Sword Ranker

Sword Ranker
Determination


__ADS_3

A-apa yang sebenarnya terjadi tadi? Ran bertanya-tanya tentang peristiwa yang ia lewatkan.


Bagaimana cara Tim bisa menghindari serangan mematikan William? Itu merupakan hal yang sangat mudah.


Serangan William memang mematikan, cukup mematikan untuk membunuh Tim dengan satu serangan. Tapi serangan itu juga memiliki kekurangan besar, yaitu kecepatan.


Ayunan William sangat lambat sehingga Tim mudah untuk menghindarinya, ketika pedangnya berayun turun ke arah Tim, Tim berputar hingga berada di belakang William, pada saat yang bersamaan, ia memukul bagian belakang kepala William dengan sikutnya.


Kepala William yang masih belum tertutupi armor masih sangat rentan terhadap serangan, belum lagi setiap serangan Tim sangatlah kuat dan berbahaya. Karena itulah William jatuh pingsan, walau tak bisa merasakan sakit, tapi tubuhnya secara teknis sudah menderita luka berat yang membuat tubuhnya hancur dan tidak bisa bergerak.


"Fyuuuhhhh.... Harus kuakui, mode berserker memang sangat kuat, tak kukira aku akan menghabiskan semua energi yang sudah kukumpulkan dari 34 peserta disini, belum lagi energi dari kalian berdua." Ucap Tim kepada William yang berbaring lemah.


Aura hitam kemerahan di sekitar William berangsur-angsur menghilang, tubuhnya kembali normal kembali, armor yang awalnya muncul seperti kulit baru di leher William, perlahan-lahan menghilang. Hanya tersisa armor dengan bentuk compang-camping dan retak yang tersisa di tubuh William.


Melihat keadaan William yang kalah, Ran kembali sadar siapa musuhnya, ia merasa malu dan marah pada dirinya sendiri yang malah meminta bantuan musuh untuk mengalahkan temannya sendiri.


Bodoh! Orang macam apa aku, bagaimana bisa aku meminta tolong pada orang yang mau membunuhku, apalagi, bagaimana bisa aku takut pada William? Sial! Rasanya seperti pengecut, padahal William percaya padaku, tapi aku malah mengkhianati kepercayaannya.


"Yahhh... Kalau begitu sampai disini saja hidupmu bocah monster, kalau saja kau tidak bertemu denganku, kau mungkin berpotensi menjadi Ranker S." Ucap Tim kepada William sambil mengarahkan tangannya ke arah William


Ran langsung tahu apa yang hendak dilakukan Tim, "Hoi! Hentikan! Dia sudah tidak bisa bergerak kan? Bukankah itu cukup?"


Tim menghela napas dengan kesal, ekspresi datarnya sudah sepenuhnya hilang, "Hahhhh... Kau pikir aku ini bawahanmu!? Camkan ini bocah, aku menyelamatkanmu karena tuanku memintaku untuk membawamu, sejujurnya aku tidak peduli denganmu sama sekali. Dan tidak ada alasan aku harus menuruti perintahmu!"


Tim dengan acuh menyerap sisa-sisa energi terakhir William.


Namun, sebuah belati terbang ke arah William.


Syuuungggg.... Bummm


Belati itu meledak di dekat wajah Tim, memecah konsentrasinya yang sedang fokus untuk melumpuhkan William sepenuhnya.


Wajah Tim berubah drastis, tampak jelas kemarahan di wajahnya, "Apa maksudmu ini bocah? Kau mau mati juga atau bagaimana?"


Ran lah yang melemparkan belati itu dan meledakkkannya di wajah Tim, ekspresi ragu dan ketakutan masih tersirat di wajahnya, tapi Ran sudah menetapkan keyakinannya, "William adalah temanku! Dialah yang membantuku dan mempercayaiku! Tidak akan kubiarkan kau membunuhnya."


"Begitukah? Lalu...? Kau bisa apa untuk menghentikanku?" Ucap Tim dengan sinis


Ran pun berdiri meski sempoyongan, kedua tangan Ran diposisikan sejajar sambil seperti menggenggam sebuah pedang, cahaya muncul dari telapak tangan Ran. Lalu sebuah gagang pedang dengan motif sederhana muncul, bilah pedangnya menyusul beberapa detik kemudian. Pedang yang muncul adalah katana


Katana adalah sebuah pedang khas jepang dengan bentuk bilah melengkung, Ran sengaja menciptakan pedang ini karena dari dulu ia sudah suka berlatih katana.


Krrrttt


Ran memperkuat genggaman pada pedangnya, pedangnya ia hunuskan pada Tim dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Hah! Lalu? Mau apa kau dengan pedang itu!? Aku sudah membaca tentangmu Ran, pedang ciptaanmu itu hanya sekedar pedang biasa, tidak ada keistimewaan atau apa pun tentang pedang ciptaanmu, lalu apa yang kau harapkan dengan pedang itu hah?"


Ran tidak memedulikan ucapan Tim sama sekali, ia berfokus pada genggamannya pada pedang.


"Hanya diam hah!? Jika hanya diam saja, maka aku yang akan mulai menyerang!"


Syuuuttt...


Tim langsung berpindah tempat dalam sekejap mata.


Srak Srak Srak Srak


Seolah-olah meremehkan Ran, Tim sengaja berputar-putar di sekeliling, sekaligus untuk membingungkan Ran.


"Bagaimana hah!? Kau pasti tidak akan bisa tahu dari mana arah seranganku bukan?"


Ran tetap diam, ia fokus mendengarkan sekelilingnya.


Kesal karena terus diabaikan, Tim memulai serangan pertamanya.


Syuuuttt...


Tim menyerang dari belakang, ia mengarahkan tinjunya yang diselimuti selaput bening yang lebih tipis dari sebelumnya.


Kena kau.


Ran langsung menoleh ke arah Tim, seperti sudah tahu arah serangan Tim, pedangnya ikut diayunkan untuk menahan serangan dari Tim.


Klanggg...


Tinju Ran dan Tim beradu, menimbulkan suara yang memekakkan telinga.


"Mustahil! Ba-bagaimana bisa kau menebak arah seranganku?" Tim tidak percaya dengan situasi di hadapannya.


"Mudah saja, toh di tempat ini ada banyak daun dan ranting yang jatuh, aku bisa mendengar dengan jelas langkahmu itu, terimakasih juga karena kau terus mengoceh, itu membuatku semakin mudah untuk menebak arah seranganmu."


"Khhhkkk..."


Tim mundur, ia dengan tidak percaya mencoba kembali serangannya.


Srak Srak Srak


Suara daun dan ranting terdengar jelas karena terinjak oleh Tim. Tapi itu bagian dari rencananya, Tim dengan sengaja menimbulkan kebisingan di satu sisi, dan ketika perhatian Ran fokus pada sisi tersebut, Tim langsung menyerbu dari sisi yang berlawanan.


Tetapi...

__ADS_1


Klanggg


Lagi-lagi serangan Tim ditahan oleh Ran.


Aneh, ini aneh, padahal aku sudah mengecohnya dengan suara bising dari arah lain, walau pun ada jeda dari seranganku, seharusnya tidak mungkin dia punya waktu untuk langsung berbalik. Hanya satu jawabannya, bocah ini, dia punya refleks super cepat, mungkin ini bagian dari insting buas seperti bocah yang terkapar itu, tapi dia ini, menyatukan instingnya dengan kepintarannya, ia tidak terpaku pada satu pola dan sudah menyiapkan pilihan lain sebagai cadangan. Dia ini... Jenius! Sepertinya, inilah kenapa tuan tertarik padanya.


Tim kembali mundur karena serangannya di tahan, menyerah dengan serangan tiba-tiba, Tim memilih serangan langsung secara bertubi-tubi.


Dengan gerakan yang sangat cepat, Tim langsung menyerbu Ran, tanpa ada trik mau pun strategi, Tim dengan brutal melayangkan pukulan bertubi-tubi pada Ran.


Bak Bik Buk Bak Klang Trang Prang


Ran menahan setiap serangan Tim dengan susah payah, beruntung Ran lebih memfokuskan ketahanan pedang dibandingkan ketajamannya, berkat itu, ia bisa menahan serangan dari Tim berkali-kali.


Tetapi, Ran menunjukkan batasnya, memang benar jika ketahanan pedang Ran mampu bertahan dari serangan tinju Tim yang sudah dilapisi oleh energi yang Tim curi walau pun sudah menipis dibanding tadi. Tetapi, dibanding batas pada ketahanan pedangnya, justru stamina dan ketahanan Ran sendirilah yang lebih cepat menipis.


Klang


Pedang Ran terlepas dari genggaman tangannya, pedangnya terlempar ke atas, tubuh bagian atas Ran juga ikut terangkat karena tidak kuat menahan serangan tinju Tim yang brutal.


"Ini sudah berakhir!" Tim merunduk, ia berniat membuat Ran pingsan dengan memukul ulu hatinya.


Tapi, tepat sebelum Tim melayangkan tinjunya, ia merasakan sesuatu yang menggelitik rambutnya, sesuatu yang memberikan ancaman padanya.


Itu adalah pedang, Ran langsung membuat pedang baru ketika pedangnya yang sebelumnya terlempar, pedang barunya itu dengan sengaja ia arahkan ke kepala Tim yang ada di bawahnya.


Tim langsung menarik kembali tinjunya dan mundur.


Pedang Ran gagal menusuk Tim dan berakhir menusuk tanah kosong.


"Tidak kusangka kau bisa memikirkan hal itu dengan sangat cepat, tapi aku juga tak menyangkanya, padahal kukira kau akan menghemat energimu, tidak kusangka kau akan langsung membuat pedang baru lagi. Padahal kudengar Mana milikmu hanya sedikit."


"Hah, yang kau dengar itu pasti aku beberapa bulan lalu, sayangnya selama liburan aku berlatih dengan orang yang kuat, orang itu memberitahuku meditasi untuk meningkatkan kapasitas Mana milikku."


Tim terdengar terkejut mendengar ucapan Ran, "Tunggu! Orang yang memberitahu meditasi itu, apakah dia bernama Bob Fernandes?"


"A-Apa? Bagaimana kau tahu, apa kau kenalan lama pak bob?"


Tim tersenyum kecut ketika mendengarnya, "Pfft, ternyata dia malah jadi pelatih untuk bocah kecil yah." Gumam Tim.


"Hahhh...!? Apa yang tadi kau ucapkan? Apa kau punya masalah dengan pak Bob?"


"Lupakan saja, omong-omong, HP milikmu seharusnya sudah mau habis kan? Pertama kau sudah terkena panahku, kemudian dihajar oleh William, ditambah pertarungan denganku yang pastinya melelahkan. Dengan jumlah HP milikmu yang memang cuman sedikit itu, kutebak HP-mu pasti hanya tersisa sekitar 5 lagi kan?"


Tebakan Tim tepat sasaran, HP milik Ran hanya tersisa 5 lagi, Ran pun hanya berdiri dengan tekad terakhirnya, padahal ia merasa seperti akan pingsan karena kelelahan.

__ADS_1


"Terus? Meski hanya tersisa 1 pun, itu sudah cukup untuk menghajar orang sepertimu."


"Sombong sekali, kita lihat sampai kapan kau bisa berkata seperti itu bocah."


__ADS_2