
"Hahahhah... Mudah sekali bukan test kali ini?" Si pria dengan gaya cowboy bertanya kepada rekan se-teamnya.
"Ya... Harus kuakui, kau memang sangat hebat dalam membuat strategi, tidak kusangka kalau kita bisa mencuri pin dari William Austin. Padahal aku berniat menghindar darinya ketika melihat kekuatannya di test pertama."
"Hehe... Sudah kubilang bukan? Mereka pasti tidak kompak, aku sudah mengawasi mereka pada awal test ke-dua, mereka memilih anggota secara terburu-buru, pastinya mereka akan kurang kompak."
"Benar hehehe... Mereka tidak sadar saat aku membuat jebakan persis di bawah kaki mereka."
Team mereka tertawa riang sembari bersembunyi di markas buatan mereka, tapi markas mereka tidak berada di atas tanah, melainkan di bawah tanah.
Mereka membuat ruangan di bawah tanah yang pondasinya adalah tombak batu.
Markas mereka sepenuhnya dibuat oleh kemampuan 2 orang rekan se-team mereka, orang yang membuat markas bagi team mereka adalah orang yang sama dengan orang yang membuat jebakan bagi team Ran.
Orang yang memiliki kemampuan untuk menggali tanah memiliki penampilan selayaknya penambang, dengan seragam berwarna biru polos tanpa ada hiasan, sepatu boots serta helm proyek dengan senter yang diikat pada helmnya sebagai penerang.
Lalu yang satunya adalah orang yang memiliki kemampuan untuk membuat tombak dari tanah mau pun bebatuan, ia memiliki penampilan seperti gembel, dengan hanya memakai celana kebesaran yang ditarik hingga ke perut dan sudah sobek, ia tidak memakai baju hingga terlihat jelas seberapa kotor tubuhnya.
"Omong-omong, tinggal berapa jam lagi hingga test ini berakhir?" Tanya si penambang.
"3 jam 30 menit lagi, masih lumayan lama, tapi dengan itu kita bisa beristirahat dulu, aku yakin kebanyakan team mati akan menyerah jika tinggal 1-2 jam lagi." Si pria cowboy menjawab dengan santai lalu berbaring dengan santai.
Tidak satu pun dari mereka tegang, karena markas mereka yang terletak 40 meter dari permukaan tanah. Sangat sulit bagi Hyper lain untuk bisa mendeteksi mereka. Atau, itulah yang mereka pikirkan.
Mereka merasakan aura dari seseorang yang sangat kuat, jumlahnya 2 orang, aura yang mereka pancarkan sangat tebal hingga membuat orang lain berpikir jika mereka tidak ada niatan untuk menutupi aura mereka.
Si pria cowboy menyadari siapa pemilik aura ini, "Wah... Wah... Wah... Bukankah aura ini milik William Austin? Aura miliknya bukan main, dia tampaknya sudah dalam mode bertarung. Kira-kira siapa yang jadi lawannya ini?"
"Aku sedikit familiar, bukankah ini aura Eduardo? Si bocah pendek yang jadi rekan William."
"Ah iya! Benar Benar! Sepertinya prediksiku benar, mereka akhirnya bertarung karena masalah internal dalam team sendiri. Mungkin mereka saling menyalahkan satu sama lain sehingga terjadi pertengkaran atau semacamnya." Si pria cowboy mengangkat bahunya sambil tersenyum puas.
Mereka berpikir jika saingan berat mereka untuk test berikutnya akan tersingkir kali ini. Mereka pun bersantai tanpa beban, semuanya berbaring sambil menikmati dentuman pertarungan di atas kepala mereka.
Tanpa mereka sadari, bahaya mendekat tanpa memberikan peringatan.
30 Menit berlalu.
Tuk
Sebuah benda tiba-tiba jatuh entah dari mana, semua yang ada disana secara otomatis menoleh. Mata mereka menangkap sebuah pisau kecil yang diikat bersama dengan bola kecil menggunakan seutas benang merah.
Pop
Pisau itu meledak, ledakan yang dihasilkan sangat kecil hingga tidak terasa apa pun, tapi dari ledakan itu, keluar asap tanpa henti.
"Hati-hati! Tutup mulut dan hidung kalian, jangan sampai asap itu terhirup." Si pria cowboy memperingati rekan-rekannya.
Semuanya dengan sigap menutup hidung dan mulut mereka, ada yang memakai sebuah kain, dan ada juga yang hanya memakai tangan.
Beberapa detik berlalu, asap itu masih terus keluar. Asap itu pun dengan cepat membungkus seluruh ruangan itu, hal yang paling buruk pun bisa terjadi.
Umumnya, jika ada asap yang muncul pada ruangan sempit, itu bisa diatasi dengan membuka jendela atau pintu, atau bisa juga dibiarkan karena asap akan keluar melalui ventilasi pada ruangan. Tapi kali ini berbeda, mereka berada pada ruangan sempit di bawah tanah yang hampir tertutup sepenuhnya, tidak ada jalan keluar yang cukup agar asap itu bisa keluar.
Sial! Jika hanya diam disini, kami bisa mati karena sesak napas. Si pria cowboy memikirkan kemungkinan terburuk.
Hampir 1 menit berlalu, ada yang sudah tidak kuat untuk menutup hidung dan mulutnya, sehingga menghirup asap yang ada dan berakhir batuk-batuk.
"Ohok Ohok Ohok..."
Sial! Skenario terburuk datang terlalu cepat.
Si pria cowboy berpikir keras, ia tahu bahwa teamnya tidak bisa berada di tempat ini lebih lama lagi.
Melalui berbagai pertimbangan singkat dalam kepalanya, akhirnya si pria cowboy menentukan pilihan terbaik bagi mereka.
"Cody! Gali jalan untuk kita keluar!" Si pria cowboy memanggil rekannya yang merujuk pada si pria penambang.
"Apa? Tapi kalau kita keluar..."
"Pikirkan itu nanti saja, jika kita tetap disini kita akan mati kehabisan napas."
Pria penambang bernama Cody itu akhirnya menurut, ia tahu bahwa tidak ada pilihan lebih bagi teamnya, berada tetap di sini jauh lebih buruk dibanding di atas.
Cody pun memutuskan untuk membuat jalan ke atas, ia mengangkat tangannya yang terbalut sarung tangan, lalu seketika, muncul cakar-cakar panjang di tangannya. Ia pun langsung menggali dengan cepat, rekan-rekannya mengikuti di belakang.
Srak Srak Srak Srak
__ADS_1
Cody terus menggali hingga ke atas, ia dengan sengaja menggali lumayan jauh dari tempat semula untuk menghindar dari pertarungan antara William dan Eduardo.
Mereka semakin dekat dengan permukaan, lapisan tanah juga semakin berbeda dari, dan ketika Cody menggali lagi, keluar cahaya matahari yang bersinar lembut seolah ingin menyambut mereka.
Cody naik ke permukaan terlebih dahulu, tapi yang menyambutnya bukan hanya matahari, ketika kepalanya muncul, sebuah besi tajam yang berkilauan, datang ke arahnya.
Srasssss....
"Akhhhhhhhhhh!!!!!!!!!! Mataku!!!!!" Cody berteriak kesakitan, ia berguling jatuh ke belakang.
Si pria telanjang yang berada tepat di belakang Cody langsung paham dengan situasi yang terjadi. Tanpa bertanya apa pun, ia menyentuh dinding tanah di sebelahnya, ia mengendalikan tanah di sekitar.
Krak Krakakak....
Tombak tanah muncul mencuat dari tanah yang dipijak oleh Ran, Ran langsung meloncat ke atas sekuat tenaga untuk menghindari semua tombak yang muncul. Di udara, Enzo menariknya mundur menggunakan benangnya ke belakang semua tombak yang ada.
Si pria cowboy keluar dari dalam tanah, rekan- rekannya mengikutinya di belakang, Cody dipapah oleh seorang pria yang membawa keranjang boneka, Cody tampak sangat menderita, ia memegangi matanya yang terluka oleh tebasan pedang Ran, darah masih mengalir deras dari balik tangannya.
"Wah... Wah... Kita dikerjai rupanya, begitu... Jadi kalian yang membuat bom asap tadi yah?"
"Benar sekali, kalian sebelumnya mengerjai kami, sekarang giliran kami bukan? Jadi sekarang kita impas."
Bom asap yang sebelumnya ada buatan Enzo, ia memakai beberapa bahan kimia yang ia miliki untuk membuat bom asap sederhana. Lalu Ran memakai menggunakan ledakan kecil ketika ia melepaskan Mana yang membentuk senjata miliknya sebagai sumbu.
Hal yang tersulit dari rencana ini adalah memasukkan bom asap mereka ke tempat si pria cowboy dan rekan-rekannya tanpa ketahuan. Untuk itu, Enzo memakai benangnya untuk mendorong pisau kecil dan bom asap buatannya, perlu waktu yang lumayan lama, karena itulah Eduardo dan William bertindak sebagai umpan untuk membuat lawan mereka lengah.
"Hmm... Benar juga yah, kalau begitu sekarang giliran kami bukan...?" Si pria cowboy mengatakan itu sambil tersenyum menakutkan. Ia mengangkat tangannya ke atas.
Wusssssshhhhh.....
Hologram dari burung gagak dan juga elang berterbangan keluar ketika si pria cowboy itu mengangkat tangannya. Angin berhembus kencang karena kepakan sayap semua burung itu.
"Nah sekarang, mari kita serius, toh hanya tersisa 2 jam 40 menit lagi, jadi sekalian saja kuhabiskan sisa tenagaku. Roy, kau juga bantu yah."
Si pria telanjang yang berada di belakang si cowboy mengangguk untuk memberikan balasan. Si pria telanjang yang bernama Roy itu jongkok dan memegang tanah dengan kedua tangannya.
Enzo sadar apa yang mereka akan lakukan, dan memperingati Ran dengan berbisik, "Hati-hati dengan serangan tombak dari bawah tanah."
Ran mengangguk.
Si pria cowboy sudah siap, ia memasang kuda-kuda dengan satu lengan di atas, Ran dan Enzo juga sangat waspada dengan segala serangan yang mungkin akan datang.
Ran sudah siap, ia menghunuskan pedang katana yang ringan namun tajam untuk menghalau semua serangan yang akan datang.
Plak Crak Brekkk
Ran menangkis sambil berjalan mundur, ia menghindari dikerumuni oleh burung-burung ini agar tidak dirugikan.
Ran menangkis cakar-cakar tajam dari burung-burung yang menyerangnya, kemudian ia memukul dengan bagian tengah dari pedang katana sambil berjalan mundur, dan sesekali ia menebas hingga merobek burung-burung hologram yang menyerangnya.
Namun... Tidak peduli sebanyak apa Ran menghancurkan burung-burung hologram ini, rasanya seperti tidak habis-habis.
Khhkkk... Semakin lama aku akan semakin rugi, tapi aku harus bertahan sebentar lagi.
Ran merasakan tanah bergetar di sekitarnya, ia tahu apa yang akan datang.
Srassshhhh...
Ran menebas sekitarnya membentuk lingkaran sembari melompat setinggi mungkin, dari bawah, muncul tombak-tombak dari tanah setinggi 1 meter.
Di udara, serangan tidak berhenti, beberapa elang datang ke arah Ran, Ran menahan serangan cakar mereka dengan pedangnya, tapi tanpa pijalan, Ran terdorong mundur ke belakang hingga terjatuh.
Ran berada di kondisi yang merugikan, ia jatuh terbaring karena diserang di udara, di hadapannya ada 2 elang yang menekannya hingga tidak bisa bergerak.
Drrrttt...
Tanah kembali bergetar,
Lagi?
Ran dengan sekuat tenaga mendorong 2 elang di hadapannya ke atas, ketika ruang yang luas tercipta, Ran melepaskan genggamannya dari pedang dan berguling ke samping.
Cruakkk...
Tombak tanah muncul kembali dari tempat Ran, tombak itu merobek elang hologram dan pedang Ran hingga hancur, Ran sendiri hampir tidak bisa menghindar, beruntung hanya tangannya yang tergores walau cukup parah.
Ran berguling lalu berdiri kembali, Enzo tepat di belakangnya sambil tersenyum, peralatan medis melayang di sekitar Enzo dan secara otomatis bergerak ke arah Ran untuk menyembuhkan lukanya.
__ADS_1
"Terimakasih Enzo."
"Sama-sama."
Kawanan burung kembali menyerang, Ran dan Enzo menyebar ke arah yang berlawanan agar tidak tabrakan.
Srakkk Pak Crakkk
Ran berlari menjauh dari kawanan burung sambil sesekali menebas untuk menghancurkan mereka, namun sayangnya, kali ini Ran kurang teliti.
Kawanan burung muncul dari belakang juga, Ran terkurung sepenuhnya.
"Cih!" Ran mendecakkan lidahnya, kemudian ia menciptakan satu pedang katana lagi, kali ini dia menggunakan gaya Dual Sword
Srakkk... Crakkk... Chwakkk...
Ran menebas ke segala arah, ia tidak peduli lagi kemana dia menebas, karena dia sudah sepenuhnya dikelilingi oleh kawanan burung gagak dan elang.
Ran masih cukup kuat untuk menahan dan menangkis serangan dari kawanan burung ini untuk sebentar saja. Lama-kelamaan, Ran mulai kewalahan.
Srak Crats Crat
Luka-luka akibat dari cakaran kawanan burung mulai bermunculan di tubuh Ran. Itu hanya luka kecil, tapi tetap terasa menyakitkan jika ada dalam jumlah banyak. Di pipi, lengan, bahu, punggung, kaki dan lengan tidak luput dari luka cakaran.
"Hoshh.. Hoshh... Hoshh..."
Ran sudah kelelahan, tapi ia tidak bisa berhenti disini.
"Khhhkkk.... Uarghhhh...." Ran memutar seluruh tubuhnya, kedua pedangnya menebas ke segala arah. Hologram dari kawanan burung terobek dan hancur karena pedang Ran.
Jumlah dari kawanan burung itu pun menurun drastis, Ran bisa sedikit bernapas lega setelah ruang kecil muncul setelah ia membantai kawanan burung dalam jumlah yang lumayan.
Tetapi, dari arah kawanan burung itu, muncul serangan lain.
Si pria Cowboy mendadak muncul, tangannya menusuk ke depan, Ran yang kelelahan tidak sempat menghindar dari serangan yang akan menusuk wajahnya itu.
Mati aku... Batin Ran.
Tapi... Sebelum serangan itu mengenai Ran, sebuah tangan lain muncul dari samping dan mendorong kepala Ran ke arah samping. Itu adalah Enzo.
Serangan si pria cowboy pun luput, tusukannya melewati celah sempit diantara tangan Enzo dan bahu Ran.
"Aduh gagal." Si pria cowboy hendak langsung menarik kembali serangannya.
Namun, tangannya ditahan oleh Enzo. Enzo tidak membiarkannya menarik kembali tangannya.
"Hei lepaskan aku."
"Tidak bisa dong... Kalau kau pergi, kau tidak akan bisa melihat ini!" Enzo mengeluarkan benang merahnya dari lengan pakaiannya.
Benang merah Enzo bergerak-gerak dengan sendirinya, dan mulai menjahit jari-jari tangan si pria cowboy menjadi satu.
"Khhhkkk... Apaan ini!?"
"Hanya operasi kecil, kau harus berterimakasih, kalau biasanya aku akan meminta bayaran mahal bahkan untuk operasi kecil."
"Haha... Kau gila." Si pria Cowboy mengendalikan kawanan burung di sekitarnya untuk menyerang Enzo.
Enzo yang diserang oleh kawanan burung terpaksa berhenti dan mundur, si pria cowboy juga ikut mundur.
"Hahahahaa... Kau benar-benar gila." Ucap si pria cowboy sambil memegangi lengan kanannya.
Enzo berhasil menjahit ibu jari hingga jari tengah si pria cowboy itu menjadi satu, si pria cowboy itu pun tidak bisa melepaskan jahitannya, dan bukan hanya itu saja, tangan kanannya juga menjadi mati rasa hingga sulit digerakkan.
"Dengan begitu, kau pasti kesulitan untuk membuat hologram hewan yang baru bukan?" Ucap Enzo yang baru berhasil keluar dari kawanan burung. Akibat dari jahitannya terlihat nyata, si pria cowboy menjadi kesulitan untuk mengendalikan kawanan burungnya.
"Heh... Jangan lupa, aku masih punya satu rekan lagi. Roy! Aku punya rencana!" Si pria cowboy memanggil rekannya, namun hening... Tidak ada jawaban.
"Roy...?" Si pria cowboy memanggil rekannya lagi, tapi masih hening, ia pun menoleh ke arah rekannya.
"Cari apa? Mencari rekanmu yah.....?" Sebuah suara yang familiar muncul, tapi itu bukan si pria telanjang yang dipanggil Roy itu.
Yang ada di belakang, adalah Eduardo, ia dengan tersenyum puas, berdiri sambil menginjak Roy yang sudah pingsan.
"Maaf kami terlambat, Eduardo terlalu terbawa suasana." William meminta maaf karena terlambat.
Si pria cowboy tampak tidak percaya dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? Kenapa bisa begini?"
"Masih bingung? Biar kujelaskan, kau saat ini... Sudah kalah bodoh!" Ucap Eduardo sambil mengacungkan ibu jari secara terbalik