
srakk... srakk...
"Hosh... Hosh... Hosh..."
"Kejar dia!"
Ditengah hutan belantara, terdengar suara daun yang hancur diinjak, disertai dengan suara napas yang terengah-engah. Ran berlari melarikan diri dari para Hyper yang mengejarnya.
Cih, kukira semuanya akan saling bermusuhan, ternyata ada juga yang berkelompok. Keluh Ran dalam hatinya.
Pada awalnya, Ran mengira dia hanya perlu melawan satu persatu orang saja, ia tidak mengira kalau ada para Hyper yang memilih bekerja sama untuk memburu Hyper lain yang lebih lemah.
Akibatnya, Ran dikejar oleh 3 orang Hyper dari tadi.
"Kejar dia!"
"Jangan biarkan dia lolos!"
"Kalian berdua berisik, aku sudah paham."
Mereka bertiga sebenarnya tidak terlalu kuat, Ran mungkin saja bisa mengalahkan mereka dengan mudah jika satu lawan satu.
Tapi karena mereka bersatu untuk memburu Ran, Ran akhirnya terpaksa kabur sekuat tenaga untuk menghindari mereka.
"Berhenti kau! Jangan menyiksa dirimu, berhenti saja, toh kau akan kalah disini!" Teriak salah satu Hyper yang mengejar Ran, ia berniat memprovokasi Ran. Tapi, itu sama sekali tidak mempan bagi Ran yang sudah biasa dihina berkali-kali saat masih sekolah.
Cih! Sombong banget, coba kalau kalian hanya sendiri-sendiri, pasti sudah kuhancurkan kalian.
Kemudian, Ran melihat ada 3 jalan yang bercabang yang masing-masing dipisahkan oleh pohon dan rumbut ilalang, sekitar beberapa puluh meter di depannya. Tepat di depan jalan itu, ada dua pohon kelapa yang melintang bagaikan gerbang.
Ran langsung terpikirkan suatu ide.
Ran langsung menciptakan belati yang sedikit lebih panjang, ia memfokuskan Mananya untuk mempertajamnya, alih-alih untuk memperbesar ukurannya.
Kemudian, sambil berlari kencang, Ran langsung menebas salah satu pohon kelapa itu sekuat mungkin.
Dalam satu tebasan saja, pohon kelapa itu langsung terpotong rapih dan rubuh menghalangi jalan.
Terhalang oleh pohon yang rubuh, ditambah dengan cuaca yang gelap, pandangan ketiga orang Hyper yang mengejar Ran langsung terhalangi. Ran memanfaatkan kesempatan singkat itu untuk kabur dari mereka.
Ketiga Hyper itu langsung meloncati pohon kelapa yang rubuh, tapi mereka tidak mendapati Ran dibaliknya. Entah jalan mana yang dipilih oleh Ran.
"Sial, kemana dia pergi?"
"Apa kita harus berpencar saja?"
"Jangan, pasti itu rencana dia, dia ingin memisahkan kita kemudian mengalahkan kita satu persatu."
"Lalu bagaimana?"
"Kita mundur saja, kita cari orang lain."
"Sial, mau ditaruh dimana muka kita jika menyerah dari satu orang, tidak akan menjadi memalukan jika dia adalah William Austin, tapi dia hanya bocah tidak dikenal loh."
"Terus bagaimana? Kau mau mengejarnya? Resikonya terlalu besar."
"Diam kalian, jangan ribut-ribut, nanti ada yang mendengarnya."
Ketiga orang itu berdebat hebat, mereka tidak bisa memutuskan apakah harus mengejar Ran atau tidak.
Perdebatan mereka semakin memanas, sampai hampir berubah menjadi pertengkaran.
Dan saat suasana semakin memanas, saat itulah Ran beraksi.
Srak...
Ran mendadak muncul dari balik semak-semak di sekitar pohon kelapa sambil membawa sebuah pedang panjang, tidak ada yang menyadari bahwa Ran sembunyi disitu, semuanya menganggap Ran kabur melalui salah satu jalan di depan mereka.
Dengan serangan dadakan, mereka bertiga tidak sempat melakukan apa-apa.
Slash...
Salah satu dari mereka terkena tebasan dari Ran, tebasannya tidak cukup dalam, tapi dalam keadaan lengah, itu cukup membuat seseorang terjengkal.
Kedua temannya langsung menoleh ke arah Ran.
__ADS_1
"Kau!" Teriak keduanya.
Tapi belum sempat mereka melakukan apa-apa, Ran langsung melempar mata keduanya dengan pasir.
"Akhhh!" Keduanya berteriak kencang karena terkena pasir.
Tanpa melewatkan kesempatan emas ini, Ran menghantam ulu hati salah satu orang di depannya itu menggunakan gagang pedangnya.
"Uhuk!" Orang itu terbatuk ketika ulu hatinya terpukul oleh Ran.
Orang yang dipukul ulu hatinya oleh Ran langsung berlutut kesakitan. Ran tidak berniat untuk berhenti, ia berniat kembali menyerang orang yang sudah jatuh itu sekali lagi.
Wusshhh...
Tiba-tiba angin kuat berhembus di sekitar Ran. Ran langsung menyadari sumber angin tersebut. Ia menoleh dan melihat orang satunya yang matanya dilempar pasir oleh Ran, sudah berdiri dan mengumpulkan pusaran angin di telapak tangannya.
Ran langsung mundur seketika ketika melihatnya, ia menggunakan pedangnya sebagai perisai untuk berjaga-jaga dari serangan.
Tapi sudah terlambat, "Makan nih!" Teriak orang itu sambil melempar pusaran angin di telapak tangannya ke arah Ran.
Wushhhh....
Ran terlempar akibat lemparan pusaran angin orang itu yang berubah menjadi ****** beliung.
Krakkk... Crakkk... Brakkk
Semak-semak dan pohon-pohon di sekitar ikut hancur akibat serangan ****** beliung yang diciptakan orang itu.
Brak
Ran akhirnya menabrak berhenti terlempar setelah menabrak pohon, "Uhuk! Huek!" Ran batuk-batuk hingga muntah karena menabrak pohon.
Bib
Gelang Ran berbunyi, gelang itu menampilan kondisi vital Ran saat ini, akibat dari serangan itu, HP milik Ran berkurang lebih dari setengahnya. Dan hanya tersisa sekitar 100 an saja.
"Hosh... Hoshh... Sial, baru segini saja aku sudah kepayahan." Ran menggerutu sambil mencoba berdiri.
Tapi Ran goyah dan jatuh kembali.
"Duhhh... Jangan mengoceh tidak jelas, tolong bantu kami dong!" Teman-temannya yang terkena serangan Ran merintih meminta tolong.
"Iya iya, sabar dong."
Bhuak
Tiba-tiba muncul sebuah bola meriam yang terikat rantai dari balik semak-semak. Bola itu menghantam kepala orang yang terkena tebasan Ran.
Bib
Gelangnya berbunyi, HP miliknya langsung habis, tubuhnya memudar bersamaan dengan habisnya HP miliknya.
"Eh?" Orang yang tadi menyerang Ran menjadi kebingungan melihat temannya menghilang.
Temannya yang satu lagi, langsung berteriak, "Hoi! Kabur!"
Bhak
Orang yang tadi berteriak itu, kepalanya langsung diinjak hingga masuk ke dalam tanah oleh seseorang berjubah hitam.
"Wah Wah, kalo dihitung dengan yang tadi, berarti ada 3 orang yang berhasil kita habisi. Boleh juga instingmu." Ucap orang berjubah hitam itu.
Srak
Muncuk suara dari balik pepohonan.
"Sudah kubilang kan, cukup cari saja tempat yang berisik, pasti ada yang bertarung disitu." Suara seseorang muncul dari balik pepohonan dan rerumputan yang rimbun. Dari sana, muncul banyak orang yang mengenakan jubah hitam, bukan hanya 1-2 orang saja, tapi ada 13 orang yang muncul bersamaan.
"Iyadeh, kau memang benar, berarti untuk berikutnya kita akan berburu seperti ini saja deh."
Orang yang sebelumnya menyerang Ran, sekarang hanya sendiri, rekan-rekannya sudah kalah, dan sekarang ia dikelilingi orang-orang yang lebih buas darinya.
"Berarti tinggal orang ini saja yah?"
"Bukannya ada yang bertarung dengan mereka? Kemana dia?"
__ADS_1
"Sudah mati kali."
"Pakai cara apa yah? Apa harus ditusuk? Atau mungkin peras darahnya hingga habis."
"Jangan bodoh, kau mau kita dieliminasi?"
"Hihihihi, yang pasti.... Habis kau...!"
Ke-13 orang itu tertawa bengis sambil melirik satu orang tidak berdaya itu. Orang itu ketakutan hingga tidak bisa berdiri, ia menangis ketakutan sambil membeku di tempat.
"Hiiii..... Hukk.... Hhhh...."
Jleb
"Aaaaaaaaaaaaaaaaa.........!!!!!!" Suara teriakannya menggema ke seluruh hutan.
Bib
Gelang orang itu berbunyi, HP-nya langsung habis, ia tidak mati, tapi ia sudah tereliminasi dan terkirim ke ruang tunggu bagi para peserta yang sudah tereliminasi.
Inilah tes ini. Tes ini mengharuskan semua peserta untuk saling bertarung hingga hanya tersisa 100 orang lagi. Tapi, ada larangan tegas pada tes ini, yaitu, "Tidak boleh sampai membunuh"
Peraturan itu berkaitan dengan citra Ranker di mata masyarakat, jika sampai ada saling membunuh di tes ini, citra Ranker akan hancur.
Walau pun begitu, tidak sedikit yang trauma karena pengalaman bertarung dengan Ranker yang bengis.
Contohnya seperti kali ini, setelah ke-13 orang itu menghabisi targetnya, mereka langsung pergi, tanpa mengecek keseluruhan tempat.
Mereka bahkan tidak sadar bahwa Ran masih belum dieliminasi.
Saat ini, Ran berbaring lemah di antara rerumputan dan bunga-bunga raksasa, ketika Ran merasakan aura mereka, ia buru-buru merangkak untuk bersembunyi diantara rerumputan yang rimbun.
Akibat luka karena serangan sebelumnya, aura Ran menjadi sangat tipis hingga mereka bahkan tidak menyadarinya.
"Hoshh... Hoshh... Bisa dibilang rencanaku lancar, walau pun butuh usaha lebih dan sedikit melenceng."
Dari awal, Ran tidak berniat untuk mengalahkan ketiga orang itu secara langsung, Ran menyadari bahwa mereka bertiga cukup sulit ditangani oleh Ran sendiri, Karena itulah, kelompok harus dilawan dengan kelompok yang lebih besar lagi.
Ran sengaja memotong pohon kelapa yang besar itu agar menimbulkan keributan, ia juga sengaja memancing agar salah satu dari mereka menggunakan kemampuan mereka agar lebih ribut lagi.
Ran sudah memperkirakan jika salah satu dari mereka pasti memiliki kemampuan yang merusak, walau itu cukup beresiko karena terlalu sama saja dengan berjudi.
Entah apa aku ini beruntung atau tidak, ternyata memang ada yang punya kemampuan yang cukup merusak dan ribut, tapi akibatnya aku jadi terluka cukup parah. Padahal rencanaku itu langsung kabur setelah mereka menggunakan kemampuannya.
Ran beralih memikirkan langkah berikutnya, ia menyadari bahwa ujian ini akan memakan waktu yang cukup lama dikarenakan jumlah pesertanya yang sangat banyak, Ada sekitar 400 an orang yang mengikuti ujian ini, sudah berlalu beberapa jam, tapi relatif sunyi untuk ukuran pertarungan Hyper.
Ran memikirkan orang-orang tadi, mereka langsung bergerak ketika mendengar suara pertarungan, dan sepertinya mereka memang menargetkan untuk mengeroyok orang-orang yang sudah kelelahan.
Tetapi, selama berjam-jam, Ran hanya mendengar 2 kali keributan termasuk dengan yang ia buat, jadi mungkin saja, "Banyak yang masih bersembunyi."
Hal itu masuk akal, dipindahkan secara tiba-tiba seperti ini, pasti kebanyakan akan bersembunyi sambil membentuk kelompok dan membuat basecamp sendiri.
Lagipula, tidak masalah jika bekerja sama, karena yang diperlukan adalah untuk mengurangi peserta lain, tidak peduli apakah kau mengeliminasi orang lain atau tidak, kau akan tetap lulus jika masih bertahan.
Apa aku juga perlu membuat kelompok yah? Pikir Ran dalam-dalam.
Tik
Ran merasakan tetesan air mengenai hidungnya, ketika ia melihat ke atas, langit gelap itu mengeluarkan petir.
Gluduk
Bunyi petir terdengar jelas, tampaknya akan hujan deras, "Sial, sebenarnya dimana ini? Sepertinya cuaca pun tidak mengizinkanku untuk beristirahat." Gerutu Ran sambil berusaha berdiri.
Tes... Tes... Tes...
Hujan mulai turun, Ran langsung buru-buru berlari mencari tempat berlindung.
-Sementara itu, di sebuah ruangan lain, tampak Ranker Amare dan Emily duduk sambil mengamati beberapa layar monitor yang menampilkan para peserta ujian termasuk Ran.
"Hooo~ Bocah berambut putih itu hebat juga, dari pandanganku, dia sengaja memancing keributan agar banyak yang berkumpul." Komentar Ranker Emily
"Cih! Apa hebatnya itu, dia membuat malu nama laki-laki, seharusnya laki-laki bertarung langsung, apa hebatnya dia? Aku lebih menyukai William Austin, dia adalah yang paling banyak mengeliminasi peserta lain secara individu. Tidak seperti para pengecut lain yang malah membuat kelompok." Balas Ranker Amare sambil menghina Ran beberapa peserta lain.
Ranker Emily sedikit jengkel kepada Ranker Amare, ia mencubit Ranker Amare sambil memarahinya, "Diam! Jangan sampai kau berkomentar aneh-aneh lagi, gara-gara kau, ada banyak peserta yang tidak lolos hanya karena kau tidak suka cara mereka."
__ADS_1
"Aw! Aw! Aw! Iya iya maaf! maaf! Tolong jangan cubit bagian itu, kemarin kan itu kena gigit monster."