudah kubilang itu tidak mempan, jadi berhenti berlari bodoh!"


Tubuh batu Rocky mengeluarkan asap tebal, tapi itu bukan karena kemarahannya, tapi karena suhu dari batu karang Rocky yang menjadi naik setelah terus dipanaskan oleh Dracko.


Ran tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Dracko, apa yang ia lakukan tampak tidak berguna sama sekali.


Tapi Dracko malah tersenyum, seperti sudah merencanakan sesuatu, "Tidak berguna? Heh Heh, jangan menyimpulkannya terlalu cepat kawan, kau belum melihat semua kemampuanku"


"Hah?"


Dracko mengangkat tangan kirinya, Rocky mengira dia akan mengeluarkan api yang lebih panas dari sebelumnya, karena itu membentengi dirinya dengan kedua tangannya.


Tapi yang keluar bukanlah api, melainkan air.


Brussshhh...


Air bertekanan tinggi keluar dari tangan kiri Dracko.


Ran jadi memikirkan satu hal, apa yang akan terjadi jika seandainya batu yang sudah dipanaskan dengan api, dihantam oleh air bertekanan tinggi?


Bummm... Krakkk...


Tubuh batu Rocky menjadi hancur setelah terkena air bertekanan tinggi.


"Ehhh????" Rocky tidak percaya dengan apa yang terjadi, pertahanannya seketika runtuh.


Sementara Dracko tersenyum puas, "Heh... Heh... Sekarang kau tidak punya baju pelindung lagi kan? Kalo gitu silahkan rasakan apiku secara langsung! Gratis!"


"Tu-"


Bwussshhhh.....


Dracko menyemburkan apinya tanpa ampun, Rocky yang tanpa perlindungan apa pun, terbakar hingga gosong.


Tinggg


Bel berbunyi, menandakan pertarungan telah selesai, Dracko pun menghentikan serangannya. Dan Rocky ambruk ke lantai.

__ADS_1


[Pemenangnya, Dracko]


Suara dari speaker mengumumkan kemenangan telak Dracko.


"Hmmmpph... Mudah sekali." Dengan jumawa, Dracko melangkah keluar dari colosseum, Rocky mengikuti Dracko keluar, tapi sambil digotong oleh beberapa petugas.


Pertarungan pertama sudah selesai, sekarang masuk ke pertarungan ke-2, yaitu pertarungan Eduardo melawan Frank.


Eduardo masuk ke arena bersamaan dengan Frank, lawan Eduardo tampak memiliki kesamaan dengan Eduardo. Mereka berdua memiliki penampilan yang berantakan, baju yang sudah sobek-sobek dan rambut jabrik yang tidak terurus, bahkan rambut Frank sampai menjulur ke bahunya saking jabriknya.


"Mantap! Tidak kusangka aku akan bertarung denganmu Eduardo Andres!"


"Oh ya!? Sepertinya kau tahu sedikit tentangku yah?"


"Tentu saja, dari dulu aku selalu ingin bertarung denganmu."


"Begitu hah!? Baguslah! Kebetulan aku sudah bosan karena melawan pengecut selama ini."


Denggg


Bel berbunyi, kedua petarung itu langsung maju dan bertabrakan secara langsung.


Bhammm....


"Ehehehe... Ternyata kau sangat menarik."


"Kau juga tidak mengecewakan, sesuatu rumor."


Keduanya tertawa senang, entah apa yang membuat mereka senang. Ran menjadi mengerti bahwa para panitia memang membuat pertarungan yang seimbang, orang yang gila bertarung melawan orang yang juga gila bertarung.


Ran dan Frank saling memukul, keduanya memukul dengan brutal tanpa ampun.


Bhakkk... Bhuakkk... Bukkk...


Darah segar terciprat ke sekeliling arena, semua yang melihat menjadi menggigil karena kebrutalan mereka berdua.


Dasar monster.


Bedebhammm


Eduardo berhasil memukul mundur Frank, Frank menahannya dengan tangannya, tapi ia tetap terdorong jauh kebelakang.


"Memang sesuai rumornya yah, semakin terluka, semakin kuat. Kalau begitu aku juga harus lebih serius."


Dia... Menjadi serigala.


"Huffffttt..." Frank bernapas lega setelah transformasinya lengkap. Ia menjadi seekor serigala, atau lebih tepatnya seorang WereWolf


"Hooo~ Jadi itu kemampuanmu? Sangat menarik."


"EheHeh... Mari kita bersenang-senang." Ucap Frank sambil terkekeh.


Zaaaapppp


Frank mendadak menghilang, tapi ia tidak keluar dari arena, melainkam ia bergerak sangat cepat hingga sulit diikuti mata.


Eduardo memandang ke sekitar, mencoba menangkap pergerakan dari Frank.


Tapi sebelum bisa menangkap pergerakan Frank, Eduardo terkena serangan.


Crakkk...


Sebuah luka cakaran muncul di punggung Eduardo, lalu disusul dengan luka lainnya.


Crakkk... Crakkk... Crakkk...


Tangan, kaki, wajah, dada dan punggung, semuanya terkena cakaran Frank.


"Ahahahahaha... Ada apa woi! Apa kau sudah menyerah? Apa hanya segini kemampuanmu? Ahahahahahahha...."


Eduardo diam di tempat, tapi bukan berarti ia sudah menyerah, justru ia tersenyum senang.


Eduardo membungkukkan badannya, ia membuat posisi "Siap" dalam melakukan start.


Bhamm...


Eduardo memakai kakinya sebagai pegas untuk mendorong tubuhnya maju, ia melesat seperti roket untuk menghantam tubuh Frank.


Bhummm... Krakk Krak...


Eduardo tepat sasaran, ia berhasil mengenai Frank dan menghantamnya ke dinding dengan seluruh tubuhnya.


"Apa? Ba-Bagaimana bisa?"

__ADS_1


"HahahahahHahahha.... Gob***! Jangan lupakan kemampuanku! Semakin aku terluka, seluruh stat kemampuanku akan meningkat! Terimakasih atas seluruh luka yang kau berikan bodoh! Dengan itu aku bisa melihat gerakanmu."


Eduardo menekan tubuh Frank ke dinding untuk mencegahnya bergerak, Frank yang awalnya setara dengan Eduardo, sekarang ini jauh dibawahnya sehingga ia tidak bisa bergerak.


Dengan kepalan tangannya, Eduardo meremas kepala Frank.


Krrrkkk... Kretekk...


Suara tulang yang hancur terdengar dari kepala Frank.


"Arrrghhhhh..... Kau ba*****n!!!!!" Frank menjerit kesakitan, ia meraung-raung mencoba melepaskan diri dari Eduardo.


"Ehehehehe..." Tapi Eduardo malah tertawa menakutkan.


Frank mencoba segala cara untuk melepaskan dirinya. Ia memanjangkan cakarnya, lalu menusuk tangan Eduardo. Tapi Eduardo tidak bereaksi, malahan ia meremas kepala Frank lebih kuat lagi.


Orang ini gila! Aku harus melepaskan diri.


Disaat Frank berpikir seperti itu, Eduardo tiba-tiba melepasnya begitu saja.


Eduardo lalu melepaskan cakar Frank yang menancap di tangannya lalu mundur ke belakang.


Hah? Kenapa dia? Apa dia sudah menyerah? Tidak mungkin, buat apa dia menyerah. Tapi... Satu hal yang pasti, akan kubunuh dia!


Amarah Frank sudah memuncak, ia tidak pernah dipermalukan sampai seperti ini. Dengan kedua kakinya yang digunakan sebagai pegas, Frank melesat ke tempat Eduardo untuk menerkamnya.


Dengan pikiran "Dia tidak secepatku" Frank menyerang Eduardo tanpa takut.


Tapi pikiran sombong Frank membuatnya jatuh, Eduardo yang sudah terluka parah, justru membuatnya semakin kuat, ia bisa melihat dengan jelas gerakan Frank lalu memukul wajah Frank sebelum Frank bisa menyerangnya.


Bhuakkk...


Frank terlempar jauh dan jatuh ke lantai.


Dengan mata yang berkunang-kunang, Frank mencoba bangkit untuk melawan Eduardo lagi, Tapi Eduardo tidak mengizinkannya. Belum sempat Frank berdiri, Eduardo langsung menginjak kepalanya ke lantai hingga hancur.


Tengkorak Frank serasa akan hancur karena diserang Eduardo berkali-kali.


Frank serasa mau menyerah, ia sudah tidak kuat lagi untuk bertarung, tapi bahkan Eduardo tidak memberikannya izin untuk menyerah.


Buuughh...


Eduardo menendang perut Frank hingga Frank terlempar ke pojok arena.


"Ohokkkk Ohokkk... Tu-Tung"


Bhuaghhh...


Eduardo menendang perutnya lagi, mencegahnya berbicara.


Eduardo lalu jongkok untuk sejajar dengan Frank, ia memegang bulu leher Frank untuk menarik kepalanya mendekat, "Hei...! Hanya segini? Kukira kau masih bisa lebih."


"A-Aku... Menyerah..."


"Tidak bisa begitu dong! Kau tidak boleh menyerah."


Bhhuakkkk...


Sekali lagi, Eduardo memukul perut Frank, membuat Frank muntah darah.


Sambil berbisik, Eduardo mengucapkan sesuatu yang membuat Frank merinding, "Kau baru boleh menyerah jika kau sudah mati, jadi selama itu akan kuajari kau tentang rasa sakit."


Bhuagghh... Bhakkk... Bhuakkkk...


Eduardo menyerang Frank tanpa ampun, ia memukul seluruh bagian vital Frank.


Frank bahkan sudah kehabisan tenaga untuk memohon ampun, dalam pikirannya ia sudah menyerah, Orang ini gila.


Tinggg


Bel berbunyi menandakan selesainya pertarungan.


[Pemenangnya, Eduardo Andres]


Tapi walau pun dirinya sudah menang, Eduardo tetap tidak berhenti untuk menyerang Frank, sementara Frank sendiri sudah jatuh pingsan.


Eduardo yang tetap menyerang walau sudah menang, membuat Ranker Amare turun tangan.


"Hoi! Kau sudah menang, jadi hentikan itu." Ucap Ranker Amare sambil menahan tangan Ran agar tidak menyerang lagi.


Dengan terpaksa, Eduardo pun berhenti dan melangkah pergi keluar arena, dengan nada jengkel, Eduardo mengomel, "Cih! Lagi-lagi mengganggu."


Kondisi Frank benar-benar parah, para staff sampai harus melakukan pertolongan pertama sebelum menggotongnya.

__ADS_1


Diam-diam Ran merasa bersyukur, karena lawannya bukanlah Eduardo, karena itu Ran berharap agar lawannya bukanlah orang brutal seperti Eduardo.


__ADS_2