
Trangggg
Suara keras yang memekakkan telinga terus berbunyi akibat pedang Ran dan tinju Tim yang terus beradu.
Entah sudah berapa kali pedang Ran terlempar atau hancur akibat terkena serangan dari Tim.
Sejak tadi, Tim seakan-akan bercanda, ia lebih memilih untuk menyerang pedang Ran meski punya kesempatan emas untuk menyerang Ran secara langsung.
"Khhkkk... Kau bercanda yah? Dari tadi kau terus menyerang pedangku dan sengaja tidak menyerangku."
"Benar sekali, biar aku bisa melihat sosokmu yang kehabisan Mana setelah berkali-kali menciptakan pedang. Untuk membuat pedang seukuran ini, pasti Mana yang dipakai tidak sedikit kan?" Ucap Tim sambil menghancurkan pedang Ran untuk kesekian kalinya.
Pranggg
Sekarang sudah pedang ke-5 yang dihancurkan Tim.
Walau sudah berlatih untuk meningkatkan kapasitas Mana miliknya, Ran tetap kewalahan jika harus terus menciptakan pedang baru.
Ran pun mundur dan menciptakan senjata baru, tapi kali ini bukan katana, ia memilih untuk menciptakan 2 buah belati untuk menghemat energinya.
"Kenapa heh!? Kau sudah kehabisan Mana yah?"
"Kau sendiri bagaimana? Kulihat-lihat, perisai energimu sudah jauh menipis dibanding tadi bukan? Sepertinya Mana yang kau curi dari kami tinggal sedikit."
"Bah! Ini bukan apa-apa, toh yang kupakai selama ini adalah energi orang lain, aku masih punya Mana milikku sendiri."
Keduanya bertatap-tatapan sejenak, lalu kemudian.
Wushh..
Keduanya melesat maju, kali ini Ran memilih untuk menggunakan strategi yang berbeda. Ran tahu menahan tinju Tim tidaklah efektif, walau bisa ditahan, pada akhirnya Ran lah yang akan kalah karena perbedaan stamina mereka berdua yang terlampau jauh.
Jadi kali ini, ketika Tim melayangkan tinjunya, Ran tidak menahannya, ia mengecoh Tim dengan berpura-pura akan menahannya, lalu ketika Tim termakan tipuan Ran.
Syuutt...
Ran berputar ke samping Tim, memanfaatkan waktu dimana Tim menyerang ke depan, membuat pertahanan di samping tubuhnya terbuka.
Kena.
Ran berniat menusuk mata Tim, belatinya diluncurkan secepat mungkin. Tetapi...
Tim bisa membaca serangan Ran, Tim memutar tubuh bagian atasnya, dan dengan sikunya, ia menyerang belati Ran.
Tanggg
Belati Ran terlempar dan hancur hanya dengan satu serangan Tim.
"Cih." Ran mundur karena merasa tidak ada harapan untuk menyerang lagi.
"Kau bodoh yah? Aku sedikit menyesal karena mengira kau jenius tadinya, jelas sekali kalau itu adalah pola yang sudah kupakai, dan kau memakainya untuk menyerangku? Apa kau mengira aku akan terkena pola serangan yang pernah kulakukan? Cih, aku salah sangka nih, ternyata kau hanya punya insting yang bagus dalam menebak serangan dan bertahan, tapi sayangnya kau tidak punya insting untuk menyerang. Berbanding terbalik dengan bocah William yang jago dalam menyerang, tapi bodoh dalam bertahan."
"Berisik sekali, apa kau tidak bisa diam!?"
"Tersinggung yah? Mentalmu lemah juga, kalau sudah seperti ini, menyerah saja, aku tahu HP milikmu pasti sudah mau habis bukan? Jika HP milikmu mencapai 1, kau akan pingsan. Jadi sekarang menyerah saja."
"Tidak akan!"
"Keras kepala sekali, sudah kuduga harus dengan paksaan."
Tim mengulurkan tangannya, ia membentuk cakar dengan jari-jari tangannya yang terlihat mengintimidasi.
Ran berjaga-jaga dengan semua kemungkinan terburuk yang akan muncul.
Mereka berdua menatap satu sama lain dengan pandangan mengawasi antara satu sama lain.
Lalu dalam sekejap mata, Tim bergerak dengan kecepatan yang sangat cepat, Ran bisa melihatnya, ia bisa memprediksi apa yang akan dilakukan oleh Tim, tapi sayangnya, tubuhnya masih belum mampu mengikuti kecepatan prediksinya.
Krrekkk
Tim mencekik leher Ran tanpa bisa dihindari, Ran bisa melihat kecepatan Tim, tapi ia tidak mampu untuk menghindarinya, dan berakhir tertangkap dalam cengkraman cakar besi Tim.
Krrrttt...
"Khhhkkk..." Ran merasa sesak napas, Tim dengan sengaja mengencangkan cekikannya.
"Tidurlah, aku masih baik karena tidak menyerap kekuatanmu, karena kau bisa mati jika kekuatanmu kuserap dalam keadaan lemah begini."
"Khakkk..." Ran meronta-ronta, dengan sisa-sisa kekuatan terakhirnya, ia mencakar tangan Tim yang mencekik lehernya.
__ADS_1
"Menyerahlah, jangan terus melakukan tindakan yang sia-sia." Tim tidak bergeming sedikit pun karena dicakar oleh Ran. Ia seperti patung besi yang tidak bisa digoyahkan.
Bib
Gelang Ran berbunyi, HP nya berkurang dari 4 ke 3.
Ran merasa makin lemah, tangannya terjuntai lemah setelah melakukan perlawanan terakhir, matanya semakin kabur dan tubuhnya mulai kehilangan kekuatan untuk berdiri sedikit demi sedikit.
"Bagus! Tidur saja dengan tenang." Ucap Tim.
Tapi, di detik-detik terakhir sebelum Ran pingsan, terdengar suara bising dari arah belakang.
Srak Srak Srak
Itu adalah suara ranting dan daun yang terinjak, seseorang datang dari arah belakang, dan Tim tahu siapa orang itu.
William! Ia kembali bangun setelah dikalahkan 2 kali oleh Tim.
Dari arah belakang, William mengayunkan pedangnya untuk menyerang Tim.
Syuunggg...
"Tch!" Tim tidak bisa menghindar, ia memilih untuk menahan serangan Tim dengan satu lengannya.
Sebelum pedang William mencapai Tim, Tim sudah mempersiapkan pertahanan dengan memakai lengannya, lengannya ia angkat bagai dinding untuk menahan tebasan pedang William.
Tapi ada yang salah dari perkiraan Tim, William tidak berniat menebasnya dengan pedangnya, justru kebalikannya, William memakai pedangnya seperti tongkat, bukannya menebas dengan salah satu sisi yang tajam dari pedangnya, justru William menyerang dengan sisi tengah pedangnya yang tumpul, dan ia ayunkan seperti tongkat baseball.
Bhuakkk...
Tim terlempar sedikit dari tempatnya, karena William sengaja mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah untuk memecah keseimbangan dari Tim.
Akibatnya, Tim kelepasan Ran.
"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. Hoekkk..." Ran batuk-batuk setelah lehernya lepas dari cekikan Tim.
William langsung maju ke depan Ran, dan William menghunuskan pedangnya ke arah Tim.
"Ukhhh... Bocah sialan, kukira kau sudah hampir mati, padahal aku sudah menyedot sisa-sisa kekuatanmu, kenapa kau masih bisa bangun?"
"Yang kamu ambil adalah kekuatan dari mode berseker, saya masih punya cadangan kekuatan sendiri."
Tim geram dengan William yang terus bangkit walau sudah ia kalahkan 2 kali, Tim memukul tanah hingga hancur untuk menyalurkan kemarahannya.
"Jangan terus memukul tanah yang tidak bersalah, majulah! Kita masih punya urusan yang belum selesai kan?" Ucap William memprovokasi.
"Benar sekali bocah, kali ini aku tidak akan lalai lagi akan kupastikan kau tidak bernapas atau setidaknya lumpuh setelah aku mengalahkanmu."
William berniat maju untuk menyerang Tim, tapi Ran menahannya.
Ran berbisik memperingati William, "Tunggu William! Jangan gegabah, dia itu bisa membaca seranganmu dari awal, berbahaya jika asal maju lagi."
"Kalau begitu, kamu pasti punya rencana kan?" Balas William sambil berbisik juga.
"Ya! Aku punya rencana, ikutilah kata-kataku..."
"Begitu, baiklah."
Tim jengkel melihat Ran dan William saling berbisik, "Hoi! Jangan berbisik saja! Kalian merencanakan sesuatu kan? Majulah kalau begitu, aku tidak takut mau kalian kerja sama sekali pun."
"Kamu saja yang maju, atau kamu sebenarnya takut pada kami?" Ucap William memprovokasi.
"Dasar....! Anak jaman sekarang sama sekali tidak punya sopan santun, akan kuajari kalian!" Tim maju menanggapi provokasi dari William.
Seperti biasa, Tim melayangkan tinjunya dengan sangat cepat dan penuh tipuan, ia berniat menyerang dengan tangan kiri, tapi ia tangan kanannya yang ia siapkan untuk menyerang.
William tertipu, ketika Tim sampai di hadapannya, William berniat bertahan dengan menjadikan pedangnya sebagai perisai.
Dengan sekejap, Tim langsung berhenti, ia menarik kembali tangan kanannya, dan menggunakan tangan kirinya untuk menyerang William dari bagian samping yang tidak terlindungi oleh apa pun.
"Mundurkan kepalamu!" Teriak Ran sebelum serangan Tim datang.
William mengikuti instruksi Ran, ia memundurkan kepalanya ke belakang, dan hasilnya, William berhasil menghindari tinju Tim.
Dalam keadaan syok karena kaget, Tim diserang oleh Ran dari belakang memakai katana.
Srakkk
Bukan serangan yang kuat, tapi berkat menipisnya sisa-sisa kekuatan yang dimiliki oleh Tim, Ran berhasil menembus perisai energi milik Tim.
__ADS_1
"Ukhhh... Bocah kurang ajar!" Tim dengan marah berputar untuk menyerang Ran.
Tapi Ran berhasil menghindarinya dan menjauh dari Tim.
Lalu dari arah belakang, William sudah ancang-ancang menyerang Tim, dengan pedangnya yang sudah dilapisi oleh energi miliknya, William menebas Tim.
Srakkk...
Tebasan William merobek perisai energi milik Tim dan menebas kulit Tim hingga berdarah-darah.
"Akhhhh...." Tim terlempar terkena tebasan William.
Tim hampir jatuh tertelungkup ke tanah, tapi Ran sudah menunggu di tempat jatuhnya Tim.
Bhuakkk
Ran menyerang muka Tim yang hampir jatuh ke tanah menggunakan lututnya.
"Khahkkk..." Dengan kondisi tubuh yang tidak stabil, mudah bagi Tim untuk terlempar hanya dengan serangan sederhana. Serangan Ran tadi membuat Tim kembali berdiri.
Tanpa menunggu Tim siap, William dan Ran memukul wajah Tim dari arah yang berlawanan.
Buk Bhuak
Wajah Tim berputar karena dipukul dari 2 arah yang berlawanan.
Tim tidak bisa melihat dengan jelas, tapi amarahnya sudah memuncak karena merasa terhina, "Bocah sialan!!!" Tim berteriak kencang.
Semua sisa energi yang dimiliki Tim langsung meledak bersamaan, Ran dan William terpaksa mundur agar tidak terkena efek dari ledakan energi Tim. perisai energi Tim pun kembali tebal bahkan menjadi bercahaya.
"Bocah kurang ajar, akan kubuat kalian menyesal karena sudah main-main denganku." Tim menyerbu ke arah William dan Ran.
"Kau siap kan?" Ucap Ran kepada William
"Tentu!" Balas William.
Tanpa memedulikan percakapan mereka, Tim menyerang William dengan penuh amarah, tinjunya menyerang secara brutal.
"Kanan, kiri, mundur, merunduk, tangkis." Teriak Ran kepada William.
William mengikuti semua instruksi Ran, dan hasilnya, ia berhasil menghindari dan menangkis serangan Tim.
Setelah William berhasil menghindari semua serangan Tim berkat instruksi Ran, William juga menyerang Tim ketika melihat ada celah.
"Khakkk..." Tim berteriak kesakitan ketika terkena serangan dari bagian yang memiliki perisai paling tipis.
"Mundur, itu tipuan, jangan maju, awas serangan dari bawah!" Ran terus memberikan instruksi untuk menghindari serangan Tim. Dan disaat William melihat celah pada Tim, ia tanpa ragu menyerangnya, baik dengan tinju mau pun pedangnya.
Tak satu pun serangan Tim mengenai William, sebaliknya, serangan William terus mengenainya, perisai energi Tim pun semakin menipis dan compang-camping.
Bo-Bocah-bocah ini, mereka bekerja sama untuk melawanku, Ran yang jago menghindar tapi tidak bisa menyerang, memberikan instruksi untuk menghindari seranganku. Sedangkan William yang jago menyerang tapi kurang bagus dalam menghindar, menyerangku ketika ada celah. Sial sekali.
Buk
Serangan Tim ditahan oleh tangan William, perisai energi milik Tim sudah hancur karena kehabisan kekuatan.
Ahhh.... Sial sekali nasibku. Pikir Tim dengan pasrah menerima nasibnya.
William mengepalkan tangan satunya, armor miliknya kembali muncul. Dan...
Bhuakkkkkk.....
Tinju William meluncur bagai roket ke wajah Tim, Tim yang sudah kehabisan tenaga, terlempar jauh.
Bocah menyebalkan. Pikir Tim ketika melayang setelah terkena serangan William.
Bib
Bersamaan dengan itu, gelang Tim menunjukkan HP miliknya yang berkurang nol, lalu disusul dengan hilangnya Tim.
Melihat Tim yang menghilang setelah HP-nya habis, Ran dan William merasa tidak percaya dengan hasil yang mereka dapat.
"Menang....?"
"Kita menang?"
"Menang!"
"Kita menang!!!"
__ADS_1
Teriak Ran dan William sambil meloncat untuk merayakan kemenangan mereka setelah pertarungan panjang ini.