Sword Ranker

Sword Ranker
Pride


__ADS_3

Team Ran sedang beristirahat seusai melakukan pertarungan tanpa henti, tapi suasana diantara mereka sangat tidak bagus. Mereka semua berkumpul di tempat terbuka yang sepi, langit sudah gelap gulita sejak tadi.


Semuanya saling menjauh, tidak ada obrolan santai atau pun serius diantara mereka, hanya ada keheningan yang memancarkan suasana yang tidak mengenakkan dari mereka semua.


Ini semua salahku. Pikir Ran menyalahkan dirinya sendiri.


Ran sadar dan tahu apa saja kelemahannya, ia sadar jika dirinya labil, mudah goyah, dan tidak memiliki pendirian yang tegas. Ia tidak seperti William yang bisa memisahkan perasaan pribadi demi kepentingan bersama, ia tidak bisa seperti Enzo yang terus konsisten dan tenang, ia tidak bisa seperti Eduardo yang terus fokus pada tujuannya tanpa goyah.


Semakin dipikirkan, Ran makin merasa dirinya sangat menyedihkan, hampir tidak sekali pun Ran bisa menyelesaikan masalah yang dialaminya. Ia selalu ditolong oleh orang lain, bahkan seorang non-hyper sampai turun tangan demi membantu dirinya.


Aku sangat menyedihkan. Ucap Ran berkali-kali di dalam hatinya, sambil duduk dan memeluk kedua kakinya, dan menenggelamkan wajahnya, diantara kedua kakinya.


Perasaan bersalah semakin memenuhi hati Ran, ia semakin pesimis dan tidak percaya dengan dirinya lagi.


Di saat itu, lagi-lagi seseorang datang bagaikan cahaya bagi Ran.


Puk


"Hei Ran, jangan terlalu diambil hati."


Tepukan ringan dan kata-kata pendek yang sangat menenangkan hadir menghibur Ran. Itu William, dirinya datang dan duduk di samping Ran, setelahnya hanya diam tanpa berkata-kata lagi.


Tak satu pun kalimat keluar dari mulut Willliam, ia hanya duduk diam di samping Ran, Ran pun demikian, hanya diam tanpa mengucapkan apa pun.


Beberapa menit yang hening berlalu, Ran sudah lebih tenang kali ini, meski pikirannya masih kacau, tapi tidak sekacau sebelumnya.


Ran pun bertanya kepada William dengan sangat pelan, seperti berbisik, "Will... Kau... Kecewa padaku kan...?"


"Sedikit." Jawab William singkat.


"Begitu... Maaf... Aku sudah mengecewakanmu Will... Maaf... Karena tidak bisa memenuhi ekspektasimu."


"Ran... Aku hanya kecewa padamu, bukan berarti aku membencimu, tidak apa jika kamu melakukan kesalahan sesekali. Yang penting, kamu tidak larut di dalamnya."


Keduanya kembali diam tanpa sepatah kata pun keluar, beberapa menit kembali terlewat. Ran pun bertanya lagi kepada William, "Will... Apa menurutmu, yang kulakukan itu salah...?"


"Salah... Ran, ini adalah ujian yang penting, setiap orang berjuang untuk lulus dari sini, tidak satu pun dari mereka yang berharap akan dikasihani olehmu. Aku juga terkadang merasa bersalah, tapi aku tidak mau larut ke dalam perasaan itu. Ini bukanlah hal yang kejam, tapi ini namanya adalah pendirian, jika kamu tidak memiliki pendirian itu, kamu tidak akan lulus dari sini Ran."


"Maaf..."


"Tapi Ran, bukankah sebelumnya aku juga mengeliminasi seseorang di hadapanmu pada test pertama, bahkan kita juga bekerja sama untuk mengalahkan Tim, tapi kenapa sekarang kau begitu ragu dan takut untuk mengeliminasi orang lain."


"Maaf... Aku pun tidak tahu, sebelumnya, ekspresi yang orang-orang tunjukkan selalu ekspresi yang menakutkan, ekspresi kejam dan tidak berbelas kasihan, itu membuatku lupa tentang apa yang terjadi jika seandainya mereka gagal atau alasan mereka mengikuti ujian ini. Bahkan setelah kau mengalahkan mereka, ekspresi yang muncul hanyalah kaget, baru pertama kali aku melihat ekspresi seputus asa itu."


"Begitu..."

__ADS_1


"Tapi Will, bukankah kau punya prinsip untuk tidak melawan orang yang lebih lemah darimu? Kenapa kau tanpa ragu melawan mereka semua?"


"Kau salah paham Ran, prinsipku tidak sekaku itu, prinsipku adalah untuk tidak melawan orang yang lemah, tapi bukan berarti aku tidak akan melawan orang yang lebih lemah dariku. Bagiku, tidak ada dari mereka semua yang lemah, mereka semua kuat, cukup kuat hingga pantas aku mengangkat pedangku untuk melawan mereka."


"Kau selalu keren Will, tidak sepertiku. Kau benar, aku ini memang orang yang lemah, aku tidak bisa melakukan apa pun."


"Cukup Ran, kamu itu kuat, namun kamu kurang kepercayaan diri, itu membuatmu selalu takut dengan apa yang harus dilakukan. Seperti yang pernah kubilang saat kita pertama bertemu di test pertama, 'Percaya dirilah!' Jangan terlalu takut dengan sesuatu yang belum pasti."


"...." Ran terdiam mendengar perkataan William.


Suasana kembali hening, Ran tidak bertanya apa pun lagi, William pun tidak mengganggu Ran sedikit pun.


Di keheningan ini, Ran memikirkan perkataan William baik-baik. Ia baru menyadari jika dirinya terlalu takut terhadap hal baru, tapi secara bersamaan dia bisa bertindak impulsif jika terbawa perasaan.


Ran bisa santai terhadap sesuatu yang sudah dia ketahui, tapi dirinya akan was-was secara berlebihan terhadap hal baru. Pemikiran negatif selalu menyertainya jika ia mau memulai hal yang baru, pemikiran akan gagal, merugikan orang lain, dan terlalu memikirkan pandangan orang lain yang bahkan tidak penting bagi Ran, selalu ada dan tidak pernah hilang.


Kalau dipikir-pikir, meski aku tidak mengalahkan mereka, mereka akan tetap kalah jika melawan orang yang lebih kuat dariku.


Sedikit demi sedikit, Ran mencapai kesimpulan untuk memutuskan hal yang harus dia lakukan.


Ran kembali teringat alasannya mengikuti ujian ini, alasannya memang terkait harga diri, tapi, memangnya kenapa? Memang kenapa jika harga diri dijadikan alasan untuk ini. Ran baru sadar jika dirinya juga penting, ia sadar bahwa boleh saja mementingkan diri sendiri dibanding orang lain sesekali.


Ujian ini untuk menentukan siapa yang terbaik, jika mereka tidak bisa mengalahkanku, berarti mereka tidak pantas untuk lulus. Ya benar! Yang bisa lulus dari ujian ini dan menjadi Ranker hanyalah yang terbaik, karena itu aku harus berjuang menjadi yang terbaik. Ran akhirnya menetapkan pilihannya.


Ran berdiri, William menatap Ran dengan pandangan yang seolah mengatakan, "Kau sudah siap?" Ran membalas tatapan penuh pertanyaan William dengan anggukan yang tegas.


Ran datang ke tempat Enzo dan Eduardo berada, mereka berdua ada di satu tempat yang sama, tapi saling membelakangi satu sama lain.


"Maaf! Karena aku, team kita jadi kesulitan, aku sudah paham apa kesalahanku." Ucap Ran dengan suara tinggi sambil menundukkan kepalanya.


Namun Eduardo dan Enzo tetap diam tanpa bersuara.


"Sekali lagi... Aku minta maaf." Ran meminta maaf sekali lagi.


Tapi Eduardo dan Enzo tetap tidak menoleh atau pun bersuara.


Meskipun begitu, tekad Ran sudah bulat, ia sudah memutuskan untuk minta maaf, karena itu ia tetap menunduk meski diabaikan.


Ran tetap menunduk dengan kepercayaan tinggi, ia tetap percaya jika ia dengan tulus dan tegas meminta maaf, pasti akan diterima. Dan benar saja.


"Hadeh... Kalau kau meminta maaf seperti itu, aku kan jadi merasa bersalah jika diam saja." Enzo yang pertama bereaksi, ia memutar badannya ke arah Ran dan menerima permintaan maaf Ran.


Hanya tinggal Eduardo yang tetap diam membelakangi Ran.


Enzo yang melihatnya menjadi tergoda untuk menggoda Eduardo.

__ADS_1


"Utututu... Ed kecilku, kau sepertinya masih ngambek yah pada Ran. Ayolah kawan... Jangan marah... Nanti kau tidak lucu lagi loh." Enzo menggoda Eduardo sambil mencolek tubuhnya sedikit.


Eduardo yang pemarah akhirnya terpancing, ia dengan kesal dan kasar berbalik badan dan memukul Enzo hingga terjungkal.


"Gaaaaaaahhhhhh.... Sial! Kalian menyebalkan sekali, baiklah baiklah! Aku memaafkanmu."


Melihat Eduardo yang mau memaafkannya, Ran menjadi senang, wajahnya berseri-seri dengan ucapan singkat Eduardo.


"....Tapi, bagaimana caramu untuk menemukan mereka lagi?"


"Apa?"


"Pake nanya, kutanya, bagaimana caramu untuk menemukan orang-orang yang mencuri pin kita, atau boleh jika kau bisa menemukan pin dari team lain. Kau sadar kan? Batas waktu test ini adalah 24 jam, kita menghabiskan waktu 10 jam untuk mendapatkan pin pertama kita jika dihitung dari awal mula test ini, dan sudah berlangsung berjam-jam sejak kita kehilangan pin pertama kita. Jika perhitunganku tidak salah, maka waktu kita hanyalah 5 jam lagi."


Deg...


Ran baru sadar dengan kenyataan pahit ini, waktu ujian mereka hanya tersisa sedikit lagi. Akan sulit untuk mengulang strategi perangkap mereka karena itu penuh pertaruhan, Ran harus membuat strategi lain agar bisa mendapatkan pin dalam waktu yang sangat sedikit ini.


"Jadi... Apa rencanamu tuan strategi?"


Ran tidak bisa menjawabnya, ia tidak memikirkan hal itu sebelumnya, ia lupa dengan waktu mereka yang sangat terbatas ini.


"Ahhhh... Tentang itu, tenang saja." Enzo yang sedang berbaring karena dipukul Eduardo hingga jatuh terjungkal tiba-tiba menyahut.


"A-Apa kau punya ide Enzo?"


"Haha... Bukan hanya ide, ini adalah peta pin untuk kita."


"Peta?"


"Ya... Benar, ini adalah peta untuk mendapatkan pin. Sebelumnya, saat kita kehilangan pin, aku pura-pura menyerah dengan mengangkat tangan, tapi sebenarnya itu adalah pengalih perhatian, aku diam-diam memasukkan benang ku kedalam salah satu sepatu mereka. Benang itu sangat tipis, mereka tidak akan menyadarinya, sebagai buktinya, sampai saat ini aku tidak merasakan kalau benang itu dihancurkan."


"Tunggu... Jadi yang kau maksud peta itu adalah..."


"Benar, aku bisa melacak kehadiran mereka, mungkin aku pernah memberitahu kalian atau mungkin aku lupa, tapi benangku ini bisa kujadikan alat pelacak asal tidak rusak, karena itu kubuat dari mana ku, jadi selama tidak rusak oleh orang lain, aku bisa mendeteksinya dimana pun itu berada."


"Hah apa????? Jika seperti itu, kenapa kau tidak langsung memberitahuku bodoh!?" Eduardo mengumpat karena terkejut.


"Hehe, kondisi team kita sangat buruk, jika aku memaksa mengejar dengan kondisi team seperti tadi, sama saja dengan bunuh diri. Aku menunggu sampai Ran pulih sepenuhnya."


Alasan yang masuk akal bagi semuanya, kondisi team mereka sebelumnya memang sangat buruk karena Ran, tapi sekarang Ran sudah pulih sepenuhnya, sehingga tidak ada lagi hambatan bagi team mereka.


"Hei William, kemarilah, kita buru orang-orang itu lagi." Enzo mengajak William bergabung.


"Ya... Tentu saja, mari."

__ADS_1


"Cih, aku terpaksa mengikuti kalian lagi."


Mereka pun berkumpul kembali, dan kali ini mereka sudah lebih siap dibanding sebelumnya.


__ADS_2