Sword Ranker

Sword Ranker
Death And Life


__ADS_3

Di sekitar hampir tidak ada orang, Ran hanya sendiri bersama seekor Monster sebesar 10 Meter yang berada tepat di ujung lain gang.


Suasana terasa sunyi, Monster itu hanya diam dan tidak melolong sama sekali, ia hanya terkadang melihat suasana sekitar saja.


Namun bagi Ran, suasana ini terasa sangat berat dan mengerikan, dadanya terasa seperti ditekan oleh tangan raksasa, dan jantungnya terasa akan meledak keluar tanpa diduga-duga. Nafasnya tersengal-sengal dan tidak teratur karena terlalu panik.


Deg! Deg! Deg! Deg!


Ekhhhh! Tenang! Tarik nafas dalam-dalam. Hahhhhhhh huffffffttttt. Jangan bersuara sedikit pun, Monster itu hanya diam saja, pasti dia tidak tahu aku ada disini. Jika tenang dan tidak ketahuan, aku bisa bertahan hingga para Ranker menghabisi Monster itu.


Ran mengatur nafasnya, dia berusaha agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun agar tidak ketahuan.


Bagi Ran, situasi saat ini sama saja dengan berdiri tepat di samping jurang, oleng sedikit, Ran akan terjatuh dan kehilangan nyawanya.


“Uhuk! ?????!!!!!!!!”


Sial! Bisa-bisanya batuk di situasi saat ini.


Ran batuk pelan, hal itu dilakukan secara reflek, seperti sebuah kebiasaan yang pasti dilakukan. Walau pelan, itu adalah sebuah suara asing di saat situasi sunyi.


Monster Pterosaurus merespons suara batuk Ran yang kecil, dia melenggak-lenggok di sekeliling jalan untuk mencari asal suara tersebut.


Hahhhhh.... Hehhhhh...... Tenang! Tenang! Dia belum tahu aku di sini, tahan beberapa menit dan pasti para Ranker akan datang untuk membereskannya.


Brukkk! Sebuah suara seperti beban besar yang dijatuhkan tiba-tiba muncul dari atas Ran.


Ran menengok ke atas, dan terlihat Monster Pterosaurus itu tepat di atasnya. Monster itu berdiri di atas 2 gedung yang mengapit gang yang dimasuki oleh Ran. Dan Ran tepat berada di bawahnya.


Jantung Ran serasa berhenti, dia sangat syok hingga tidak bisa bereaksi, keringat mengucur deras dari seluruh tubuhnya.


Tenang! Mari Tenang! Jika aku panik nanti akan ketahuan, sekarang atur nafas dan dempetkan tubuh sedekat mungkin dengan tembok.


Ran menutup mulut dan hidungnya untuk mengurangi suara nafasnya yang berisik, dan mendorong tubuhnya akan berdempet dengan tembok.


Saat ini, Ran mencoba menyatu dengan kegelapan gang.


Monster Pterosaurus itu masih mencari di sekitar, kemudian dia turun dari atas atap ke jalanan yang dilewati Ran sebelumnya.


Ran tidak bisa melihatnya, jadi saat ini ia hanya bisa untuk menebak-nebaknya saja.


Suara nafas? Tidak! Lebih tepatnya suara endusan, Monster itu sedang mengendus sesuatu, apa yang dia cari? Jangan-jangan?


Ran bisa menebak dengan tepat apa yang sedang Monster itu cari dari tadi.


Bau Darah!


Ran langsung terpikirkan satu hal.


Darah Ran yang berceceran karena terluka membuat Monster itu tertarik dengan baunya, itulah sebabnya Monster itu mendatangi tempat Ran karena jejak dari bau darahnya.


Ran masih beruntung karena bau darah dari tubuh Ran sedikit tersamarkan oleh bau sampah dari gang yang dimasuki oleh Ran.


Walau itu tidak berlaku selamanya.


Bagaimana ini? Tidak mungkin aku disini terus, mau tidak mau, aku harus bekerja keras sedikit lagi.


Ran menyusun Rencana, dia memaksakan tubuhnya untuk menggunakan kemampuannya lagi “Projection and Creation” cara kerja dari kemampuan Ran ini adalah dengan membuat gambaran hal yang ingin dibuat, lalu menciptakannya dengan energi misterius yang didapatkan para Hyper ketika mereka bangkit.


Energi ini memiliki banyak nama, “Cakra, Mana, Sihir, Yin Dan Yang” Dan berbagai nama lainnya. Energi ini tidak memiliki nama resmi karena tidak dapat diidentifikasi, dan umumnya, para Ranker muda memanggil energi ini dengan sebutan ‘Mana’


Kemampuan milik Ran akan mengolah Mana Miliknya dan mengubahnya menjadi hal yang dia bayangkan. Terdengar sederhana namun prakteknya cukup sulit.


Mana adalah energi tak terlihat maupun berbentuk, dan kemampuan Ran adalah mengubah energi yang tidak berwujud ini menjadi sesuai bayangannya.


Sangat sulit dalam menstabilkan energi ini menjadi hal yang diinginkan, butuh konsentrasi besar untuk mempertahankan energi ini agar tidak berubah bentuk sebelum selesai 100%.


Semakin rumit bentuk dan ukurannya, Mana yang dibutuhkan akan semakin besar, itulah sebabnya Ran mencoba fokus pada satu aspek untuk mengurangi beban dalam pembuatan maupun dalam penggunaan Mananya.


Dan senjata yang dipilih Ran kali ini adalah Belati, Ran menciptakan Belati kecil berukuran 25 Centimeter, dengan pegangan yang hanya berukuran 5 Centimeter. Yang hanya bisa dipegang dengan separuh telapak tangan.


Ran memfokuskan Belati ini pada aspek ketajaman dengan mengurangi ukurannya, dengan begitu Ran setidaknya bisa menghemat Mananya.


Ran menunggu dengan posisi siap di tempatnya, dan seperti dugaan, Monster itu mulai ke arah Ran mengikuti bau darahnya.


Tidak butuh waktu lama hingga Monster itu sampai di gang yang dimasuki oleh Ran.


Ran mengencangkan pegangannya pada Belatinya.


Monster itu menjulurkan kepalanya masuk ke dalam gang, dia tidak bisa mendorong seluruh tubuhnya karena gang itu terlalu sempit.


Ran akhirnya bisa melihat jelas bagaimana rupa makhluk tersebut, Monster itu sangat mirip Pterosaurus, kepala yang lonjong, badan yang lebar serta sayap di kedua lengannya. Badannya dilapisi oleh kulit berwarna hitam yang tampak kokoh dan kuat, kulit yang tidak mungkin bisa ditembus oleh Ran.


Dan, Ran pun bertatapan mata dengannya, mata Monster itu berwarna kuning dengan pupil mata runcing yang mirip dengan kucing, terdapat bercak-bercak hitam di sekitar matanya. Monster itu melotot ketika salah satu bagian matanya melihat Ran.


Rasakan ini!!


Crak


Dan tanpa basa-basi, Ran langsung menusuk mata Monster itu dengan belatinya.


Walau Monster memiliki kulit yang keras, mata mereka tetaplah rapuh dan mudah ditembus, bahkan oleh senjata biasa.


“Khieekkkkkkkkkk!!!!!”


Monster itu berteriak kencang, dia secara spontan menarik kembali kepalanya, tapi Ran tidak berniat melepaskan pegangannya belatinya dengan mudah.


Ran sengaja tidak melepaskan belatinya, agar saat Monster itu menarik kembali kepalanya, luka tusukan dari belatinya akan melebar.


Dan benar saja, tusukan dari belati milik Ran semakin melebar saat Monster itu menarik kepalanya.


Belati sederhana milik Ran memberikan luka sayatan hampir setengah dari ukuran mata Monster itu. Ran pun menarik kembali tangannya sebelum ia terseret oleh Monster itu.


“Khiekkkkkkk!!!!”


Teriakan Monster tersebut semakin kencang, tidak hanya berteriak, dia juga menggila dan menghancurkan setiap benda yang ada di sekelilingnya.


Bagus! Dengan teriakan sekencang itu, para Ranker pasti akan tahu posisi Monster Pterosaurus ini. Sekarang lanjut ke tahap kedua.


Ran memaksakan dirinya berdiri, dia berjalan ke arah yang berlawanan dengan Monster Pterosaurus yang sedang mengamuk kesakitan.


“Hosh.... Hosh.... Hosh.... Harus bisa sedekat mungkin dengan tempat para Ranker”


Ran bertujuan untuk pergi ke tempat yang sedekat mungkin dengan para Ranker, saat ini Monster itu sedang mengamuk dan melolong dengan kencang. Para Ranker pastinya sadar bahwa Monster itu masih hidup dan bergegas ke sumber suaranya.


Dan jika Ran bisa membawa Monster ini ke tempat yang sedekat mungkin dengan para Ranker, itu bisa mempercepat proses mengalahkan Monster ini.


Ran berjalan dengan cepat, dia dengan sengaja menyebarkan darahnya agar Monster itu mengikutinya.


Kemudian, ia melihat sesuatu di jalanan.

__ADS_1


Itu *Kruk? Kebetulan sekali menemukan benda ini di jalan seperti ini, tidak mungkin aku melewatkan barang berguna seperti itu.


*Note: Kruk alat bantu mobilitas yang memindahkan berat badan dari kaki ke tubuh bagian atas. Ini sering digunakan oleh orang-orang yang tidak dapat menggunakan kaki mereka untuk menopang berat badan mereka, untuk alasan mulai dari cedera jangka pendek hingga cacat seumur hidup


Ran langsung mengambil Kruk yang tergeletak di dekat tempat sampah, ia memanfaatkan Kruk tersebut untuk menopang badannya yang kelelahan.


“Khiekkkkkkkkk!!!!” DRAP! DRAP! DRAP!


Suara pekikan Monster itu terdengar kencang, suara langkah kaki yang besar juga ikut menyertainya.


Ran menengok ke belakang dan melihat Monster itu berlari dengan kencang ke arahnya, ia nampak seperti hewan buas yang mengejar mangsanya.


“Hosh Hosh Hosh Hosh..... Monster gila, dia langsung mengejar dengan kecepatan penuh. Dan masih jauh dari tempat para Ranker"


Ran mendorong batasnya, dia tidak peduli dengan luka-luka di tubuhnya yang makin parah, yang dia inginkan hanyalah bisa bertahan hidup dari situasi mengerikan ini.


Walau begitu, tidak peduli seberapa keras Ran mendorong dirinya, Monster itu lebih cepat selangkah dari dirinya.


Tidak butuh waktu lama hingga jarak Ran dengan Monster Pterosaurus hanya tersisa 5 Meter lagi. Sebuah jarak yang tidak cukup bagi manusia biasa untuk menarik Ran, tapi jarak yang cukup untuk sebuah Monster sebesar 10 meter untuk menerkam Ran.


Monster Pterosaurus itu menjulurkan tubuh bagian atasnya ke arah Ran sambil berlari dengan cepat. Paruh besarnya menganga lebar, Monster itu telah siap untuk melahap Ran bulat-bulat.


Ran dihadapkan oleh dua mulut besar yang berada di kedua sisinya, Dalam hati Ran, dia merasa ingin menyerah karena lelah.


Sial! Apa ini akhirnya? Dimakan oleh burung jelek ini tanpa menghasilkan jejak yang bisa dikenang oleh orang lain? Hanya dikenal sebagai Hyper gagal yang tidak punya prestasi, menyebalkan.


Ran makin melambat, pikiran negatifnya mempengaruhi tubuhnya, dia telah kehilangan hampir seluruh semangatnya.


Monster Pterosaurus itu telah siap melahap Ran yang sudah tidak bergerak lagi, paruhnya terbuka bagai gunting yang akan memotong kertas.


Tapi....


Gak mau!!!


Tepat sebelum mulut Monster itu melahap Ran, Ran memanfaatkan Kruk yang ia bawa untuk melemparkan tubuhnya ke arah kanan, ia merendahkan tubuhnya agar bisa melewati celah antara paruh Monster itu dengan tanah beton.


Ran selamat secara dramatis, dia berhasil melewati celah antara paruh Monster itu dengan tanah beton.


Terdapat jeda sekejap saat Monster itu menutup rapat paruhnya, dia masih belum sadar jika ia gagal menangkap mangsanya.


Cih, meski aku nanti akhirnya akan mati, aku tidak sudi untuk mati dimakan Monster tanpa perlawanan, lebih baik aku mati terbunuh setelah membantai ribuan Monster sialan itu. Setidaknya aku harus mati dengan dikenal sebagai Ranker yang hebat, bukan sebagai Hyper gagal.


Ran memanfaatkan jeda di saat Monster itu kebingungan untuk kabur, mungkin usahanya tidak berarti karena jarak yang dibuat oleh Ran dengan bersusah payah, bisa dilampaui oleh Monster itu hanya dengan satu langkah.


Tapi setidaknya, aku ingin berjuang hingga akhir.


Tidak butuh waktu lama untuk Monster itu sadar jika ia gagal menangkap mangsanya. Dia berdiri kembali dan berjalan dengan santai untuk menangkap Ran.


Ran memanfaatkan Kruk yang ia bawa, jika Monster itu berniat memakannya dari atas, Ran akan mendorong tubuhnya dengan kruk itu ke belakang, ke titik buta dari Monster itu.


Jika Monster itu ingin memakannya dengan membuka paruhnya seperti gunting, Ran akan mendorong tubuhnya ke kanan atau pun kiri, dan meloloskan dirinya melalui celah kecil antara paruh Monster dan tanah beton.


Monster itu terasa tidak serius untuk mengejar Ran, malahan dia mengejar Ran dengan santai, Tampak seperti ayam yang sedang mencari cacing. Tampaknya, Monster itu tidak menganggap Ran sebagai ancaman sama sekali


Aneh, kenapa Monster itu tidak terbang dan memblokir dari depan secara langsung?


Ran sadar akan keanehan Monster itu, sedari tadi, Monster tersebut tidak menggunakan keunggulan utamanya. Yaitu kemampuan untuk terbang, padahal dia bisa terbang langsung dari pada berjalan seperti ini.


Ran menengok sebentar ke belakang untuk mengamati Monster tersebut.


Sayapnya, sayapnya robek! Pantas saja dia dari tadi tidak terbang. Sama denganku, dia juga dalam kondisi terluka, sepertinya dia terluka oleh serangan yang dilancarkan oleh para Ranker sebelumnya. Jika seperti ini sepertinya aku akan bisa selamat.


Krak!


“Eh? Kruknya patah?”


Kruk yang dipakai Ran mendadak patah tepat di bagian tengah, dan membuat Kruk tersebut terbagi menjadi 2 bagian.


Pantas saja ada di tempat sampah, ternyata Kruk ini memang sudah rusak.


Ran mengutuk Kruk tersebut sambil berjalan dengan kepayahan. Tanpa adanya alat untuk membantu Ran berdiri, membuat Ran semakin lambat.


Keseimbangannya terus menghilang, Ran serasa akan jatuh kapan pun.


Monster itu juga kembali menyerang Ran. Monster tersebut menyodorkan paruhnya ke arah Ran dan bersiap untuk melahap Ran dalam satu gigitan.


Ran sudah mulai terbiasa untuk lepas dari situasi ini, namun, tanpa Kruk yang selama ini ia gunakan sebagai pendorong tubuhnya, Ran menjadi kepayahan dalam menghindari serangan Monster tersebut.


Timing Ran tidak pas, terlalu lambat dan kurang dorongan, menyebabkan Monster itu berhasil untuk menggigit bahu Ran.


Ran berhasil lepas, namun bahunya terluka parah karena digigit oleh Monster tersebut. Dagingnya robek seperti kalkun panggang yang disajikan pada makan malam.


Darah yang mengalir sangat banyak, cukup banyak untuk membuat Ran langsung pusing karena kurang darah.


“Hosh Hosh Hosh.... Panas.... Sakit... Tolong..”


Ran merasakan rasa sakit luar biasa pada seluruh tubuhnya, kesadarannya mulai menghilang, seluruh tubuhnya terasa panas hingga menyebabkan Ran merasa sangat haus dan tidak bertenaga.


Di momen ini, Ran hanya bisa berjalan pincang seperti zombie.


Bagaimana ini? Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, badanku semuanya sakit, aku lelah, rasanya tidak ada tenaga sama sekali.


“Tolong.... Tolong..... Tolong....”


Ran hanya bisa meminta tolong dengan suara lirih, dia sudah kehabisan seluruh tenaganya, bahkan saat ini, dia sudah tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan.


Dan akhirnya


Bruk!


Ran terjatuh kehabisan tenaga, dia tidak bisa lagi berjalan dengan semua luka-lukanya.


Monster Pterosaurus yang sedari tadi mengikuti Ran, berhenti dan mengamati Ran. Monster itu membalik tubuh Ran, seperti tukang daging yang sedang mengamati kualitas daging jualannya.


Pada posisi ini, Ran bisa melihat jelas ke arah Monster tersebut.


Apa lagi yang kau tunggu burung jelek? Makan saja aku! Jangan menunda-nunda terus.


Dalam pikirannya, Ran sudah menyerah dan memilih untuk menerima kematiannya.


Namun.


Entah karena pusing akibat kehilangan banyak darah, atau karena emosi yang menggebu-gebu, atau karena kelelahan luar biasa yang diderita Ran, atau mungkin itu adalah kenyataan, Ran melihat Monster tersebut tersenyum.


Senyuman mengejek yang selalu dipasang oleh orang yang mengganggu Ran, terpampang di wajah Monster tersebut.


Itu terasa tidak realistis dan masuk akal, tapi, itulah yang dilihat oleh Ran.


Kau juga? Jadi kau juga menganggapku pecundang hah? Sial! Mana sudi aku mati oleh Monster sepertimu!

__ADS_1


Darah ran terasa mendidih, emosinya membludak hingga Ran menggertakkan giginya. Entah kekuatan dari mana, Ran merasa Mana miliknya sangat melimpah.


Tepat sebelum Monster itu memakan Ran bulat-bulat, Ran langsung menciptkan 2 buah pedang pendek namun sangat lebar hingga terlihat besar.


Ran langsung menebas paruh Monster tersebut dengan mudah, Paruhnya langsung tersayat hingga membuat Monster itu mundur karena kesakitan.


“Khiekkkkkkkk!!!!”


Pekikan Monster itu kembali terdengar kencang, paling kencang dari yang sudah didengar oleh Ran sejak awal dia melihat Monster tersebut.


“Berisik tahu dasar Monster jelek! Jangan kira aku akan dimakan olehmu!”


Ran merangsek maju dan menebas paruh Monster itu hingga terbelah 2, darah mengalir dari paruhnya dan membasahi wajah Ran dan jalanan sekitar.


Seakan tahu jika ia tidak akan menang mudah melawan Ran, Monster itu mundur dan menggunakan sayapnya untuk membuat hembusan angin yang besar.


Wushhhhhhhh!


ia mengarahkan hembusan angin tersebut kepada Ran. Ran sedikit terdorong karena tekanan anginnya, Ran menggunakan tangannya sebagai pelindung dari hembusan angin tersebut.


“Jadi ini kemampuanmu? Kalau dalam kondisi prima pasti aku sudah terlempar jauh atau paling buruknya terkoyak-koyak, tapi dengan kondisi sayap terluka seperti itu, angin yang kau buat hanya terasa seperti angin sepoi-sepoi!”


Ran menguatkan kakinya, walau terasa sakit dan perih, Ran tetap memaksa untuk memanfaatkan kakinya sebagai pegas pendorong tubuh.


Syut!


Ran melemparkan tubuhnya ke arah Mosnter tersebut dan bersiap untuk menebasnya lagi, tapi Monster itu berhasil mundur kembali dengan sayapnya, dan membuat hembusan angin yang lebih kencang.


Dalam posisi melayang, Ran terlempar dengan mudah oleh hembusan angin tersebut.


Cih! Ternyata burung jelek itu punya kecerdasan yang lumayan


Crak! Crak!


Ran menancapkan pedangnya ke tanah beton, untuk menahan tubuhnya agar tidak terhempas lebih jauh lagi.


Saat ini Ran hanya bisa bertahan untuk menunggu timing yang tepat untuk menyerang.


Pada momen ini, Ran dan Monster Pterosaurus itu terjebak pada kondisi buntu, Ran bisa menyerang Monster itu, tapi dia tidak bisa mendekat, Monster itu tidak bisa bertarung dan hanya bisa menjauhkan Ran. Kedua belah pihak terjebak di jalan buntu.


Sial! Monster itu punya kecerdasan untuk merasakan bahaya, dia sengaja mengulur waktu agar aku mati kehabisan darah. Tapi, dia pasti tidak sepintar itu kan? Ini pertaruhan, tapi layak dicoba.


Ran melepaskan kedua pedangnya, dia mengangkat kedua tangannya dan membentuk posisi menyerah.


Monster itu tidak merasakan adanya bahaya karena Ran tidak memegang senjata, jadi ia menghentikan hembusan anginnya.


Monster itu mengamati Ran untuk menilai tingkat bahayanya.


Ran juga berjalan pelan-pelan ke arah Monster itu tanpa membawa senjatanya dengan tangan terangkat.


Dan secara tiba-tiba


Khakkkk!


Monster itu merangsek maju dengan niat menerkam Ran, Tapi Ran tampak tidak panik dan seolah-olah tahu apa yang akan dilakukan Monster itu.


Sekejap sebelum paruh Monster Pterosaurus berhasil menggigit Ran, Ran sudah lebih dulu berjongkok dan meluncurkan tubuhnya ke depan seperti berselancar.


Tubuh Ran meluncur ke bawah leher Monster tersebut, dalam jeda waktu sepersekian detik, Ran memutar tubuhnya untuk menghadap dengan jelas leher Monster besar tersebut.


Ran langsung memegang rahang bawah dari Monster Pterosaurus, dia memfokuskan seluruh Mana Miliknya yang tersisa, untuk menciptakan senjata paling tajam yang bisa dia buat.


Sraaaaakkkkk!


Sebuah pedang tercipta dari bawah Rahang Monster Pterosaurus berukuran 10 Meter tersebut. Sebuah pedang berukuran 50 CM yang mirip dengan pedang klasik di eropa, diciptakan oleh Ran.


“Khiekk... Khiekkkss..”


Cih meleset.


Serangan Ran gagal mengakhiri Monster itu, tangannya tampak bergerak-gerak mencari Ran.


Ran langsung memegang gagang pedang miliknya dengan kedua tangannya, dia mendorong seluruh kekuatan yang ada pada tubuhnya yang masih tersisa untuk menebas kepala dan otak dari Monster tersebut.


Belum sempat Ran menebas otaknya, tangan dari Monster Pterosaurus mencakar perut Ran, Monster itu masih tidak tahu Ran ada di mana karena Ran berada di titik butanya. Tapi berkat cakaran tadi, Monster itu tahu di mana letak Ran.


Monster Pterosaurus VS Ran, keduanya sama-sama menggunakan sisa kekuatannya untuk mengalahkan lawannya.


Ran berusaha sekuat tenaga untuk menebas otak Monster Pterosaurus, sedangkan Monster itu berusaha untuk memakan Ran.


Monster itu tidak terima dirinya akan dibunuh, dia menarik tubuh bagian atasnya dan menggoyang-goyangkannya untuk menghempaskan Ran.


Ran kehilangan pijakannya, dia berayun-ayun dengan memegang gagang pedang miliknya.


“Diam kau burung jelek!!!!”


Ran memanfaatkan ayunan dari tubuhnya untuk menabrak leher Monster tersebut, ketika ia menabraknya, Ran memanfaatkan itu untuk melilitkan kakinya di leher Monster tersebut.


Monster Pterosaurus semakin mengamuk, dia mengayunkan kepala dan lehernya kesana kemari untuk menghempaskan Ran.


Ran tidak menyerah dan berusaha untuk terus memotong kepala Monster itu.


“Uwohhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!! Mampus kau burung jelek!!!!!”


Srrrrrrrrrraaaakkk!!!


Ran berhasil memotongnya, kepala Monster itu terbelah 2 di bagian kepalanya. Darah dari dalam kepalanya terciprat kemana-mana, hingga membasahi seluruh wajah Ran. Otak dan matanya juga ikut terceceran keluar.


Monster itu kehilangan nyawanya, seluruh tenaga di tubuhnya berangsur-angsur menghilang, dan membuat tubuhnya jatuh ke tanah.


Ran secara otomatis ikut terjatuh dengan keras dan juga tertimpa leher dari Monster Pterosaurus tersebut.


Kepala Ran jatuh terlebih dahulu ke tanah, secara bersamaan, rasa sakit dan lelah pada badan Ran langsung terasa ke otaknya.


Ran mulai kehilangan kesadarannya, pandangannya mulai menghitam dan seluruh tubuhnya mulai menjadi mati rasa.


Drap Drap Drap Drap Drap


Di saat-saat terakhir, Ran mendengar suara derap langkah kaki ke arahnya.


“lihat! Disana Monster tersebut”


“Sepertinya dia sudah mati, siapa yang membunuhnya?”


“Tunggu! Lihat di bawahnya, ada seseorang, mungkin dia seorang Hyper”


“Cepat evakuasi orang itu terlebih dahulu”


Orang-orang yang memakai perlengkapan lengkap berdatangan dengan heboh untuk menolong Ran, mereka adalah para Ranker yang ikut dalam pembersihan Gate Break.

__ADS_1


Cih! Telat banget tahu


__ADS_2