
Di suatu tempat yang gelap.
"Aku kalah?" Tanya Tim kepada dirinya sendiri.
Tim memandang langit-langit yang gelap sambil berlumuran darah dan keringat, "Aku kalah? Melawan bocah-bocah itu? Arrghhhhhh......!!!!!" Tim mengamuk, dengan posisi berbaring, ia memukul lantai tempatnya berbaring hingga hancur.
Tap Tap Tap
Langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekat ke tempat Tim. Langkah kaki itu berasal dari dua orang, mereka adalah Ranker Amare dan Emily. Mereka berdua tampaknya sudah tahu tentang Tim.
"Dimana ini? Sepertinya bukan di ruang tunggu peserta kan?" Tanya Tim.
"Tentu saja, ini bukan di ruang tunggu peserta, ini adalah ruangan khusus yang kubuat dari kemampuanku untuk menangkapmu dasar penyusup." Jawab Ranker Emily dengan nada dingin.
"Penyusup? Hei Hei Hei! Jangan sembarangan menuduh, lagipula sikap kalian ini kasar sekali, menangkap dan memenjarakan seorang Hyper malang."
Ranker Emily dan Amare tampak berang mendengar jawaban santai Tim, dengan nada marah, Ranker Amare membentak Tim, "Jangan bercanda!!! Kau pikir kami tidak tahu, kalau kau bukan peserta yang asli, kami sudah menemukan Tim yang asli terbunuh."
"Ahhh... Ketahuan yah? Memang sih aku terlalu buru-buru dalam membereskan mayatnya."
"Siapa kau sebenarnya? Kau pasti seorang Ranker kan? Ah! Tidak perlu kau jawab sekarang jika tidak mau, akan kami buat kau menjawabnya dengan paksaan."
"Pffffttt!? Dengan paksaan? Sombong sekali, sepertinya karena aku kalah dari bocah-bocah tadi, kalian mengira aku adalah Ranker lemah yah? Sayang sekali, asal kalian tahu, selama ujian tadi, aku terus menekan kekuatanku agar tidak ketahuan, yah walau sedikit kelepasan juga akhirnya. Tapi karena sudah ketahuan, sekalian saja deh." Ucap Tim sambil menarik sebuah cincin di jari manisnya
Ketika cincin di jari manisnya terlepas, energi Tim langsung meluap-luap keluar, jauh lebih besar dan kuat dari semua energi yang dia keluarkan selama ujian.
Ranker Emily dan Amare memasang pertahanan, mereka bersiap untuk melawan Tim.
Tetapi, Tim justru terlihat tidak tertarik, ia seperti fokus pada hal lain, bukannya fokus kepada 2 Ranker di hadapannya. Lalu kemudian Tim mengatakan hal yang tidak bisa dimengerti, "Ah~ Sayang sekali, tadinya aku mau meladeni kalian berdua, tapi sayangnya tuanku memintaku untuk segera kembali."
"Mau kabur yah!? Tidak akan kubiarkan." Teriak Ranker Emily, ia mengarahkan kedua tangannya ke depan, seketika, lantai di sekitar Tim naik membentuk perangkap yang memerangkap Tim di dalamnya.
Tapi, belum selesai Tim terperangkap, Tim langsung menghancurkan perangkap dari lantai itu hanya dengan mengibaskan tangannya.
Bummm
Semua lantai yang mencoba memerangkap Tim, langsung hancur berkeping-keping, tapi itu semua belum selesai. Ranker Amare sudah bersiap di hadapan Tim, ia membawa sebuah belati yang mengkilat, disertai racun di mata pedangnya.
Dengan gerakan yang sulit diikuti mata, Ranker Amare hendak menebas leher Tim, namun, Tim mendadak menghilang tanpa jejak sebelum berhasil diserang.
"Dimana dia? Emily, lacak dia!"
"Tidak bisa! Dia menghilang sepenuhnya, aku tidak bisa melacaknya sama sekali."
Tim berhasil melarikan diri.
...****************...
"Bagus Ran, tegakkan badanmu, jangan sampai lemas!" Teriak William.
"Baik!" Balas Ran.
Mereka berdua saat ini sedang berlatih pedang, atau lebih tepatnya, Ran sedang diajari cara berpedang oleh William.
Ran lah yang meminta ini karena merasa menjadi beban bagi William.
Ran diajari bagaimana membentuk posisi kuda-kuda yang benar, bahkan William juga mengajari Ran teknik berpedang.
"Haaaaa....." Ran berteriak sambil mengayunkan pedangnya ke arah pohon.
Ran mengayunkan pedangnya sambil membuat gerakan mengecoh, ia mengayunkan pedangnya dari atas, tapi langsung menariknya kembali saat sudah setengah jalan lalu memutar seluruh tubuhnya dan menyerang pohon di hadapannya dari arah samping.
Crakkk Kretekkkk
Pedang yang ditebas Ran langsung rubuh dan jatuh ke tanah.
"Hah... Hah... Hah..."
"Bagus Ran, gerakanmu sudah bagus untuk mengecoh lawan, tapi sayangnya, tebasanmu masih lemah, kamu harus berlatih fisik lebih rajin lagi."
"Ahahaha... Standar fisikmu sepertinya tinggi sekali." Ran tertawa kecil menanggapi saran dari William.
"Kalau begitu, cukup untuk sekarang, saya mendengar suara, ada yang datang bersiaplah Ran." William menarik pedangnya.
"Baik!"
Mereka berdua bersiap-siap dari arah datangnya suara, tidak lama kemudian, muncul seseorang dengan tampang menyebalkan.
"Hooo~ Ada orang toh? Baguslah, akan kuhabisi kalian agar ujian ini cepat selesai." Ucap orang tersebut dengan santai, tampaknya ia tidak tahu tentang William.
Orang asing itu mengeluarkan bola api dari tangannya, dan langsung melemparkannya kepada William, tapi William menepisnya hanya dengan satu tangan tanpa kesulitan.
"A-Apa? Siapa kau sebenarnya?" Orang itu gelagapan melihat serangannya ditepis oleh William.
__ADS_1
Tanpa menunggu waktu lama, William langsung bergerak cepat ke arah orang itu, dan langsung meninju wajahnya sampai terpental jauh ke belakang, menabrak pepohonan hingga hancur.
Bhumm.. Krakkk
"Hoekkk..." Orang itu muntah darah setelah sekali ditinju William, dan langsung menghilang setelahnya. Sepertinya HP miliknya langsung habis setelah satu serangan dari William.
"Uwooo... Seperti biasa, kau memang selalu mengagumkan William. Eh tapi, bukannya kau punya prinsip untuk tidak menyerang orang yang lemah yah?"
"Memang, tapi di kondisi seperti ini, saya tidak akan tahu mana orang yang lemah mana yang bukan, saya tidak punya metode dan waktu untuk mengecek kekuatan orang lain. Jadi saya memilih langkah yang paling aman dengan menganggap semua orang setara."
"Ahahaha, kalau begitu aku ini cukup beruntung karena ditolong olehmu saat pembukaan ujian yah, jadi kau tahu kalau aku lemah. Yah~ Sangat tidak disangka-sangka, kukira kau itu orang yang rumit karena prinsipmu, tapi ternyata kau cukup sederhana dan fleksibel yah."
"Begitukah? Senang mendengarnya."
"Yasudah, sekarang kita makan saja yuk!"
"Boleh, kebetulan dari pagi kita belum makan apa pun karena langsung berlatih pedang."
Mereka berdua pun pergi ke tempat rerumputan yang paling lebat, dari dalamnya, mereka mengambil sebuah daun yang dilipat menjadi sebuah bungkusan, di dalamnya, terdapat buah-buahan yang mereka ambil.
Ran dan William masing-masing mengambil satu dan memakannya, mereka berdua tidak perlu air karena buah yang mereka ambil penuh dengan air, sehingga mereka tidak mengalami dehidrasi.
"Oh iya William, aku ingin mengajukan saran." Ran membuka percakapan setelah awalnya mereka saling diam ketika makan.
"Saran apa?"
"Tapi maaf nih, jangan tersinggung yah."
"Tenang saja, saya tidak mudah tersinggung."
"Ummm.... Ok. Jadi.... Bagaimana jika kau merubah cara bicaramu itu, yah... Agar tidak terlalu formal gitu."
"Eh?"
"Bu-Bukannya aku mengejek, tapi terasa aneh jika kau berbicara dengan sangat formal padahal kita seumuran. Ta-Tapi jika kau tidak mau, tidak apa-apa kok."
William diam sejenak, memikirkan saran yang diberikan oleh Ran.
Melihat William yang hanya diam, membuat Ran berpikir jika William merasa tersinggung.
Dengan panik, Ran meminta maaf pada William dan berniat menarik kembali sarannya, "Aa... Ah.. Ka-Kalau kau tidak suka ti-"
"Boleh saja."
"Eh?"
"Eh... Ah... Haha, i-iya benar. Kukira kau tadi marah William."
"Tidak kok, aku tidak marah, lagipula aku memang sudah berpikir untuk menghilangkan cara bicaraku yang terlalu kaku, keluargaku juga pernah bilang seperti itu agar bisa mencari teman."
"HahaHaha..."
Mereka berdua kembali terdiam, walau tidak menunjukkannya, Ran masih penasaran dengan satu hal. Mode Berserker.
Ran ingin sekali menanyakannya pada William. Tapi ia masih takut jika William akan tersinggung karena sepertinya itu adalah topik yang cukup sensitif.
Tapi, William yang peka dengan sikap Ran yang tampak ingin bertanya tapi Ragu, menyadari hal itu.
"Ran, kau penasaran dengan mode berserker kan?"
Ran terkejut mendengar perkataan William yang seakan-akan menembus hatinya, "Ti-Tidak kok."
"Tidak perlu takut Ran, aku tidak masalah untuk menceritakannya."
"Ya-Yahhh.... Aku memang sedikit penasaran. Tapi aku takut jika itu adalah topik sensitif bagimu Will."
"Tidak apa-apa Ran, aku selalu siap untuk menceritakan tentang ini jika kau mau bertanya."
"Kalau begitu, apa yang menjadi pemicu dari mode berserker?"
"Ahh.... Kau penasaran tentang itu yah? Yahhh... Tidak masalah, aku akan mulai dari asal-usul mode berserker ini, mode ini pertama kali digunakan oleh kakekku, kau tahu tentangnya kan?"
"Iya, Aldrich Austin, Ranker terkuat yang menjadi pahlawan setelah mengorbankan dirinya untuk menghentikan Gate terbesar."
"Kau benaran tahu yah, yah intinya mode ini muncul pertama kali saat kakekku terdesak melawan semua monster yang keluar dari Gate terbesar, aku sendiri tidak tahu detailnya karena belum lahir. Aku hanya mendengarnya dari orang tuaku."
"Tunggu? Kau belum lahir? Memangnya berapa umurmu?"
"Ah, aku 15 tahun."
"Apa? Kau lebih muda 3 tahun dariku? Kukira kau lebih tua."
"Haha... Tampilan fisik memang terkadang menipu, yah kembali lagi ke topik. Kakekku menggunakan mode berserker ketika nyawanya berada di ujung tanduk, di situasi dimana nyawanya terancam, ia tanpa sadar mengaktifkan mode berseker sebagai bentuk perlindungan terakhirnya, dan sepertinya aku mewarisi mode berserker itu juga, padahal orang tuaku tidak mewarisinya. Setidaknya itulah yang kudengar dari orang tuaku."
__ADS_1
"Lalu, kau pun sama?"
"Umm... Untuk kasusku sendiri sedikit berbeda, seperti tadi, padahal harusnya aku tidak berada di kondisi yang sampai membuat nyawaku terancam, tapi mode itu aktif sendiri. Dari perhitungan yang dilakukan oleh keluargaku, mode ini akan aktif saat kondisi fisikku mengalami luka sebesar 70%, akibat dari tes yang dilakukan, seorang Ranker B dari keluargaku terluka parah."
"Owh... Aku pernah mendengarnya, itu sama dengan berita kau mengalahkan Ranker bukan?"
"Iya, itu adalah kejadian yang sama, entah tersebar darimana bahwa aku mengalahkan seorang Ranker, bahkan tersebar kabar bahwa aku sendiri yang menantangnya duel. Padahal itu tidak benar."
"Ma-Maaf."
"Haha... Kenapa minta maaf Ran? Kan bukan kau yang menyebarkannya. Ah selain itu, ada lagi kondisi dimana mode berseker itu aktif."
"Kondisi apa?"
"Kondisi dimana aku memakai seluruh kekuatanku."
"Apa? Jadi karena itu kau tidak pernah bersungguh-sungguh, kukira itu karena kode etikmu."
"Kode etik hanyalah salah satu alasan saja, alasan utamanya karena aku bisa tertelan dan mengamuk jika menggunakan seluruh kekuatanku. Kau lihat kan tadi? Muncul armor kepala yang seperti kulit?" Ucap William sambil menunjuk lehernya.
"Ah iya."
"Jika armor itu sampai menutup seluruh wajahku, seluruh kesadaranku akan hilang, disaat itulah aku mengamuk karena tertelan mode berserker."
"Apa tidak ada cara selain kekerasan untuk menghetikanmu?"
"Tidak ada, perlu untuk memberikan damage besar padaku jika aku sampai menjadi mode berserker secara penuh."
Ran menjadi sedih mendengar penjelasan dari William.
Melihat Ran yang menjadi sedih, William mencoba bersikap ceria dan positif, "Eh tapi, jangan hanya melihat sisi buruknya. Kau tahu? Jika aku dilukai pada mode berserker, luka-lukaku akan menjadi sembuh saat menjadi normal."
"Ehhh...? Kok bisa gitu? Curang banget itu."
"Hahaha, itulah kelebihan mode berserker, makanya tadi aku bisa langsung bangun dan bertarung lagi walau sudah dihajar habis-habisan."
"Curang banget kemampuanmu itu tahu..."
Atmosfer murung seketika lenyap setelah mereka menghilangkan pikiran buruk mereka.
Lalu kemudian, terdengar suara bel berbunyi, gelang di tangan mereka menyala dan memberi pesan.
[Selamat! Kamu sudah lolos ujian pertama. Kalian akan dipindahkan dalam 10 detik setelah pesan dikirimkan ke tempat ujian kedua. Sekali lagi, selamat!]
Melihat pesan itu, Ran dan William mengangkat tangan mereka dan melakukan tos
Plak
"Bagus! Kita berhasil."
"Mantap!"
10 detik kemudian, tubuh mereka dipindahkan kembali ke gedung ujian ketika mereka pertama kali tiba.
Sama seperti sebelumnya, Ran melihat wajah-wajah yang familiar, ada Eduardo yang berlumuran darah, Rocky yang wajahnya lebam. Dan ada Ranker Emily dan Amare di atas panggung.
"Selamat bagi kalian, 100 orang yang lolos ujian, walau ada sedikit masalah, ujian kali ini bisa berjalan dengan lancar."
Ranker Emily dan Amare melanjutkan penjelasan mereka, "Ujian kali ini akan dilakukan secara berkelompok. Setiap team akan berisi 4 orang, dan itu akan ditentukan oleh kalian sendiri. Dan ujian yang akan dilakukan kali ini akan berasal dari sebuah permainan anak kecil yang sederhana. Yaitu, TAG PLAY. Silahkan bagi kalian untuk mendaftarkan team kalian di pos yang kami sudah sediakan." Di depan panggung muncul sebuah pos pendaftaran dari bawah tanah. "Dan sebagai pengingat, batas waktu kalian adalah 10 menit. Jika tidak mendaftar sebelum batas waktu habis, kalian akan dieliminasi."
Apa? Dieliminasi?
Bercanda kan mereka?
Bagaimana bisa membuat team dengan orang asing secepat itu?
Sial, ada banyak yang kemarin mengincarku.
Siapa yang bisa kupercaya.
Semua peserta gaduh dengan batas waktu yang hanya sedikit, Ran juga termasuk ke dalam bagian orang-orang itu.
Sudah tentu Ran dan William akan menjadi satu team, lalu siapa lagi 2 orang yang tersisa.
Ran melirik ke sekitar, mencoba mencari seseorang yang terlihat bisa dipercaya.
Tapi percuma saja, pikiran Ran dipenuhi oleh pikiran negatif tentang orang-orang ini. Karena Tim, Ran menjadi sulit percaya kepada orang lain selain pada William. Ia takut jika sampai bertemu dengan psikopat macam Tim lagi.
Di tengah kebingungan, seseorang mendekat pada Ran, "Kebingungan yah? Bagaimana jika kita satu team denganku?" Tanya orang itu.
Ran menoleh dan melihat seseorang yang sangat mengejutkan, seseorang yang sangat tidak disangka akan menawarkan diri untuk menjadi satu team.
"Eduardo!" Ucap Ran dengan tidak percaya.
__ADS_1
Sementara Eduardo tersenyum meledek.