Sword Ranker

Sword Ranker
The Monster


__ADS_3

Central City (6)


Setelah peristiwa [Monster Attack], dunia memutuskan untuk bersatu. Batas-batas antara dunia dihapuskan, dikarenakan banyak tempat yang hancur akibat penyerangan Monster hingga sulit untuk menentukan batas tiap negara dan sekaligus agar memudahkan dalam bepergian dan mengirimkan barang pada saat masa rekonstruksi.


Walau begitu, tetap ada pembagian yang jelas untuk memudahkan pemerintahan. Karena itulah, tiap negara yang berada di satu benua, bersatu menjadi satu negara yang besar dengan menghapuskan setiap batasan negara.


Kemudian, benua yang telah bersatu, membagi wilayah negaranya menjadi distrik-distrik besar yang dipimpin oleh kepala distrik. Dan menjadikan wilayah tengah sebagai pusatnya.


Ran tinggal di benua yang dulu disebut sebagai benua [Eropa]. Ran tinggal di distrik 79 dari 83 distrik yang ada.


Distrik 79 merupakan distrik yang buruk akibat dari pemerintahan yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, keberadaan Michael yang merupakan anak dari orang berpengaruh di Central City merupakan hal yang sangat mengejutkan.


Hanya sedikit Hyper dari Distrik 79 yang bisa menjadi Ranker, saking sedikitnya, selama 10 tahunan ini, hanya ada kurang dari 10 orang Hyper dari distrik 79 yang bisa menjadi Ranker. Dan itu pun, tidak semuanya bertahan lama menjadi Ranker, setengahnya sudah meninggal atau pun pensiun karena pengaruh Gate Monster.


Dan saat ini, Ran berdiri tepat di depan gedung Ujian Ranker di Central City (6).


Sebagai Hyper biasa, perasaan yang didapatkan Ran sudah sangat jelas dan bisa ditebak.


Gugup!


Ba-Bagaimana ini? Aku sudah sampai setelah jauh-jauh datang dari distrik 79, tapi kenapa aku jadi gugup seperti ini? Apa balik saja? Tapi perlu 4 hari untuk kembali ke Distrik 79. Sayang juga biayanya.


Ran memandang gedung ujian dengan ketakutan, kakinya gemetar dan tidak bisa digerakkan.


"Masuk atau tidak nih? Sayang banget kalo ngundurin diri, sudah susah-susah ikut tes online sampai lolos dan berangkat kesini selama 4 hari. Sayang banget kalo malah langsung pulang." Gumam Ran sendirian.


"Hoi! Jangan diam saja di depan gedung!"


Tiba-tiba ada yang meneriaki Ran, arahnya dari belakang sehingga Ran secara alami langsung menoleh untuk mencari sumber suara.


Dari gerbang, terlihat seorang pria paruh baya yang ditemui Ran ketemu awal masuk.


Sekali lagi, pria itu berteriak, "Jangan hanya diam, langsung masuk saja."


Pria itu terus berteriak sambil berlari ke arah Ran, "Jangan menghalangi pintu masuk, kalau tidak mau masuk, pulang saja sana!"


"Ehhh...?" Ran terdiam di tempat karena bingung harus melakukan apa.


Pria itu semakin mendekat ke arah Ran.


Wajah pria itu semakin jelas, tampak jengkel, kesal dan tidak sabaran.


Hingga pria itu sampai tepat di hadapan Ran.


"Mau masuk atau tidak!? Jangan diam saja disini! Kalau tidak mau masuk pergi saja sana!" Teriak pria itu sambil menunjuk-nunjuk Ran.


Duh, aku sudah tahu jika pria ini memang pemarah saat kulihat di pos gerbang. Tapi aku tidak sangka dia sampai seperti ini.


Ran mundur selangkah demi selangkah, menjauh dari pria itu.


"Mau masuk? Sana cepat masuk!!!" Pria itu memarahi Ran sekali lagi.


Ran yang tidak tahan lagi langsung berbalik dan lari masuk ke dalam gedung. "Ma-Maaf! Saya permisi dulu!" Teriak Ran sambil berlari kabur dari pria itu.


Pria itu menghela napasnya, dan bergumam pelan "Hufft, dasar anak muda. Mereka kurang nyali."


Di dalam gedung.


Sudah banyak peserta yang datang.


Tanpa diberitahu pun, Ran sudah tahu jika mereka semua, sangatlah kuat.


Gila! Tekanan macam apa ini? Aku merasa seperti menjadi kutu jika berada di antara orang-orang ini.


Ran berjalan dengan pelan-pelan di antara para Hyper yang terasa lebih kuat darinya.


Ran mengecek jam di tangannya, "Masih pukul 7:54. 6 menit lagi baru akan dimulai."


Ran melihat bagian dalam gedung dengan seksama, dan ia merasa ada yang aneh.


Gedung ini memiliki bentuk yang sama dengan bangunan yang sering muncul pada Abad pertengahan. Isinya hampir kosong, tanpa adanya peralatan canggih atau apa pun. Satu-satunya yang mencolok adalah panggung besar yang berada di tengah ruangan. Seolah-olah panggung ini dibuat agar bisa menarik perhatian semua orang.


Untuk ukuran gedung yang menjadi tempat test para Hyper, bukannya ini terlalu sederhana? Dan lagi, suasana di dalam gedung ini terlalu kuno. Seperti suasana abad pertengahan yang pernah kulihat dulu.


Ran semakin penasaran dengan tempat ini dan mulai berkeliling. Ia sangat fokus hingga mengabaikan para Hyper yang sempat menjadi kekhawatirannya.


Bruk


Ketika sedang fokus melihat isi gedung, Ran tidak sengaja menabrak sesuatu yang sangat keras.


Ran menengok ke belakang, dan yang ditabraknya ada seorang manusia. Orang itu memiliki badan dengan tinggi 2 meter, dan sangat berotot hingga tampak seperti bukit.


Orang itu tampak sangat kesal meski hanya ditabrak sedikit.


Tanpa Ba-Bi-Bu, pria itu langsung menarik kerah baju Ran dan mengangkatnya hingga sejajar dengannya, "Hoi! Kalau jalan yang benar dong! Orang desa mana sih kau ini!?" Teriak orang itu di depan wajah Ran.


Ran membeku tanpa bisa melawan sedikitpun. Sialan, tekanan yang dia keluarkan, hampir setara dengan tekanan yang kurasakan saat berhadapan dengan pengawas Farizi. Batin Ran ketakutan.


Orang dihadapannya ini, lebih kuat daripada Michael yang seorang siswa terkuat di sekolahnya. Hanya menghadapi bawahan Michael saja, Ran tidak bisa, apalagi melawan orang yang lebih kuat dari Michael itu sendiri.


Disaat Ran tidak bisa melakukan apa-apa, tiba-tiba ada seseorang yang meraih tangan pria besar yang mengangkat Ran.


"Hah?" Ran dan pria besar itu kompak kaget melihat tangan pria itu.


Dan dalam sekejap, orang asing yang baru datang itu, menekan tangan si pria besar hingga menurunkan Ran.


Hah? Siapa orang ini?


Ran dan si pria besar sama terkejutnya, Ran melihat orang yang menyelamatkannya itu.


Orang itu adalah seorang pria dengan proporsi tubuh yang sempurna, badannya tinggi dan terlihat berotot walau tertutupi oleh bajunya, dan jika Ran tidak salah lihat, ia juga memiliki mata berwarna biru. Ia memiliki rambut pirang yang sangat indah yang disisir ke belakang. Ia memakai kemeja putih polos, sarung tangan kulit berwarna hitam dan celana panjang berwarna hitam legam. Ia memakai sepatu boots yang hampir menutupi seluruh pahanya.


Figur pria itu, membuat Ran tidak bisa mencegah dirinya untuk kagum pada pria itu. Terutama tekanan aura yang dipancarkannya, sangatlah kuat, bahkan jauh lebih kuat dari si pria besar yang menganggu Ran tadi.


Sedangkan si pria besar, merasa jengkel dan kesal pada pria pirang itu karena diganggu.


"Cih! Siapa kau ini? Datang-datang menganggu, mau jadi sok pahlawan disini yah?" Teriak pria besar itu dengan marah.


Si pria pirang yang diteriaki itu berdiri tegak tanpa ada keraguan di depan si pria besar, ia dengan nada tegas menjawab pertanyaan pria besar itu, "Maaf karena ikut campur urusan anda! Tapi! Menurut saya, jika kalian ada masalah, selesaikan dengan tenang! Menurut aturan, semua peserta tidak boleh berkelahi sebelum ujian dimulai!"


"Hah!? Siapa yang peduli dengan aturan, lagipula aku bertanya, kau ini siapa!? Jangan bertindak sok seperti itu!"


Mendengar pertanyaan pria besar itu, si pria pirang menundukkan kepalanya sedikit, "Mohon maaf karena ketidaksopanan saya, saya ada William Austin dari distrik 4."

__ADS_1


"A-Apa? William Austin?" Si pria besar itu sangat terkejut.


Semua orang yang berada di sekitar sama terkejutnya dengan pria besar itu.


Apa? William Austin?


Dia William Austin yang itu?


Berarti rumornya memang benar.


Aku tidak sangka bisa melihatnya langsung.


Semua orang berbisik-bisik tentang pria bernama William Austin ini. Hanya Ran yang kebingungan tentang pria yang dibicarakan ini.


Apa? Dia siapa? sangat terkenal yah? Eh...? Berarti hanya aku yang tidak paham nih?


Si pria besar yang awalnya terkejut berubah menjadi marah tanpa sebab, "Haa! Terus memang kenapa kalau kau William Austin hah? Hanya karena kau William Austin, bukan berarti kau lebih hebat dariku."


William Austin, si pria pirang yang membuat kehebohan hanya dengan mengucapkan namanya itu tetap berdiri tegak tanpa goyah. Sorot matanya terlihat sangat percaya diri, tidak terlihat sedikitpun ketakutan dan keraguan dalam sorot matanya itu.


William kembali berkata dengan tegas, "Maaf, saya bukannya sombong atau sok hebat, tapi saya hanya ingin menghentikan kekacauan yang terjadi."


"Tck! Sudah kubilang jangan sok kuat kau!!!" Teriak pria besar itu dengan marah.


Wusshhhhh


Pria besar itu menggunakan kemampuannya, tangan kanannya berubah menjadi besi, dan langsung luncurkan ke arah William.


Buuummm


Terjadi tubrukan yang besar, gelombang udara menyusul tepat setelah tubrukan besar itu terjadi.


Wuushhh


Barang-barang di sekitar berterbangan, debu-debu di lantai terbang ke arah orang-orang di sekitar.


Ran yang berada paling dekat dengan mereka, ikut terhempas jauh bersama dengan debu dan pasir di sekitar.


"Uhuk! Uhuk! Gila, apa yang terjadi?" Ran batuk-batuk akibat debu yang berterbangan.


Ran melihat ke tempat konfrontasi antara William Austin dan si pria besar pemarah itu.


Tabir debu menutupi sekitar mereka, Ran tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.


Butuh beberapa detik hingga tabir debu itu menghilang.


Dan pemandangan yang ada di baliknya, sungguh mencengangkan bagi Ran.


William Austin yang diserang tiba-tiba, sama sekali tidak terluka.


Di satu tangannya, dilapisi oleh armor besi yang mengkilau, entah darimana munculnya.


Dan tangan itulah yang menahan tinju si pria besar. Ia sama sekali tidak kesulitan dalam menahan tinju besar yang dilayangkan secara tiba-tiba itu.


Krrttttt... Krrttttt....


Suara besi yang beradu, mengeluarkan suara yang membuat ngilu.


Sial! Apa-apaan dia ini? Berarti semua rumor tentang dia itu benar, aku sama sekali tidak bisa menarik tanganku.


William mendorong pria besar itu sedikit demi sedikit.


"Ukhhhh.....?"


Pria besar itu terdorong hingga berlutut, ia yang awalnya berdiri tegak bagai gunung dan memandang rendah William, sekarang berlutut hingga tatapan mereka menjadi sejajar.


Glareee...


William memandangi pria besar di depannya dengan tatapan menusuk, seolah-olah mengancam pria besar itu untuk menyerah. William yang awalnya hanya merendah tanpa mengancam, sekarang berbalik mengancam dengan kekuatan luar biasa yang dimilikinya.


Glup


Ran hanya bisa menelan ludah melihat para Hyper super kuat di hadapannya, Pria besar itu tidak diragukan lagi, sangatlah kuat. Tapi, William Austin, dia itu, jauh lebih kuat.


"Khhkkk... Akh! Baiklah-baiklah! Aku menyerah, aku kalah, tolong lepaskan aku."


Si pria besar akhirnya menyerah, ia meminta maaf dan memohon agar dilepaskan.


William Austin menampilkan ekspresi lega dan melepasnya.


"Baiklah, tolong untuk berikutnya agar anda tidak membuat keributan lagi. Saya akan sangat menghargai itu."


Si pria besar itu hanya bisa membuang muka dan mengumpat dalam hatinya, Cih! Sok suci.


Tetapi, keributan yang dibuat oleh William Austin, telah mengundang kekacauan lain.


Glareeeee.....


Ran merasakan tekanan aura yang sangat kuat dari belakangnya.


"Oi!" Sebuah suara muncul dari kerumunan orang yang menonton.


Dan dari situ, muncul seseorang yang menyibak kerumunan. Dia adalah seorang anak laki-laki, usianya mungkin sepantaran dengan Ran. Tapi ia terlihat sangat kurus dan tidak terawat dengan banyaknya luka serta pakaian dan rambut yang acak-acakan dan kotor. Di pakaiannya terdapat banyak noda kehitaman yang entah apa itu.


Anak laki-laki itu datang dengan santai seolah tidak takut sama sekali. Ia menggaruk rambutnya sambil menguap lebar.


Kemudian, anak laki-laki itu melihat ke arah William dan si pria besar, kemudian ia, tersenyum..


Syuttt...


Anak laki-laki itu meloncat dengan sangat tinggi dan cepat, kemudian langsung meluncur bagai bola meriam ke arah si pria besar yang sedang berlutut.


Buummm...


Anak kurus itu langsung menghantam si pria besar dengan kakinya ke lantai, lantai marmer dibawahnya langsung hancur hingga membuat lubang.


Anak laki-laki kurus itu berdiri di atas si pria besar sambil tersenyum dengan dengan mengerikan. Ia memutar kepalanya ke arah William dan sambil tersenyum ia berkata, "Wah! Wah! Kau pasti William Austin yang sangat terkenal itu kan?"


"Ya! Dan apa mau anda!?" William menjawab dengan nada yang terdengar marah.


"Jangan galak-galak dong, aku hanya penasaran dengan dirimu yang sangat terkenal itu. Hehehe" Ucap anak itu sambil terkekeh.


"Lalu!? Anda mau berkelahi!?"

__ADS_1


"Oh!? Kau mengerti rupanya! Ayo kemarilah jika kau sudah paham."


"Maaf sekali, tapi saya harus menolaknya."


"Cih! Ayolah... Jangan terlalu ka..ku!" Anak kurus itu berbicara sambil melompat, dan dalam waktu melayang yang sangat singkat itu, ia memutar badannya dan menendang William.


Brakkkk


William yang diserang mendadak hanya sempat memasang menahannya dengan tangannya.


Sraaakkkkk


William terdorong beberapa meter akibat serangan dadakan.


"Jadi orang itu, jangan terlalu kaku tahu!" Si anak kurus itu langsung maju hampir bersamaan dengan terdorongnya William Austin.


Anak kurus itu sama sekali tidak memberikan jeda bagi William, ia segera melancarkan serangan bertubi-tubi.


Buk! Buk! Buk! Buk! Buk! Buk! Buk!


Anak kurus itu melancarkan tinjunya ke arah William, William hanya bertahan menggunakan tangannya yang dilapisi oleh armor besi.


"Ayo! Ayo! Jangan hanya bertahan saja, serang juga dong! Jangan membuat ini menjadi membosankan!" Teriak anak itu.


William melihat celah dalam serangannya, ia tidak menyia-nyiakan celah tersebut.


William melepaskan posisi bertahannya, ia mengambil celah serangan lawannya, dan kemudian ia melancarkan tinjunya.


Bummmmmm


Anak kurus itu terkena tinju William tepat di wajahnya, ia terdorong ke lantai hingga lantainya hancur.


William mengira hal ini sudah selesai, tetapi, lawannya hanya tersenyum.


"Begini dong, baru terasa seru, hahahahah." Anak kurus itu tertawa sambil terbaring.


William melihatnya dengan tatapan waspada, ia mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak.


Kemudian, anak kurus itu berdiri dengan sempoyongan, ia menyeka darah dari hidungnya. Dan tersenyum puas.


William memasang posisi siaga.


Lalu...


Syuuttttt


Anak kurus itu kembali menghilang lalu muncul tepat di hadapan William.


William sangat terkejut dengan kecepatannya, Cepat sekali.


Bak!


Anak kurus itu melancarkan satu pukulan, William sudah berada di posisi siap, berbeda dengan yang sebelumnya.


Tetapi....


William tetap terlempar karena pukulannya, dan kali ini ia terlempar lebih jauh.


William sangat terkejut dengan serangan anak itu, Lebih kuat daripada sebelumnya?


"Heh!" Anak kurus itu terkekeh.


William sadar jika lawannya bukan Hyper biasa yang bisa ia lawan seadanya.


Syat...


Keduanya langsung bergerak sama cepatnya, dalam sekejap jarak di antara mereka menghilang hingga saling berhadapan.


Buk


Keduanya sama-sama memukul, tapi hanya William yang berhasil mengenai lawannya.


Darah segar terciprat dari mulut anak kurus itu. Tetapi, jangankan mundur, anak kurus itu malah semakin bersemangat.


Bak


Buk


Buk


Bak


William dan anak kurus itu terus bertukar pukulan, tapi hanya anak kurus itu yang terus terkena serangan.


William berhasil menghindari semua serangan yang mengarah padanya.


Di sekitar mereka sudah mengalir banyak darah segar.


Tapi, dengan luka separah itu, lawan William sama sekali tidak mundur. Dan bukannya melemah, ia malah semakin cepat.


Siapa dia? Semakin lama serangannya semakin cepat dan sulit dihindari


Dan perasaan William benar, anak kurus yang menjadi lawannya ini, semakin lama, ia semakin kuat.


Ketika mereka bertukar pukulan lagi, kali ini William yang gagal mengenai lawannya, dan dari titik butanya, lawannya menyerang.


Buk


William terpental karena terkena serangan. Dari hidung dan mulutnya, keluar darah.


Semua orang di sekitar sangat terkejut melihat pemandangan ini.


William terkena serangan?


Siapa anak itu sebenarnya?


Apa William akan kalah?


Anak kurus yang menjadi lawannya, terkekeh senang, "Heheheh, bagaimana rasanya? Ayolah, kau pasti bisa lebih dari ini kan?"


William menyeka darah di hidungnya, ia tidak berniat menyerah, "Tentu, Saya tidak akan kalah dari orang seperti anda"


William menanggapi ini dengan lebih serius, tekanan auranya semakin meningkat.

__ADS_1


Dan sepertinya, lawannya juga masih belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.


Ran yang sedari tadi melihat pertarungan mereka, merasa merinding ketakutan, mereka belum menggunakan kemampuan khusus mereka, tapi tekanan aura yang mereka keluarkan, menyamai pengawas Farizi, Mereka Monster.


__ADS_2